Sains-Inreligion

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Kebajikan, Apakah itu?

Posted by agorsiloku pada Januari 20, 2009

Allah “menempatkan” pendusta agama adalah orang yang menghardik anak yatim dan tidak memberi makan orang miskin. Kalau dipikir-pikir,  ayat ini memposisikan sangat berarti bahwa perhatian dan kesungguhan untuk mengentaskan kemiskinan dan perhatian pada kaum yang luar biasa banyaknya di negeri ini, di negeri yang ummat Islamnya terbanyak, cukup menggiriskan hati.  Bahkan kemiskinan kerap menjadi objek dari orang miskin itu sendiri untuk memanfaatkan kemiskinannya.  Namun, tentu pula di dasar hati, siapapun ingin sejahtera dan tidak ingin… bahkan hanya terlihat miskin sekalipun.

Kalau begitu, kebaikan atau kebajikan apa yang ada dalam konsep berpikir kita.  Apalagi kebajikan di mata perang di jalur Gaza yang melakukan pemboman dengan bom fosfor dan jenis senjata baru yang memiliki luka dan kematian yang betul-betul mengiriskan hati.  Apakah kebajikan itu ketika saya hanya bisa mengelus dada dan hanya mampu menonton saja !.  Apakah kebajikan itu, ketika setiap hari saya berlalu, maka sejumlah kaum miskin menadahkan tangan baik yang asli maupun tipuan, yang tua maupun yang muda !.  Yang sehat, maupun yang tertatih-tatih di antara seliweran kendaraan mewah atau kendaraan tua dengan bau asap knalpot menyengat !.

Dimanakah dan apakah kebajikan itu.  Atas nama ummat, atas nama masyarakat !.  Definisi apa lagi yang akan kita pakai untuk memahami apakah yang disebut dengan kata kebajikan.  Apakah kita dianugerahi kemampuan melangkahkan kaki untuk sebuah kebajikan?.

Ayat ini menjelaskan :

QS 2:177. Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa.

Kata sesungguhnya menjelaskan bahwa fungsi vertikal tidak ada artinya tanpa menjalankan fungsi-fungsi horisontal.  Kesalehan vertikal berarti tanpa makna jika tidak memberikan pertolongan atau enggan mengulurkan tangan kepada kerabat, anak yatim, orang miskin, musafir, orang yang meminta-minta dan memerdekakan hamba sahaya.  Bagian terakhir dari surat menegasi kemudian dengan shalat, zakat, dan orang yang menepati janjinya bila ia berjanji, sabar dalam kesempitan, penderitaan dalam peperangan.

Mereka itulah yang benar, dan merekalah itulah orang-orang yang bertakwa.

Tak perlu banyak kata lagi untuk menjelaskan, tak perlu lagi banyak ulasan untuk memahami, tak perlu seorang cerdik pandai agar pesan ini dapat dipahami.

Tapi, apakah betul kita sudah mampu menghayati?.

Saya tertunduk malu di depan cermin retak !.

Malukah saya kepada yang menyampaikan pesan ini.  Yang disampaikan Malaikat Jibril kepada Nabi Muhammad untuk kaum bertakwa !.

Lalu apakah itu sudah cukup.  Sudah cukupkah saya memiliki malu itu.  Apakah malu itu mengantarkanku pada pesan yang disampaikanNya…..

Iklan

4 Tanggapan to “Kebajikan, Apakah itu?”

  1. lovepassword said

    Apakah makna embun sebelum siang ?
    Apakah makna agama bila kita diam

    Aku ingin bebas
    tapi tak tahu apa yang membatasi kebebasanku
    Aku ingin lepas
    tapi dimanakah belenggu.

    Apakah Kata adalah belenggu
    atau kata itu bagian dari kebebasan?

    Saya juga lagi malu.

    @
    Kita lepas bebas…
    padahal dalam belenggu
    …..

    Suka

  2. Saya mengerti ayat ini untuk diamalkan. Saya mengamalkan semampu saya. Dengan bersedekah dengan anak Yatim. memberikan santunan pada bulan Ramadhan dan sebagainya. Tergantung Individu masing-masing mau mengamalkan atau tidak pesan ayat tersebut.

    @
    😀 memang benar Mas Sobirin… ini termasuk jalan sulit, termasuk memilih jalan berliku-liku dan tidak mudah…

    Suka

  3. […] ngkali bedanya pendekatan Agama Islam dengan Pemerintah.  Agama melihat dari sisi kemanusiaan sedangkan birokrasi melihat dari segi-segi […]

    Suka

  4. […] bedanya pendekatan Agama Islam dengan Pemerintah.  Agama melihat dari sisi kemanusiaan sedangkan birokrasi melihat dari segi-segi […]

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: