Sains-Inreligion

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Tuhan dan David Copperfield

Posted by agorsiloku pada Oktober 2, 2008

Usul dari rekan-rekan Ustad Password, dalam komentar di sini :

…katanya cara membuat atheis percaya Tuhan itu gampang – anda berikan saja contoh peristiwa2 ajaib yang tidak tinemu nalar kepada mereka. Ya saya malah jadi gelisah (geli-geli basah) mendengar saran itu.
Masalahnya membedakan mana yang hoax dan mana yang tidak sama sekali tidak mudah

Mas Love boleh tertawa, tapi itu juga yang menjadi pertanyaan agor beberapa waktu yang lalu.  Peristiwa-peristiwa yang ditunjukkan Allah diberikan yang berkenaan dengan bukti kerasulan, tidak berhasil menggugah Fir’aun untuk mempercayai kuasa Allah azza wa jalla.  Baik dengan cara halus disampaikan sampai kepada bukti-bukti yang begitu kerasnya dalam perjalanan sejarah Nabi Musa.  Mukjizat yang diberikan Allah kepada Nabi musa berjumlah sembilan (QS 17:101).

Bisa saja ada peristiwa yang dibuat oleh kelompok agama dengan maksud tertentu tetapi sangat mungkin juga ada peristiwa yang nantinya sangat potensial untuk mengolok-olok umat beragama. Karena itu saya paling cuman senyum-senyum simpul saja kalo saya disuruh ngomong ke atheis masalah mujizat2 yang kelihatannya keren sekarang ini. Bukan masalah saya tidak percaya mujizat. Tetapi kasusnya kan sangat lain karena kita sekedar mendengar/membaca sebuah berita yang tidak bisa kita verifikasi.
Kecuali kalo kita punya kemampuan melakukan v
erifikasi tentu itu lain persoalan. Celk anda rechek itu saya rasa penting sehingga kita tidak terjebak menjadi bergosip.

Melakukan verifikasi?. Yap, memang dianjurkan sih (QS 49:6).  Mencari sumber-sumber gambar-gambar ajaib bertuliskan lafal Allah atau Muhammad?, Jeritan dari Siksa Kubur model Dr. Azzacov? adalah perkara tersendiri.  Ilusi dari David Copperfield boleh jadi lebih canggih untuk masa kini.  Namun, tidak kalah penting juga mencari bentuk-bentuk standar mukjizat dan kriteria yang ditetapkan Allah mengenai kehadiran “keajaiban” ini.  Apakah Allah akan selalu mengeluarkan mukjizat dalam versi dan bentuk yang sama dari masa ke masa? apakah kita bisa membedakan menurut petunjuk Al Qur’an ada atau tidaknya sebuah mukjizat? Suatu keluarbiasaan yang sedang terjadi adalah sebagai petunjuk kepada manusia sampai ke abad komputerisasi ini?. Ketika manusia sudah semakin tinggi pengetahuan dan teknologinya seperti di abad melinium ini atau berabad kemudian?.

Yang kemudian saya pahami, mukjizat adalah sebuah kualitas bukti yang disampaikan dengan suatu kriteria :

QS 43:48 Dan tidaklah Kami perlihatkan kepada mereka sesuatu mukjizat kecuali mukjizat itu lebih besar dari mukjizat-mukjizat yang sebelumnya. Dan Kami timpakan kepada mereka azab supaya mereka kembali (ke jalan yang benar).

Berangkat dari pola pikir ini dan sepenuhnya berusaha menerima tanpa reserve, maka kita memberikan penilaian subjektif (sebagai hipotesis awal) apakah yang terjadi dalam hal-hal seperti itu berada dalam ranah bukti-bukti atau sekedar olok-olok.

Berita bohong atau hoax, belum tentu buruk bagi kita, bisa saja dia berita yang baik (karena kita mampu membedakannya) sehingga dan boleh jadi lebih mudah kita membedakan mana yang hak dan mana yang batil.  Namun, ikut serta dalam penyiarannya bisa jadi membuat kita menerima azab yang besar.   Kasus hilangnya kalung Aisyah adalah salah satu kisah yang menjelaskan bahwa kaum mukmin tidak sebaiknya menghindari berita-berita yang tidak jelas kebenarannya. (QS 24:11).

Kembali ke topik awal, kita tahu orang yang memilih tidak bertuhan, yang hatinya telah terkunci mati karena kesombongannya telah banyak dijelaskan oleh AQ, diberi peringatan atau tidak, sama saja bagi mereka.  Di sini juga kita butuh membedakan antara mencari kebenaran dengan kesombongan.  Iblis jelas tidak atheis, tapi kesombongan dan sikap rasisnya telah mengilhami manusia untuk selalu merasa menjadi lebih baik, lebih mampu memutuskan perkaranya sendiri tanpa siapapun (termasuk sang Penciptanya sendiri).

Wallahu ‘alam

….

Mumpung masih dalam lingkup Fitri, Selamat Idul Fitri Mas Lovepassword dan seluruh rekan.  Semoga ibadah puasa kita dan ibadah lainnya diterima Allah Subhana wa ta’ala.  Semoga kita dikaruniai bersua Ramadhan yang akan datang.

Wassalam.

Iklan

11 Tanggapan to “Tuhan dan David Copperfield”

  1. fahmi! said

    semoga ibadah puasa kita dan ibadah lainnya diterima allah subhana wa ta’ala. semoga kita dikaruniai bersua Ramadhan yang akan datang.

    aamiin. mohon maah lahir dan batin pisan ya mas agor 🙂

    @
    mohon maaf lahir batin… semoga bersua dalam kerinduan ramadhan ya. Sambil hati bertanya, akankah semangat ramadhan hadir di 11 bulan yang akan datang….

    Suka

  2. Hi Hi Hi, Mas Agor. Astaganaga komentarku dijadikan posting lagi. Wah anda baik hati sekali sama aku. Thanx bos Agor.

    Bicara sedikit soal verifikasi tampaknya aku juga harus melakukan verifikasi nih. Apa nggak salah nih aku dipanggil Ustad Password ? Hi hi hi.

    Kalo Ustad yang anda maksud itu seorang guru agama, bos – Aku ini jelas bukan guru agama manapun. Aku nggak punya kapasitas banget kalo dianggap sebagai guru agama. Lha wong saya saja mempelajari agama cuma dari blog ke blog termasuk dari blog anda ini. Saya ini masih bodo banget. Saya saja belajar dari anda dan rekan2 yang lain.

    Kalo Ustad yang anda maksud itu guru secara umum atau mungkin anda mau bilang guru password, saya juga merasa ilmu saya belum cukup untuk menjadi seorang guru, bahkan dalam bidang password sekalipun. Hi Hi Hi.

    Saya kok agak ngeri kalo ada ustad beneran, guru beneran atau pakar komputer atau pakar password beneran yang “tersinggung” karena ada anak TK yang anda angkat jadi Ustad. Sedikit Bangga sih tetapi ngerinya itu Bos…

    Kalo anda manggil saya anak TK seperti Pak Guruku Raden Mas Haniifa PG manggil aku, itu malah lebih enak secara psikologis. Anda manggil saya anak TK, anda tak panggil guru TK enak kan ? Hi hi hi. Itu namanya saling mengisi. GuruTKku jadi tambah satu lagi.

    Tetapi secara umum sebenarnya saya memang membebaskan sih siapa saja memanggil aku dengan model mana saja.Terserah anda deh bos, tapi kalo ada yang protes, saya angkat tangan ya ? Hi Hi hi.

    Eh ngomong2 raden Mas Haniifa PG guru TKku itu lama banget ngumpetnya ya ? Astaganaga semedi kok lama betul. hi hi hi.

    OK, sekarang masuk ke komentar ya ? lho emangnya yang tadi belum komentar to ? Sssst, yah anggap saja belum. Tadi kan baru pemanasan. OKE, komentar dimulai : 1…2….3…yak.

    Kalo bicara masalah kabar yang berbau mujizat, saya rasa masalah verifikasi memang sangat penting, kecuali kalo kita tahu betul atau kita merasakan sendiri, itu lain soal. Itu justru bagus. Tetapi kalo kabar belum jelas terus kita sebarkan – biarpun maksud kita baik, memang sangat mungkin hasilnya jadi tidak baik. Mengapa ? Karena ujung-ujungnya agama malah dijadikan bahan olok-olok oleh pihak lain. Masalah hoax ini kalo memang terbukti hoax bisa saja dibuat oleh kelompok agama itu sendiri untuk alasan peningkatan iman(tindakan yang aneh saya rasa kalo ada), bisa juga dilakukan oleh sumber netral misalnya ada kontes photoshop misalnya lalu tanpa sengaja/sengaja disebarkan oleh orang iseng, bisa juga sengaja dilakukan oleh pihak luar untuk tujuan melecehkan atau menertawakan agama.

    Tiwas diumumkan dan dipercaya habis-habisan kemudian baru disebarkan informasi + bukti bahwa itu palsu, tentu saja ujung-ujungnya agama dijadikan bahan tertawaan.

    So sekali lagi saran saya secara umum mari kita uji setiap kabar yang kita terima termasuk kabar yang terkesan bagus sekalipun. Kalo kita tidak mampu melakukan verifikasi ya yang paling aman jangan ikut menyebarkan berita.

    Masalah lain yaitu membicarakan topik yang tidak tinemu nalar kepada para atheis kalo menurut saya sih ya kalo siapapun memang punya kapasitas di dalam ilmu yang tidak tinemu nalar itu ya silakan saja dilakukan. Kalo punya kapasitas lho.

    Anda tahu Mas Agor masak saya disarankan untuk bercerita masalah yang aneh2 seperti yang ada di internet/film/TV sekarang ini lho – semisal mistis, ilmu santet, ilmu gaib dsb.

    Ya akhirnya sambil tersenyum geli saya balas ngomong saja : Saya nggak mudeng itu. Kalo kamu memang pakar santet mengapa nggak ngomong sendiri soal santet kepada mereka. Nanti kalo para atheis minta dibuktikan, ya tinggal kamu santet saja para atheis itu. Tapi jangan kejem2 ya ? Alhasil setelah saya ngomong gicu, saya malah diprenguti. Hi hi hi. Lha saya harus ngomong gimana coba. Hi hi hi.

    Masalah kedua : Saya rasa saya sependapat kalo iman itu hendaknya tidak selalu digantungkan dengan kabar2 mujizat. Semua peristiwa alam semesta yang kita rasakan sekarang ini juga mujizat, hukum2 fisika, matematika itu kan sebenarnya juga mujizat. Kalo iman kemudian dibiasakan dilekatkan dengan kabar2 semacam itu dan ujung2nya ternyata nggak bener. Wah…kayaknya bisa kontraproduktif tuh. Kecuali kalo ada pengalaman religius pribadi tentu itu lain persoalan. Soulnya tentu lain.

    Masalah yang terakhir masalah adanya para atheis : Kalo kita melihat atheis ini dari sisi agama, sebenarnya alasannya juga bermacam-macam. Anda benar ketika anda bicara soal kesombongan tadi. Itu memang salah satu faktor. Tetapi itu jelas juga bukan satu-satunya faktor

    Ada lagi yang mengaitkan ini dengan hidayah Tuhan atau semacam takdir. Gua mau ngomong apa juga kalo Tuhan belum memberikan hidayah juga nggak akan ada hasilnya.

    Ada yang mengaitkan ini dengan usaha manusia: masalah hidayah itu urusan Allah, masalah usaha ya kita lakukan saja apa yang kita bisa.

    Ada juga yang mencoba mengaitkan ini sebagai efek sebab akibat perilaku umat beragama. Sedikit banyak adanya faham yang aneh2 termasuk atheis terkait juga dengan perilaku ajaib umat beragama, misalnya membunuh mengatasnamakan Tuhan, korupsi berkedok agama dsb. Lha sembari kita protes ya kita lihat juga dong apa penyebabnya dari sisi kita.

    Masing2 argumentasi mempunyai pembenar dalam ayat-ayat agama, jadi tergantung bagaimana kita melihatnya saja.

    Masalah kesombongan ada ayatnya seperti contoh dari anda, kalo mau dilihat dari sisi takdir juga ada ayatnya, mau dilihat dari sisi perintah manusia untuk berusaha juga ada ayatnya, mau dilihat dari sisi efek kemunafikan umat beragama juga ada ayatnya, karena ditulis dalam semua agama bahwa kemunafikan atau sifat orang munafik termasuk diantaranya riya, dsb itu berpotensi menghalangi manusia dari jalan Allah.

    Jadi selain kesombongan dari sisi atheisnya harus kita lihat juga bahwa ada kesombongan dari sisi umat beragamanya. Tinggal kita mau meninjau ini dari sisi apa.

    Jangan-jangan gara-gara umat beragama termasuk saya ini terlalu sombong, terlalu hipokrit, kebanyakan korupsi memake baju agama, dan sejenisnya – maka agama akhirnya jadi mendapatkan citra buruk – sehingga jumlah atheis jadi tambah banyak. Kalo memang itu yang terjadi biarpun kita tidak nanggung dosa mereka tetapi kita semua jelas ikut berdosa, kan.

    Masalah lain lagi yang juga menarik untuk ditinjau : Adanya frame2 tertentu dari masing2 pihak yang kadangkala belum tentu benar.
    Masing2 frame itu kadangkala tidak berdasar dan belum tentu benar. Bahkan ada juga yang menjurus fitnah.

    Bukannya saya membela para atheis itu bos Agor, tetapi memang ada juga fitnah yang kadangkala kebangeten menimpa mereka. Misalnya saja pada kasus Bos Bali, pelakunya saja belum tertangkap eh sudah ada tokoh masyarakat yang ngomong : pelakunya itu pasti atheis.

    Mungkin maksudnya sih mau menyindir atau mengkritik keras pengebomnya, tetapi karena atheis yang kena sasaran tentu saja mereka pada protes. Wong nggak tahu urusannya, nggak ngebom kok dituduh ngebom.

    SALAM BOS Agor.

    @
    Salam Mas Love Password, dari pelajaran password saya belajar. Yang ngajar ustad. Ustad ada yang pinter ada yang setengah pinter ada yang super pinter… tapi kan tetap ustad… 😀
    Namun, yang jelas, dari site Password saya mendapatkan sebagian yang saya cari. 😀
    Bos ?
    Bos Sova – Herzegovina setahu saya sebuah negara.
    Bos Ton – berbeda dengan Oom Ton, dia juga sebuah kota di amrik.
    Bos Agor –> you can click here !. No big deal.
    Bos Nia – He..he..he… gadis manis anak bos … tapi sepertinya dia malu dipanggil bos. 🙂
    Saya sepertinya sependapat, tokoh masyarakat yang ngomong, pembom bali itu atheis mestinya tidak mengerti artinya atheis. Tidak jelas riwayatnya, tidak jelas sanadnya sudah berprasangka.

    Salam Mas Love in Password…

    Suka

  3. Abudaniel said

    Assalamu’alaikum,
    Taqabbalallalhu minna wa minkum, taqabbal ya Karim.
    Selamat merayakan Hari Raya “iedul Fitri 1429H Mohon maaf lahir dan bathin, seandainya dlam berkomentar ada kata-kata yang tidak pada tempatnya.

    Mengenai mu’jizat. Dalam sejarah perkembangan Dinul Islam dizaman Rasulullah SAW, beliau tidak mengandalkan mu’jizat semata. Lebih banyak beliau berdakwah lewat penerangan, argumentasi serta prilaku baik perbuatan maupun seruan secara mau’izah hasanah. Mu’jizat hanya diperlukan pada saat tertentu. Itupun bukan dan tidak semata-mata atas keinginan Beliau sendiri.
    Beliau tidak bisa langsung mengeluarkan mu’jizat begitu saja seperti tukang sihir atau tukang sulap.
    Wallahua’lam bishshowab,
    Wassalam,

    @
    Wass.ww.
    Taqabbalallalhu minna wa minkum, taqabbal ya Karim.
    Maaf lahir batin. Kiranya dilapangkan pula hati Mas Abu untuk memaafkan kesalahan Agor selama ini dan kerap salah dalam memposting atau memahami maksud dalam banyak komentar….

    Benar sekali Mas Abu. Agama yang dibawa Nabi Besar Muhammad SAW sarat dengan konsep, nalar, keimanan dan prosedur serta contoh ahlak mulia dan hampir semua arena tauhid dan undangan untuk memaksimumkan akal serta pikiran disajikan dalam kerangka keteladanan yang begitu membekas auranya. Yang menjadi inspirasi tak pernah putus-putusnya untuk diulas dan dicobapahami dari abad ke abad, dari sejak contoh masa kecilnya sampai dimulainya masa kenabian dan menjelang saat sakratul ma’ut menjemput beliau…
    Wass.

    Suka

  4. gentole said

    Mukjizat memang tidak selalu ampuh dalam upaya membuat seseorang yang tidak percaya menjadi percaya, apalagi di mata ateis. Saya pun ikut-ikutan geli-geli basah mendengar komentar semacam itu. Dari kelompok agama mana itu Mas Password? :mrgreen:

    @
    Mukjizat dan petunjuk ajaib banyak sekali dipercaya manusia, kadang tidak dibedakan dari agama manapun. Kalau di Indonesia, karena mayoritas beragama Islam, maka bunyinya dari Islam, kalau dari Thai karena banyak budha maka ajaib dari budha, dari hindu di Bali, dari Kristen di AS atau Eropa. Kadang juga tidak ada hubungannya dengan tingkat pengetahuan dan rasionalitas seseorang/bangsa….

    Suka

  5. @Gentole : Intinya sebenarnya saya rasa mau nyindir – mungkin bukan mau menyerang atheisnya saya rasa tapi menyindir pengebomnya. Tapi secara tidak langsung yang kena tentu pihak lain.

    Gampangannya gini lah : Aku ngomong ke anak kecil : Kamu jangan bego seperti tukang obat.

    Lho emangnya tukang obat itu mesti bego.

    Suka

  6. @Mas Agor : Ih masak linknya ke situ sih. Yang bener saja. Apa hubungannya http://www.dobermann-review.com/default.php sama Bos Agor. Wah ? geleng-geleng mode on.

    @
    ngeles – mode off
    padahal mustinya dikliknya ini :
    http://www.dobermann-review.com/males/CAYA%20Agor/agor.htm

    biarpun nantinya lari ke default, tapi agornya muncul juga…

    apa hubungannya?.

    Nah ini yang agor juga bingung… 😀

    Suka

  7. MaIDeN said

    Menurut saya adalah bijak untuk membuat kalimat yang JELAS, tidak kabur dan abu-abu. Kalau udah tau itu HOAX, langsung aja kasih tau dari awal ini contoh berita hoax. Nggak usah bikin kalimat-kalimat panjang lebar ngalur ngidul yang bertele-tele yang malah memancing orang berspekulasi.

    kecuali kalau memang disengaja untuk maksut-maksut tertentu ;P

    @
    iya betul Mas Maiden… saya berusaha untuk membuat seperti yang mas maksud. Bahkan pada postingan yang ini saya buat dengan quote dan digaristebali dan diwarnai coklat. Diambil dari ayat yang begitu benderangnya. Pada postingan sebelumnya dan dari link-link terkait juga diurai panjang pendek. Jelas bencmarknya adalah ayat.

    Memang betul ada uraian tambahan yang merujuk pada ayat-ayat terkait. Namun pikiran penulis dan pembaca tidak selalu akan sama.

    Namun juga, orang selalu berjalan dengan pikiran-pikirannya sendiri. Bahkan ketika ayat itu tidak sesuai dengan pikiran, bisa jadi ditinggalkan dan dipaskan dengan ayat yang dianggap mendukung. Yang jelaspun akhirnya menjadi abu-abu.
    Di sisi lain, kalau ada maksud tertentu…. adalah mengajak dan belajar berpikir bersama. Sejauh mungkin menghindari sok tahu (padahal selalu sok tahu)… ini emang repotnya.

    Jadi, bagusnya bagaimana ya….

    Suka

  8. Iqbal said

    Kita tidak butuh HOAX, ia tidak membawa manfaat apa2 bahkan kalaupun konon misalnya bisa bikin orang jadi insyaf. Keinsyafan tidak boleh berdiri di atas tipuan.

    By the way, kita nggak butuh HOAX karena keajaiban2 itu toh ada di sekitar kita tanpa harus ngarang2 cerita tambahan. Berjalanlah, maka kita akan temui. Saya dah biasa nemuin hal2 yg kayak gitu. Dan karena sy lihat pake mata sendiri dan bantuin ngurusin hal ajaib itu jadinya itu bukan HOAX buat saya.

    dan by the way lagi, orang ateis itu berdiri di atas kesombongan. Mereka bukannya ga pernah lihat ‘tanda-tanda adanya Tuhan’. mereka hanya mengingkarinya saja. Bahkan kalo ada gajah segede tronton yang bisa ngaji pun belum tentu bisa bikin orang-orng ateis pada insyaf. Dalilnya begini, pake bahasa gampang ya, kita sebagai orang Islam sudah tahu kan kalo nanti sebelum kiamat ada tanda-tanda kiamat. Tanda2 yg jelas banget e.g. munculnya api, binatang yang aneh, dsb, selain munculnya Dajjal. Tapi faktanya pada saat itu tetep banyak orang kafir kan? Nah logikanya gini, kalo hari dah mau kiamat aja (yg banyak tanda2 yang sudah Rasulullah sampaikan) masih tetep ada yang sesat, apa lagi kalo sekarang yang notabene tanda2 kiamat itu belum kelihatan banget.

    @
    😀
    begitu jelas penjelasan Mas.. mudah-mudahan menjadi pembuka untuk merendahkan hati dan pikiran di hadapanNya….

    Suka

  9. […] masyarakat, produk harapan, produk cita-cita, dan produk keyakinan.  Keajaiban bisa dibuat oleh Tuhan atau David Copperfield. Dalam berbagai variasinya, kalau saya menulis tentang keajaiban alam kubur, atau tulisan-tulisan […]

    Suka

  10. […] Kalau Nabi menghasilkan mujizat, kalau wali menghasilkan karomah, kalau apalagi gitu… jadi kalau tuhan menghendaki, maka orang biasa dan lain sebagainya akan menghasilkan keajaiban.  Nggak usah sekolah, nggak usah dapat gelar profesor atau doktor, maka kalau Tuhan menghendaki maka orang biasa juga bisa menyembuhkan ribuan orang.  Kualitas keajaiban seolah akan berlangsung sepanjang jaman.  Benarkah?, benarkah Allah berfirman tentang keajaiban berlangsung sepanjang masa !.  Apakah sama tuhan dengan David Copperfield modern?. […]

    Suka

  11. […] masyarakat, produk harapan, produk cita-cita, dan produk keyakinan. Keajaiban bisa dibuat oleh Tuhan atau David Copperfield. Dalam berbagai variasinya, kalau saya menulis tentang keajaiban alam kubur, atau tulisan-tulisan […]

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: