Sains-Inreligion

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Apakah Seleksi Alam Adalah Sebuah Proses Evolusi?

Posted by agorsiloku pada Mei 22, 2009

Menonton Animal Planet, National Geographic atau sejenisnya di studio TV TPI, TVone, TransTV atau Global TV atau lainnya termasuk acara favorit yang semakin jarang dimunculkan televisi kita.  Kalah sama sinetron-sinetron. Yang menarik, dari film tentang perhewanan dan kehidupannya adalah perilaku, mengorganisasikan diri untuk mendapatkan makanan, melakukan perjalanan melintasi gurun pada waktu tertentu berdasarkan nalurinya.

Apakah kemampuan hewan untuk beradaptasi dengan lingkungannya sebagai cikal bakal evolusi?.  Apakah penyesuaian dengan lingkungan terjadi terus menerus seperti jerapah yang kemudian menjadi berleher panjang akan terjadi karena kesulitan mendapatkan makanan yang mudah diraih?.  Ini bukan soal percaya atau ilmiah atau tidak ilmiah, namun ketika kita menonton seleksi alam terhadap kehidupan hewan, beberapa hal yang kerap kita jumpai :

  • Hewan-hewan yang baru dilahirkan, seperti buaya yang baru menetas akan langsung berhadapan dengan ganasnya alam.  Untuk sampai ke habitatnya, buaya-buaya kecil itu harus menempuh perjalanan panjang dan di setiap perjalanannya, siap dimangsa musuh-musuhnya yang lebih besar.  Begitu juga pada hewan-hewan lain mengalami prosesi yang sama.  Yang kuat dan beruntung akan hidup lebih lama dan beranak pinak.  Siap disantap atau menyantap.
  • Dalam perburuan, hewan-hewan yang lemah akan tergilas oleh hewan yang lebih kuat atau dijadikan mangsa perburuan.  Hewan-hewan yang bergerak lambat, sakit, lemah akan terlebih dahulu mati dibanding hewan-hewan yang kuat.  Ini memang berbeda dengan manusia.  Manusia yang lemah dan sakit dilindungi dengan obat-obatan dan kemanusiaan.  Dalam dunia perhewanan, yang lemah harus musnah.

Dengan kata lain, film dokumenter kehidupan mahluk hidup itu menjelaskan mahluk-mahluk yang secara genetis lebih sehat dan lebih baik akan bertahan hidup dan terjadi perkawinan antar mereka.  Yang lemah musnah yang kuat akan berkombinasi untuk menghasilkan spesies yang lebih kuat.  Jadi kalau saya berandai-andai ada perkawinan dua hewan yang membawa genetik resesif penyakit dan melahirkan hewan yang sakit, maka yang sakit melalui seleksi alam akan segera musnah/gagal bertahan hidup.  Seleksi alam lebih tampak melanjutkan kehidupan dengan mahluk-mahluk hidup yang mampu dan lebih kuat.

Memang beda dengan manusia, yang sakit dan lemah di antara manusia tidak musnah dan kalah bersaing, tetapi dipelihara dan dilindungi.  Tidak demikian halnya di dunia hewan.  Di dunia manusia, agama melarang perkawinan dekat, karena kemudian diketahui akan melahirkan keturunan yang lemah karena yang bisa dijelaskan dengan kombinasi genetis yang muncul.  Dalam dunia hewan, mereka tidak musnah perlahan-lahan, tapi harus segera hilang dari peredaran.

Jadi macan yang lemah, segera mati dan yang bertahan dan berketerunan adalah hewan-hewan yang sehat.  Macan lho, tidak berubah menjadi singa.  Macan tetaplah macan.

Setidaknya, itulah yang saya pahami dari seleksi alam….

Iklan

19 Tanggapan to “Apakah Seleksi Alam Adalah Sebuah Proses Evolusi?”

  1. haniifa said

    Namun saya juga kerap mendapati film propaganda teori evolusi… yang dibantu oleh efek animasi yang semakin canggih, hingga evolusi itu seolah-olah kenyataan ?! 😦

    Suka

    • agorsiloku said

      Efek animasi semakin canggih, dan “memaksa” orang mempercayai bahwa “kebetulan” lebih penting dari pemahaman perancangan cerdas.
      Pada fakta, hampir tidak ditemui bukti perubahan mahluk hidup menjadi mahluk hidup lain (pisahkan dengan perkembangan mahluk hidup dari janin menjadi mahluk hidup sempurna), tapi memang dalam animasi, semua menjadi mungkin….
      Biarpun, jika masuk ke ruang sempit biologi molekuler… faktor kebetulan ini menjadi semakin tak mungkin, tapi selalu dipercaya harus mungkin…Ada-ada saja memang.

      Suka

  2. arief juniawan,drh said

    seleksi alam itu hanya pada faktor sel gamet/sel kelamin bukan pada sel somatik/sel tubuh,gak masuk akal kalo misal kaki membesar krn digunakan utk jalan kemudian diwariskan ke keturunannya…impossible

    Suka

  3. arief juniawan,drh said

    seleksi alam pada sel gamet akan menimbulkan mutasi apakah mutasi gen atau mutasi kromosom,dari situlah muncul rekombinasi,yang menimbulkan variasi genetik…yang ilmiah donk kalo bicara itu,jangan debat yg ga hi-tek…kata pak habibie..hehehe

    Suka

  4. Filarbiru said

    Yg jelas alquran tdk mengenal teori evolusi.

    Seleksi alam adiknya teori evolusi

    Suka

  5. arief juniawan,drh said

    yang mengatakan Al Quran tidak mengenal evolusi perlu Berguru dulu lebih dalam pada orang yang paham Al quran…spt Qurais Shihab dll…jangan asal komentar

    Suka

  6. Risma said

    Klw blh berikan coth peristiwa seleksi alam

    Suka

  7. Arief juniawan,drh said

    seleksi alam pd dasarnya bila ditinjau dari agama adalah jg seleksi dari Allah pd makhlukNYA atau boleh kita sebut ujian….melalui seleksi itulah ada makhluk yang survive dan ada yang punah….kalo tak ada seleksi lalu sziapa yg baek dan buruk gak akan kelihatan…

    Suka

  8. arief juniawan,drh said

    hai…wira anda pernah sekolah gak sih…tidak selalu mutasi gen menimbulkan cacat atau kerusakan…tapi bisa menimbulkan rekombinasi…lulusan mana sih lu…SD pamong…ya.

    Suka

  9. harjo said

    Arief,

    Mutasi bisa saja terjadi, tetapi evolusi melalui mutasi adalah sesuatu yang mustahil. Saya ambil contoh, sebagai bukti paling bagus untuk membuktikan masalah ini adalah percobaan pada lalat buah, Drosophyla sp. Orang-orang yang kuliah di Biologi tentu tahu dan pernah melakukan percobaan. Kita bisa menghasilkan banyak mutan dari serangga ini, tetapi serangga ini menjadi fertil bila disilangkan species asalnya, dan keturunannya kembali kepada ke kondisi semula. Perubahan bisa terjadi, seperti: warna mata merah menjadi tidak berwarna atau sayap menjadi lebih kecil, dsb. Tetapi dari perubahan itu, terlihat bahwa hal ini lebih bersifat degenerasi, bukan sesuatu yang menuju perbaikan bagi species itu sendiri. Itu sebabnya sejak semula (atau sejak teori yang mengatakan bahwa mutasi adalah pendorong terjadinya evolusi sudah dibantah sejak jaman dulu). Paling tidak dikatakan oleh:

    1. Prof J. Muller, penerima hadiah Nobel 1946, “bahwa kebanyakan mutasi adalah buruk, jarang menghasilkan sesuatu yang baik”.

    2. Mayr (1963), kebanyakan mutasi yang dihasilkan adalah membuatnya keadaan yang merosot, sehingga tidak mungkin menjadi agen penghasil species baru.

    3. Prof. E.W. MacBride, mahkluh dnegan sayap yang susut, mata yang tidak baik, merupakan bahan yang tidak baik untuk kemajuan evolusi.

    4. Prof. Haldane, “Jika dari satu species yang sama, lalu dihasilkan dua keturunan yang steril terhadap yang lain, hal ini tidak bisa dikatakan sebagai species baru.

    5. J.M Coulter dalam bukunya Science Remarking the World, hlm 177 ”Species baru” karena mutasi hanya merupakan species yang mempunyai tingkat fisiologis yang lebih rendah, sehingga tidak mempunyai penjelasan yang cukup tentang evolusi progresif dari satu filum ke filum lainnya.

    6. Goldschmidt, Univ California, dlm buku Material Basics of Evolution, “kumpulan mutasi kecil tidak dapat membentuk species baru, dan variasi yang terjadi bukanlah species yang insipien.

    7. Glodschmidt, dlm buku Theoretical Genetics, ” tidak seorang pun berhasil menghasilkan satu species baru dengan mikromutasi, apalagi makromutasi.

    8. Rench (1959), “kebanyakan mutasi menyebabkan pengurangan kemungkinan hidup”.

    9. Prof Lysenko dan Prof Michurin, USSR, ” penelitian mengenai mutasi ditinjau dari kemajuan evolusi, membawa kepada suatu keadaan cul de sac (jalan buntu).

    10. Huxley (1943), bukti-bukti langsung dan sempurna tentang kegunaan mutasi dalam evolusi pada kondisi alami, masih belum pernah dikemukakan.

    11. Heribert Nilsson (1954), dlm bukunya synthetic Speciation, mutasi cuma sekedar pernyataan ketidakstabilan dari rantai atom, muncul dan kembali hilang”.

    12. Morgan (1925), dlm The Genetics of Drosophila, hlm 55, semakin jauh sifat yang meninggalkan keadaan normalnya, semakin kurang daya tahan hidupnya.

    13. Gonzales, American Nature, jlid 57, daya tahan hidup selalu merosot menurut rata-rata jumlah gen yang terakumulasi.

    Kesimpulannya: Mutasi hanyalah sekitar species induk, tidak mungkin dipisahkan dari species induk, karena mutasi yang besar pun tetap fertil dengan species induknya. Daya tahan hidupnya lebih rendah, ini pada skala laboratorim, apalagi di alam. Lalu bagaimana dengan manusia? Semua mutasi yang terjadi pada manusia, justru menyebabkan kelainan mental maupun fisik, seperti albinisme, dwarfisme, dsb. Mutasi tidak menambahkan informasi genetis apapun pada rantai DNA. Bagaimana mungkin sebuah bakteri yang hanya terdiri dari 2000-an jenis protein bisa bervolusi menjadi manusia yang jumlah jenis proteinnya 100.000-an.

    Suka

    • arief juniawan,drh said

      bukankah evolusi regresif jg bisa terjadi?…dan itu jg di sebut evolusi.

      Suka

      • agorsiloku said

        Penjelasan yang dapat pernah saya baca : “Pada teori evolusi berpendapat bahwa terjadi perubahan pada makluk hidup menyimpang dari struktur awal dalam jumlah yang banyak beraneka ragam dan kemudian menyebabkan terjadinya dua kemungkinan. Yang pertama adalah makhluk hidup yang berubah akan mampu bertahan dan tidak punah atau disebut juga dengan istilah evolusi progresif. Sedangkan kemungkinan atau opsi yang kedua adalah mahluk hidup yang berubah atau berevolusi tadi gagal bertahan hidup dan akhirnya punah atau disebut dengan evolusi regresif.”
        Jika yang disebut keanekaragaman itu adalah varian dari ukuran, bentuk, warna rambut, kelopak mata, dan lain-lain…ini kemudian disebut evolusi progresif, sebaliknya regresif. Namun, perdebatan mengenai evolusi bukan di sini, pertanyaan yang tidak pernah terjawab adalah perubahan mahluk hidup menjadi mahluk hidup lain.
        Yang saya baru ketahui, pembentukan silang genetis dari “bubur genetis” itu sendiri membentuk mahluk hidup mengikuti aturan tertentu sampai terbentuknya satu jenis mahluk hidup. Semua penyimpangan dari rancangan genetis dari rencana Tuhan terhadap mahluk hidup lebih bersifat merusak. Protein yang akan mencari pasangan dan menempatkan dirinya dengan cara dan pola tertentu. Mengapa dan bagaimana, ini sendiri masih menjadi rahasia ilmu pengetahuan. Sepertinya, rancangan mutasi acak, bebas, dan kemudian menjadi mahluk hidup baru lebih hanya sebuah hipotesis belaka.

        Suka

    • arief juniawan,drh said

      dan saya juga kurang yakn kalo mutasi selalu lbh buruk…dari asal indvdu…

      Suka

    • agorsiloku said

      Yang dapat saya pahami dari kulit genetika, kejadian terciptanya mahluk hidup merupakan rancangan yang tertentu sejak dari protein pertama sampai mahluk yang sempurna. Jadi, memang tidak jelas sampai ilmu pengetahuan saat ini, mahluk hidup jenis baru, muncul dari mahluk hidup yang dirancang berbeda….

      Suka

  10. nonika srah said

    knapa sih lndonesia itu benar benar ceroboh kita itu di beri anugerah berupa hewan hewan tapi tidak di manfaatkan secara optimal

    Suka

  11. cika said

    saya minta indonesia harus menjaga kekayaan alamnya dan suatu limbah itu dimanfaatkan

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: