Sains-Inreligion

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Posisi Wahyu dalam Akal Berpikir Manusia

Posted by agorsiloku pada Maret 1, 2009

Lha… kok tumben ngurusin pertandingan PKS dengan Pengikut Ahmadiyah? Nggak lah, eh iya… ah nggak.  Saya cuma ingin bertanya, apa arti bagi saya sendiri kalau Allah SWT menurunkan berulang-ulang wahyu melalui malaikat Jibril kepada manusia dalam berbagai kesempatan dan kesempitan?.  Apakah wahyu itu spesialis hanya diterima oleh para Nabi?.  Atau masih adakah Nabi setelah utusan yang terakhir 14 abad silam?  Atau masih ada wahyu cinta versi Gulam Akhmad?.  Kan bisa saja ada pendapat dengan analisis yang baik bahwa wahyu belum berakhir atau terputus, karena kenabian dan wahyu adalah dua hal sama tapi sekaligus berbeda?.  Saya juga tidak berminat untuk menelusuri panggung sejarah Gulam Ahmad.

Banyak jenisnya wahyu Allah kepada mahluk hidup (atau tak hidup?), namun yang menarik adalah wahyu yang tertulis.  Yang sudah dibukukan oleh manusia adalah Al Qur’an, yang memiliki susunan dan komposisi huruf dan kata yang teramat sangat matematis.  Beberapa kali blog ini, atau rekan menguraikan keistimewaan wahyu yang dimuat dalam Al Qur’an atau juga kita temui di sini atau tag-tag pada halaman blog ini.

Wahyu Allah SWT tidak dalam bahasa sembarangan.

Apakah pentingnya mengenali komposisi matematis dalam wahyu?.  Untuk sekedar mengagumi?, menambah keyakinan? atau “so what?” gitu !.  Seenggaknya ada hal yang jelas bisa agor pahami, Al Qur’an tidak turun dengan bahasa sembarangan. Dibacakan (atau disampaikan dalam cara lain) kepada Rasulullah dan disampaikan berulang-ulang oleh Malaikat Jibril sehingga Beliau mengingatnya.  Lalu dihafalkan oleh para sahabat.  Dan setelah berabad kemudian, dimulai dari Rashid Khalifa, terbuka keutamaan matematis dari wahyu dalam bahasa manusia ini. Bahasa matematis inilah yang kemudian dapat dipakai menjadi alat uji, bukan hanya dari sudut pemahaman bahasa, sejarah, atau asal usul, tapi masih ada hal lain yang bisa digali dan kemudian para peneliti memahami : bahasa yang disampaikan Allah kepada para utusanNya untuk menyampaikan dalam bahasa manusia disampaikan dalam tatanan yang akan membuat bahasa para penirunya akan terjerembab dengan sendirinya.

Ini adalah bagian yang mempesonakan sekaligus alat uji dari ragam nafsu manusia kepada kebenaran dan pembenaran.

Nah, kalau begitu.  Saya kadang merasa tidak perlu melakukan rujukan asal usil atau sejenisnya, karena meyakini yang memastikan bahwa manusia diberikan kesempatan untuk meneliti kebenaran wahyu.  Jika dalam bahasa manusia, maka bahasa yang disajikan tidak kalah sistematisnya dengan bahasa yang ditanamkan ke pada lebah, yang dipahami dalam bahasa ilmu pengetahuan.

Pengetahuan ini, memungkinkan kita mengenali petunjukNya dalam arah keyakinan yang lebih mapan.

wallahu alam bishawwab.

Iklan

7 Tanggapan to “Posisi Wahyu dalam Akal Berpikir Manusia”

  1. Jadi, posisi wahyu adalah di dalam akal pikiran manusia?

    @
    Ha..ha…ha… sudah tentu di dalam akal berpikir manusia. Alasannya sederhana saja, di luar akal berpikir manusia, maka manusia akan menyimpannya dalam kata : “di luar kemampuan akal”. Jika akal mampu mencernanya, maka ia (wahyu) ada dan masuk ke dalam dada manusia, dicerna dan diolah untuk memahami ayat-ayatNya.

    Namun, dalam konteks tema ini, wahyu yang turun melalui AQ tidaklah bisa disamakan dengan istilah apapun atau kejadian apapun dalam khasanah pemahaman manusia. Allah SWT menurunkan wahyu dalam bahasa manusia dengan suatu komposisi bahasa dan alunan matematis yang keindahannya tak terperikan. Menyamakan dengan wahyu sesudahnya dalam kadar tanpa kesebandingan adalah usaha yang sadar atau tidak disadari menyamai wahyu. Itu yang buat agor, menjadi titik pengamatan dari pertandingan debat kusir PKS dan Pengikut Ahmadiyah itu. 😀

    Wahyu yang turun dalam bahasa manusia (dalam konteks ini bahasa Arab), sesuai faktanya adalah bahasa tingkat tinggi yang membuat manusia terperangah. Ini sekaligus juga menandai bahwa cara Allah bertutur kepada manusia memiliki karakteristik yang khas dan teruji.

    Suka

  2. redaksistudiislam said

    Assalamu’alaikum wr wb.
    Kami dari redaksi studi Islam, akan memberikan tanggapan terhadap argumentasi yang disampaikan sebagai berikut;
    1. Perlu disadari bahwa kekuasaan Allah adalah mutlak, temasuk dalam hal menyampaikan wahyu-Nya. Apakah Ia hendak menyampaikan wahyu kepada lebah, kepada gunung, kepada bumi dan langit semua semata-mata karena kehendaknya. Demikian pula menyangkut isi dari wahyu-Nya, apakah itu berisi perintah untuk menghanyutkan bayi yang baru lahir disungai seperti diperintahkan kepada ibu Nabi Musa yang dlm logika manusia adalah perbuatan sangat tidak bertanggungjawab atau berupa perintah mengumandangkan adzan yang diterima para sahabat. sehingga dengan demikian BUKAN URUSAN MANUSIA ATAU SIAPAPUN MATERI YANG TERKANDUNG DIDALAM WAHYU TERSEBUT. karena betapa dangkal kemampuan manusia untuk memahami segala sesuatu apalagi yang berkaitan dengan masa yang akan datang.

    2. Yang perlu dipahami adalah bahwasannya Wahyu Ilahi memiliki dimensi yang luas yang pada saat diterimanya wahyu tersebut seseorang belum bisa memahami apa yang terkandung didalamnya atau mengandung nubuatan /janji hingga seluruh proses berjalan dan nubuatan/janji Allah tersebut menjadi kenyataan.

    3. Kami berharap kepada ikhwan semua yang membahas masalah ini berhati-hati jangan sampai terjebak pada sebuah kebodohan yang diakibatkan kesombongan kita karena telah merasa memahami segala sesuatu sehingga menggangap rendah terhadap hal yang lainnya yang nyata-nyata diluar kemampuan kita sebagai manusia yang lemah.

    4. untuk membahas masalah ini dapat dibaca referensi kami http://studiislam.wordpress.com/2008/10/08/wahyu-ilahi/#more-182

    @
    Dalam pemahaman saya, kalau ada wahyu setelah AQ dalam bahasa manusia, tentulah wahyu itu akan memiliki kualitas matematis, logis, sebagaimana disajikan Allah SWT pada periode turunnya wahyu.
    Inilah titik yang saya anggap paling penting.

    Begitu juga, “BUKAN URUSAN MANUSIA ATAU SIAPAPUN MATERI YANG TERKANDUNG DIDALAM WAHYU TERSEBUT” pernyataan seperti ini buat saya, mohon maaf kurang bisa diterima akal sehat, lha kok Allah yang menurunkan kepada manusia, maka manusia mengurusnyalah… mempelajarinya, memperbandingkan, mendiskusikan materi yang disampaikan… baik yang tertulis maupun yang tersebar di alam semesta ini… Tentu saja pada level pengetahuan manusia… 😀
    Namun, betul… jangan sampai terjebak… itu betul sekali. Buat agor, karenanya, hanya berani berpegang pada apa yang dijelaskan AQ saja deh… tidak ingin kemana-mana….

    Oh ya.. memang saya link juga blog studi islam dan juga blog yang bersebrangan… tentu untuk saling belajar.. bukan untuk saling memaki. Mari kita niati dengan ketulusan… bukan untuk menang-menangan… Biarlah nanti di akhir massa Allah SWT yang akan menjelaskan sesungguhnya….

    Suka

  3. Mengagumkan..
    tapi wahyu beda ama ilham…hhhhh

    @
    Setahu saya beda… beda banget malah… kalau wahyu jelas bla…bla… tapi ilham (diilhamkan jalan kebaikan dan keburukan/kefasikan) maka pemaknaannya di sini ilham menjadi petunjuk untuk dipahami atau tidak dipahami, alternatif-alternatif pilihan ada dalam kemampuan penerima ilham. Karena itu wahyu kerap dipahami dalam satu komposisi yang penerimanya juga spesial dan tujuannya juga jelas. AQ menjadi kumpulan wahyu yang memiliki keistimewaan yang kita makin takjub.. makin tampak bercahaya….

    Suka

  4. Mike said

    Just passing by.Btw, you website have great content!

    ______________________________
    Don’t pay for your electricity any longer…
    Instead, the power company will pay YOU!

    Suka

  5. zal said

    ::mas agor, jika AQ 4:163, lalu kita sandingkan dengan AQ 91:8, bagaimana pandangan perbedaannya…??

    @
    AQ 4:163. Sesungguhnya Kami telah memberikan wahyu kepadamu sebagaimana Kami telah memberikan wahyu kepada Nuh dan nabi-nabi yang kemudiannya, dan Kami telah memberikan wahyu (pula) kepada Ibrahim, Isma’il, Ishak, Ya’qub dan anak cucunya, Isa, Ayyub, Yunus, Harun dan Sulaiman. Dan Kami berikan Zabur kepada Daud.

    AQ 91:8. maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya.

    Ass.wr.wbr. Mas Zal.

    Lama ya kita tidak berdiskusi kecil-kecilan… Saya percaya pertanyaan pancingan ini adalah pertanyaan yang semua jawabannya sudah di pegang oleh Mas Zal 😀

    Ijinkan agor menyampaikan sedikit pandangan dan jika keliru, mohon diluruskan.

    Kita tentu dapat menyepakati bahwa wahyu datang kepada setiap isi langit urusannya, kepada manusia tertentu dan Nabi-nabi. Wahyu yang datang dari Allah adalah kebenaran (AQ 34:48). Banyak penjelasan yang menegasi bahwa wahyu bersifat penjelasan dan perintah. Kepada lebah, jelas perintah. Kepada langit, jelas perintah. Kepada manusia disampaikan dalam bahasa manusia adalah perintah, peristiwa masa depan dan masa lalu, pelajaran dan pembelajaran, dan lain sebagainya. Yang disampaikan Allah kepada manusia dalam bahasa manusia memiliki karakteristik kebahasaan yang istimewa. Dengan kata lain, cara Allah bertutur kepada manusia melalui utusanNya (Malaikat Jibril) tidak bisa ditiru oleh manusia manapun sampai di jaman komputer ini. Dengan demikian, kita bisa mengenali bahasa wahyu dalam satu tatanan yang dapat menambah keimanan kita, bukan hanya dari isi tuturan, tetapi juga dari letak huruf, kebahasaan, logika, kelipatan bilangan, dan lain sebagainya. Ini salah satu yang mendorong orang kemudian menyebutkan dengan kata :”miracle AQ”. Sekaligus juga, kita bisa menguji kualitas kemudian dari pengakuan-pengakuan atas anggapan sebagaian manusia bahwa wahyu akan turun lagi, mengaku menerima wahyu dlsb. Keistimewaan wahyu dalam AQ ini, bukan hanya pada AQ, sebagian dari kitab Injil dari bahasa aslinya ada yang pernah meneliti dan menunjukkan kematematisan tertentu pula. Jadi, jelas bahwa kita jangan menyamakan Allah SWt bertutur dengan ciptaanNya bertutur.

    Sedangkan ilham yang agor pahami persislah seperti ayat ini. Ilham juga bisa diminta kepada Allah SWT. Dengan kata lain, kita bisa meminta Allah memberikan petunjuk kepada kita, bahkan semutpun bisa saja meminta agar dia bisa tetap menyukuri nikmatNya (AQ 27:19). Dalam contoh AQ 20:38, Allah mencontohkan :”… sesuatu yang diilhamkan..”, 39 : yaitu letakkanlah Musa di dalam peti, kemudian lemparkanlah ke sungai… dst.

    Sesuatu yang diilhamkan… jelas di sini yang menerima ilham itu adalah “sesuatu”. Variabel dari ilham ada pada setiap dimensi kehidupan dan juga dalam bentuk-bentuk lainnya…

    Tampak di sini bahwa ilham adalah sebentuk informasi, pilihan tindakan, yang diterima oleh Ibunya Musa untuk melakukan tindakan. Namun, bentuk itu tidak dijelaskan dalam bentuk bahasa yang jelas dipahami, tapi lebih bermakna pemahaman tindakan yang semestinya dilakukan. Pemahaman ini, setidaknya sesuai dengan pemahaman bahwa ilham mengikuti model petunjuk sesuai AQ 91:8.

    Dilihat dari keberlakuannya petunjuk itu, yang disebut ilham juga tidak dipesankan untuk ummat manusia, tidak ada informasi bahwa ilham berada pada kualitas bahasa tertentu yang dapat dibukukan atau jadi artikel pendek atau panjang. 😀

    Jadi, dari sedikit uraian di atas, kita dapat menarik kesimpulan bahwa wahyu itu tidak sama dengan ilham. Ilham lebih ke arah petunjuk pada skala perbuatan manusia sedangkan wahyu adalah kebenaran yang dalam konteks ini, cara Allah bertutur kepada manusia, melalui utusanNya untuk disampaikan kepada utusan manusia (Nabi).

    Jadi bagaimana kalau ada yang mengaku telah menerima wahyu?

    Ilmu manusia harus mempelajari, bukan hanya term isi, kebahasaan, logika, tetapi juga susunan huruf, kata, komposisi dan peletakannya… Apalagi di masa kini… jadi, manusia dengan perkembangan ilmu pengetahuan yang dianugrahkan kepada kita, bisa dengan mudah mengetahui : ini wahyu atau hanya dongengan menjelang tidur…..

    Itu pandangan saya Mas Zal… kalau keliru tolong diluruskan…

    Wass, agor.

    Suka

  6. zal said

    ::mas agor benar, namun bagi saya sangat sulit mendefinisikannya, jika ilham itu sepertinya ditempatkan pada jiwa itu, maka dengan itu manusia berkelakuan, bisa terfahami atau tidaknya apa yang ditindaki tersebut, sepertinya mungkin sepertinya, ada sesuatu penjelasan lagi, dengan petunjuk itu, mungkin sedikit banyak akan memperjelas maksud Allah bagi yang menjalaninya,
    Semestinya memang AQ sebagai pedoman, yang mungkin inilah yg dikriteriakan sebagai wahyu yang diwahyukan, namun AQ sebagai hudallinnas, ditetapkan Allah “huda lilmuttaqiin”, lalu bagaimana menjadi muttaqiin itu, agar dapat memedomani AQ sebagai petunjuk…??..lah jadi mbulet ngene..rek… , wallohu a’lam bissyawab..

    @
    Mas Zal.. di wilayah ini, agor sendiri tidak banyak memahami. Karena Allah menyampaikan :.. mengilhamkan kepada jiwa jalan kefasikan dan kebaikan. Maka agor memahami bahwa “jiwa” adalah sesuatu di luar wujud fisik yang bisa menerima mengerti dan memahami (batasan jiwa memahami, jiwa berpikir), menurut agor di luar konteks yang bisa kita jelaskan secara akal. Bukankah kepada jiwa (atau ruh) Allah telah menyampaikan keberadaanNya (QS 7:172). Baru kemudian ketika jiwa bersatu dengan raga fisik proses pembelajaran berlangsung. Pemahaman ini mengarah pada pengertian fitrah manusia yang bersih dari segala pengaruh sampai dikeluarkan dari sulbi manusia. Pemahaman lanjutan dari jalan kefasikan dan ketakwaan ini, — yang agor pahami — melalui dua hal pokok : petunjuk Allah : ilham, wahyu, rasul dan alam semesta serta diri kita sendiri dan aspek yang kedua melalui syaitan (dari golongan manusia dan jin) yang mengajarkan jalan keburukan. Jadi peranan hudallinnas adalah agar berada di jalan yang lurus dan bertahan di jalan yang lurus maka agama menjalankan fungsinya dalam kehidupan. Memberi petunjuk arah kebaikan dan kefasikan pada jiwa jelas menentukan arah kemana manusia harus melangkah. Prosesnya sendiri disampaikan melalui kitab, wahyu, rasul dan petunjuk lainnya, melalui berbagai-bagai.

    Di sini ada pemahaman yang juga cukup penting untuk memahami fitrah manusia (jiwa dari awal sudah mengakui keberadaanNya) dan setelah manusia dilahirkan mendapatkan petunjuk (baik dan buruk) tergantung dari pilihan kebebasan dari manusia itu sendiri untuk mengambil pilihannya. Diilhamkan kepada jiwa yang sejak awalnya adalah bersih dan suci, berada di jalan kebenaran. Begitu sampai ke dunia, mulailah pilihan-pilihan itu berlangsung sampai akhir masa hidupnya di dunia.

    Karena fitrah manusia dan petunjuk/ilham jalan kebaikan dan kefasikan… maka setelah ragam belajar… kerap kita dihadapkan pada jawaban :”cobalah tanya pada hatimu”, kalau kamu ragu dengan pilihanmu, cobalah istikharah, dan bla..bla.. bla. Di sini jelas bahwa para pendahulu kita telah mengajarkan bahwa pilihan jalan (sekali lagi pilihan) bisa ditanyakan pada hati.

    Jadi ya… rasanya sama juga yang Mas Zal maksud…
    Kalau ada sedikit berbeda, mohon maklum.. kualitas pemahaman agor juga masih tertatih-tatih…
    Wass, agor.

    Suka

  7. arief juniawan,drh said

    jelasnya Allah itu Maha Pandai dan Maha Tahu,jadi wahyu diberikan oleh Allah kepada siapa yang mampu.menurut saya wahyu terakhir ya untuk Muhammad SAW…setelah itu kok sulit rasanya bahkan tidak ada,apalagi untuk para pemimpin bangsa Indonesia ini kok mustahil…mereka diteriaki rakyat aja udah tuli,mereka gak punya nurani…hehe,setuju?

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: