Sains-Inreligion

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Apa Beda Peraturan Agama dan Peraturan Negara? (RUU Multimedia)

Posted by agorsiloku pada Februari 17, 2010

Allah Subhanahu wa-ta’ ala memberikan petunjuk dengan sepenuhnya mempercayakan kepada hati dan akal manusia untuk melakukan pilihan dan keputusan.  Mengapa?.  Jawaban tercepat tentunya wallahu ‘alam atau diartikan, Allah yang mahamengetahui.  Jadi, manusialah yang kemudian mengatur polah tingkah laku kehidupannya, baik dalam kehidupan terkecil (kesendirian) sampai keluasan norma-norma kehidupan masyarakat.  Sang Maha Pencipta mengatur segala sesuatunya mengikuti apa yang kemudian dikenali sebagai sunnatullah atau dalam bahasa akademisnya hukum alam.  Ketentuannya mengikui qadla dan qadar.  Kesempurnaan ketentuan takdir ditegasi Sang Pencipta untuk tidak bisa diubah dan telah berlaku sejak dahulu.  Jadi tidak ada rumusan untuk melakukan perubahan pada takdir.  Kemanapun manusia melakukan pilihan-pilihan, maka perumusan takdir akan bekerja kepada manusia itu.Oleh karena itu, sunnatullah menjadi konsepsi, inspirasi, dan praktisi kehidupan.  Pilihan perbuatan baik dan buruk, semuanya atas izinNya, atas perkenanNya, atas kuasaNya.  Bahwa pilihan itu diridhai atau tidak adalah pilihan konsekuensi yang diambil manusia yang dipertanggungjawabkan kemudian, yaitu pada hari perjanjian dan pertanggungjawaban.  Ketika Allah Subhanahu wa-ta ‘ala mengambil alih seluruh peran untuk kehidupan yang diciptakan pada dua jalur utama : Surga atau Neraka.  Perubahan yang terjadi dalam perjalanan itu, menjadi kewenangan dari Pemilik Alam Semesta raya ini, yang terhubungkan dengan ciptaan melalui amal shaleh, do’a, dan dinyatakan petunjukNya melalui hubungan antar manusia dan hubungan vertikal dengan Tuhannya.

Konsepsi ini berbeda ketika pada satu masa,  Sang Pencipta menunjukkan kekuasaanNya dengan tindakan-tindakan final yang berjalan yang ditunjukkan ketika sampai titik keingkaran tertentu, kekuasaanNya ditunjukkan melalui beragam kejadian sampai pada pemusnahan satu bangsa dan ketidaklaziman pada hukum alam terjadi, seperti pada masa keemasan Fir’aun.

Namun, kekuasaan Sang Pencipta tidak bertujuan untuk memaksa manusia untuk beriman, tidak membatasi manusia untuk harus taat kepadaNya.  Tapi memberikan informasi dan tindakan yang merujuk pada sebab akibat untuk meyakinkan manusia agar patuh pada perintahNya.  Ketika manusia ingkar, Allah swt menyampaikan kamulah yang membutuhkan, sedang Allah tidak membutuhkan, dan Allah mengetahui apa yang nyata maupun yang tersembunyi.

Berbeda dengan Pemerintah.

Negara sebagai pengatur bertujuan untuk menyejahterakan masyarakat manusia melalui konsepsinya yang diungkapkan dengan visi negara dan undang-undang.  Aturan-aturan ini diciptakan/dibuat untuk menertibkan tingkah laku manusia yang disebut warga negara.  Selain kepentingan-kepentingan ideal yang kemudian disebut idealisme, negara juga membuat peraturan, tidak sekedar untuk menciptakan kemakmuran, tetapi juga untuk mempertahankan kekuasaan.

Melalui logika-logika sistemik, aturan dibuat untuk menciptakan kekuasaan dan melanggengkan kekuasaan.  Oleh karena itu pula, banyak peraturan yang dengan segala cara menghambat kebebasan pilihan, kebebasan berdemonstrasi.  Sebagian lagi, peraturan dimanfaatkan untuk memproteksi diri, meraih keuntungan dari kekuasaan, dan berbagai-bagai lainnya.  Karena itu, semakin bobrok dan korup sebuah rejim, akan semakin banyak peraturan diciptakan, semakin banyak hambatan dilahirkan untuk mengemukakan pendapat.  Kita sudah melihat hal ini di masa-masa lalu, di dalam sejarah kerajaan.   Juga di awal republik ini, juga di rejim orde baru.  Sebagian dari peraturan diciptakan untuk melanggengkan kekuasaan.

Pasal Konten Multimedia

Pasal-pasal pelarangan yang dibuat menkoinfo mengenai konten multimedia, khususnya pasal 6 dan 7, serta pasal 8 (peran penyelenggara) mencirikan cukup jelas kebutuhan ini.  Kebanyakan yang dimunculkan dalam bentuk seolah-olah indah.  Namun, sangat karet dan multi interpretasi.  Ambil contoh pasal yang berbunyi larangan muatan multimedia :

d.muatan berupa ancaman kekerasan atau menakut-nakuti yang ditujukan secara pribadi  meliputi Konten yang ditransmisikan dan/atau diumumkan melalui Perangkat Multimedia yang bertujuan untuk melakukan  ancaman kekerasan atau menakut-nakuti yang ditujukan secara pribadi. (pasal 6).

Sepertinya ini benar, namun sebenarnya ini bukan masalah perangkat multi media, esensinya ada pada ancaman kekerasan.  Maka ketika infrastruktur/alat menjadi sebab pada tujuan, jelas bertujuan untuk melakukan pembatasan.  Sedangkan esensi pada ancaman, tidak perlu dikaitkan dengan perangkat multi media.  Kejadian ancaman dengan cara apapun sehingga ada pihak-pihak yang merasa membutuhkan perlindungan, maka aparat negara harus bertindak untuk melindungi warga negara oleh warga negara lain.  Itu esensinya.  Mencampuradukkan dengan pengertian multimedia, transaksi elektronik, adalah logika-logika yang dipakai tidak pada tempatnya.  Inilah yang saya lihat dari undang-undang transaksi elektronik yang menimbulkan banyak pertanyaan dari masyarakat.

Pengaitan dengan penyelenggara juga,  menimbulkan pertanyaan pula.  Logikanya, kalau penyelenggara jalan tol dikenai peraturan yang berbunyi : pengguna jalan tol dilarang menggunakan jalan tol untuk melakuan kejahatan atau tujuan-tujuan jahat.  Penyelenggara jalan tol diwajibkan melaporan pengguna jalan tol yang melakukan tindakan kejahatan !.

Jadi, saya melihat kebutuhan membuat peraturan ini nyleneh, dan ada sisi positip, namun juga ada sisi negatifnya yang membuat pasal-pasal karet yang mudah diinterpretasikan.  Kemudahan ini, untuk penyelenggara negara selalu memiliki dimensi untuk melanggengkan kekuasaan.

Manakah yang lebih berat timbangannya?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: