Sains-Inreligion

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Tidak Ada Jaminan mendengarkan Al Qur’an Dibacakan Akan Tergetar Hatinya !

Posted by agorsiloku pada September 14, 2008

Dalam sebuah pemberitaan, terberitakan Bupati Purwakarta dinilai menghina Al Qur’an karena menyamakan dengan suling.  Berita yang dinilai ‘menista’ adalah pada pengantar pengajian di Bale Paseban, Agustus 2008 lalu : “… kecapi dan suling bisa lebih mendekatkan diri kepada Allah, bagi orang yang memaknainya dan tidak ada jaminan juga bahwa yang mendengarkan Al Qur’an dibacakan kemudian akan tergetar hatinya.”

Agak susah juga mencari berita persisnya, karena kasus ini bertabur masalah lainnya yang menyangkut peran sang pemimpin wilayah ini.  Tulisan ini tidak mencoba menganalisis jabatan politik dan keresahan yang ditimbulkan atau penarikan kesimpulan bahwa kecapi dan suling (alat musik tatar Sunda) bisa lebih mendekatkan diri dibanding Al Qur’an atau kesimpulan apa saja yang ingin diambil oleh pendengarnya.  Namun, kita mengetahui pula sebuah peristiwa apapun, sangat boleh jadi ketika dimaknai bisa lebih mendekatkan diri kepada Sang Pencipta dan ketika orang mendengarkan Al Qur’an dibacakan bisa dianggap tidak lebih dari sekedar dongengan belaka.   Lho kok dongengan belaka !?.  Ini benar-benar penghinaan !. Ya memang, segelintir (atau bahkan sekelompok manusia) menganggap Al Qur’an adalah dongengan orang-orang terdahulu.  Al Qur’an mengingatkan dalam 83:13 :”yang apabila dibacakan kepadanya ayat-ayat Kami, ia berkata: “Itu adalah dongengan orang-orang yang dahulu“.  Beberapa ayat lainnya persis menjelaskan posisi ketika Al Qur’an dibacakan pada mereka AQ 68:15, dinilai sebagai sihir yang nyata 46:7; menyombongkan diri 45:31; namun tentu saja terpahami bahwa mereka yang beriman akan tergetar hatinya dan menjadi pelajaran bagi orang beriman seperti dijelaskan AQ 29:51.  Orang beriman ketika mendengar Al Qur’an dibacakan akan berkata seperti dijelaskan AQ 28:53 :”Dan apabila dibacakan (Al Quran itu) kepada mereka, mereka berkata: Kami beriman kepadanya; sesungguhnya; Al Quran itu adalah suatu kebenaran dari Tuhan kami, sesungguhnya kami sebelumnya adalah orang-orang yang membenarkan(nya). ”

Tentu ummat Islam tidak ingin memiliki pemimpin yang tidak tergetar hatinya ketika Al Qur’an dibacakan kepadanya.  Al Qur’an adalah petunjuk bagi orang-orang bertaqwa.  Namun jelas pula, ketika Al Qur’an dibacakan maka manusia dapat dipisahkan pada dua sikap : “menolak dan menyombongkan diri” atau “tergetar dan bersujud”, berkaca-kaca matanya dan takut akan azab dan berharap rahmatNya.

Kembali ke topik awal, penistaan dianggap menjadi ada karena menyamakan suling dengan Al Qur’an.  Bisa jadi seeh, akan memunculkan perdebatan.  Hati sang Bupati yang sesungguhnya adalah urusan Beliau dengan Allah ketika logika itu dilantunkan dan menjadi percikan api amarah ketika di dengar sebagian ummat di sana.  Saya sendiri termasuk yang gagal memahami bahwa ucapan bupati ini bertujuan untuk menyamakan, namun kita selalu mengetahui, bahwa segala sesuatu bahkan peristiwa yang buruk dan nista sekalipun, ketika hidayah Allah tiba kepadanya, bisa menjadi sebab mendekatkan diri kepadanya.  Sedangkan Al Qur’an, ketika dibacakan pada orang-orang yang memang mengingkarinya, malah menjadi alat yang semakin menyesatkannya. Menyimak ayat QS 2:26 menyadarkan kita bahwa perumpamaan dari Allah adalah adalah petunjukNya sekaligus juga menjadi perumpamaan yang membuat mereka semakin sesat.

wallahu alam.

Iklan

8 Tanggapan to “Tidak Ada Jaminan mendengarkan Al Qur’an Dibacakan Akan Tergetar Hatinya !”

  1. Aria Turns said

    Ya emang bener, Jaminan hanya berlaku bagi 0rang2 beriman, yang gak beriman gak dijamin dech..

    @
    😀

    Suka

  2. Terimakasih atas kunjungannya ke blog saya, jadi tersanjung krn dikunjungi orang penting di jagat per’blog’an seperti anda.
    Saya tdk bermaksud menjudge atau memihak, saya hanya ingin tahu lebih detailnya mengapa sampai seorang bupati mengatakan hal tsb. Pengalaman saya selama mengajar di madrasah aliyah, cukup banyak siswa yg terkesan tdk hormat manakala diperdengarkan alqur’an, bahkan banyak juga guru yg ngajar di madrasah tapi kemammpuan membaca alqur’annya msh minim. Siswa yg tdk serius mengaji memang kebanyakan siswa yg bermasalah namun yg patut disayangkan adalah sikap yg mrk tampilkan manakala ada kegiatan atau acara yg menampilkan pembacaan ayat suci alqur’an. Saya pribadi merasa gagal meyakinkan sejumlah besar anak didik saya tentang barokah ngaji mrk di sela-sela jam pelajaran.
    Maksud saya begini… Umar Ibnul Khattab masuk islam gara-gara mendengar lantunan ayat suci yg dibacakan adik perempuannya. Saya kira selain krn faktor hidayah Allah juga krn yg membacakan nya punya kebersihan jiwa yg sanggup memancarkan kemilau sejati alqur’an sehingga menyelusup ke kalbu yg mendengarnya. Bukan masalah indah atau merdu membacakan nya namun kerendahan hati dan kepekaan nurani lebih dibutuhkan agar pesan moral alqur’an sampai ke sanubari pendengarnya. Hidayah memang harus dicari bukan ditunggu…
    Mudah-mudahan kita semua tetap istiqomah utk mencintai alqur’an dan menebarkan hikmah.

    @
    Mas Zaenal Mutaqien ini ada-ada saja. Mana ada orang penting di blog, kecuali yang punya Mr. Matt WordPress yang jadi sesepuh dan pemilik wordpress…. 😀
    Saya juga tidak mengetahui persis. Hanya sewaktu menonton TV, ada berita bahwa MUI dan ulama setempat protes kepada Bupati Purwakarta yang katanya menyamakan suling dengan Al Qur’an dan kalimat yang saya kutip adalah dari Tempo Interaktif.
    Kalau saya sendiri, kok tidak merasa aneh sama sekali dengan ucapan Bupati itu. Juga tidak merasa itu sebagai penghinaan. Tidak juga menyamakan Suling dan Kecapi sebagai sama dengan Al Qur’an. Di gugel protes ini sepertinya berbaur dengan sisi-sisi lain. Jadi tidak mudah menelusurinya.
    Bahwa Pak Bupati sebelumnya telah memuat foto dirinya pada setiap Al Qur’an yang dibagikan adalah sisi lain. Ini juga dinilai menghina?. Atau mungkin lebih tepat tidak pantas memanfaatkan kitab suci untuk kepentingan politik.
    Ah, agor tidak berani berspekulasi, agor hanya ingin menulis seperti yang disebutkan oleh Al Qur’an, yang mendengarkan bisa jadi menganggap AQ sebagai dongengan belaka karena sebab seperti yang dijelaskan oleh AQ itu sendiri. Jelas penjelasan AQ bukanlah cercaan pada diri sendiri, tapi peringatan untuk yang membacanya bahwa memang AQ adalah spesial untuk orang beriman dan jika sudah disesatkan Allah (karena kesombongannya), tidak ada penolong selainnya yang bisa membuat ybs melek.

    Suka

  3. sitijenang said

    mungkin maksudnya membaca dalam arti yang luas. tak sekadar melafal tanpa memahami arti dan menggali maknanya. [ini versi prasangka baik aja]

    @
    Mungkin juga, kita berprasangka baik saja. Namun, saya juga gagal memahami bahwa yang disampaikan oleh Pak Bupati harus dipahami sebagai upaya penistaan agama !. Agak aneh menurut agor. Terlepas dari urusan lainnya yang menyangkut Bupati tersebut. Kejadian serupa bisa terjadi pada setiap orang, baik ulama maupun bukan, namun jelas bahwa AQ mengingatkan agar manusia harus berlaku adil, jangan sampai kebencian menyebabkan kita tidak mau berlaku adil.

    Suka

  4. hadi arr said

    sebagai pemimpin mesti pandai-pandai memilih bahasa ya Pak, sebab yang mendengarkan beliau dari berbagai kalangan. Terlebih dalam dunia politik terkadang kebaikan bisa menjadi senjata yang memakan tuannya, apalagi keburukan.
    selamat puasa pak, hehhe maaf telat.

    @
    he..he..he… betul… memilih-milih bahasa yang tepat perlu sekali. Saya juga ngeri dengan judul yang dibuat. Berpikir, apakah akan salah memahami dan langsung mencari agor untuk diadili 😦 Namun, setelah dipikir-pikir lagi, AQ sudah menjelaskan posisi ini. Jadi beranikan saja memberikan catatan….
    Selamat berpuasa juga, semoga puasa kita menjadikan kita menjadi seperti yang dipesankan Allah : agar kita bertakwa….
    amin.

    Suka

  5. C4ndra said

    “… kecapi dan suling bisa lebih mendekatkan diri kepada Allah, bagi orang yang memaknainya dan tidak ada jaminan juga bahwa yang mendengarkan Al Qur’an dibacakan kemudian akan tergetar hatinya.”

    Kalau sekiranya hanya karena pernyataan seperti itu sekelompok umat islam sampai berdemo mengerahkan masa, hati saya merasa miris entah kenapa…? ;?

    @
    Saya juga miris.

    Suka

  6. Donny Reza said

    Dalam majalah tempo yang tidak sempat saya kliping, salah seorang novelis negeri ini menulis bahwa sesungguhnya terjadi kesalahpahaman terhadap Kitab Suci (Al-Quran salah satunya), yaitu menganggap sekumpulan syair sebagai sebuah hukum. Saya berfikir, jangan2 yang terjadi adalah sebaliknya, hukum yang dianggap kumpulan syair, sehingga wajar jika kemudian muncul misinterpretasi. Wajar juga ketika Al-Quran tidak sampai membuat hati tergetar, lha dianggap syair…

    @
    Kata Saudara ipar, dan juga kata beberapa sumber, Al qur’an adalah sekumpulan syair yang keindahan dan keakuratannya membentuk aturan-aturan kesemestaan. Yang tertibnya melebihi aksioma matematis, yang keanggunan katanya membuat ahli bahasa dan penyair terperangah. Kalau tak salah, Sang Manusia Merak, eh maksudnya Mas Willy (Rendra), memasuki dunia Islam dan bersyahadat adalah karena keindahan syairnya. Namun, tentu saja khasanah hukum Al Qur’an telah memerincikan dalam keindahan dan kesempurnaan manusia untuk melihat, mendengar, menyimak, membacakan dan melantunkan petunjukNya kepada dunia….

    Suka

  7. zal said

    ::Mas Agor, apa mungkin yang dimaksud itu AQ 2:171, kalau dalam Al Azhar diartikan “dengungan”…,

    @
    Untuk mereka, dan terkadang hati kita yang lalai juga mendengar hanya menjadi dengungan, seperti seekor binatang yang dipanggil oleh penggembalanya….
    😦

    Suka

  8. Abudaniel said

    Assalamu’alikum,
    Al-Quran adalah Al-Quran. Bukan buku kumpulan syair, bukan buku dongengan, bukan juga buku sains and tekhnologi.
    Walaupun mungkin ada unsur-unsur tersebut didalammnya.
    AQ adalah petunjuk bagi An-Nas. An-Nas yang bagaimana?. An-Nas yang mau menerima dan memahami petunjuk dan mengimani bahwa AQ adalah benar wahyu ALLAH.
    Bagi yang tidak mau dan tidak mengimani, AQ bukan apa-apa dan tidak berarti apa-apa.
    Mengenai perkataan sang Bupati. Tidak lebih nyeleneh dari perkataan Gus DUR yang mengatakan AQ adalah kitab paling porno.
    Biarkan saja. Karena kita tidak tahu apa sebenarnya maksud dari perkataan tersebut. Yang tahu hanya Allah dan dia. Kita hanya bisa menebak dan berprasangka. Tidak lebih.
    Doakan saja semoga Allah memberikan ampunan dan hidayah kepadanya, kalau maksudnya memang benar untuk menyamankan Aq dengan suling atau alat musik. Wallahua’lam.
    Wassalam,

    @
    Wass.ww.
    Biarkan saja…
    Do’akan saja…
    kata kunci daripada berpolitik menggunakan term ini… 😀

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: