Sains-Inreligion

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Kalau Boleh Saya Berkata Jujur.

Posted by agorsiloku pada Oktober 31, 2008

Sudah panjang lebar bercerita dan menjelaskan, kemudian menjelang akhir dari pembahasan/diskusi, maka panelis berkata :”Kalau boleh saya berkata jujur, sebenarnya :… bla…bla…bla…”

Ha…ha…ha…, terus piye toh Sampeyan itu.  Jadi, yang tadi dijelaskan itu sebenarnya apa : Kebohongan atau Kepalsuan, atau pura-pura benar.  Padahal yang sebenarnya adalah apa gitu.  Kenapa musti bilang : Kalau boleh saya berkata jujur?.  Memangnya yang tadi-tadi itu kamuflase saja, ketidakjujuran !?.

Kisah Pinokio.

Tentulah kita tahu, bahwa mengapa orang Barat rata-rata hidungnya lebih mancung dari kita.  Tentulah pula kita tahu bahwa jika panjangnya berlebihan, maka Pinokio sedang melakukan kebohongan.  Seorang ayah di sana (ngkali..) akan menegur anaknya agar hidungnya tidak seperti Pinokio.  Ketidakjujuran dimanifestasikan dengan panjang atau pendeknya hidung.  Boleh jadi, tidak ada anak di sana yang tidak tahu cerita atau kisah fiktif Pinocchio.

Betapa jelasnya pesan yang disampaikan dalam kisah yang kemudian menjadi panutan untuk memahami bahwa kejujuran adalah manifestasi untuk berbuat baik.   Sejak dari kecil anak bisa membedakan untuk tahu jujur dan tidak jujur dengan visualisasi Pinokio.

Namun saya, dan juga saudara-saudara lainnya sudah biasa berkata :”Kalau boleh saya berkata jujur”. Seolah-olah menyiratkan di alam bawah sadar bahwa kejujuran itu kalau dikatakan harus ijin dulu gituh 😀

Juga selama ini berkata tidak jujur juga gpa kok.  Yang penting jangan sampai menyingung hati saja. Namun, hebatnya juga, di negeri khatul istiwa ini, mereka tetap tidak berhidung panjang.  Kita bangga kepada mereka, karena mereka juga menjadi panutan kita.  Toh hidung mereka juga tidak panjang.

Karena hidung kita tidak menjadi lebih panjang, apakah kita yakin bahwa kita sejak kecil telah diajari kejujuran sebagai nilai-nilai utama dalam menjalani kehidupan… !!?. Ataukah sejak kecil kita telah belajar bahwa menyembunyikan dan tidak mau berterus terang adalah perilaku yang baik.

Dan karenanya, jujur menjadi kata sifat yang langka….  sedikit lengah saja, maka jambu tetangga disikat habis……

Iklan

14 Tanggapan to “Kalau Boleh Saya Berkata Jujur.”

  1. sitijenang said

    he he he… mungkin ada dampak dari hidup di bawah tekanan rejim di masa lalu. istilahnya, kalo jujur pasti ancur… :mrgreen:

    @
    Kebiasaan ini dimulai dari rejim kapan ya… atau saking kuatnya tepo seliro … sampai-sampai untuk berkata jujur (bukan karena etika) saja kita kesulitan….

    Suka

  2. dkoor said

    Bukankah ungkapan itu sekedar basi-basi Kang…hehe

    @
    Sekedar basa-basi, atau memang kita sering berkata tidak jujur bahkan sampai dari soal sehari-hari sampai ke masalah hukum. Apakah karena disadari atau tidak, kita kerap merasa biasa saja ketika kita kecil mencuri jambu tetangga !?.

    Suka

  3. Jadi di sini kalo komentar jujur nggak perlu ijin to ? Hi Hi Hi.
    Kalo komentar bohong yang perlu ijin dulu.

    @
    😀 Jujur sering menyakiti, padahal kita paham jujur dibatasi oleh etika dan payung moral/hukum. Dalam hal etika, kita akan memperhalus jujur menjadi lebih halus tapi tanpa kehilangan maknanya. Namun, kejujuran pada ranah hukum, maka tentunya kita harus berkata jujur, lepas disumpah atau tidak. Terutama saat kita menjadi saksi (yang bisa menjadi terdakwa)….
    Kalau komentar bohong memang sebaiknya tidak minta ijin dulu… mengapa?. karena kalau minta ijin ya namanya bukan bohong ya… 😀

    Suka

  4. Kalau bilang “Kalo boleh saya bohong” kan aneh kang? :mrgreen:

    @
    iya aneh ya… masak bohong minta ijin (Jadi ingat pembicaran Pak Urip dengan bu gurunya…)

    Suka

  5. elza said

    Assalamualaikum wr wb.

    saya ada satu kisah menarik sumbernya dari email, tentang “kalau boleh berkata jujur (versi orang singapore)”:

    Met Pagee Kawan q semua ada bahan renungan neh, sampaikan pada teman-teman Indonesia yang laen,

    mari kita bangun negeri ini menjadi negeri kebanggaan internasional.. !!!!!

    mw bukti?!!

    Suatu pagi di bandar lampung, menjemput seseorang di bandara. Orang itu sudah tua, kisaran 60 tahun. Sebut saja si bapak.
    Si bapak adalah pengusaha asal singapura, dengan logat bicara gaya melayu, english, (atau singlish?) beliau menceritakan pengalaman2 hidupnya kepada kami yang masih muda. Mulai dari pengalaman bisnis, spiritual, keluarga, bahkan percintaan hehehe..

    “Your country is so rich!”

    Ah biasa banget kan denger kata2 begitu. Tapi tunggu dulu..

    “Indonesia doesnt need d world, but d world need Indonesia”

    “Everything can be found here in Indonesia, u dont need d world”

    “Mudah saja, Indonesia paru2 dunia. Tebang saja hutan di Kalimantan, dunia pasti kiamat. Dunia yang butuh Indonesia!”

    “Singapore is nothing, we cant be rich without indonesia. 500.000 orang indonesia berlibur ke singapura setiap bulan. bisa terbayang uang yang masuk ke kami? apartemen2 dan condo terbaru kami yang membeli pun orang2 indonesia, ga peduli harga yang selangit, laku keras. Lihatlah rumah sakit kami, orang indonesia semua yang berobat.”

    “Kalian tahu bagaimana kalapnya pemerintah kami ketika asap hutan indonesia masuk? ya benar2 panik. sangat berasa, we are nothing.”

    “Kalian ga tau kan klo agustus kemarin dunia krisis beras. termasuk di singapura dan malaysia? kalian di indonesia dengan mudah dapat beras”

    “Lihatlah negara kalian, air bersih dimana2.. lihatlah negara kami, air bersih pun kami beli dari malaysia. Saya pernah ke kalimantan, bahkan pasir pun mengandung permata. Terlihat glitter kalo ada matahari bersinar. Petani disana menjual Rp3000/kg ke sebuah pabrik China. Dan si pabrik menjualnya kembali seharga Rp 30.000/kg. Saya melihatnya sendiri”

    “Kalian sadar tidak klo negara2 lain selalu takut meng-embargo Indonesia? Ya, karena negara kalian memiliki segalanya. Mereka takut klo kalian menjadi mandiri, makanya tidak di embargo. harusnya KALIANLAH YANG MENG-EMBARGO DIRI KALIAN SENDIRI. Beli lah dari petani2 kita sendiri, beli lah tekstil garmen dari pabrik2 sendiri. Tak perlu kalian impor klo bisa produksi sendiri.”

    “Jika kalian bisa mandiri, bisa MENG-EMBARGO DIRI SENDIRI, Indonesia will rules the world..”

    Wassalamualaikum wr. wb.

    @

    Wass. Ww.
    Jadi apa yang kita tidak punya?. Keinginan berbagi?
    Jadi ingat iklan politik Gerindra.
    Apakah kita diajari untuk tidak serakah ya !. sehingga begitu ikhlas menjadi pengemis di negeri sendiri, memberi makan bangsa-bangsa lain. Menyediakan bahan mentah dan kemudian membelinya dengan harga 10 sampai seratus kali lipat.
    Benar-benar amal yang luar biasa….
    Your country is so rich…..
    Wass 😦

    Saya postingkan lagi ya? 😀

    Suka

  6. @Elza : Nice posting

    Suka

  7. elza said

    Assalamualaikum wr wb

    monggo mas diposting, bangsa kita perlu tahu supaya nggak minder terus-terusan, padahal luarbiasa hebat potensinya.

    saya pernah bicara dengan orang jepang, ini kutipannya komentar mereka.

    1. pendidikan di indonesia tidak jelas mau diarahkan kemana.
    2. mereka (org Jpn) bersedia menukar negaranya dengan negara mereka dengan hanya modal badan, artinya semua apapun yg di jepang boleh ditukar tanpa mereka bawa apapun, hanya tukar orang saja, maka mereka yakin bahwa Jepang yang sekarang ini akan segera ambruk karena salah urus orang-orang kita, karena sedemikian begonya kita; dan sebaliknya org Jepang disini akan lebih menguasai dunia.
    3. Negara kita kaya raya, tapi rakyatnya primitif dan akan terus terbelakang sampai kapanpun, tidak akan bisa melihat potensi dirinya sendiri dan akan terus dikadali bangsa lain.

    mereka berkata demikian mungkin untuk memberi semangat kita untuk maju, tapi mungkin juga tidak kuatir karena memang demikian kualitas bangsa kita, terbelakang ! sehingga tidak paham apa yang mereka katakan ini.

    wow….

    Wassalamualaikum wr wb.

    @
    Wass.ww.
    Kalau secara umum, saya melihat arah pendidikan kita jelas. Jelas arahnya dalam arti kurikulum punya tujuan. Tujuan dan sasaran yang dibuat jelas dan indah. Hanya prakteknya saja yang bermasalah. Kita banyak berteori, tapi semangat kita tidak cukup konsisten. Kita punya semangat dan keinginan untuk maju. Tapi etos kita tidak cukup kuat untuk berkompetisi.
    Mengapa ya !.
    Wass.

    Suka

  8. Hmm, hidung panjang?
    Itu Usopp pak, sniper-nya Straw Hat Pirate.
    Di dunia One Piece! 😀

    Suka

  9. Aulia said

    wah hal yang sama juga saya dapatkan saat menonton mario teguh golden ways episode honesty, seharusnya kejujuran itu adalah suatu keharusan, tanpa harus minta ijin dulu buat jujur.

    @
    Mas Aulia, memang tulisan ini diinspirasikan oleh Oom Mario Teguh yang kerap muncul terakhir-terakhir ini di iklan beliau. Nggak nyangka juga, Beliau ini sekarang sudah go public. saya adalah Pengagum beliau sewaktu masih di Surabaya….. nyaris setiap hari menggunakan waktu pagi untuk mendengarkan Radio SS (Suara Surabaya). Sudah lama juga, sebelum beliau berpindah kapal komunikasi….

    Suka

  10. aburahat said

    Untuk kata JUJUR saya ingin bertanya pd kawan2. Yg dimaksud jujur di sini adalah jujur kepada diri sendiri atau jujur kepada lawan bicara?. Bagaimana klu kita berbicara jujur tetapi mencelakai teman? dan saya ingin bertanya lagi mana yg lebih baik kita berbicara jujur atau berbicara yg benar (hak)? Wasalam

    @
    Wass. Mas Abu, adakah yang lebih penting berbicara jujur atau berbicara benar !?. Ada hal yang mungkin kita bisa pelajari (duh, agor kurang pengetahuan pada bidang ini). Adakah perbedaan antara jujur sebagai sikap dan jujur sebagai fakta. Apakah fakta dilihat sebagai cara pandang atau persepsi ataukah kepentingan. Apakah jujur perilaku nurani atau kemampuan melihat fakta !.
    Bagaimana kalau fakta-fakta itu bersebrangan, resultante terbaik mana yang akan dipilih. Apakah pilihan itu sebuah prosesi kejujuran ataukah kebodohan !?.
    Kemudian benar. Apakah bench mark dari benar. Secara fisika mungkin kita kenali dengan presisi, akurasi. Tapi dalam dunia sosial… wah agor juga bingung arah yang dimaksud Mas Abu.
    Kalau boleh diurai… Terimakasih. Dan maaf ya, agor agak telat berkomentar… kesibukan mendera dan perhatian sedang terpecah-pecah, sedang tugas menunggu dunia masih menanti diselesaikan….
    Wass, agor.

    Suka

  11. aburahat said

    @Agor
    Yang per-tama2 perlu kita sepaham yaitu KEBENARAN bagi kita manusia adalah relatif (terkecuali dari Allah) sedangkan KEJUJURAN mutlak.
    Jujur adalah prilaku nurani tapi melihat fakta adalah kebenaran. Bench mark dari benar masih dalam tingkat assumsi berdasarkan fakta2 yg kita ketahui. Kalau fakta2 itu bersebarangan adalah pilihan kita adalah jujur terhadap diri kita. Memang
    sering kita dengar apabila orang berkata jujur, mereka katakan bodoh, tapi tdk berimplikasi lain. Tetapi apabila kita berbicara kebenaran akan terjadi macam2 implikasi.
    Contoh; Ini contoh lho mas. Karena masalah ini popular maka saya ambil sebagai contoh. Saya katakan sejujurnya saya bermahzab Syiah. Siapa saja yg mendengar(terutama mereka yg anti Syiah) paling2 mereka mengatakan KAFIR/SESAT dlsb. Dan apabila kita diamkan tdk terjadi masalah. Tapi coba saya memibicarakan kebenaran paham Syiah akan timbul masalah. Setidak tidaknya terjadi perdepatan yg memanas. Demikian kira yg dapat saya jelaskan. Maaf kalau tdk komplet bahasan saya. Wasalam

    @
    Betul Mas Abu, kejujuran itu mutlak dalam lapisan-lapisannya. Melihat fakta kadang juga bukan kebenaran, karena lapisan fakta juga lapisan kebenaran yang belum tentu sampai pada hakikatnya. Kadang karena lapisannya berbeda, maka kita juga memaknainya berbeda. Apalagi dalam paham-paham keragaman dalam keberagamaan, menjadi begitu mudah menjustifikasi untuk menyatakan seperti yang Mas Abu contohkan. Kadang begitu kuat prasangkaan sehingga fakta yang dilihat oleh nurani bisa juga ditutupi oleh lapisan kebenaran/ketidakbenaran.
    Di sini bisa timbul pula kesulitan untuk : Kalau boleh “berkata jujur”. Karena jujurnya ada pada lapisan pemahaman yang berbeda. Padahal bisa juga, ketika “berkata” jujur, sebenarnya terselip pesan untuk “memuaskan” hawa nafsunya untuk “tidak jujur”.
    Wah… jadi sedikit rumit ya Mas Abu.
    Agor kadang berpikir untuk menghindari berdiskusi pada tatanan ini, karena ketidakmampuan mengendalikan “rasa” sehingga kesulitan untuk membangun pandangan yang objektif dan tidak menghakimi. Yang terakhir ini sering kita pilih menjelaskan dengan memulai dari kata :”Kalau boleh berkata jujur…..”
    Wass, agor

    Suka

  12. armand said

    Menurut saya sih yang penting adalah berprilaku jujur. Ucapan jujur kadang-kadang malah membuat bencana bagi diri sendiri 🙂
    Ingat kisah tentang AlHallaj kan? Bagaimana akibatnya bagi sang Sufi ini ketika ia dengan jujur mengatakan “Ana alhaq”? Ingat cerita Asiah isteri Firaun kan? Bagaimana ia harus menahan kejujurannya kepada suaminya?
    Kemudian, bayangkan coba bagaimana bila pada jaman Soeharto dulu ketika terjadi penghinaan, penindasan terhadap keluarga anggota PKI bila orang-orang (rakyat) berkata jujur bahwa mereka adalah anggota PKI? Kita bisa bayangkan apa yang terjadi. Begitu pula di Aceh pada masa GAM. Saya yakin banyak rakyat yang tidak jujur untuk mengatakan bahwa mereka adalah pro republik dan anti GAM.

    Demikian. Terima kasih bisa berbagi.

    Salam

    @
    Dalam kesejajaran, keadilan menjadi hal utama. Ketika dalam peperangan, taktik dan tindakan menjadi bagian dari strategi perang. Satu dan lain tidak bisa dan tidak mungkin berlaku terus terang kalau ditanya : “Apa taktikmu untuk melawanku?”. Tampaknya ada ranah perilaku yang berbeda di wilayah ini. Apalagi dan terutama ketika secara terbuka genderang perang ditabuh.
    Tipu daya adalah permainan dalam sebuah peperangan. Allah menjadi sebaik-baiknya melakukan Pembalasan terhadap tipu daya.
    Tipu daya berbeda tentunya dengan konsep kejujuran.
    Salam, sudah lama Mas Armand tidak berkunjung.. rindu catatan Mas yang kerap bernas…. 😀

    Suka

  13. armand said

    @Agor
    Iya mas memang sdh lama ya. Kalau boleh saya berkata jujur…. :mrgreen:

    @
    Kalau tidak boleh… jangan pernah jujur… 😀
    sampai kita tidak mengerti lagi perbedaan antara yang jujur dan tidak jujur…
    seperti kalau ada yang menerima uang korupsi dan berucap puja-puji syukur….
    seperti kalau berpikir, masih mending.. uang korupsi… tapi langsung berzakat….
    campur aduk deh….
    😀

    Suka

  14. tya said

    ada satu hal yg langsung tersirat. Dalam dunia pendidikan di Indonesia, MaPel PKn sdh seperti barang wajib dari tingkat SD sampai SMA. Kita diminta utk belajar dan mengerti etika yang benar. Tapi, PKn itu pelajaran yang mengajarkan kebenaran atau kejujuran???
    Contohnya,
    Dalam suatu ulangan harian PKn kelas 1 SD ada sebuah pertanyaan,
    Apa yang kamu lakukan setelah makan?
    a. Mencuci Piring
    b. Menonton TV
    c. Bermain keluar rumah
    Sepertinya, akan sangat mustahil seorang siswa kelas 1 SD (yg rata2 usianya 6-7th) mencuci piring seusai makan. Sayangnya, jawaban itulah yang paling benar agar mendapat nilai yang sempurna dari Sang Guru.

    @
    Contoh yang kritis.
    Kita diajarkan etika dalam rangkaian teoritis, dan anak juga diminta menjawab dalam rangka berpikir teoritis. Namun, dalam keseharian usaha mempraktekkan etika dalam kehidupan sehari-hari begitu kurangnya. Kalau pertanyaan menyangkut membuang sampah… tapi tempat sampah disediakan. Kalau mengenai kebersihan dan mencuci tangan, tapi hanya sedikit sekolah yang menyediakan tempat cuci tangan buat siswanya.

    Kita banyak menerapkan etika moral dalam pengajaran… bukan dalam pendidikan. Unsur keteladanan menjadi sangat minimum……

    Kita lupakan hal ini….

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: