Sains-Inreligion

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Guru dan Sekolah Mencari Tambahan Penghasilan.

Posted by agorsiloku pada Agustus 30, 2008

Saya sependapat bahwa banyak guru dan dosen yang berbisnis, terutama guru dan kepala sekolah untuk mendapatkan tambahan uang untuk belanja rumah dan dapurnya.  Ada banyak cara dilakukan untuk menambah uang dapur.  Waktu anak saya kecil, maka privat less dari guru agama, guru matematika adalah salah satu harapan dari “guru dan sekolah” untuk mendapatkan tambahan di luar gaji yang diterimanya dari sekolah dan negara.  Ada juga di tingkat lanjutannya kursus komputer, eskul, berenang.  Dengan kata lain, sederhana saja :  Siswa dijadikan objek tambahan bagi guru dan sekolah (dengan beragama alasan pungutan ujian, ulangan, tabungan, atau sumbangan mesjid/gereja, kaos kaki, emblim, seragam, koperasi, sepatu) atau kursus, bimbingan belajar (dengan atau kerjasama dengan pihak ketiga) atau apa saja. Tidak sedikit guru guru pula yang menambal penghasilan dengan buka warung di rumahnya bahkan sampai jadi tukang ojek motor. Semua halal kok usaha ini.

Sedangkan proyek pendidikan menjadi komoditi bisnis bagi pengusaha level lebih tinggi untuk berbagi.  Nggak percaya, tanya saja sama mesin-mesin pendidikan yang sudah lebih mengenal asam garam dunia pendidikan (tapi ini bukan topi, topiknya adalah sesuai postingan).

Lalu mengapa guru dan sekolah mencari tambahan penghasilan dari semua itu?.

Ya, karena sebagian besar guru (tentu tidak semua), rata-rata hidup mirip Oemar Bakri. Bahwa di DKI relatif lebih makmur, karena memang untuk guru DKI perhatian Pemda lebih baik. Jadi ingat waktu dulu, saya memilih berhenti mengajar mending jadi salesman saja, karena nggak tahan dengan gaji yang cuma “sauprit”. Enakan cari iklan, komisinya bisa 20% dan dapat iklan jutaan rp. 😀 dan 😦 Tapi sedihnya, kok hidup diukur dengan uang terus !.
Jadi harus dipahami bahwa guru berbisnis adalah bagian dari upaya mempertahankan kelayakan hidupnya. Ini layak kita renungkan bersama, seperti Oom Ersis menjelaskan panjang lebar di sini.
Secara umum, orang tua, meskipun berat dengan uang pembangunan sekolah yang tinggi, dan berbagai emblim sekolah (kaos, kursus tambahan, eskul, dan lain-lain) yang nilainya bisa jutaan rupiah tapi tetap mau mengeluarkan (terpaksa). Tapi, mari kita tanyakan kembali, mengapa jumlah yang bisa hanya seperlima atau sepersepuluh dari jumlah ini, jika dikeluarkan untuk membeli buku yang akan dipakai selama masa setahun belajar (artinya Rp 1000 – Rp 1500) sehari maka semua mulai dari Presiden sampai orang tua murid merasa mahal?, merasa diperkosa hak-haknya. Kalau guru dan sekolah mendapatkan uang dari 10% diskon dan 20% biasanya diberikan kembali ke siswa atau semuanya diambil guru/sekolah untuk kesejahteraan bersama dianggap kejahatan, tapi untuk yang lain mengapa tidak? atau kita menutup mata.

Jadi, saya menanggap bahwa, sepanjang prosesi pendidikan dan daya kemampuan pemerintah serta niat baik pemerintah dalam menyejahterakan guru dan sekolah belum cukup, maka beban yang harus diambil dari masyarakat berupa kegiatan-kegiatan untuk menambah pendapatan itu akan berlangsung terus dan itu sangat manusiawi.

Saya tanyakan anak saya, jawabnya juga sama.  Ada perasaan sia-sia untuk membeli buku.  Tapi tidak untuk kosmetik, handphone, baju baru, makan di restorant atau naik taksi.  Padahal secara ekonomi mampu, tapi tetap saja hantu “mahal” itu selalu ada.  Maka saya setuju berat, betul, perasaan terhadap mahal itu sangat kuat dan dalam. Hanya sebagian kecil dari kita mampu melewatinya dengan baik….

Apakah perasaan ini yang membuat bangsa ini tidak suka membaca?, jauh terbelakang dibanding bangsa yang sama-sama merdeka atau bahkan yang merdekanya belakangan dan kini mereka jauh lebih maju, sedangkan kita hanya bisa ngirim TKI tanpa keahlian…. 😦 atau anak bangsa yang akhirnya memilih bekerja dengan keahliannya di negeri lain saja, karena di negeri sendiri tidak cukup dihargai).  Apakah kita menjadi bangsa konsumerisme tinggi dan pada saat yang sama inferior pula karena spririt pada pengetahuan masih jauh dibanding bangsa-bangsa terbelakan sekalipun (Vietnam, misalnya) yang porak poranda dihancurkan kapitalisme Amerika? malah sudah bisa mengimpor beras untuk Indonesia tercintakesima ?.

Apakah kita tidak merasakan gejala yang sama?

Iklan

4 Tanggapan to “Guru dan Sekolah Mencari Tambahan Penghasilan.”

  1. @ Ada perasaan sia-sia untuk membeli buku. Tapi tidak untuk kosmetik, handphone, baju baru, makan di restorant atau naik taksi. Padahal secara ekonomi mampu, tapi tetap saja hantu “mahal” itu selalu ada. Maka saya setuju berat, betul, perasaan terhadap mahal itu sangat kuat dan dalam. Hanya sebagian kecil dari kita mampu melewatinya dengan baik….

    Kalau saya sih kayaknya lebih netral deh. Saya nggak urusan sama model HP, makan di mana saja juga Ok, nggak naik taksi juga tetap Ok. Jalan kaki juga boleh.

    Tetapi tetap saja merasa buku itu mahal dan tambah mahal aja. Hik hik….-

    Saya kadang merasa membeli buku jaman sekarang itu jadi semacam perjuangan. Jadi dalam pandangan saya – harga buku tetap mahal, tapi kalo memang lagi butuh ya diperjuangkanlah. Tapi rasa mahal itu memang tetap ada.

    Kalo sampe presiden merasa mahal itu masalahnya ya saya rasa karena beliau merasa bahwa harga buku itu saat ini memang tidak terjangkau oleh sebagian rakyat miskin. Kalo pun mereka berjuang, perjuangannya sampe ngos-ngosan gitu loh Bos.

    @
    He…he…he… kalau rakyat miskin, seharusnya dan SEHARUSNYA mendapatkan dukungan transportasi, dapat BLT dan support lainnya dari pajak dari hasil negara dan masyarakat yang lebih mampu. Jangankan untuk beli buku, untuk makan pun sudah ngos-ngosan.
    Dengan kata lain, mereka yang jumlahnya sekitar 40-50 Juta rakyat Indonesia tergolong miskin, jangankan untuk beli buku atau sekolah, untuk makan saja susah.
    Dengan kata lain, tidak relevan bagi mereka menuntut ilmu, karena untuk sandang pangan saja sudah sangat berat.
    Dengan kata lain, rasanya kurang relevan membicarakan kebutuhan buku sebagai media ilmu, sedangkan mereka miskin, seperempat miskin, atau setengah miskin atau totaly miskiin.
    Persoalan kemiskinan berbeda dengan orang yang bisa koneksi internet dan membayar satu jam 6000,- dengan perasaan terhadap buku dan ilmu… 😀

    Suka

  2. Donny Reza said

    Ah, ya … di satu sisi buku sudah jadi bagian kebutuhan saya. Ketika pertama kali isu bbm mau naik lagi, yang pertama kali saya pikirkan adalah … buku! Dan ternyata memang benar, ada wacana harga buku bakalan naik, bahkan menyentuh angka 60% .. hiks. Jadi aja mikir2 lagi untuk beli buku. Meskipun, saya masih merasa cukup dengan hp yang udah hampir 5 tahun menemani :))

    Suka

  3. sitijenang said

    buku mahal salah satunya karena harga kertas juga malah, mas agor. setahu saya bahan kertas untuk buku-buku masih 100% impor. produk lokal kalo gak salah cuma pulp kertas aja.

    @
    Mahalnya buku bukan karena komponen kertas, meskipun jelas ini mempengaruhi. Dalam ekonomi kita mengenal good value for money, artinya mahal atau tidaknya sangat tergantung dari nilai ekonomis dari barang atau jasa yang diberikan. Meskipun mahal, tapi kalau nilai ekonomisnya terpenuhi, maka makan segelas kopi 75 ribu atau sering ke Mac D. untuk menyenangkan anak isteri maka ayam sepotong seharga paket murah 8000-10000 tetap saja murah. Padahal di sebelahnya yang bukan Mac D, ayam yang sama seharga setengahnya terasa mahal.
    Namun, soal kertas, kertas produksi dalam negeri, setahu agor diekspor lebih banyak, apalagi jika harganya lebih oke dari pada dijual di dalam negeri….
    Tapi, ada kertas dalam negeri juga yang dijual tidak memenuhi kualitas export.

    Suka

  4. HeLL-dA said

    Saya malah tdk senang kalo’ buku itu dr pemerintah dg sistem pinjam. Buku pelajaran tsb jadinya bukan milik saya…
    Namun, terkadang kalo’ belinya di sekolah, harga buku mahal, tapi itu bukan berarti org tua saya pelit utk membeli buku. Cara mengakalinya adalah beli langsung dr agennya.
    Jangan sampai nggak punya buku dah…

    😉

    @
    Yap, buku pinjam itu mengurangi daya interaksi antara produk dan pembacanya. Kalau komik memang nggak masalah, tapi buku ajar biasanya menuntut komunikasi yg lebih aktif (ditandai, dicoret-coret).. dll.
    Harga buku di sekolah dan agen kerap lebih mahal di sekolah karena diskon di agen mengikuti persaingan, sedang di sekolah tidak.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: