Sains-Inreligion

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Seberapa Berisikkah Anak-anak di Mesjid !

Posted by agorsiloku pada Agustus 24, 2009

Ada yang menarik dari sebuah catatan seseorang tentang anak-anak dan mesjidnya :

Suasana masjid menjelang salat jamaah itu mulai ramai dipadati oleh para jamaah dewasa dan juga oleh anak-anak. Sambil menunggu salat dilaksanakan, para jamaah yang dewasa sebagian besarnya khusyuk berdoa. Beruntung anak saya yang kecil malam itu tenang-tenang saja, duduk di dekat saya. Dia hanya menengok ke kanan ke kiri sambil melihat suasana baru untuknya, karena malam itu adalah malam pertamanya salat Tarawih di masjid. Anak saya yang sulung dan temannya sudah relatif lebih dewasa dari adiknya, sehingga mereka pun duduk tenang menunggu salat berjamaah dimulai. Namun, tidak demikian dengan jamaah yang masih anak-anak dengan usia TK hingga SD di kelas awal (kelas 1, 2, dan 3) di sisi yang lain dari masjid itu. Jamaah anak-anak ini banyak berlari-larian di sekitaran masjid, bercanda dengan teman sebayanya, sehingga suasana cenderung berisik penuh dengan tawa ria anak-anak. Keberisikan yang khas anak-anak, penuh dengan nada dan suasana gembira. Saya tidak tahu apakah mereka gembira menyambut Ramadhan atau gembira karena berkumpul dengan kawan-kawannya. Ataukah mereka bergembira itu karena berkah Ramadhan, saya juga tidak tahu.

Mendengar dan melihat suasana yang cenderung berisik ini, salah satu pengurus masjid menghimbau anak-anak agar tenang. Karena suaranya disampaikan lewat mikrofon, kesan kerasnya jadi makin menonjol dan ditambah lagi dengan pilihan kata serta kalimat yang menurut perasaan dan kesan saya kurang pas. Jadilah himbauan untuk anak-anak agar tenang itu, kok, rasanya malah terlalu keras sekali ya untuk perasaan anak-anak (usia TK s/d SD awal). Bahkan ada himbauan agar anak-anak ini pulang aja kalau hanya membuat berisik suasana masjid. Anak saya yang kecil yang mendengar suara keras lewat mikrofon itu, berkata kepada saya, “Yah, orang itu marah-marah ya? Yuk kita pulang aja, Yah. Rakan takut, Yah.”

Mendengar kata-kata anak saya dan himbauan itu, saya merasa prihatin. Rasanya, kok, masjid itu sepertinya menjadi tempat yang tidak welcome kepada anak-anak, ya? Masjid tempat saya bersalat Tarawih itu, kok, sepertinya menjadi tempat yang terlarang buat anak-anak, ya? Masjid itu, kok, sepertinya menolak keberadaan anak-anak di lingkungannya? Karena keberisikan anak-anak hanya akan mengganggu kekhusyukan para orang dewasa yang sedang berniat berdekatan dengan-Nya, maka keberadaan anak-anak harus diminimalkan dari masjid?

Memang tak mudah juga !, kadang kita merasa terganggu oleh ulah anak-anak yang berlari-lari atau berbagai suara yang ributnya membuat khusyuk menjadi semakin tak mudah.  Membiarkan juga tentu tak baik pulalah, anak-anak juga harus belajar memahami bahwa dalam suasana mesjid bukan untuk bersuka-suka, tapi juga kesukaan anak-anak pada mesjid, menjadikan mesjid tempat yang mengesankan buat rohani anak, adalah juga bagian dari kepentingan dak’wah yang harus terbina sejak anak kecil menjadi dewasa.

Rekan tadi melanjutkan lagi dengan catatan :

Apakah ada hubungannya ya antara tingkat keberisikan di sekitar tempat salat dan tingkat kekhusyukan seseorang saat salat? Saya rasanya pernah membaca suatu cerita yang bertemakan tentang kekhusyukan salat terkait dengan suasana lingkungan. Bahwa suatu ketika Sayiddina Ali r.a. terluka oleh sebatang panah akibat peperangan yang beliau ikuti. Ketika seorang sahabat berniat mencabut batang panah tersebut, Sayiddina Ali r.a. meminta sahabatnya itu agar mencabut batang panah yang tertancap di tubuhnya itu saat beliau salat. Dan betul, sahabat itu akhirnya mencabut dan mengobati luka akibat panah tersebut saat Sayiddina Ali r.a. melakukan salat. Yang mengagumkan adalah saat sahabat itu mencabut batang panah dari tubuh Sayiddina Ali r.a., tak terdengar sedikit pun erangan rasa sakit dari beliau. Beliau dengan asyik-khusyuk-masyuk tetap melakukan salatnya tanpa terganggu oleh rasa sakit akibat luka panah. Saya membayangkan betapa dahsyat kualitas salat yang dilakukan oleh beliau ini sehingga “rasa sakit” yang sangat akibat panah itu (untuk ukuran saya) dapat dikalahkan (ditekan/dihilangkan) oleh “rasa nikmat” berasyik-masyuk dengan-Nya lewat salat beliau itu.

Kelak, mereka itu juga yang menjadi panutan yang menggemakan tauhid. Tentu saja teguran untuk keberisikan itu juga perlu, bukan karena orang dewasa harus khusyuk.  Bukan !, bukan, tapi membuat anak-anak itu berbangga hati akan kehadirannya diakui.

==========

Selamat menunaikan ibadah Ramadhan kepada segenap rekan-rekan, lama kita tak bersua.  Mas Abu, Mas Dono, Mas Ayruel, Mas Haniifa, Mas Qarrobin, Mas LovePassword,  dan semua rekan maya yang selalu hadir dalam segala suasana, yang tak agor sebutkan semuanya.  Mohon kiranya disudikan memaafkan segala salah kata dan kurangnya silaturahmi dari Agor.

Iklan

12 Tanggapan to “Seberapa Berisikkah Anak-anak di Mesjid !”

  1. qarrobin said

    Pertamaxxxxxxxxxxxxxxxxx

    Suka

  2. Baru saja saya juga terpikir soal anak-anak di mesjid/musholla ini pak agor. Entah kenapa perilaku anak-anak kalau di mesjid/musholla ko ya jadi heboh berisik.

    Dari sisi agama, apakah mungkin anak-anak ini ribut karena ‘dimanfaatkan’ syaiton untuk mengganggu kekhusu’an sholatnya orang dewasa? entahlah,,, saya tidak punya wewenang ilmiah untuk menjawabnya. Namun hati kecil saya bilang yang namanya khusu itu dari dalam. Perkara apa yang terjadi diluar kita itu tak jadi masalah kalau memang kita niat khusu.

    Lalu kembali ke masalah anak-anak di mesjid tadi, ada penjelasan?

    Menurut saya , ini pendapat pribadi loh pak agor, ini lebih pada faktor psikologis. Mesjid/musholla dimanapun adanya, merupakan sebuah bangunan terbuka yang luas, terang dan sejuk. Ini memancing naluri dasar anak-anak untuk bermain. Dimana lagi mereka menemukan tempat untuk berlari-lari bebas, berbincang, tertawa dan bermain dengan nyaman seperti mesjid? Bayangkan, mesjid itu luas, tanpa sekat, terang, dan tentu saja sejuk. Jadi wajarlah kalau mereka seperti mendapat euforia bergembira di sana.

    Bagaimana kalau kedepannya, mesjid tidak lagi disakralkan sebagai tempat ibadah ragawi saja, tapi juga tempat belajar dan bermain yang manusiawi. Mendirikan TK Islam di mesjid misalnya.

    Suka

  3. qarrobin said

    Assalamu’alaikum

    Bener @Kang Agor,
    teguran buat anak2 hendaknya dengan teguran yang mendidik
    Saya salut dengan Ali bin Abi thalib ketika menjalin hubb dengan Allah kala shalat, benar2 khusyuk

    saya banyak belajar dari blog @Kang Agor, @Kang Haniifa, juga dari komentar2nya @Kang Ayruel, @Kang Lovepassword, @Kang Abudaniel dan sobat2 yang lain
    hatur tengkiu dah buat semuanya
    semoga puasa kita fulllllllllllllllllllllllllllllll

    Suka

  4. Irawan Danuningrat said

    Anak-anak berisik di mesjid? namanya juga anak-anak….. lebih baik kita menjadikan kita sendiri husyuk shalat mengharap ridla Allah dan menghilangkan suara “berisik” dlm hati dan pikiran sendiri….

    Namun sepatutnya sebelum shalat pengelola mesjid mengingatkan anak-anak untuk tidak ribut/berisik saat shalat dengan cara yg baik dan wajar.

    Peserta lainnya seyogianya fokus pd shalatnya.

    Dengan Shalat tsb kita
    fokus mensyukuri rakhmat-Nya,
    fokus mengharap ridla-Nya,
    fokus memohon ampunan-Nya.

    Di rumah, jangan lupa kita ingatkan kembali anak kita masing-masing bagaimana sebaiknya bersikap di dalam mesjid, dengan kalimat yg lembut dan mudah dipahami mereka.

    Manakala kita kembali ke mesjid, fokus kembali pada shalat masing-masing.

    Suka

  5. Assalamu’alaikum,

    Cacatan terakhirnya sangat menarik, betapa mereka kelak akan menjadi ahlul masjid juga… setidaknya rasa senang masa kecil ditempat yang dirido’i oleh Allah akan memberkas hingga dewasa kelak.
    Sebaiknya pada saat shalat berjamaah, orangtua, kakak atau yang lebih dewasa mengapit anak-anak diantara dua orang dewasa sehingga mengurangi keinginan sianak untuk tidak serius dalam shalat.

    Salam hangat selalu, Haniifa.

    Suka

  6. lovepassword said

    Met Puasa Mas Agor, aku kok malah teringat film animasi anak ala Malaysia itu ya : Itu si Ipin

    Suka

  7. Ketika saya tinggal di Yogya, saya masih ingat ada beberapa masjid yang menempelkan tulisan (plakat kecil) di dinding arah luar teras masjid. “Apabila Anda menegur temanmu dengan perkataan ‘diam’ saat khatib berkutbah, maka batallah Jumatmu.”
    Tulisan (kutipan hadits Rasulullah SAW)itu tentu bermaksud agar siapapun yang berada di masjid hendaknya diam-tenang.
    Namun demikian, andaikan ada yang berbicara maka teman (jamaah) di sebelahnya akan menegur dengan sentuhan ringan atau memberi aba-aba tangan tanpa suara.
    Saya terkesan dengan tulisan tersebut. Sebab, tulisan itu juga menjadi cara lain mendiamkan suasana berisik yang ditimbulkan anak-anak pada shalat tarawih. Cukuplah dengan memberi aba-aba tangan secukupnya, tetapi dapat dimengerti anak-anak.
    Tetapi kalaupun keberisikan anak-anak itu tetap ada, justru disinilah tantangan kaum dewasa untuk bisa belajar lebih khusyuk dalam suasana keberisikan itu.

    Suka

  8. Life Of AKU The Episode said

    assalamualaikum …salam ramadhan .. iya ! situasi tersebut adakalanya membuatkan kita berada di dalam dilema .. namun sudah tentu di sana ada sesuatu yang boleh menyelesaikannya. Kini, apa yang boleh saya kongsikan ialah tentang aulawiyatnya atau keutamaannya. Kita semua perlu membuat pertimbangan terutamanya dari segi maslahatnya. dalam soal anak-anak berisik di masjid, saya rasa di mana-mana ada berlaku. Namun, sekiranya mereka dilarang untuk hadir ke masjid, sudah tentu tidak akan ada lagi generasi yang bakal mengimarahkan masjid. Justeru, anak-anak tidak boleh dilarang hadir ke masjid atas alasan mereka akan buat bising. Lagipun bukan semua anak-anak begitu. Kalau begitu, itu memang sifat mereka yang kenak-anakan. Cumanya, kita boleh membentuknya menjadi anak yang bagus ketika di masjid. Bagaimana ? iya ! ianya mestilah diselesaikan dengan penuh bijak atau hikmah. sama-samalah kita fikirkan apakah jalannya. Wallahua’lam…

    Suka

  9. agorsiloku said

    Wasallamualaikum seluruh rekan dan salam ramadhan,
    Masalah anak dalam mesjid dan segala keributannya memang dipandang sebelah mata, penganggu kekhusyukan sampai batas tertentu. Sebuah sisi yang menampakkan bahwa anak-anak belum bisa dijadikan subjek dalam lingkungan hubungan vertikal yang “layak” dihargai, meskipun semua orang tua berharap anak-anaknya menjadi ahlul masjid. Mesjid dengan segala pernak-perniknya tidak akrab dengan dunia anak-anak dan memang kita dewasa dengan tidak menyediakan tempat bagi anak beraktualisasi di dalam masjid. Hanya pada saat-saat tertentu saja, anak-anak mendapatkan haknya sebagai subjek di rumah Allah Swt ini.
    Saya jadi ingat dokter gigi anak dan dokter gigi ntuk orang dewasa. Dokter gigi yang memberikan perhatian pada anak-anak membuat peralatan dokter gigi yang menyeramkan, menjadi akrab dan menyenangkan.
    Apakah dan bagaimana anak-anak menjadi subjek yang bangga dan berbahagia jika ikut orang tuanya ke mesjid?, merasa kasih sayang Sang Maha Pencipta hadir ketika dia duduk diam dengan manis.

    Suka

  10. smpputri said

    Sepertinya Rasulullah tidak terganggu kekhusukannya dengan hadirnya anak-anak, termasuk cucu beliau.
    saya ingat waktu di surau dulu, anak-anak diberi tempat di bagian masjid paling belakang, yang walaupun ribut tapi, tidak sampai mengganggu jamaah. Itu dulu. Di kampung yang suraunya cukup luas dan ada pintu antar ruangan jamaah dan ruang belakang (tempat beduk).Rupanya guru ngaji waktu itu mendesain suraunya juga welcoe buat anak-anak.

    Suka

  11. muhammad abu ridwan said

    MENURUTSAYA,KEADAAN DIMASJID SEBELUM SHALAT JUM’AT SUDAH RAMAI.KENAPA?KARENA KITA TAHU HARI JUM;AT ADALAH RAJANYA HARI

    Suka

  12. kita harus menegur seorang anak dengan bahsa yang mereka mengerti tanpa harus marah-marah

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: