Sains-Inreligion

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Konsepsi dan Persepsi Tentang Alam Semesta

Posted by agorsiloku pada Oktober 15, 2008

Ada bedanya tentu, konsepsi tentang alam semesta dan persepsi indera tentang alam semesta.  Kadang kita suka melihat ketuker-tuker sih.  Beda konsepsinya, beda juga persepsi indera.  Ambilah contoh sederhana tentang pergerakan matahari yang dilihat di hari sebelah Timur dengan matahari sore bergerak ke arah Barat, sedangkan kita tetap saja duduk manis di situ.  Persepsi indera akan mengatakan bahwa matahari bergerak dari Timur ke Barat, kemudian esok paginya nimbul lagi di Timur.  Kalau begitu, maka pengamatan indera menunjukkan bahwa matahari mengelilingi bumi.  Itu persepsi indera.  Benarkah persepsi indera?.  Yah … bener saja sih, kenapa tidak !    😀

Persepsi indera kadang dan sering kita “tidak merasakan” seperti yang sebenarnya terjadi. Kalau saya lagi duduk dalam bis di terminal bis dalam kota yang sumpek dan pepat ini, tiba-tiba bis di sebelah saya bergerak.  Baru beberapa saat kemudian saya sadar bahwa bukan bis di sebelah saya yang saya lihat bergerak, tapi bis yang saya tumpangi itulah yang bergerak.  Cara terbaik untuk melihat bahwa bukan bis yang saya tumpangi yang sebenarnya bergerak meninggalkan terminal adalah ketika di sela-sela ketiak penumpang, saya lihat ke depan bis bergerak meninggalkan objek-objek yang saya lihat di depan kaca supir.

Sebelum bicara alam semesta, kita bicara dulu tentang tata surya.  Tapi seperti bis di terminal itu, penjelasan yang meyakinkan memang kalau kita turun dari bis, maka kita bisa melihat bis itu dan bis sebelahnya, mana di antara keduanya yang bergerak.  Tapi kalau soal tata surya, enaknya sih kita berdiri saja antara bumi dan tata surya, mana yang bergerak mengelilingi.  Untuk gampangnya, kita berdiri di depan sebuah lampu besar.  Lampu stadiun, misalnya.  Lalu sinar lampu itu menerangi wajah kita.  Coba kita berputar sedikit demi sedikit sedemikian rupa sehingga mata kita membelakangi lampu itu.  Di sini kepala kita yang berputar, maka wajah kita menjadi gelap.  Kitalah yang bergerak memasukkan gelap ke wajah kita dan belakang kepala kita sekarang disinari sinar lampu stadion itu.  Kalau sebaliknya yang terjadi, maka sinar lampu stadion itu yang kita putar dan kita tetap pada tempatnya, maka lampu yang kita putar itulah yang menyebabkan wajah kita tidak lagi disinari.

Kalau kita permisalan itu kita ganti, lampu dengan matahari dan kepala kita dengan bumi, maka tepatlah yang dikatakan oleh ayat : QS 57:6. Dialah yang memasukkan malam ke dalam siang dan memasukkan siang ke dalam malam. Dan Dia Maha Mengetahui segala isi hati. Lebih jelasnya diuraikan dengan di sini.  Pada ayat yang lain, misal QS 31:29 lebih jelas pula yang dimasukkan ke dalam malam dan siang adalah bumi dan matahari dan bulan masing-masing berjalan sampai pada waktu yang ditentukan.  Tiga objek yang dijelaskan, yang dimasukkan ke dalam malam dan siang, matahari, dan bulan.  Cara memasukkan, kemudian dikenal sebagai konsepsi yang dikembangkan melalui penelitian dan pengamatan kemudian dikenal sebagai bumi berotasi pada sumbunya.  Penelitian selanjutnya, diketahui bahwa waktu yang diperlukan untuk memasukkan malam dan siang adalah 24 jam kurang dikit.  Bahkan, saking akuratnya, kecepatan cahaya hampir bisa dihitung dari laju rotasi bulan mengelilingi bumi.  Lho, kenapa ayat ini ditafsirkan bumi yang mrngrlilingi matahari, bukannya matahari mengelilingi bumi?. Ya… alasannya sederhana saja, bumilah yang dimasukkan ke dalam cahaya (dari matahari) sehingga dan sedemikian rupa terjadi malam dan siang.  Bagian yang terang dari bumi dimasukkan ke dalam gelap (baca : menghalangi sinar matahari) dan siang muncul dari bagian gelap dari wajah kita bumi.  Yang dimasukkan kan harus lebih kecil ukuran atau dimensinya dari pada yang lebih besar.  Masa sih kita bilang gawang dimasukkan ke bola… ya bolalah yang dimasukkan ke gawang (contoh yang aneh 😦   )

Konsepsi yang datang dari pengamatan ini kita sebut sebagai konsepsi ilmiah tentang alam semesta.  Yang menarik dari ayat-ayat AQ perihal tatasurya ini adalah bagaimana Allah Azza wa Jalla menjelaskan persepsi manusia terhadap alam semesta (pengelihatan/penafsiran) dan manusia menerjemahkannya ke dalam konsepsi ilmiah.

Tidak seperti persepsi indera ketika kita bimbang menetapkan bis mana yang sedang berjalan, konsepsi tentang alam semesta (dalam hal ini diwakili oleh tatasurya) dipengaruhi oleh pengamatan, pengetahuan, pemikiran, dan pemahaman tentang tatasurya. Persepsi indera dan konsepsi bisa berbeda. Keduanya berada pada ranah pengamatan dan identifikasi yang berbeda.

Persepsi indera juga tentu saja dimiliki bukan hanya mahluk bernama manusia, anjing, semut, beruang, dan gajah serta lainnya juga memiliki persepsi alam semesta melalui inderanya. Bahkan pengetahuan mahluk lain (hewan) boleh jadi lebih canggih mengenali alam semesta dibanding manusia. Hewan-hewan mengetahui gejala alam dan tahu posisi bintang di langit sehingga membantunya melakukan migrasi. Bahkan burung bermigrasi antar benua pada musim-musim tertentu. Meskipun demikian, karena kita tidak pernah bertanya sama semut atau gajah, dan mereka hanya bereaksi terhadap pemahaman semesta yang diinderanya. Hewan tidak melakukan analisis lebih mendalam atau berteori tentang apa yang diamati di alam semesta terdekatnya. Manusia lebih oke, karena selain menangkap dengan indera, memahami konsepsinya, juga pintar-pintar menafsirkannya.

Selain konsepsi berdasarkan ilmu pengetahuan, masih ada konsepsi manusia terhadap alam semesta. Bisa melalui pendekatan filosofis maupun relijius….

Iklan

5 Tanggapan to “Konsepsi dan Persepsi Tentang Alam Semesta”

  1. zal said

    ::tidakkah menarik bagi Mas Agor, hubungan kalimat dimasukkannya malam kepada siang dan sebaliknya, dengan lanjutan ayat “DIA mengetahui segala isi hati…, ??
    Apa persepsi Mas Agor tentang malam, dan apapula persepsi mas agor tentang siang…cobalah meresapinya dimana letak kefahamannya berlangsung….

    @
    menarik Mas Zal, apalagi tapi boleh jadi bukan karena konteks lanjutan ayat. Yang sering saya dalam hati pertanyakan adalah bahwa lanjuta atau bagian akhir dari banyak sekali ayat-ayat ditutup dengan kalimat yang menjunjung keesaan dan kemahakuasaan Allah, juga menjelaskan apa yang sebaiknya dipahami, dilakukan oleh seorang yang beriman kepada hari akhir. Misalnya ayat tentang alam semesta, ayat tentang poligami, ayat tentang menutup pakaian/jilbab/hijab, ayat tentang banyak lagi deh… menjelaskan posisi dan pemahaman yang sebaiknya (seharusnya) dijunjung tinggi oleh seorang muslim.

    Sedangkan tentang siang dan malam, malam menutupkan kepada siang, berkejaran, pada garis edarnya masing-masing dan apa yang kemudian dilihat (bukan diamati) sehari-hari kalau pergi dan pulang kerja adalah sebuah fakta tentang keteraturan dan keindahan dalam keteraturan. Pada pengelihatan keseharian itu saya merasakan betapa tepatnya ungkapan yang disampaikan oleh ayat ini (dan sering pula saya membaca penafsiran yang berbeda). Sedangkan letak kefahamannya berlangsung, saya juga tidak begitu memahami…..
    Namun, btw, Mas Zal meresapi hal ini bagaimana pula?… 😀

    Suka

  2. zal said

    ::Mas, Agor, tidakkah sampeyan rasakan jika malam datang ditandai gelap, dan siang datang ditandai terang, apa yang gelap…??, au ah elap..kemana arah pernyataan itu…??, dan seringnya sebuah ilustrasi seseorang yang menemukan inspirasi di dekat kepalanya ada gambar bohlam..apa maksudnya…???

    Shalawat dan salam …yang telah membawa kita dari gelap gulita menuju terang benderang…apakah maksudnya perjalanan malam hingga terangpun tiba…bukan kan…

    Bukankah Allah membuat segala sesuatu sebagai perumpamaann, jika bukan perumpamaan, habiskah air laut untuk menuliskan ayat yang dibaca tersebut…???, “mereka yang timbangannya dalam, menerima kitab dari sisi kananya…dengarkan sendiri , timbangan…semiliar dengan apakah…???

    Yang AKU hendak lihat apa yang dibalik dada itu, itulah ruang tatap menatap…disitulah ruang faham, dan fikiranpun menjemput jawaban dari situ…rasakanlah…

    @
    Mas Bengak (eh apa artinya ya !), Mas Zal yang dirahmati Allah, apa ya….. Apa yang dirasakan !?. Terbenamnya matahari saya kenali sejak dulu. Ada rasa takut, indah, senang, dan kagum… tergantung suasana hati juga. Kemudian mahluk-mahluk malam bertebaran, mahluk siang masuk ke sarang. Kalau lagi tugas jaga malam… yang teringat dan dirindukan adalah menjadi terang….

    Saya tidak tahu… tapi banyak dari rasa-rasa bertumbuhan itu membuat saya mengumpulkan banyak “kesenangan” dan “ketakutan” dan kemudian dalam belantara maya, menjadikan saya membuat tema pada blog ini seperti menunggu terbitnya sinar mentari….

    Suka

  3. MaIDeN said

    Kalau di cocok-cocok ken yang cocok aja mas …
    ..
    Untuk lebih memahami teori elmu cocok-cocok mencocok ken ini, sampeyan bisa daftar ketik reg spasi primbon kirim ke 8080

    @
    Duh maaf saya tidak paham apa yang dicocok-cocokan, saya hanya melihat adanya perbedaan antara konsepsi dan persepsi.
    Persepsilah yang mencocok-cocokan, bukan konsepsi.
    Konsepsi menuntut analisis hipotesis untuk mencari kebenaran, sedang persepsi sering bekerja menurut kebutuhan. Saya kira, perbedaan ini cukup jelas.

    Untuk elmu ketik reg spasi primbon… terimakasih untuk usulannya. Namun mohon maaf, saya tidak membutuhkannya.

    Suka

  4. batoxz ber kta said

    aduh2 ko pda berntem..
    dri pda gitu kta phami aja sma2..oky

    jdi kta gk sma2 pusing..
    q jga sma gk pha m teori ilmu cocok-cocok mencocoken teh..
    mri kta sma2 memahaminya..

    bkan q memerintah..

    Suka

  5. batoxz said

    aduh2 ko pda berntem..
    dri pda gitu kta phami aja sma2..oky

    jdi kta gk sma2 pusing..
    q jga sma gk pha m teori ilmu cocok-cocok mencocoken teh..
    mri kta sma2 memahaminya..

    bkan q memerintah..

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: