Sains-Inreligion

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

GOLPUT Haram !… Oh Ya….

Posted by agorsiloku pada Januari 27, 2009

Hebat MUI, sudah mengharamkan Golput.  Golput itu haram.  Menurut asal usul kata  😀   putih itu berkonotasi bersih, bisa juga suci…

Kalau golongan putih itu haram, berarti yang tidak haram itu golongan hijau, merah, abu-abu, kuning, atau warna-warnilah.  Yang penting jangan putih….  golongan hitam juga tidak diharamkan kok… jadi masih boleh ikut pemilu….

He…he…he.. pembahasan yang ngawur.

Golongan Putih itu adalah golongan masyarakat yang memiliki hak pilih dan wajib menggunakan hak pilihnya, karena menurut kriteria MUI dikatagorikan haram.  Jadi, kesimpulan yang bisa kita tarik adalah MUI telah mewajibkan hak pilih menjadi hak wajib.

Sayang di site MUI belum ada, jadi saya comot saja di sini.  Kalau Mesjidil “Haram” artinya mesjid suci.  Jadi haram = suci.

Jadi kalau golongan putih = golongan haram = golongan suci.  Yang dimaksud haram di sini adalah haram dari apa yang diharamkan gitu.  Jangan dipahami aneh-aneh gitu…..

Wah…

“Pembahasan Ente ngawur”.

“Ngawur dan menyesatkan”.

Jadi kalau golongan putih tidak ada piye?.  Berarti semuanya memilih.  Baik atau buruk lebih baik memilih.  Andaikanpun semua yang akan dipilih adalah golongan penjahat dalam arti sebenarnya, golongan yang akan menyengsarakan dan tidak punya hati nurani, maka pilihlah… Pilihlah yang terbaik di antara yang terburuk.  Begitu.

Jadi habisilah golongan putih. Karena golongan putih adalah golongan yang tidak mau menggunakan hak pilihnya.  Dia memilih menjomblo seumur hidup, memilih hidup sendirian. Atau juga dia memilih seperti tarzan, berteman monyet dan gajah.  Keluar dari habitat aslinya sebagai manusia yang bermasyarakat dan mengikuti pemilu, pilkada, dan sejenisnya.

Meskipun yang para anggota dpr/d itu, seperti kata media, tidak mau mengumumkan daftar kehadiran, ruang sidang kosong melompong, maka pilihlah.  Betapun kosongnya, masih ada orang kan… paling tidak.  Bagaimanapun tugas hak rakyat untuk memilih wakilnya, apapun ulah wakilnya….

Wah…

Bagaimanapun, saya tetap menghormat MUI, seperti juga para wakil rakyat yang terhormat.  Alangkah baiknya juga jika MUI juga mengharamkan anggota DPR yang tidak pernah mau bersidang, terus menetapkan prosentase kehadiran dan undang-undang yang dihasilkan.  Mungkin juga ada baiknya MUI juga menetapkan fasilitas apa yang akan diterima mereka anggota DPR.

“Wah.. kembali lagi pembahasan yang tidak masuk akal dan absurd dari Ente.”

Cape Deh.

Blog memang nggak bisa dipercaya… sama dengan….

Iklan

24 Tanggapan to “GOLPUT Haram !… Oh Ya….”

  1. Assalamu alaikum wr wb

    Nich MUI kagak ada kerjaan aja…yang dilarang jelas2 seperti kahmar,judi,zina dll aja belum terhindarkan oleh kita bersama.nich nambah lagi yan aneh2 nich…bid’ah kagak nich…
    Kalau saya berpendapat …kalau hati kita tidak ada keinginan untuk memilih apalagi dengan alasan dan kenyataan ..capres atau parpol nya kebanyakan kagak benar alias zolim..wah …kalau tetap mencoblos..ini nich yang malah haram..ntar menyetujui pemimpin zdolim gimana nich pertanggungan jawabannya kelak…

    sama kayak pak agor saya berpendapat ,,lebih mendingan anggota DPR
    atau lainnya ..yang diurus…nich lari kemana nich ..o ya ..katanya GOLPUT..golongan yang tak bertanggung jawab akan nasib masa depan bangsa…masa iya sich…fenomena siapapun pemimpin sama aja…masih ada dalam kalbu masyarakat..fenomena orang luar jawa kagak boleh jadi pemimpin pun masih lekat dalam angan2,fenomena perebutan kursi…wach masih jadi ketawaan bersama apalagi sang beringin tuch,fenomena menonjolkan kehebatan masing2 apalagi diiklankan…bikin senyum2 pahit aja nich.
    dan fenomena yang paling mengerikan adalah saling menjatuhkan dengan politi,taktik,siasat,kelicikan serta money…menjadi tanda tanya bagi kami…nich pada ngapain nich..bercanda apa melawak nich.
    Hanya teriring do’a ,Indonesia selamat maka maju….
    wassalam

    @
    Saya lupa.. tapi kalau nggak salah ada hadis yang bilang… sebaik-baiknya umaro adalah yang dekat dengan ulama dan sebaik-baiknya ulama adalah yang jauh dari umaro…..

    Suka

  2. Catshade said

    Lha… bukannya katanya fatwa yang lengkap itu ‘golput haram selama ada calon pemimpin yang memenuhi syarat‘? 😕

    @
    Jadi syaratnya MUI harus menetapkan pemimpin yang memenuhi syarat, baru mengeluarkan fatwa… 😀
    Kalau begitu, harus ada fit and propertest dulu dari MUI sebelum fatwa dikeluarkan…. logika runtutannya sebaiknya begitu.

    Suka

  3. Assalamu alaikum

    syarat ini nich…yang udach banyak diplitiki alias diakali…
    yach…tanya hati aja dech
    wassalam

    @
    😀

    Suka

  4. haniifa said

    MUI ada 2 versi lho…

    Mau Untuk yang Ini
    atawa…
    Mau Untuk yang Itu

    Kalau ada duit, aku mau nyang INI
    Kalau ada untung, aku mau nyang ITU

    Saya pilih golongan Itu dan Ini, biar untung terus… eh.. buntung terus… 😀

    @
    kalau boleh MUI jadi Mantjester United in Indonesia…. 😀

    Suka

  5. DiN said

    http://republika.co.id/berita/28006.html
    Haram, Tak Memilih Pemimpin Layak
    By Republika Newsroom
    Senin, 26 Januari 2009 pukul 16:58:00 Font Size A A A

    PADANGPANJANG–Majelis Ulama Indonesia (MUI) berhasil
    mengeluarkan sekitar 24 fatwa baru dalam forum Ijtima Ulama Komisi
    Fatwa III se-Indonesia di Padangpanjang.

    ”Antara lain soal fatwa rokok, fatwa memilih dalam Pemilu dan
    Pilkada serta masalah Yoga,” tandas Ichwan Sam, Sekum MUI usai
    penutupan Ijtima di Pondok Pesantren Serambi Mekah, Padangpanjang.

    Lebih lanjut ditegaskan Ichwan, bahwa tidak menggunakan hak pilih dan
    ternyata ada pemimpin yang layak untuk dipilih, adalah haram
    hukumnya.

    ”Pemilihan Umum dalam pandangan Islam adalah upaya untuk memilih
    pemimpin atau wakil yang memenuhi syarat-syarat ideal bagi
    terwujudnya cita-cita bersama sesuai dengan aspirasi umat dan
    kepentingan bangsa. Selain itu, memilih pemimpin dalam Islam adalah
    kewajiban untuk menegakkan imamah dan imarah dalam kehidupan
    bersama,” tandas Ichwan Sam.

    Karenanya menurut Ichwan, memilih pemimpin yang beriman dan bertakwa,
    jujur (siddiq), terpercaya (amanah), aktif dan aspiratif (tabligh),
    mempunyai kemampuan (fathonah) dan memperjuangkan kepentingan umat
    Islam hukumnya adalah wajib.

    ”Jadi memilih pemimpin yang tidak memenuhi syarat-syarat tersebut
    atau tidak memilih sama sekali padahal ada calon yang memenuhi syarat
    hukumnya adalah haram,” tegas Ichwan. Ditambahkannya, MUI sengaja
    menghindari istilah golput, karena maknanya politis.

    Sementara terkait rokok, diakui KH Ma’ruf Amin, salah seorang ketua
    MUI, bahwa hukum dasar rokok ada dua Haram dan Makruh. ”Jadi
    terserah bagaimana cara memandangnya. Bisa dikatakan haram atau
    makruh,” jelas Ma’ruf Amin.

    Namun khusus untuk tiga hal, merokok adalah haram. ”Yaitu untuk ibu-
    ibu hamil, untuk anak-anak dan merokok di tempat umum adalah haram
    hukumnya,” ungkapnya. – osa/ah

    @
    Kalau datang pemimpin yang jujur, terpercaya, aktif dan aspiratif, dan memiliki kemampuan yang unggul, yang tentu saja dirahmati Allah SWT, maka sinarnya akan tampak dan tentu saja akan menentramkan ummat atau masyarakat. Masyarakat akan percaya padanya, karena pada dasarnya masyarakat butuh panutan. Kalau ini muncul… he..he…he… tidak usah dihalalkan atau diharamkan, orang akan berbondong-bondong menjadi pengikutnya….. Pada dasarnya rakyat itu menghendaki pemimpin yang adil dan baik.

    Suka

  6. lovepassword said

    Hi Hi Hi. Nyante saja lagi. Yang haram itu jika ada pemimpin yang memenuhi syarat, lalu tidak memilih – lha itu baru haram. Lha masalah menurut kita ada/tidak ada calon pemimpin yang memenuhi syarat ya itu kan lain lagi. Tul nggak ?

    @
    Ia Mas.. nyante aja lagi…. apa yang disampaikan oleh MUI adalah mewakili pemikiran manusia dalam mengelola masyarakat. Sedang hukum haram atau tidak yang berbuahkan dosa dan pahala, Allah Swt yang menetapkan. Pernyataan MUI itu pada dasarnya keluar dari sistem logika manusia. Pemimpin yang baik, jujur adil, dan lain sebagainya jika ada, tentulah (sudah tentu) akan dicintai rakyatnya. Maka tentulah akan dipilih. Ini rasional. Kalau pemimpin atau calon pemimpin hanya ingin menang dan lain sebagainya, maka akan dijauhi. Ini jelas kok.
    Jadi, tampak bahwa pernyataan MUI itu tidak memiliki makna sosiologis-antropologis. Setidaknya ini menurut saya yang bukan sosiologi.

    Suka

  7. Donny Reza said

    lalu pertanyaannya… syarat yang mana? versi Rasulullah yang Shiddiq, Amanah, Fathonah, Tabligh…? wah, kalo itu syaratnya … ya berarti golput semua dong :))

    @
    Oleh karena itu, ditambahkan pililah yang terbaik di antara yang terburuk, terserakah, dari mereka yang niatnya menjadi anggota dpr atau wakil rakyat atau ingin jadi presiden adalah untuk memperkaya kelompok dan golongannya, atau mereka yang bergembar-gembor berniat menyejahterakan rakyat miskin dan sengsara.. kalau terpilih. Kalau tidak terpilih, maka jawabannya : “nggak lah yaw”.

    Karena itu, sinar dari wibawa calon wakil rakyat itu adalah gemerlap kekayaan dan bakal kaya, bukan yang sidik atau aminah….

    Eh.. terimakasih Mas Donny berkunjung, jadi ingat kembali… sudah lama juga agor tak berkunjung ke Mas Donny…

    Suka

  8. quantum said

    Jika orang yang menjadi calon pemimpin mempromosikan untuk dipilih, sudah bertentangan dengan yang saya fahami pada zaman Rasulullah dan sahabat. Karena calon pemimpin yang mengajak untuk memilih dirinya berarti benar benar tidak layak dipilih. Apalagi menghabiskan dana, yang jika kalah terpilih minta perhitungan ulang. Sistem nya yang salah, dibenerin cara apapun tetap aja error. Harus di format ulang sistem negara ini jika ingin adil, makmur, dilimpahkan rahmat dan barakah dari langit dan bumi.

    Garis bawah terpenting yang saya prihatinkan, dari fatwa MUI seperti itu sudah jelas jelas semakin langkanya ulama yang benar benar berilmu. berarti memang sudah tanda tanda mendekati akhir zaman, dicabutnya ilmu dari bumi ini. Semakin susah mencari panutan/ atau tempat bertanya, wong yang dijadikan tempat bertanya juga keblinger. dan jelas sudah tandanya Indonesia sudah dicabut keberkahan itu.

    @
    Mas Quantum, ass. ww.
    Saya memang bukan orang yang memahami, bagaimana memilih pemimpin atau apakah pemimpin atau calon pemimpin boleh atau tidak mempromosikan dirinya. Dalam pemahaman saya, seorang beriman menghendaki dirinya menjadi pemimpin (organisasi) dan meminta agar orang lain mengikutinya (menunjuk jadi pemimpin) tidaklah dilarang atau harus dihindari. Apalagi dalam sistem organisasi/kepemimpinan politik/kekuasaan saat ini.
    Kalau kita bangun 2 asumsi : 1) Seorang mumpuni (dalam segala hal) tapi dia tidak mau mencalonkan dirinya atau menolak dicalonkan dalam suatu sistem masyarakat yang kacau balau, dan jika si mumpuni ini mau mencalonkan dirinya, maka ia bisa melakukan amalan dan tanggung jawabnya dengan baik. 2) Yang kedua, seorang tidak mumpuni dan hanya sekedar si Serakah saja, maka jika dia mencalonkan dirinya dan dipilih, maka kita telah memilih si Zolim jadi penguasa.
    Dengan begitu, menurut saya lho Mas, seseorang mencalonkan dirinya sebagai bagian dari niat dan amalnya tidak ada larangan atau ketidakbolehannya.
    Pada masa kenabian masalah kepemimpinan tidak masalah karena memang serba jelas. Kegelisahan (dan masalah) muncul paska wafatnya Nabi. Bahkan periode-periode berikutnya dan kejadian ratusan tahun yl masih berdampak sampai saat ini.
    Timbul satu pertanyaan, mengapa Allah SWT tidak menegasi bagaimana kepemimpinan dalam organisasi (khilafah) ditetapkan?. Kadang sulit dicari jawabnya. Pemimpin itu memberi petunjuk, dan kita mengikuti petunjuknya. Jadi, seperti Al Qur’an jelaskan. Petunjuknya adalah Al Qur’an, kepada kitab itulah kita merujuk dalam mengambil keputusan, maka siapa pemimpinnya, maka rujukannya jelas. Pemimpin manusia juga yang dipilih, haruslah pemimpin yang merujuk pada petunjuk…
    Jadi persoalan bukan pada siapa dan bagaimana memilih pemimpin, karena ummat beriman pemimpinnya sudah jelas : Allah Swt dan kitab petunjuknya Al Qur’an. Fakta kemudian, karena berbagai interpretasi.. kemudian muncul mazhab-mazhab… jadi repot juga deh… (kepanjangan dibahasnya).

    Suka

  9. Jiwakelana said

    Assalamu’alaikum saudaraku. Saya sangat setuju dgn fatwa MUI tsb. Mencoblos pd saat pemilu, menurut Islam bukanlah HAK bagi seorang muslim, melainkan KEWAJIBAN yg dilakukan demi mendapat Ridho Allah dlm rangka mewujudkan pemerintah yg tdk tirani. Mencoblos dlm kondisi tsb merupakan “kesaksian” yg harus diberikan apabila di minta. Partai mana yg lbh aspiratif? Siapakah yg lbh d Ridhoi Allah kepemimpinannya?
    ” Janganlah skali2 mereka yg patut melaksanakan kesaksian, bersikap enggan memberikan bila diminta ” (QS.2:282)
    ” Berikanlah kesaksian yg di Ridhoi Allah” (QS.65:2)
    mampir ke gubuqku

    @
    Wass. Mas Jiwakelana….
    Ada sedikit yang saya risaukan, atau lebih tepat kurang sreg dengan fatwa mui tersebut. Pertama, definisi haram itu menurut agor cukup jelas dan Allah juga menegasi apa yang diharamkan dan yang tidak; juga ditegasi pula manusia jangan mengharamkan apa yang dihalalkan Allah atau mengada-adakan atas nama Allah. Prinsip dasar dari pengharaman adalah perbuatan keji (selain makanan yang diharamkan atau aspek-aspek lainnya). Apakah tidak mau memilih caleg karena keraguan akan kapasitas (berdasarkan pengalaman yang sudah-sudah) termasuk perbuatan keji. Yang diharamkan dan menjadi dosa !. Sedang yang menetapkan dosa atau tidak terhadap perkara yang belum tegas dalam konsepsi masyarakat adalah hak perogatif Sang Maha Pencipta. Apakah MUI mewakili komitmen Sang Pencipta.
    Di sisi peta perpolitikan, layak dipertimbangkan, apakah tidak mau memilih itu adalah sebuah pilihan untuk melakukan koreksi terhadap kebijakan yang keliru !. Bukankah sikap diam adalah juga koreksi terhadap ketidaksetujuan. Misalkan saya menetapkan syarat, saya mau memilih anggota DPR dengan syarat mereka harus membuat perjanjian kepada masyarakat bahwa akan hadir minimum 90% dari waktunya untuk bersidang, kecuali pada masa reses. Tahukah Mas, bahwa hanya untuk mendapatkan transparasi kehadiran anggota DPR dalam sidang saja, pers atau masyarakat tidak bisa !.
    Sedang mengenai kesaksian (QS 65:2), kesaksian atau pengakuan in konteks berbeda pemaknaannya dalam menggunakan hak untuk memilih. Meskipun pada pandangan lain, masih terbuka interpretasi yang sama.

    Mungkin agak sedikit berbeda dengan tidak mau memilih karena tidak perduli dan tidak mau memilih karena komitmen.
    Keberlakuan agama adalah komitmen universal, jangan dipotong-potong untuk fungsi atau tekanan politik sesaat. Agama adalah sikap hidup dan pilihan. Agama juga sama sekali bukan kewajiban. Kalau mau kafir, kafirlah. Jika memilih jalan sulit dan berliku, memilih beriman dan bertakwa… jalanilah dengan ikhlas.

    Namun, terimakasih untuk catatannya. Kita saling menghargai pandangan tanpa bermaksud menghakimi salah benar sebuah pandangan. Apa yang agor tulis saat ini, bisa jadi berbeda di kejap lain. Namun, semoga kita tetap berusaha mendapatkan ridhoNya.
    Amin.
    Wass, agor.

    Suka

  10. Golput dicetuskan Arief Budiman, sekitar awal tahun 70-an. Berarti hampir 40 tahun Golput berkembang luas, sebelum kemudian dinyatakan terlarang oleh MUI.
    Sungguh suatu prestasi tersendiri bagi Arief Budiman yang mencetuskan gagasan tersebut.
    Boleh jadi Arief Budiman akan mengeluarkan gagasan baru lagi. Mungkin saja: Goljing (Golongan Jingga), Goljam (Golongan jambon), Golabu (Golongan abu-abu)..atau apa saja.

    @
    😀 jadi ingat adiknya Arief Budiman, Soe Hok Gie, Catatan Seorang Demonstran. Buku yang banyak mengilhami sebuah sisi perjuangan dan kakaknya juga yang berpegang pada prinsip.

    Suka

  11. marinki said

    Assalamu’alaikum mas agor,

    Weleh… weleh…. MUI ini yang diurusi yang mboten mboten aja … betul ya kalau golongan putih haram, artinya golongan yang warna warni halal (????)
    Aku makin pusing aja lihat tingkah laku orang zaman sekarang, banyak lembaga yang harus bekerja sesuai urusannya, malah mengerjakan yang bukan urusannya.
    Insyaflah wahai manusia…. (terutama MUI, DPR/D dulu dong…)…. maaf… maaf… tobat..

    @
    Wass. Mba Marinki
    itulah MUI, saya, senang mengomentari padahal bukan ahlinya… 😀

    Suka

  12. Kayaknya fatwa MUI mengenai haramnya Golput tidak berlaku Universal, sebatas pemilu yang akan datang saja. Tidak memilih itu juga pilihan. Memilih untuk tidak memilih di Pemilu. Kenapa mesti haram kalau misalnya tidak ada pilihan yang baik. Memilih pemimpin yang jelek seharusnya haram. Harusnya hal-hal seperti ini tidak perlu di fatwakan. Cukup amaran saja, yang memerintahkan seluruh umat Islam untuk tidak golput pada Pemilu kali ini.

    @
    Bahkan agama juga hanya untuk kaum beriman.. Kalo mo kafir, kafir aja gitu..
    Terimakasih Mas Sobirin mau berkunjung.. 😀

    Suka

  13. Luxmile said

    Kalo ga boleh Golput, mending Goltam aja, coblos semua… 😀
    Lha daripada bingung milihnya… 😀
    teknisnya bisa tutup mata, trus tusuk2 ntu kertas,
    ato undi pakei togel dadu…

    (peace… :D)

    @
    mencoblos sudah tidak diakui juga…. yang boleh mencontreng… karena bahan baku tinta dan spidol lebih bernilai dari sekedar paku yang sudah dipakai bertahun-tahun…. bisnis lebih terbuka… 😀

    Suka

  14. haniifa said

    @Luxmile
    Dasar teka… 😛
    Disuruh gule dan sate kambing dulu, baru jus mangga… 😛
    Kuah gule dicampur jus, sate kambing ganti jus kambing… 😛

    (pipis dulu gih 😀 )

    Suka

  15. lovepassword said

    Pak Guru saya juga pengin pipis, sudah kebelet nih. Boleh nggak? Hi Hi Hi. Kamu kan guru TKku, ayo anterin aku pipis. Hi Hi Hi. 🙂

    Suka

  16. haniifa said

    Assalamu ‘alaikum,
    @Mas Agorsiloku
    kalau boleh MUI jadi Mantjester United in Indonesia….
    __
    Ide baik tuh mas, MUI banyakkan nonton bola setiap malam bulan Ramadhan… saya jadi inget jaman doloe, walaupun shalat tarawih disiarkeun tengah malam, setidaknya saya dapat informasi soal esok harinya, apa masih puasa atawa udah lebaran gituh. 😀

    @Mas Lovepassword
    Hemmm…. boleh.boleh.
    Biar nggak bolak-balik pipismu, kamu minum dulu “kuah gule dicampur jus“, Kan lidah anak TK lebih peka ?! 😀

    @Mas Ayruel
    hhhh…haniifa ditungguin wedul tuch jawabannya,,katanya mau izin ngelink blognya haniifa
    Alhamdulillah…

    Silahkan mas cek lagi, disini.

    Wassalam, Haniifa.

    Suka

  17. brian said

    kayak nya para2 anggota MUI sekarang udah kelebihan ILMU, jadi agak sedeng semuanya. Di dalam hadist aja nggak tu….GOLPUT HARAM ha….ha…ha…..,mendingan KAJI DIRI dulu baru KAJI yg lain nya. Mana tau di antara mereka ada yg ikutan GOLPUT..

    @
    MUI memang, kalau tak salah tidak menyebutkan golput, tapi berkenaan dengan memilih pemimpin. Hanya memang nuansa kepentingan sesaat jauh memberikan warna…

    Suka

  18. haniifa said

    hua.ha.ha
    @Mas brian nggak kelebihan ILMU,… berarti nggak agak sedeng… tapi super sedeng 😀

    Suka

  19. pusing said

    harusnya sih MUI bikin fatwa haram bagi sipapun yang berjanji kepada rakyat tapi gak ditepati, alias “DAJJAL cilik” (pendusta besar yang kecil). dan juga sebaiknya kalo di rumah kita kedatangan MUI suguhkan saja sianida, air raksa, potas, asam klorida, bangkai, dan suruh MUI memilih yang terbaik dari yang terburuk, kalo gak mau milih trus makan berarti MUI gak menghormati tuan rumah (alias negara) dan tentunya kita boleh GOLPUT.

    @
    Duh… pastilah MUI tidak akan mau diundang.. karena resikonya menjadi GOLPUT…
    Tapi, tidak ada kata GOLPUT lho dalam fatwa para Beliau itu…. 😀

    Suka

  20. zazew said

    yang betul sistem nya tuh yang harus diformat yeah pakek pencesile lagi kita hiddup sebagai manusia bukan berbangsa itu mah kesesatannya yahudi SOLUSI segera cari peraturan LANGsung Dari tuhan pake’ tuh QURAN & HAdist DAn Ijma’ ULAMA’ PEmimpinya SAtu terus Dicalonkan Dari Yang Paling hafal UUD nya & alim Dan NGGAk mau jadi Penguasa pasti Indonesia Akan Kalahkan ROMAWI & PERSIA plek seperti zaman keemasan ”””dan ityu akan datang.

    @
    😀

    Suka

  21. haniifa said

    @Pa-e and or @Mbo-e Zazew
    Penguasa pasti Indonesia Akan Kalahkan ROMAWI & PERSIA plek seperti zaman keemasan ”””dan ityu akan datang.

    Coba buktikeun :
    http://haniifa.wordpress.com/2009/02/09/poligami-dimata-wanita/

    “Apa perang yang lebih bersar dari ini (baca:maksudnya setelah kemenang di Badr) yaa… Rasulullah ?! ” (tanya seorang sahabat)
    “PERANG MELAWAN HAWA NAFSUMU SENDIRI”, (jawab Rasulullah dengan TEGAS DAN LUGAS )

    Suka

  22. haniifa said

    @Pa-e and or @Mbo-e Zazew
    Yo ngobrol bareng, ityu akan datang 😀
    Di warung @mbo-e Hapitri :
    http://femalemind.wordpress.com/2009/01/27/apa-itu-namanya-jilbab/

    Suka

  23. haniifa said

    @Pa-e and or @Mbo-e Anonim
    Coba buktikeun saudara bisa jadi “pahlawan perang dirumah dulu” saja… ?! 😀

    Deuh… bukan sulap-bukan sihir, Tidak ada golongan-golongan yang saudara sebut di Al Qur’an… ?!

    Kalau saudara benar-benar mengikuti Sunah Nabi Muhammad s.a.w, coba buka lagi Sejarah beliau, Adakah beliau menentukan penggolongan berdasarkeun defini sekarang ?!

    Wassalam, Haniifa.

    @
    Ass.ww. Mas Haniifa….
    😀 Mas Haniifa benar-benar deh menangkap nuansa yang saya maksudkan….
    Wass, agor

    Suka

  24. dir88gun said

    assalamu alaikum wr. wb.

    Permisi, saya mau numpang posting (^_^)

    http://ulamasunnah.wordpress.com/2008/06/03/menggugat-demokrasi-daftar-isi/
    http://hizbut-tahrir.or.id/2009/03/24/hukum-pemilu-legislatif-dan-presiden/

    sudah saatnya kita ganti sistem, semoga link di atas bisa menjadi salah satu rujukan…

    Terima kasih atas perhatian dan kerja samanya.
    Mohon maaf kalau ada perkataan yang kurang berkenan. (-_-)

    wassalamu alaikum wr. wb.

    @
    Wass.ww.
    Silahkan.. semoga ada manfaatnya.
    agor

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: