Sains-Inreligion

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Menunggu Pembacaan Vonis untuk Antasari Azhar

Posted by agorsiloku pada Februari 11, 2010

Meskipun tidak ikut terlibat dalam kejadian pembunuhan Nazarudin kepada tersangka Antasari Azhar, mantan ketua KPK yang dilengserkan melalui konspirasi (?) dan pertempuran cicak vs buaya dengan segala polemiknya cukup menggiriskan hati.  Bangsa ini sedang diuji kemampuannya untuk menegakkan benang basah bernama keadilan.  Antasari Azhar bersama 3 tersangka lainnya menunggu keputusan hakim.  TV One dan beberapa stasiun TV menyiarkan peristiwa penting bagi penegakan hukum.

Tentu kita semua, yang menaruh perhatian pada kasus ini atau sengaja atau tidak sengaja mengikuti jalannya persidangan menunggu akhir dari melodrama pengadilan negeri ini.

Yang membuat saya terkesima adalah ucapan Jaksa bahwa AA membujuk untuk terjadinya pembunuhan Nasarudin.  Membujuk !?, dan jaksa menuntut hukuman mati !.  Sedangkan bukti pembujukkan juga lebih sebagai penarikan kesimpulan dari jaksa.   Luar biasa !.  Kasus-kasus hukum dan penghormatan pada supremasi hukum di negeri ini rasanya kian carut marut.  Terlalu banyak kasus hukum yang menodai rasa keadilan di negeri ini yang dipertontonkan tanpa rasa malu.  Mulai dari undang-undang transaksi elektronik yang menjerat Prita Mulyasari, pencurian listrik karena mencolokkan charger handphone, anak kecil di penjara dewasa, pencuri 3 butir kakao 3 bulan penjara.  Sedangkan, pada saat yang sama kasus-kasus yang yang jauh lebih bergema resiko dan dampaknya, melenggang bebas.

Ada dua kisah tentang hakim yang menarik.  Yang pertama adalah hakim Kharakaush.  Saya membacanya sewaktu kecil dulu, jadi sudah tidak ingat lagi sumber ceritanya dimana.  Ceritanya begini :  Seorang pencuri masuk ke dalam rumah melewati jendela dan jatuh sehingga patah tangannya.  Maklumlah, rumah dan jendelanya sudah tua dan rapuh.  Si pencuri kemudian mengadu ke pengadilan atas kelalaian pemilik rumah yang membiarkan jendelanya dalam keadaan rusak.  Hakim kemudian memutuskan si pemilik rumah bersalah dan harus dihukum gantung karena alasan kelalaiannya menyebabkan kecelakaan kepada orang lain.  Ketika akan dihukum gantung, ternyata tiang gantungannya terlalu pendek, sedangkan si pemilik rumah itu kebetulan tinggi kurus.  Dengan pertimbangan rasa keadilan dan keharusan untuk menghukum, maka dicarilah orang yang cocok untuk digantung.  Selamatlah si pemilik rumah yang jendelanya rusak dan mati digantunglah orang yang kebetulan lewat di tiang gantungan.

Cerita kedua, adalah Judge Bao, Hakim Bao yang menjadi legendaris.  Bao Cheng atau lebih dikenal sebagai Judge Bao, terkenal jujur, tegas, dan pemberani.  Legenda hakim yang adil dan tegas ini pernah disiarkan sebagai seri film di salah satu media televisi Indonesia.  Kita rindu ketegasannya, kita rindu keberaniannya, seperti kita rindu kepada ketegasan Antasari Azhar ketika diberi kesempatan untuk memberantas korupsi di Indonesia.

Kita memiliki beberapa pendekar hukum di masa lalu, walau tak selegendaris tokoh seperti Bao.  Namun, terasa dan dirasakan oleh publik, bahwa semakin hari, semakin terasa kesewenangan kekuasaan dan hukum semakin menjauh dari keadilan.

Pembacaan vonis Antasari Azhar beberapa saat lagi saya tunggu dengan penuh kerisauan, karena rasanya (sekali lagi rasanya – karena saya tidak punya bukti dan hanya sekedar mengamati) manusia-manusia pelaksana hukum, sudah tidak lagi berpihak pada keadilan, tapi lebih pada kepentingan.  Di negeri ini, mana yang lebih banyak, Kharakaush dan masih adakah Bao?.

3 Tanggapan to “Menunggu Pembacaan Vonis untuk Antasari Azhar”

  1. @Kang Agorsiloku.
    Dengan berat hati… dinagari tercinta ini tarnyata lebih banyak Oom Kharakaush nyah dibandingkan dengan Judge Bao !!!😥

    Suka

    • agorsiloku said

      Kang Haniifa dan saudara-saudara sebangsa dan setanah air…. lalu mengapa Oom Kharakaush lebih banyak….😦

      Suka

      • @Kang Agorsiloku
        Insya Allah, sayah yakin sekali bahwa para fakar hukum di nagari ini menyadari cikal-bakal ilmu -pat gulipat- dari sistem kolonial Belanda yang ratusan tahun menjerat bangsa ini, dengan kata lain suatu kebijakan untuk membina tata hukum kolonial yang pada dasarnya dimaksudkan untuk di satu pihak mengontrol kekuasaan dan kewenangan raja dan aparat eksekutif atas daerah jajahan, saya kutip dari salah satu ceramah dari Prof. Dr. J.E. Sahetapy, SH. MA
        Hukum dalam rangka mengatasi kemiskinan dalam segala perspektif dan ramifikasinya perlu ditata secara holistik dan tidak fragmentaris dan sektoral. Tetapi kapan dimulai ? Selama ini hukum ibarat perempuan jalang dari kumpulannya terbuang.
        Perempuan jalang… ?!
        Pasal 32 ayat (1) huruf (c) UU KPK pada pokoknya mengatur bahwa pimpinan KPK diberhentikan tetap apabila menjadi terdakwa karena melakukan tindak pidana.
        Mohon maaf,… saya kira anak teka-pun tahu kalau pasal karet tersebut yang merumuskannya adalah para PEREMPUAN JALANG:mrgreen:

        Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: