Sains-Inreligion

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Kasus Bank Century : Pertarungan Politik dan Kebenaran !

Posted by agorsiloku pada Februari 10, 2010

Cukup beberapa menit bagi seorang JK untuk melihat dengan mata, hati dan rasional berpikirnya bahwa Bank Century adalah bank dodol yang dirampok oleh pemiliknya sendiri. Namun, perlu waktu berbulan-bulan bagi Pansus Bank Century untuk membongkar kasus ini.  Begitu sulitkah?

Pertarungan Keserakahan versus Kesempatan.

Pada satu titik pergolakan ekonomi, jelas dana talangan sebagai jaminan kepercayaan terjadi di banyak negeri, termasuk negeri ini harus mempertimbangkan perlu dilakukan penjaminan untuk bank agar tetap dipercayai nasabahnya atau resiko terjadi rush besar-besaran yang melumpuhkan perekonomian. Jadi dari sudut debatable ini : Bail Out adalah keputusan yang seharusnya dilakukan.

Si Maling sendiri, sudah diproses hukum dan dihukum 4 tahun.  Jadi, memang sudah terbukti jelas bahwa cara pandang JK melihat kasus Bank Century terbukti secara hukum bahwa memang si Maling yang kaya raya ini merampok banknya sendiri.

Lalu, apa yang mau dibuktikan oleh Pansus Bank Century adalah keputusan bail out yang terjadi ini apa?,

1. Perampokan yang dilegalkan karena terjadinya krisis perbankan,  atau
2. Perampokan pada saat krisis perbankan, atau

3. Krisisnya tidak ada yang ada adalah usaha perampokan melalui cara-cara yang ‘dilegalkan’

Kejadian ini persis seperti perampokan setelah terjadinya gempa bumi atau kerusuhan.  Kalau tidak ada gempa bumi sehingga orang meninggalkan rumahnya atau kerusuhan, maka sistem kehidupan berjalan normal-normal saja dan perampokkan tidak terjadi.  Begitu juga dengan kasus Bank Century, kalau tidak terjadi krisis kepercayaan pada perbankan di luar negeri, tidak ada usaha perampokan.

Yang hebat dari kasus Bank Century ini kemudian adalah ketika pejabat pengambil keputusan membuat keputusan-keputusan bail out dengan melepaskan pertimbangan bahwa yang meminta dana talangan adalah bank bermasalah, surat berharga bodong, dan lain sebagainya.  Bahkan saking baik hatinya peraturan mengenai mobil CAR (kecukupan modal) bisa diubah menjelang keputusan bail out dibuat.  Bahkan aliran dana dengan segala keanehan atau lebih tepat kegombalan yang terjadi seperti uang milyaran diambil oleh supir taksi, masuk ke rekening bla..bla… ratusan milyar diambil tunai, keputusan dilakukan malam hari, adalah kejadian-kejadian dodol yang tidak dipedulikan oleh pengambil keputusan bail out.

Begitu gokil, gombal, dan lebay semua itu dipertontonkan selama dua bulan terakhir ini dan para petinggi pengambil keputusan tidak bergeming dan memusuhi hati nurani publik dan dirinya sendiri.   Ini tantangan terbesar yang dihadapi bangsa ini menghadapi kecurangan di depan mata publik.  Segala jenis perbandingan dilakukan untuk pembelaan mulai dari etika, nama Tuhan, kredibilitas dan reputasi menkeu sebagai ekonom handal, resiko sistemik.  Pansus Bank Century dan koalisi partai berhadapan dengan kesepakatan, solidaritas, penyembunyian masalah dan perang melawan keterbukaan dan pencarian kebenaran.  Saking ramainya perdebatan dan demo disertai ucapan santun untuk : “mari kita buka seterang-terangnya”  tapi berbulan-bulan tidak juga terbuka, diputar-putar dan berputar-putar sedemikian rupa untuk membuka tapi sekaligus menutupi serapat mungkin kebusukan yang terjadi.

Pansus Bank Century seperti adalah perang kejujuran dan kebenaran yang diwakili oleh para gombalis.  Gombalis-gombalis ini bergelar dan memiliki jabatan dan pengalaman luar biasa tinggi sehingga untuk melihat kebenaran yang di mata publik sudah terang benderang, menjadi samar dan berliku-liku.

Partai Demokrat sebagai partai berkuasa juga bertempur dengan dirinya sendiri, mantan menkeu yang cantik ini juga belum berhasil mengalahkan dirinya sendiri antara peran sebagai praktisi, ilmuwan, pengambil keputusan untuk menghadapi tekanan kasus Bank Century. Begitu juga kesabaran dan kelemahlembutan yang ditunjukkan oleh mantan gubernur Indonesia tidak membawa makna ketika keputusan-keputusan membela maling merampok banknya sendiri menjadi pembenaran atas nama bail out.

Perang Terbesar.

Betul kata hadis, kalau tak salah gitu.  Perang terbesar itu perang melawan hawa nafsu.  Perang tak berkesudahan, naik dan turun.  Pada kasus Bank Century ini, Pansus mewakili komitmen DPR sebagai wakil rakyat dan kekuasaan untuk membuka seterang-terangnya melawan kekuasaan untuk menyembunyikan kasus ini kebalik karpet keserakahan. Publik disuguhi polemik ini untuk memperoleh kebenaran yang seharusnya diakhiri dengan :  Jika terbukti, maka siapa yang terlibat dan melanggar hukum, maka si pelaku harus menerima konsekuensinya.  ‘Apapun latar belakang dan reputasinya.   Dan perang ini, pada saat ini berarti perang terhadap kekuasaan ril dari pemenang pemilu.  Jadi, dimensi politik mewarnai keseluruhan kegiatan Pansus.

Wkkk… pantes saja,  beberapa hari terakhir ini ada organisasi baru muncul dan beriklan, ada juga partai-partai peserta pemilu kemarin mulai beriklan lagi.  Rupa-rupanya persiapan untuk terjadinya perubahan sudah mulai disusun lagi langkah demi langkah.  Apalagi publik juga sudah bisa dan terbiasa membaca sebaliknya yang disampaikan oleh para petinggi bangsa ini.  Kalau bilang tidak ada reshuffle, artinya kabinet lagi akan diganti.  Kalau dibilang tidak ada pemakzulan, artinya persiapan pemakzulan sedang dipersiapkan.   Kalau tidak ada kejadian, artinya ada peristiwa.

Besar memang biaya bangsa ini untuk membuka kasus Bank Century mendapatkan keterbukaan dan kejujuran dalam kekuasaan……

6 Tanggapan to “Kasus Bank Century : Pertarungan Politik dan Kebenaran !”

  1. Slamet Julianto said

    Menurut Pemikiran logika saya apa yang dilakukan oleh Sri Mulyani Menteri Keuangan RI, adalah benar dan alasannya sebagai berikut :

    1. Pada waktu itu yaitu tahun 2008, memang terjadi krisis global diseluruh dunia, termasuk negara besar AS dan negara-negara Eropah dan juga Jepang total mengalami kerugian besar, apalagi negara Indonesia yang pada waktu krisis tahun 1996 – 1997 saja hanya beberapa negara termasuk INDONESIA juga mengalami kegoncangan besar, sehingga BI kala itu harus melakukan Likwidasi terhadap bank-bank swasta di INDONSIA sampai ratusan milyar yang effeknya dirasakan sampai sekarang, sehingga apa yang dilakukan oleh Sri Mulyani dalam melakukan bailout untuk Bank Century adalah suatu kebijakan yang benar menurut saya karena apabila tidak dilakukan bailout untuk Bank Century, maka kemungkinan bisa terjadi keguncangan yang lebih besar daripada tahun 1996-1997.

    2. Apabila ada yang dirugikan akibat terjadinya bailout terhadap Bank Century, negara tidak dirugikan (meskipun negara memberikan uang jaminan di LPS sebesar Rp. 4 trilyun, namun uang tersebut masih ada) sebab uang untuk bailout itu adalah uang iuran Bank-Bank di INDONESIA, dan mengapa Bank-bank tersebut mau memberikan dananya untuk mem bailout bank Century ? karena bank-bank yang ada takut apabila Bank Century tidak di bailout akan terjadi Rush di masyarakat yang lebih besar dari tahun 1996-1997 yang menyebabkan pemilik uang akan mengambil simpanannya di Bank-bank secara besar-besaran, sehingga Bank-bank yang berpikir effisiensi lebih baik sebagian dari hartanya dikorbankan daripada seluruh hartanya habis akibat terjadi rush di masyarakat pemilik uang.

    3. Sri Mulyani sebagai Menteri Keuangan, dengan sigap telah melakukan pembokiran dana Bank Century di luar Negeri termasuk yang ada di Hongkong, maupun yang ada di Inggris (pemblokiran keuangan di luar negeri harus dilakukan oleh Menteri Keuangan, karena menyangkut hubungan dengan dana Bank Century), sehingga apabila nantinya bisa dibuktikan di Pengadilan bahwa itu adalah dana rampokan dari nasabah Bank Century INSYAALLAH uang tersebut bisa kembali, bahkan nilainya lebih besar dari Rp. 6,7 Trilyun

    4. Bahwa dengan adanya figur-figur seperti Marsilam Simanjuntak, Anggito Abimanyu, maupun Sri Mulyani yang mendukung adanya proses bailout terhadap Bank Century, maka kemungkinan kecil figur-figur yang saya maksudkan diatas dengan track rekord yang bersih, artinya mempunyai kredibiltas yang baik serta mempunyai kemampuan yang cukup dibdang keuangan seperti Sri Mulyani dan Anggito Abimanyu akan bermain curang atau mengkorupsi sebagian dari uang tersebut.

    artinya empat alasan itulah yang membuat saya yakin bahwa apa yang dilakukan Sri Mulyani untuk melakukan bailout terhadap Bank Century adalah benar.

    namun saya juga ada sedikit kegamangan, yaitu dari sahabat-sahabat Mas Kumitir yang ada diluar, mengapa juga mengkritisi adanya bailout Bank Century (kalau orang-orang partai yang mengkritisi saya tidak heran karena mereka mempunyai maksud politis tertentu), namun sahabat-sahabat mas Kumitir yang ada diluar juga ikut-ikutan mengkritisi hal tersebut membuat saya gamang, karena saya menganggap Mas Kumitir dan sahabat-sahabatnya adalah kelompok Moderat Progresif yang mempunyai kepedulian besar terhadap kelangsungan Bangsa dan Negara tercinta ini dan tidak mungkin mencari kekuasaan atau uang untuk kepentingan sesaat, sehingga saya berpikir … Apakah ada yang salah dalam analisa saya atau ada yang salah dalam analisa sahabat-sahabat Mas Kumitir.

    Demikian keyakinan dan juga kegamangan saya ini saya sampaikan dalam rubrik komentar ini dan selanjutnya tak lupa pula saya sampaikan terima kasih atas perhatiannya.

    Surabaya, 10 Pebruari 2010

    Hormat Saya

    Slamet Julianto (Cak Bagong)

    Suka

    • agorsiloku said

      Mas Slamet Julianto Yth,

      Yang menurut saya sangat gokil dari petinggi saat keputusan bail out dilakukan adalah pembiaran habis-habisan dari keputusan yang dibuat. Ada dua kejadian yang faktanya begitu gamblang : 1. Krisis Perbankan yang anggap saja mengharuskan bail-out 2. Bank Century yang tidak kredibel dan kecurangannya sudah terjadi dalam periode lama.

      1 dan 2 itu, kemudian diberikan bail out, sedang aliran dana yang keluar dibiarkan sehingga ada supir taksi ambil dana tunai milyaran bahkan puluhan milyar dan berbagai-bagai aliran dana lainnya yang jumlahnya meragukan.
      Sedangkan nasabah Bank Century saja sampai sekarang masih banyak yang tidak mendapatkan haknya. Buat saya, tidak masuk akal kalau memang Sri Mulyani dan Boediono bersih, lalu tidak melakukan tindakan manajerial apapun untuk mengamankan uang bail out yang akan mengucur.

      Jelas pula, keduanya menutupi dari JK, pengambilan uang yang semena-mena, mengambil keputusan begitu besar, tapi mengabarkan hanya via sms. Ini kan benar-benar gokil. Ini alasan yang dibuat-buat. Jadi, sangat jelas bahwa keluarnya dana bail out itu untuk memenuhi kebutuhan kecurangan yang dilakukan oleh pemilik bank (salah satunya, lainnya masih gelap atau digelap-gelapkan).

      Lha, kalau saja bail out itu benar-benar untuk meredam kemungkinan rush, maka jelas pula harus ada tindakan manajerial yang cukup untuk mengamankan pengeluaran uang untuk nasabah bank Century. Ini tidak dilakukan, karena apa?. Apa karena tidak punya kekuasaan?, tidak punya kewenangan, atau tidak perduli itu uang mau diapakan. Yang penting, jangan terjadi rush dan bail out saja. Selesai. Wkkk…kkkk… ini benar-benar tidak masuk akal.

      Soal uang negara atau bukan, ini juga luar biasa lebay juga. Perdebatan ini sangat konyol dan melibatkan banyak ahli pula. Yang memutuskan itu pejabat negara, yang memblokir pejabat negara, yang menyelamatkan petinggi negara. Lalu pakai uang bukan uang negara dengan alasan macam-macam. Apalagi dinyatakan negara tidak dirugikan !. Jadi saya tidak ingin memperpanjang alasan ini.

      Sekarang, pertanyaannya menyeruak ke mana sesungguhnya aliran dana itu (padahal ini memang yang jadi masalah bagi partai-partai yang mendorong adanya pansus). Untuk menunjang alasan resiko sistemik atau untuk alasan lain yang sebenarnya juga sudah gamblang diketahui masyarakat. Apakah yang memutuskan keluarnya uang bail out tidak merasa perlu untuk menjaga kemana sesungguhnya uang itu mengalir. Apakah karena alasan sistemik, maka uang bisa diambil milyaran oleh supir taksi atau masuk ke sejumlah nama-nama yang diributkan?. Bukankah kalau memang bail out itu dikeluarkan dengan benar sesuai dengan resiko yang dijelaskan banyak ahli, keributan tidak akan seperti ini…..

      Suka

  2. lovepassword said

    Kalo menurutku sih masalahnya mungkin lebih kompleks dari itu. Ada indikasi bahwa SBY terlibat.

    Mengapa Sri Mulyani nggak melapor pada JK ? alasan logisnya gampang. Karena pasti dia sudah lapor SBY, lha JK tidak punya kebijakan ekonomi yang sama dengan SBY. Lha kalo Sri Mulyani lapor JK ya Sri Mulyani pasti tahu dia tidak akan disetujui JK.

    KIta ingat bahwa saat SBY keluar negeri itu Sri Mulyani menyusul. Sebelum SBY pulang ke tanah air , Sri Mulyani pulang duluan kemudian dia dan Budiono mengambil keputusan bailout. Lha ngapain Sri Mulyani nyusul SBy, terus ditambah ada kehadiran Marsilam yang notabene orang dekat SBY di rapat KKSK. rasanya sungguh tidak tinemu nalar kalo SBY tidak tahu.

    Masalah bailout benar atau salah, itu masih debatable. Tapi rasanya yang terlihat : ada upaya cuci tangan dari SBY dalam hal ini dengan mengorbankan anak buahnya. Saya sangat tidak yakin kalo SBY tidak tahu keputusan itu. Kalo keputusan itu emang jelek dimata SBY gimana logikanya Sri Mulyani terpilih lagi, Budiono diangkat jadi wapress ?

    Masalah Bail out itu bisa benar jika logikanya memang mau mengatasi krisi. Logika lainnya : lha kalo century ditutup, maka pemerintah yang harus mengganti duit nasabah . Simpanan dibawah 2M seingatku kan dijamin pemerintah. Pemerintah harus mengganti itu semua.
    Lha kalo Century diambil alih, maka menjadi milik pemerintah . Dan pemerintah bisa menjual itu. Kalo memang dari perhitungan bisnis itu bakal meningkat harganya dan juga yang lebih penting untuk menghidari efek berantai dari kejatuhan bank pada saat krisis, maka itu bisa dianggap benar.

    Masalah sistemik nggak sistemik itu jelas perdebatan teknis yang nggak bisa diadili. Tentu kalo memang tidak tendensi kriminal

    Lha baik out itu jelas kriminal jika kebijakan itu diambil untuk menyelamatkan dana sebagian deposan kakap yang rumornya adalah konglomerat yan dekat dengan penguasa, penyumbang dana kampanye dsb. Kalo sebuah kebijakan diambil untuk kepentingan seperti ini tentu kriminal luar biasa. Kalo memang ini terbukti dan presiden memang terlibat ya mendingan presiden mundur sajalah.

    Suka

  3. lovepassword said

    Yang lebih penting diselidiki itu aliran dananya kemana, bukan meributkan masalah dampak sistemik atau tidak sistemik karena sampai kucing beranak tomat juga nggak bakal selesai perdebatan ginian. 100 pakar bisa 100 jawaban, 100 opini yang sama-sama tidak bisa dibuktikan. Gimana membuktikannya dampak itu bakal sistemik atau andai tidak dilakukan nggak berdampak sistemik. kAN nggak mungkin bisa

    Suka

  4. Weleh…weleh… yang lebih lebay lagih Bapake Ketu depe-er er-i wong Ekonom… duhh:mrgreen:

    Suka

  5. […] mengamankan semaksimal mungkin kebijakan Sang Bendahara, dan bukan malah menggerogotinya, sehingga supir taksi diberitakan bisa ambil uang ratusan milyar tanpa seleksi yang memadai dari pihak bank.  Pengambil […]

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: