Sains-Inreligion

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Berserah Diri, Semudah Apa Melakukannya?

Posted by agorsiloku pada November 26, 2009

Misalkan saja, suatu malam saya bermimpi dan akhir dari kesimpulan seluruh perenungan mimpi yang terjadi adalah saya diminta Allah Swt menyembelih putra kesayangan?.  Apakah saya memiliki kemampuan untuk mengerti, memahami bahwa ini perintah Allah Swt.  Jujur deh, rasanya membayangkan bagaimana kepasrahan dan keberserahan seorang hamba kepada Sang Pencipta dengan permintaanNya yang tidak masuk akal, tidak masuk logika sama sekali, serta menyalahi hukum bangsa dan kemanusiaan mampu dituruti.  Akan ada sejumlah alasan-alasan untuk menolak semua permintaan Sang Pencipta.  Namun, ini tidak bagi Nabi Ismail dan tentu saja sang ayah, Nabi Ibrahim. 

Ujian-ujian besar yang menimpa para utusanNya sungguh sulit dicerna oleh akal.  Hanya iman yang bisa, atau lebih tepat pada masa sekarang, hanya mudah diucapkan belaka, tapi untuk mampu seujung kuku mengikuti berserah diri sekualitas kepercayaan dan keyakinan akan kemahakuasaan Allah, di abad ke 20 ini sulit untuk dibayangkan.  Bahkan dalam sejarah kemanusiaan sepanjang zaman.  “Ya, Allah yang maha berkuasa atas segala sesuatu, ampunilah kebodohan dan kelemahan hambaMu ini dalam memahami petunjukMu”.

Kalau saja saya menjadi Nabi Isa, dalam sebuah kekisruhan, dianiaya, lalu akan dibunuh?.  Berapa besar perlawanan dan kepasrahan atas kejadian dari kehendakNya?.  Nabi Zakaria diburu orang yang memusuhinya.  Kemudian dikisahkan, Beliau meminta sebuah pohon untuk membuka “badannya”, lalu masuklah Nabi Zakaria ke dalamnya.  Iblis mengabari kepada musuh-musuh Nabi untuk memotong pohon itu dan Nabi Zakaria yang ada di dalam pohon itupun meninggal karena digergaji musuhnya.

Menurut Imam Al Ghazali, pada saat itu,  Nabi Zakaria TIDAK BERMOHON kepada Allah, tetapi meminta kepada pohon untuk bisa bersembunyi dari musuh-musuhnya.  Pada kisah ini, tersirat bahwa totalitas berserah diri dari Nabi Zakaria “tidak sepenuhnya” kepada Allah Swt.  Nabi mengandalkan pohon itu untuk bersembunyi.  (Renungan hari ke 16 : Hari-hari Dalam Naungan Al Qur’an,  Sulaeman al-Kumayi, Penerbit Erlangga).

Kejadian ini jelas mengajarkan kepada kita, totalitas keberserahan diri seorang hamba kepada penciptaNya.  Dari gangguan musuh atau untuk melaksanakan perintahNya.

Tentu kita juga kenal dengan kisah Mariam, yang kemudian melahirkan seorang putera tanpa ayah.  Mariam mendapatkan makanan “begitu saja”, datang atas perintah Tuhannya.  Buah-buahan dari langit datang ke sisi Mariam setiap hari.  Kepasrahan dan keberserahan diri menerima apapun yang menjadi kehendakNya.  Meyakini dan percaya tanpa reserve apapun kepada Sang Pencipta menjadikannya Allah sebagai satu-satunya penolong  bagi Mariam.  Segala apa yang dibutuhkan dan diminta hambaNya, diberikan tanpa mengikuti kaidah-kaidah logika fisika.  Tanpa menggunakan kaidah-kaidah hukum alam.  Allah memberikan kepada hambaNya apa yang tidak bisa diraih di dalam logika dunia.

Buanglah segala sesuatu yang menimbulkan kemusyrikan, dan Allah akan memenuhi dan menggantinya bahkan sebelum seorang hamba mengucapkan permintaanNya.  Membukakan pintu-pintu langit kepada hambaNya.  Namun, jika sebaliknya, maka hambanya mengusahakan dengan daya upaya sendiri dan Allah akan menutup pintu langit dan membiarkan hambaNya dalam segala perilakunya.

Nabi Musa melemparkan tongkatnya, atas perintah Allah Swt.  Sang Pencipta mengubah tongkat menjadi ular yang memakan ular-ular sihir ciptaan timnya Fir’aun.  Nabi Musa tidak boleh mengandalkan tongkat itu sebagai sarana bagi kemahakuasaan Allah.  Tidak disediakan tempat bagi Nabi Musa (dan para pengikutnya) bahwa tongkat itulah yang sakti sehingga membantai musuh-musuhnya.

Janganlah kita menduakan Allah Swt dalam pikiran-pikiran kita, dalam tindakan-tindakan kita, dalam harapan-harapan kita.   Jadikanlah Allah satu-satunya penolong.  “Tiada daya dan upaya selain karena pertolonganMu ya Rab, ya Raja Manusia….”

Kepasrahan dan berserah diri menempatkan para utusan Allah memiliki kualitas hubungan yang istimewa dengan Sang Khalik.  Ikhlas pada penerimaannya, takwa dalam menjalani dan mengusahakan, dan meyakini bahwa Allah berkuasa atas segala sesuatu apapun, sehingga daya dan upaya hanya akan dilakukan selalu dengan sebab dan menyebut namaNya, atas apa saja yang kemudian berlaku. Karenanya,  tidak juga api yang akan membakar Nabi Ibrahim atau sembelihan putera terkasih Ismail yang terjadi.  Tidak jua kepada Nabi Isa yang diwafatkan sebelum dibunuh.  Sang Pemilik alam semesta berbuat terlebih dahulu memenuhi kehendakNya sebelum kehendak-kehendak ciptaanNya melakukan sesuatu.  Kita melihat, Nabi tidak melawan yang akan memanggangnya, namun menyerahkan kepada keputusanNya.

Dari sini kita menangkap sebuah kepasrahan dan kemampuan berserah diri dari Nabi Ibrahim dan putranya, Ismail dalam memahami kaidah-kaidah dan ketetapan Rabbnya.

Pertanyaan kemudian menggeluti hati, apakah ummat Muhammad kemudian yang mengingati peristiwa ini dan melaksanakan Qurban, masih juga berhitung-hitung tentang kualitas pengorbanan yang dicontohkan oleh sejarah?.

Adakah kita menjadi bagian yang memahami dan berserah diri?.

Teriring salam kepada saudara-saudaraku yang saat ini berpuasa menjelang esok hari memotong Qurban, untuk mengingati sebuah peristiwa dahsyat dari perilaku manusia : Berserah diri.

Tentu pula kepada rekan dan handai taulan yang pada hari ini sedang berada di Padang Arafah, Mekkah – 1430 Hijriah.  Sebuah tempat dimana pintu langit saat ini  dibuka dan rahmat Allah menaburi semesta dengan ampunanNya.

Labbaika Allahumma labbaika.
Labbaika la syarika laka labbaika.
Innal hamda wanni’mata laka wal mulka.
laa syarika laka.

Wassalam,

Catatan menjelang Idul Adha 1430 H, 26 November 2010.

8 Tanggapan to “Berserah Diri, Semudah Apa Melakukannya?”

  1. kepasrahan/berserah diri itu sejatinya sangat mudah krn dapat dilakukan oleh siapa saja dengan kemampuan intelektual yg bagaimanapun…jangan heran kalau penghuni surga kebanyakan adalah orang miskin, yg seringkali diidentikkan dg intelektualitas yg rendah, krn mereka melakukan perintah Alloh tanpa pikir panjang…dan seringkali intelektualitas dan hawa nafsu menjadi penghalang kepasrahan kita kepada Alloh krn terlalu bermain-main dg akal/logika dan perasaan…contohnya Iblis…kenapa dia menolak sujud kepada adam as ketika Alloh memerintahkannya? krn berdasarkan akalnya yg memandang bahwa adam as (manusia) lebih rendah dari dia karena dia diciptakan dari api dan adam as diciptakan dari tanah, dan api itu lebih mulia dari tanah…seakan Iblis lupa bahwa yg memerintahkan itu adalah Alloh, dan harusnya kepasrahan itu hanya kepada Alloh saja…dan krn penolakan itu maka Alloh menetapkan bahwa Iblis telah kafir…jadi kalau Alloh memerintahkan sesuatu, apa saja,…jangan terlalu pikir panjang kerjakan saja semampu kita…itulah sejatinya kepasrahan (al-islam)…

    Ibrahim as setelah yakin bahwa itu adalah perintah Alloh maka dia melakukan itu dg pasrah, tanpa berfikir terlalu panjang

    Suka

  2. @Kang Agorsiloku
    Subhanallah,

    Suka

  3. kepinghidup said

    Nice blog… salam kenal

    Suka

  4. elzach said

    Assalamu’alaikum wr wb

    Alhamdulillah..
    Subhanallah..
    Allahu Akbar !

    Wassalamu’alaikum wr wb.

    Suka

  5. dir88gun said

    Assalamu alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

    Saudaraku di seluruh penjuru dunia maya,
    Tanpa terasa, untuk sekali lagi, Idul Adha telah berlalu dari hadapan kita.
    Idul Adha…
    Simbol pengorbanan ikhlas dari seseorang untuk sesuatu yang dicintainya.
    Gema perjuangan baru setelah menjalani kita simulasi perjuangan di bulan Ramadhan.
    Sebuah momentum awal, untuk kesekian kalinya, guna mendekatkan diri kepada Sang Maha Pencipta.

    Sekarang, mari kita renungkan sejenak,
    Sudahkah kita mengorbankan ego diri kita untuk memperbaiki keadaan umat?
    Sudahkah kita mengorbankan kepentingan dunia kita untuk memenuhi kebutuhan akhirat?
    Sudahkah kita mengorbankan kehidupan maksiat kita untuk kembali memperjuangkan syariat?
    Sudahkah kita mengorbankan sebagian rizqi yang telah diberikan kepada kita untuk bersyukur atas segala nikmat?

    Ingat saudaraku,
    maut dapat menjemput kita dimanapun dan kapanpun,
    seperti kita lihat telah dialami oleh hewan-hewan ternak ketika Idul Adha.
    Untuk itu, apabila kita belum mewujudkan rasa syukur kita,
    MARI KITA “BERKURBAN” SESUAI DENGAN KEMAMPUAN KITA SEKARANG JUGA!

    Ketahuilah saudaraku,
    The man who seeks the world
    will get nothing except fading shadows.
    But…
    The man who walks the path of heaven
    will rule over everything.
    yang intinya, gunakanlah duniamu untuk akhiratmu!

    Selamat hari raya Idul adha.
    Semoga Allah memberikan keikhlasan dan kekuatan kepada kita untuk berkurban.
    Dan semoga setiap pengorbanan yang kita lakukan dibalas dengan sebaik-baiknya.

    Mohon maaf jika ada perkataan yang salah atau kurang berkenan.
    Terima kasih atas perhatian dan kerjasamanya, jazakallah.

    Wassalamu alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

    http://eramuslim.com/nasihat-ulama/ustadz-fathuddin-ja-far-meneladani-konsep-pembangunan-nabi-ibrahim.htm
    http://hizbut-tahrir.or.id/2009/11/24/tunduk-dan-berkorban-demi-tegaknya-syariah-dan-khilafah/
    http://muslim.or.id/

    _____________________________________
    INDONESIA GO KHILAFAH 2010
    “Begin the Revolution with Basmallah”

    Suka

  6. Hmmm, tulisan yang menarik. Terima kasih telah berbagi, karena jujur saja saya merasa jarang ada yang menuliskannya dalam perspektif seperti ini. Kesuksesan memang harus dimulai dari dalam, serta dilakukan dengan penuh komitmen.

    Saya pikir kita memang perlu saling mengingatkan satu sama lain tentang teori dan proses pengembangan diri. Dan sebagai referensi silang, Anda juga pasti bisa menemukan cerminan lainnya dalam tulisan saya yang berjudul Racun Pengembangan Diri. Sekedar untuk semakin menambah wawasan saja, semoga bisa membantu.

    Salam kenal, sobat, senang bertemu dengan sahabat baru yang juga memiliki semangat untuk menginspirasi orang lain.

    Lex dePraxis
    Unlocked!

    Suka

    • agorsiloku said

      Betul Mas Lex.. ada racun pengembangan diri, karena yang diinginkan adalah mendapatkan keahlian dengan usaha yang sesedikit mungkin atau tanpa usaha. jadi cari referensi terus tapi tidak atau jarang-jarang dipraktekkan.
      Terimakasih juga lho Mas mau berkunjung. Blog Mas juga sangat inspiratif. 😀

      Suka

  7. ubung said

    boenks

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: