Sains-Inreligion

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Calon Legislatif dari NTT : Eurico Guterres

Posted by agorsiloku pada Oktober 12, 2008

Masih calon sih.  Eurico Guterres, mantan Panglima Milisi Pro Indonesia jaman Indonesia mempermalukan dirinya sendiri untuk mengakuisisi Timor Timur mengaku dalam Kick Andy, acara metro TV mengaku menjadi calon anggota legislatif untuk wilayah NTT, wakil dari PAN (Partai Amanat Nasional).

Andy bertanya, :”Apakah rakyat akan memilih anggota legislatif seperti Eureco Guterres yang hanya mengandalkan cintanya pada Indonesia?.”  Kurang lebih, begitulah yang ditanyakan Andy.  Jawabannya cukup jelas dan menarik, Sang Maestro Pencinta Indonesia yang memilih bersedia di penjara di Cipinang selama dua tahun kurang sebulan dan dibuktikan kembali tidak bersalah ini menyatakan bahwa ia tak memiliki apa-apa untuk berinvestasi kepada calon pemilihnya seperti yang dilakukan para calon legislatif untuk ya…ya… menyogok calon pemilih untuk memilih dirinya seperti yang dilakukan banyak kandidat.  Eureco hanya punya kepercayaan diri dan kesungguhan untuk bangsa Indonesia, paling tidak untuk warga Timur, sebelahnya Timor Leste yang kini telah merdeka.  Kalau investasi untuk menjadi calon dimulai dengan memberikan iming-iming uang atau kaos atau apa kek, maka setelah berhasil masuk ke legislatif atau boleh jadi nantinya ke eksekutif, maka akan tiba waktunya investasi itu akan ditagih kembali dalam bentuk yang tentu saja kita pahami bersama :Korupsi dan penyalahgunaan wewenang.

Wah Guterres rupanya pura-pura tidak tahu bahwa kebiasaan ini sudah merupakan budaya adiluhung bangsa ini.  Sejak jaman kepala desa dulu sampai memilih para penggede pemerintahan, berinvestasi kepada pemilih, pura-pura baik, memperhatikan rakyat kecil, memberikan makan rakyat kecil, serangan fajar kepada calon pemilih, berpawai dan berbagi uang adalah bagian dari syarat untuk mendapatkan posisi strategis.  Dalam skala yang lebih besar, tentu Mister Guterres juga tidak tahu bahwa para pemelihara kekuasaan itu adalah juga para pengusaha yang berkontribusi untuk memutar uangnya guna kepentingan sang calon penguasa.  Dan bila mereka berhasil menjadi penguasa, maka tibalah pula waktunya untuk mereka membalas budi penyokongnya dengan taburan kesempatan untuk mendapatkan proyek-proyek karena kedekatannya kepada penguasa.  Sedangkan kepada para pemilih cilik-cilik itu.  Cukuplah dengan memberikan hadiah dan janji.  Hadiah cukup pada saat menjelang dan saat pemilu, sedangkan pada kelompok kakap tidak lagi uang tapi cuma satu kata saja : “konsesi”.

Kalau bukan karena jasa-jasa budaya adiluhung ini, tentulah Indonesia tidak akan berhasil masuk dalam peringkat korupsi nomor wahid di dunia.  Satu spirit yang boleh jadi beye ingin menghapusnya dan diganti dengan konsesi yang lain, meski hanya untuk memanusiakan korban lumpur lapindo saja, seperti sudah kehabisan akal sehatnya dan lebih enak menyalahkan sebabnya ke gempa bumi yang jaraknya ratusan kilometer dari tempat kejadian.

Indonesia Sejati.

Berbilang kata, menyaksikan penampilan mantan napi yang cintanya pada Merah Putih, cintanya pada bangsa yang aneh ini, membuat saya terkesima.  Saya jelas tak secuil apapun untuk mencintai Indonesia seperti Guterres yang memilih berpisah dengan anak dan isterinya, memilih meninggalkan peluang kekayaan, dan menjadi mahasiswa Cipinang karena keyakinan pada pilihannya untuk ada dalam naungan ibu tiri pertiwi bernama Indonesia.

Saya malu pada nasionalisme Indonesia, saya malu pada sikap yang begitu jelas di tengah guratan kegamangannya pada Indonesia, tetap dapat mencintai merah putih.  Konsisten pada kecintaanya, konsisten untuk berpihak pada kebenaran, dan berjuang untuk berbuat lebih banyak bagi tetangga timor lestenya (NTT).

Seorang remaja yang diwawancarai dalam Kick Andy, yang disiarkan Metro TV hari ini, 12 Oktober 2008 berkata :”Kalau saja ada 10 Eurico di Indonesia ini, maka tentulah bangsa ini akan lebih maju dan berkembang dan bla…bla…bla…”

Sayangnya, memang Eurico Guterres hanya satu.  Sebenarnya sih banyak sekali yang bermental seperti itu.  Yang bersedia mengorbankan dirinya dalam kesunyian untuk bangsanya, yang memilih hidup sederhana dari pada terlibat arus besar budaya adiluhung bidang korupsi dan komisi.  Yang bersedia  untuk mempertaruhkan hidupnya untuk tidak mau korupsi.  Namun, keberanian untuk menyuarakan kebenaran dan yakin serta memperjuangkannya tidak banyak.  Lebih banyak yang memilih menghindari saja terlibat dalam kemegahan dan sikut menyikut.

Mungkin saya harus punya Kartu Penduduk NTT dulu untuk dapat memilih Guterress dalam pemilu yang akan datang.  Kalau tidak, saya tidak mau lagi mencoblos kesia-siaan lagi, seperti pemilu yang membuat mereka bersenang-senang di Senayan…..

Ya… mudah-mudahan saja saya bisa melihat Eureco Guterres tidak dijegal wakil yang bukan dari daerahnya dan pada waktunya dia tidak berubah menjadi penerima sogokan seperti yang saya dengar ketika salah satu anggota KPPU yang terhormat yang diciduk KPK beberapa waktu yang lalu.  Padahal selama ini, sejak dari masa mahasiswanya dulu begitu dihormati dan nyaris selalu terbebas dari keinginannya untuk kaya mendadak.

Eureco telah membuktikan sekian waktu, dan sekian waktu ke depan ujian menantinya…..

Iklan

10 Tanggapan to “Calon Legislatif dari NTT : Eurico Guterres”

  1. Ah Indonesia mengapa kau sakiti anak-anakmu sendiri ? Pembela negara malah di penjara ? Wah-wah keren banget bro. Tapi apa bener sih yang menyakiti memang kamu bunda?

    Mendingan aku ngarang lagu saja deh :

    Indonesia kutahu kau tak sempurna
    Indonesia kutahu kau biasa saja
    Tapi bunda ijinkanlah aku bangga
    Kerena memang – itulah cinta

    Biar semua menghinamu bunda
    Aku anakmu – jadi pembelamu
    Biar semua merendahkanmu bunda
    Tetapi engkau tetap bundaku

    Indonesia kutahu kau tak sempurna
    Tapi bunda – aku juga tak sempurna
    Indonesia kutahu kau biasa saja
    Tapi engkau tetap bundaku

    Ref :
    Cinta sejati tak pernah melekat
    Cinta sejati selalu menerima
    Cinta sejati emang seperti coklat
    Manis dan pahit
    anggap saja biasa

    Indonesia kutahu kau tak sempurna
    Tapi bunda – aku juga tak sempurna

    Indonesia kutahu kau tak sempurna
    Tapi bunda ijinkanlah aku bangga
    Karena engkau
    tetap bundaku.

    —–
    @
    Rupanya Mas Love juga seorang penyair nih… 😀

    Suka

    • Anonim said

      indonesia sudah malu selama 24 tahun atas kependudukan tidak sahnya, kesucian sang saka merah putih yang dibeli oleh dara para pahlawan harus dikhianati oleh keserakahan rezim soeharto yang berwujud pada infasi militer 1975 di timor leste dan banyak makan korban, lalu presiden habibie ingin memperbaiki hal tersebut, sayangnya atas nama uang dan popularitas indonesia harus kembali tercoreng namanya dihadapan dunia internasional atas pelanggaran ham eurico guteres. terima kasih

      Suka

  2. indra said

    Bener bang, saya juga kebetulan nonton acara itu..
    Mencermati penuturannya, bangsa indonesia harusnya merasa bangga karena memiliki seorang pejuang sejati yang telah dijadikan kambing hitam oleh bangsanya sendiri tapi tetap mencintai bangsa ini dengan sepenuh hati..
    Beliau lebih indonesia dari pada “orang indonesia” sendiri

    @
    Rasanya ingin milih Gutteres deh pada pemilu yad… 😀

    Suka

  3. Volkes said

    Salam hormat buat penulis…
    Membaca tulisan anda atau boleh saya katakan refleksi anda terhadap Eurico berdasarkan wawancara dalam talk show Kick Andy, saya setuju jika anda lebih melihat hal itu dari perspektif warga negara Indonesia.
    Tapi jika dilihat dari perspektif kemanusiaan, maaf kita mungkin berbeda…
    memang secara hukum, Eurico kemudian dinyatakan tidak bersalah..saya juga menyesalkan itu..karena apa? Ia dalam kasus itu adalah alat dari para petinggi militer Indonesia untuk cuci tangan…banyak kalangan di Timor leste sejak awal menilai hukuman yang diberikan kepada Eurico hanya upaya untuk mengelabui dunia internasional atas sekian banyak pelanggaran HAm di Timor leste.
    Saya mau mengajak anda untuk melihat dan merasakan seanadainya kita adalah rakyat Timor Leste yang kehilangan ayah atau ibu atau anak karena konflik pasca jajak pendapat di Timor leste.
    apakah itu yang kita sebut perjuangan karena mencintai merah putih? apakah ketika seseorang atau sekelompok orang mengatasnamakan merah putih membunuh orang lain yang punya pilihan politik berbeda bisa dibenarkan dan dikatakan mencintai merah putih?
    Mungkin kita bisa perkaya pengetahuan kita tentang sejarah Timor Leste dengan membaca buku-buku tentang bekas propinsi ke-27 itu yang oleh kita (Indonesia) mengklaim bahwa ia adalah bagian dari Indonesia sekalipun mayoritas rakyat di wilayah itu memilih untuk merdeka sejak dulu. atau anda bisa juga surfing di dunia maya untuk melihat film dokumenter ketika kerusuhan terjadi di timor leste…anda bisa melihat secara gamblang kelompok yang menamakan diri sebagai pejuang integrasi menggunakan senjata organik yang hanya bisa diakses oleh Militer membunuh sesama saudaranya orang Timor karena merah putih. apakah ini yang dinamakan sebagai mencintai merah putih? saya yakin ibu pertiwi akan menangis melihat anak-anaknya saling bunuh hanya untuk kepentingan penguasa (minyak).
    Saya lahir dan tinggal saapai sekarang di Timor (NTT), apakah anda juga tahun dimana itu NTT? mudah-mudahan anda tahu karena pengalaman saya banyak orang luar NTT yang mengaku warga negara Indoensia tidak tahu daerah di negara itu sendiri. Saya juga banyak bergaul dengan teman-teman pengungsi asal Timor Leste (timor-timur) yang masih ada di kamp-kamp pengungsian di Timor Barat-NTT, terutama dengan bekas-bekas milisi, saya juga sudah mendengar banyak cerita dari mereka tentang aksi-aksi mereka saat konflik berdarah di sana.
    Bagi Eurico dan banyak petinggi bekas propinsi ke-27 yang pro Indonesia tentu tak mengalami bagaimana susahnya hidup di kamp-kamp pengungsian yang serba kekurangan, tidur beralaskan tikar pandan yang tipis, kebasahan saat hujan deras dan angin menerpa, harus mengencangkan ikat pinggang karena tak punya lahan garapan untuk berkebun. Karena para elit asal Timor Timur ketika mengungsi tinggal di hotel,ada juga yang kontrak rumah besar.
    Sayangnya Andy Noya tak menanyakan ke Eurico pernahkah ia ketika ke Timor barat mengunjungi ‘kontituennya’ ia juga ikut tidur di kamp-kamp darurat itu ataukah tinggal di hotel mewah?

    menurut saya yang patut disebut pahlawan merah putih adalah para pengungsi (sipil tak bersenjata-bukan milisi) yang masih menderita ini dan warga timor barat yang bersedia mengorbankan kebun mereka yang selama ini menjadi sumber penghidupan untuk dibangun kamp-kamp darurat jadi tempat tinggal bagi para pengungsi. pengorbanan mereka tanpa pamrih loh…tak ada tendensi apa-apa…konsekuensinya kehidupan mereka jadi sama susahnya dengan para pengungsi..sementara pemerintah Indonesia berpangku tangan….just see, cuman bisa beretorika….ahhhh apa jadinya republik ini jika semua orang hanya bisa beretorika tanpa aksi nyata.
    salam kenal

    @
    Mas Volkes, terimakasih untuk catatannya yang berharga. Salam kenal kembali. Pada postingan mengenai Guteres ini, sama sekali saya tidak menyebut beliau sebagai pahlawan atau dianggap pahlawan. Saya lebih fokus pada keheranan seorang Guteres yang mencintai merah putih, yang buat saya adalah bangsa yang masih harus bangun dan berbuat lebih baik. Tidak menjadi bangsa yang menjadi nomor wahid di bidang korupsi. Apakah tulus kecintaan Beliau kepada bangsa ini akan teruji oleh waktu.
    Kalau mengurut sejarah Timor Leste, seperti banyak peradaban dari negeri jajahan yang merdeka, dimerdekakan, dan memerdekakan dirinya. Indonesia adalah negeri yang memerdekan dirinya, Timor Leste juga dengan segala kecenderungan politisnya. Termasuk juga di dalamnya korban dari keseluruhan hasrat-hasrat manusia …..

    Oh ya.. saya belum pernah ke Timor Leste, terjauh hanya sampai Kupang saja….

    Dunia politik, saya tidak begitu kenali dan karena terlalu banyak korban dan keserakahan di situ, saya kurang berani berkomentar. Namun, saya sependapat, bahwa keserakahan kekuasaan di manapun selalu menimbulkan korban, yang mas sebutkan juga adalah pahlawan (meski lebih tepat sebagai korban).

    Apapun juga, semoga Timor Leste menjadi kian makmur dan berjaya… seperti bangsa-bangsa merdeka lainnya. Semoga pula, rakyat tidak dikorbankan demi perebutan lahan sumber daya alam yang sesungguhnya bisa membuat Timor Leste makmur juga……

    Di mata saya, semua manusia…

    Suka

  4. Bravo. Uerico Guteres adalah pahlawan sejati. Tolong bagi yang bisa ngasih foto dan profilnya, bisa kirim via facebook ke saya. makasih…

    Suka

  5. nono said

    Euriko telah menodai kesucian merah putih di dunia internasional ini yang belum disadari orang indonesia.

    Suka

  6. abilio said

    sebenarnya merah putih itu terhormat, saya mungkin lebih mengenal merah putih dari orang indonesia. tapi dia menggunakan merah putih untuk pelanggaran hak asasi manusia. dan bodohnya lagi kita malah ikut-iktan memujinya ketika dia sudah menampar wajah indonesia di hadapan beribu-ribu negara. dimana kehormatan bangsa dihancurkan oleh tangan seorang pembunuh yang tidak memahami nasionalisme. euriko tidak nasionalis apa yang dilakukannya sebetulnya hanyalah demi kepentingan politik beberapa piha yang juga turut menodai merahputih yang terhormat dan suci

    Suka

  7. sebenarnya agak mengherankan jika bangsa Indonesia benar-benar mengakui Eurico Sebagai seorang pahlawan….karena…apakah kita tidak sadar orang yang sudah menghancurkan harkat dan martabat bangsa Indonesia yang suci dihadapan dunia Internasional karena pelanggaran Ham….yang jadi pertanyaannya “apakah Timor Leste Bangsa Yang sekecil itu adalah musuh kita….? apa ini yang disebut demokrasi….? kita mengagumi seseorang yang sudah jelas-jelas mengancurkan kesucian merah putih yang sakral dihadapan dunia Internasional….apa untungnya menghancurkan Timor-timor yang kecil itu oleh seorang Euriko…tapi kalo seandainya bangsa Indonesia diinjak-injak kehormatannya baru kita mempertahankan merah putih itu….bukannya membanggakan seorang pengacau yang cari duit dikala ada kesempatan tanpa menjaga perasaan bangsa yang terhormat ini…kacau ni kita orang indonesia kalo mikir …parah….bangat
    Timor-Leste itu memang bukan bagian dari kita, secara hukumpun saya siap mempertanggungjawabkanya
    karena itulah kenyataannya….wah kacau nih semua…hidup kesucian merahputihku yang tercinta…tunjukan pada unia kamu adalah suci dihadapan dunia kamu adalah terhormat….hanya orang-orang pengacau yang tidak menjaga kehormatanmu merahputihku……chaooooooooooo

    Suka

  8. De Vecente said

    Rakyat pengungsi asal Timor-Timur prointegrasi di Kupang N.T.T. yg sampai hari ini msh dikamp pengungsian mereka sngt menderita..mati kelaparan,mati kedinginan mereka hampir telanjang tdk punya apa-apa dikamp-kamp di Kupang N.T.T.Eurico Guterres bukan pahlawan yg sebenarnya dia muncul di tahun 1999 itupun hanya di kota dili..sejarahnya panjang mas perang Timor-Timur sudah mulai sejak 1974 smpai 1999..dia juga tdk tahu bagaimna invasi indonesia masuk ke Timor-Timur pada tahun 1974..Eurico guterres lahir tahun 1970 keatas…sejarahnya panjang dia bukan pahlawan rakyat Timor-Timur..

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: