Sains-Inreligion

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Setiap Butir Koin Untuk Prita adalah Tangisan Masyarakat Yang Prihatin Pada Jaminan Hukum di Indonesia !

Posted by agorsiloku pada Desember 10, 2009

Dalam beberapa hari ini, tak terbilang lagi jumlah koin untuk Prita.  Lebih dari 500 juta rupiah, berton-ton beratnya.  Jauh di atas hukuman 204 Juta rupiah oleh Pengadilan Tinggi Banten. Seorang pasien yang mengeluhkan pelayanan rumah sakit Omni Hospital di Tangerang.   Prita mewakili kekecewaan masyarakat terhadap pelayanan publik yang buruk dan pengadilan yang berpihak pada keangkuhan.  Kasus yang bertubi-tubi datang tentang seorang Ibu yang mencuri 3 biji kakao, orang yang mengambil sebutir semangka, cicak vs buaya (Komisi Pemberantasan Korupsi versus Polisi dan Kejaksaan), terusirnya kaum terpinggirkan (kaki lima) dari kesempatan untuk menghidupkan kegiatan ekonominya, dan segala jenis yang tak cukup ratusan halaman untuk menuliskan sakitnya hati masyarakat atau lebih tepat jelata terhadap keangkuhan kekuasaan.

Perlawanan koin itu memiliki banyak makna yang akan dimaknai beragam oleh yang melihat dan merasakan.   Prita menjadi sosok korban ketidakadilan hukum dan masyarakat menjawabnya dengan setiap koin-koin itu berkisah tentang sikap aparat dan pelaku dalam pelayanan masyarakat.

Koin menjadi simbol perlawanan tanpa kata-kata, yang datang dari rasa keprihatinan mendalam.   Sosok yang kemudian menjadi lebih berharga dari petinggi di negeri ini.

Bukan sekali dua kali, publik memberikan pembelaan atas kesewenang-wenangan kekuasaan.  Kita tahu, mantan Presiden Megawati dan Presiden RI saat ini, Bapak SBY mendapatkan tempat di hati masyarakat karena keangkuhan kekuasaan orde sebelumnya.  Momentum itu, dengan keahlian memahami gelisah publik, dapat dijadikan kekuatan untuk mengambil alih kekuasaan.  Dan publik mendukung.

Masyarakat boleh jadi merasa semakin jemu lagi membela para petinggi, terlebih ketika kebijakan-kebijakan keberpihakan dari yang dizalimi bukan lagi (bukan hanya) petinggi oleh hasrat kekuasaan yang lain, tapi yang langsung dirasakan oleh ribuan atau jutaan anggota masyarakat.

Sosok Prita yang menunjukkan tangisnya, menunjukkan kehalusan budi pekertinya menyihir publik atas betapa rendahnya perilaku penegak hukum atau mahluk-mahluk halus dan kasar yang terlibat di dalamnya.

Koin yang menggunung itu, bukan sekedar membantu Prita, tapi lebih sebagai menjadi ikatan emosi publik terhadap kesewenang-wenangan kekuasaan.  Pada setiap butir koin itu tersimpan mendalam bahwa kita tidak suka dan tidak mau lagi para penegak hukum, pelayanan publik, para petinggi negeri menunjukkan keangkuhannya di atas lembaran-lembaran arsip negara yang disebut hukum.  Hukum tanpa hati nurani dan keadilan adalah kezaliman.  Ini perlawanan diam, dan saya percaya bahwa koin-koin ini akan menjadi sambitan nyata perubahan apabila perubahan yang dicita-citakan sebagian besar anak bangsa terpinggirkan tidak mendapatkan saluran sewajarnya.

Sejarah selalu membuktikan, tidak ada senjata apapun yang akan membuat takut kalau pesan koin ini tidak bisa dipahami juga.

Pesan perlawanan penuh etika ini, masih dapatkah dipahami oleh petinggi nagari? ataukah sudah tertutup hitam pekat karena hati yang sudah membatu.   Jawaban-jawaban tanpa hati nurani apalagi yang dimunculkan ke publik?.

Hati nurani terlalu pintar untuk dilawan dengan kemampuan berstrategi atau bertaktik politik.  Semua logika hukum dari RS OMNI Hospital mandul total ketika berhadapan dengan citarasa keadilan masyarakat.

Pesan singkat koin juga berada di tengah gempitanya kebencian masyarakat terhadap perilaku yang ditilik penuh kecurigaan dan kemarahan pada kasus bail out Bank Century.  Apalagi di dalamnya, nama Sang Pencipta dijadikan tameng (?).   Pendengar tidak lagi melihat dengan alasan-alasan logis, tapi melihat dengan hati nuraninya.  Kalau Pemerintah dan DPR tak lagi menegakkan hukum, bukan tak mungkin koin Prita disampaikan dalam bentuk yang jauh lebih mengiriskan hati.

Adakah pesan dari logam-logam yang datang berkumpul itu dipahami dan dapat disikapi arif?.

Subhanallah.

8 Tanggapan to “Setiap Butir Koin Untuk Prita adalah Tangisan Masyarakat Yang Prihatin Pada Jaminan Hukum di Indonesia !”

  1. Subhanallah,

    Suka

  2. dir88gun said

    Assalamu alaykum Warahmatullahi Wabarakatuh.

    Wahai Saudaraku sekalian di seluruh penjuru Dunia maya,

    Akhir-akhir ini, banyak orang dari berbagai penjuru dunia sedang memperingati Hari Anti Korupsi Internasional.
    Hari peringatan yang bertepatan dengan maraknya pembahasan tentang kasus penggelapan dana Bank Century di negeri kita.
    Dan juga termasuk salah satu hari yang memuakkan bagi saya.
    Hari yang memuakkan, dimana kita memperingati suatu perbuatan yang sangat memalukan, KORUPSI!
    Kenapa juga kita harus memperingati jasa-jasa para koruptor yang telah membantu penghancuran kehidupan umat? He he he…

    Untuk selengkapnya, baca di:

    http://dir88gun0w.blogspot.com/2009/12/corruption-day.html

    _____________________________________
    INDONESIA GO KHILAFAH 2010
    “Begin the Revolution with Basmallah”

    Suka

  3. makin lucu aja hukum negara ini..

    Suka

  4. lovepassword said

    Hi Hi Hi, tidak ada senjata penguasa yang mampu melawan perasaan rakyat. Banyak pejabat yang sangat menyadari ini , lha bisa saja mereka jadi baik atau memanipulasi ini untuk kepentingannya. Lha Segeblek-gebleknya OMNI mestinya tahu ini. Mudahan mudahan petinggi OMNI agak pinteran dikit. Kasihan karyawannya juga soalnya . Prut Prut.

    Suka

    • Dan kepada buaya itu LOP!
      Aku punya monyet utk Buaya itu.

      Maren Kitatau | April 3, 2009 at 5:55 pm
      Salam Maya!

      Aku mau bagi inspirasi dari monyet jatuh.
      Tadi hal ini telah aku tuliskan somewhere.

      … Ternyata yang membuat monyet bisa jatuh
      Bukan karena dia lapar dan atau ada angin kencang,
      Tapi justru karena dia kenyang, angin sepoy-sepoy.
      Ngantuk …!
      Seresek …!
      Gedebluk …!
      Jatuh lah.

      Semula aku kaget,
      Kemudian aku heran,
      Dia kaget juga,
      Tapi tidak heran …!
      Ha ha ….
      Dia segera memanjat.

      Aku tak heran lagi sekarang.
      Banyak pemimpi(n) dan idola di pucuk sana
      Pada “gedebluk” karena asyik sedap-sedapan.

      Salam Pikir Tiga

      Suka

  5. Semoga pengurus Negara ini bukan berasal dari kata dasar “kurus”.
    Semoga juga lah petinggi Negara ini tak berkaitan dgn “petting”
    Aku baru punya “dua moga” buat Prita saat ini!

    Salam Damai!

    Suka

  6. kaskuser said

    semoga masalah ini cepat selesai karena menghabiskan energi bangsa.

    btw,Hi salam kenal, just blogwalking doang. main dong ke blog saya

    http://blog.unsri.ac.id/kaskuserr/nais-inpo-gan/mrlist/1234/

    http://blog.unsri.ac.id/kaskuserr/news/mrlist/1233/

    beragam info-info ‘MAUT’ dijamin KETAGIHAN …!!!! ^_^

    salam

    Suka

  7. syafi'in said

    Reformasi sudah mati
    penguasa yang tampil tidak jauh beda dengan orba
    hukum tetap membela yang kaya/yang besar wong cilik nasibmu tak ada yang melihat
    wong cilik hanya dilihat ketika menjelang pemilu

    sampai kapan hukum di negeri ini tetap begini,
    hanya membela para bandit perampok uang rakyat dan yang mempunyai kekuasaan?
    hakim hanya melihat UANG bukan keadilan!

    mulai pertama saya menduga bahwa prita akan dikalahkan
    sementara para pejabat tak menghiraukan kasus kedholiman ini
    karena pesakitan adalah wong cilik
    coba prita seorang bos yang mengkorup uang rakyat, maka nasibnya akan beda

    doa saya semoga prita mendapat ketabahan dan kesabaran menghadapi musibah ini
    dan semoga laknat Allah SWT kepada penginjak-injak keadilan dan penmbantunya!

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: