Sains-Inreligion

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Mengerikan(kah) Menjadi Pasien Omni International Hospital?

Posted by agorsiloku pada Juni 10, 2009

Rumah sakit umum, milik negara, lokal, atau internasional yang memberikan jaminan kesehatan yang baik, biaya relatif wajar, dijamin asuransi adalah mimpi atau harapan masyarakat. Salah satu hasil pertemuan anggota DPR dan usulan pencabutan izin adalah berita yang juga tidak menggembirakan.  Bukankah masyarakat juga butuh rumah sakit?.  Bukankah, rumah sakit di negeri ini masih jauh dari mencukupi?.

“Ya, tapi bukan rumah sakit yang pasiennya datang karena sakit, bukannya diobati, tapi malah disakitin?”.“Ya, nggak lah?.  Tentulah ada etika kedokteran, kemanusiaan, dan bla..bla…bla lainnya yang mengamankan dari eksploitasi berlebihan yang melanggar kemanusiaan.  Kita percaya itu, dan kita harus percaya.

Karenanya,  disamping urusan Prita Mulyasari yang sudah begitu jelasnya kasusnya, kita harus merenungkan kembali bahwa ternyata kasus pengadilan, gugatan RS Omni terjadi pula.  Seorang pasien yang sudah meninggal, selama 3 bulan di rumah sakit, penjaminnya dikenai biaya sebesar Rp 552 Juta dan setiap keterlambatan membayar dituntut bunga 6% per tahun dari total tagihan.  Hebatnya lagi, pihak rumah sakit OMNI tidak bisa menunjukkan hasil rekam medis sebagai bukti, penggantian tabung gas oksigen tiap hari, dan ganti obat setiap hari, seperti dikutip oleh Tempo interaktif (klik link).  Luar biasa !, luar biasa mengerikan penjelasan yang ada dalam sidang tersebut.  Kita bisa berdecak kagum atas prestasi pengaduan gaya ini.  Sama juga dengan negosiasi RS OMNI terhadap Ibu Prita Mulyasari, OMNI mau mencabut gugatan asalkan Ibu Prita mengaku bersalah dan tidak meminta hasil rekam medis yang amburadul (apa ada ya !) dengan trombosit dinyatakan hanya 27 ribu itu?.  Belum lagi soal fasilitas kebetulan yang diberikan oleh RS OMNI kepada PNS – Kejaksaan akui diservis RS OMNI.  Yang membaca tentunya sederhana-sederhana saja deh : “Ada upaya bermain petak umpet di situ !?”

Mulanya orang berpikir bahwa ini adalah perlawanan seorang Ibu Prita dan kegagalan RS OMNI untuk berkomunikasi dengan publik.  Namun, kalau melihat kearoganan dan kebodohan berkomunikasi dengan publik, tampak pula persidangan-persidangan yang terjadi (seperti gugatan pada penjamin pasien yang meninggal) adalah upaya yang tidak sehat dari RS OMNI dalam berhubungan dengan pencari kesehatan negeri ini!?  Ataukah bagaimana dengan kejadian seorang bayi menjadi buta?, seandainya itu anak kita?.   Bagaimana kalau karena “hukuman” publik dan hukum kemudian berpihak pada keadilan, lalu RS Omni bangkrut, seperti dikeluhkan oleh seorang penulis : “Jangan hujat RS OMNI” .  Di situ ada dokter, karyawan yang menggantungkan hidupnya pada RS ini?  Bisa sih dipertimbangkan, tapi lebih menakutkan adalah RS yang tidak manusiawi.  Kalau RS ini bangkrut, mudah-mudahan segera muncul kembali rumah sakit yang jauh lebih memenuhi syarat dan bersikap lebih beretika, dan karyawannya segera bisa bekerja di rumah sakit yang baru itu, atau rumah sakit baru lainnya yang juga sedang dibangun.  Jadi nggak usah khawatirlah..

Perlawanan Maya dan Media terhadap RS OMNI.

Kalau melihat internet, media massa, dukungan birokrat terhadap kasus Ibu Prita sangat jelas bahwa yang sedang “berperang” dan marah bukanlah korban yang kena aniaya, tapi masyarakat terhadap sikap dan gugatan hukum RS OMNI.  Sebagai institusi publik, RS OMNI sedang menggorok lehernya sendiri dengan seluruh sikap-sikap dan penjelasannya.  Terus terang, saya sendiri merasa aneh modal ratusan milyar untuk membuat banyak rumah sakit bertaraf internasional mewah dan kerjasama sana-sini yang dibangun, tetapi kemudian mengambil sikap yang anti perdamaian, gampang bermain-main dengan hukum, termasuk memusuhi masyarakat dengan aspek legalitas yang terbukti amburadul juga!.

Tidakkah kita ingat bahwa dunia persepsi publik adalah kebebasan dan anti kesewenang-wenangan.  Di era informasi dan komunikasi ini, berkali-kali telah ditunjukkan : Penyanyi idol Amerika yang amburadul dan tidak bisa menyanyi dengan baik, malah bisa menjadi populer sedunia !, Mantan Presiden Megawati naik daun karena dianiaya rezim penguasa, dan masih banyak lagi kasus-kasus dimana ingin menang sendiri dan melawan publik akan berakhir kandas !

Apakah manajemen RS OMNI memang tidak memiliki cukup kepekaan untuk berempati terhadap kegalauan masyarakat, apakah hukum akan berpihak pada ketidakpekaan ini (seperti ditunjukkan oleh kejaksaan yang menjebloskan Ibu Prita ke bui !)

Jadi ingat kaos yang pernah saya beli : “JANGAN MENTANG-MENTANG BERKUASA dan JANGAN MENTANG-MENTANG TIDAK BERKUASA

Join Cause Facebook yang mendukung/empati pada Ibu Prita sudah 278 ribu.  Awal juni 2009, ketika kasus ini mulai merebak, kalau saya ketik Prita Mulyasari, search google hanya sekitar belasan ribu saja, tapi sekarang saya coba, cukup mengejutkan : 2.760.000 sedang kalau kita ketik OMNI Hospital di awal Juni 2009 berjumlah (lupa), tapi jelas di atas satu juta, dan sekarang pada jam yang sama berjumlah 1.750.000.  Artinya perlawanan masyarakat terhadap kelakuan RS OMNI telah jauh menyusul popularitas RS OMNI.  Alangkah mahalnya harga yang harus dibayar RS OMNI terhadap keangkuhan yang dibuatnya.

Untuk mengembalikan citra, berganti nama saja tidak cukup (ingat kasus Presiden Taksi yang berwarna kuning itu).  Ganti nama saja tak pernah cukup untuk mengubah persepsi masyarakat terhadap taksi yang bermasalah itu.  Begitu juga dengan RS OMNI, bisakah lebih santun dan mengubah semua sikap kelirunya berhadapan dengan semua korban-korbannya, atau masyarakat akan berpikir untuk memusiumkan rumah sakit ini.  Lanjutkanlah semua arogansi RS OMNI atau lebih cepat lebih baik.

Semoga Ibu Prita dibebaskan dari jeratan penganiayaan yang tidak pada tempatnya dan mendapatkan ganti rugi materil atas kesewenang-wenangan yang menggores nurani masyarakat…..

Iklan

14 Tanggapan to “Mengerikan(kah) Menjadi Pasien Omni International Hospital?”

  1. haniifa said

    Lebih cepat lebih baik…
    cepat sengsara rakyatnya,baik pejabatnya… 😀

    Suka

  2. lovepassword said

    Mestinya hati atau yah otaklah diletakkan sedikit diatas arogansi. Dalam kasus OMNI, selain arogansi ada satu hal yang bisa dilihat : Manajemen RS terlalu pintar sehingga membuat besar hal-hal yang sebenarnya tidak terlalu tercium andai tidak dikipas mereka sendiri. Pinter ya pinter tapi jangan kepinteren gicu loh.
    Terima Kasih yang sebesar-besarnya atas kebaikan RS OMNI mau menggali kuburannya sendiri. Lanjutkan atuh toh tinggal maju selangkah. Hik hik hik. Lanjutkan – lebih cepat lebih baik. Hiks.

    Suka

  3. haniifa said

    @Mas Agorsiloku
    Saya nggak melo-melo yach, kalau digugat seperti kasus @mba Prita…

    https://agorsiloku.wordpress.com/2008/12/31/perbedaan-pramugari-garuda-airways-dan-lion-air/

    @mba-mba pramugari @haniifa orangnya baek loh… 😀

    Suka

  4. xkmn said

    XKMN

    Saya dengar di berita di metro tv,kalau rumah sakit yang benar2 terakreditasi Internasional cuma satu.Tetapi tidak disebutkan rumah sakit apa………

    Suka

  5. lovepassword said

    Yah sekarang harap maklumlah : Kalo orang kaya memilih berobat ke Singapura, sedangkan yang miskin milih berobat ke Ponari. Setidaknya belum ada yang dimasukkan penjara sama Ponari. Hi hi hi.
    RS dan pemerintah termasuk para tokoh agama seharusnya tidak sekedar menyalahken rakyat tetapi juga melihat juga penyebab mendasar ketidakpercayaan yang terjadi.Kalo RS yang katanya Internasional saja begicu. hiks. Nggak perduli interlokal atau internasional kalo masuk Indonesia entah mengapa standardnya juga mendadak jadi standard antah berantah. Peraturannya mesti diperketat.

    Suka

  6. padahal dokter2 di rumah sakit ‘INTERNASIONAL’ harusnya khan profesional smua..

    Suka

  7. Ryan said

    Niatnya bukan ngobatin tp mo nyekik pasien sampai mati kayaknya ..

    Suka

  8. kips said

    Kita ambil hikmahnya aja supaya lebih berhati-hati.

    Suka

  9. Anonim said

    berbahagia diatas penderitaan & kesakitan orang….adalah profesi……?

    Suka

  10. ian said

    tampaknya sih iya 😛

    Suka

  11. treante said

    jadi pengen nyoba berkunjung kesana 😆

    Suka

  12. Syafi'in said

    Semoga rumah sakit yang malah bikin sakit badan dan kantong rakyat bahkan bikin mati rakyat (baca orang) seperti itu, saya doakan semoga cepat-cepat bangkrut… dan bagi pembela rs ini (terutama yang dipengadilan)mudah2an cepat bangkrut juga, Amin !

    Suka

  13. NaHari said

    Teman2, hati2 kasus prita bukan kasus biasa sepertinya orang besar melawan kecil. Tetapi ada ketidakjujuran diantara keduanya dan kebohongan, baik Prita maupun RS Omni. Biarkan mereka, kita tidak perlu bersimpati/memihak kepada salah satu dari mereka.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: