Sains-Inreligion

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Ketika Pikiran Memberangus Akal !

Posted by agorsiloku pada Agustus 19, 2008

“Bisa nggak ya, PIKIRAN memberangus akal?”

“Ya, bisa saja !.  Sejarah masa lalu telah membuktikan bahwa pikiran telah memberangus akal.  Bisa juga dikatakan pikiran mengakali akal, pikiran memenjarakan akal, atau pikiran menghianati akal, atau bisa juga pikiran membebaskan diri dari segala pengaruh : termasuk pikiran itu sendiri  😀

Sejarah tentang akal memberangus akal (kok nggak enak ya dengarnya) saya definisikan sebagai salah satu pola pikir untuk tidak memanfaatkan anugerah akal untuk melakukan evaluasi, analisis, dan menarik kesimpulan-kesimpulan yang diperlukan.

Namun, pikiran juga menjadi sarana yang mudah untuk menarik kesimpulan, pikiran juga melahirkan tindakan-tindakan yang bisa jadi berlebih-lebihan.  Tidak salah juga kalau pikiran menjadi “tuhan” atas nama keunggulan akal dan pikiran.

akal adalah cahaya kehidupan.   Al Qur’an menyebutkan akal (Al aql) sebanyak 49 kali, sama dengan al nur juga 49 kali.  Tentu, bukan tanpa maksud jumlah kata akal disinonimkan dengan cahaya.  Kata ulil albab juga menempati posisi istimewa dalam khasanah pesan Al Qur’an.  Misalnya, yang mengambil pelajaran itu orang yang berakal (14:52).

Pendefinisian Akal.

Agak bingung juga memahami apa sih bedanya akal dan pikiran.  Maklumlah sudah terbiasa menanggap keduanya sama saja.  Kalaupun beda, yah… beda-beda dikitlah.

Akal adalah karunia yang paling besar.  Saya kutipkan dari sini :

1. Kekayaan yang paling besar adalah akal.

2. Akal adalah naluri, sedangkan yang mengasuhnya adalah berbagai pengalaman. Karenanya akal juga merupakan rekaman terhadap berbagai pengalaman.

3. Akal adalah raja, sedangkan tabiat adalah rakyatnya. Jika akal lemah untuk mengatur tabiat, maka akan timbul kecacatan padanya, yaitu tabiat kemudian yang mengatur akal.

4. Akal lebih diutamakan daripada hawa nafsu, karena akal menjadikanmu sebagai pemilik zaman, sedangkan hawa nafsu memperbudakmu untuk zaman.

5. Makan pokok tubuh adalah makanan, sedangkan makanan pokok akal adalah hikmah. Maka kapan saja hilang salah satu dari kedua makanan pokoknya, binasalah ia dan lenyap.

6. Duduklah bersama orang-orang bijak, baik mereka itu musuh atau kawan. Sebab, akal bertemu dengan akal.

7. Pertalian yang paling berharga adalah akal yang berpasangan dengan kemujuran.

8. Adab adalah gambaran akal, dan akal adalah naluri yang diasuh oleh berbagai pengalaman, sehingga akal adalah juga rekaman terhadap berbagai pengalaman. Karenanya seorang yang berakal akan menjadikan pengalaman-pengalaman (hidup) sebagai nasihat baginya.

9. Jika akal menjadi kendali, tidak tertawan oleh hawa nafsu, atau melampaui batas agama, dan fanatik terhadap nenek-moyang (tradisi), niscaya akal itu akan mengantarkan pemiliknya kepada keselamatan.

10. Jika engkau hendak menutup sebuah kitab, maka hendaklah engkau teliti kembali kitab itu, jangan sampai yang kau tutup adalah akalmu.

11. Jika Allah hendak menghilangkan nikmat dari seorang hamba-Nya, maka yang pertama kali diubah dari hamba-Nya itu adalah akalnya.

12. Ruh adalah kehidupan badan, sedangkan akal adalah kehidupan ruh.

13. Pahamilah kabar atau berita atau sesuatu apapun yang engkau dengar dengan akal yang penuh dengan pemahaman, bukan akal yang sekedar meriwayatkan. Sesungguhnya periwayat ilmu banyak jumlahnya, sedangkan yang memahaminya sedikit.

14. Orang yang berakal, jika berbicara dengan suatu kalimat, maka ikut serta bersamanya hikmah dan nasihat.

15. Orang yang berakal bersaing dengan orang-orang saleh agar dapat menyusul mereka, dan dia ingin sekali berserikat dengan mereka karena kecintaannya terhadap mereka, meskipun amalnya tidak mampu menyamai mereka.

16. Orang yang paling bijak akalnya dan paling sempurna keutamaannya adalah yang mengisi hari-harinya dengan perdamaian, bergaul dengan saudara-saudaranya dengan rekonsiliasi, dan mereka menerima kekurangan zaman.

17. Tidaklah patut bagi orang yang berakal kecuali berada dalam salah satu dari dua kondisi ini, yaitu berada dalam cita-cita yang paling tinggi untuk mencari dunia, atau berada dalam cita-cita yang paling tinggi untuk meninggalkannya.

18. Tidaklah layak bagi seorang yang berakal untuk menuntut ketaatan orang lain (terhadapnya), sementara dia sendiri tidak taat pada dirinya.

20. Orang yang berakal adalah orang yang mencurigai pendapatnya sendiri dan tidak mempercayai apa yang dipandang baik oleh dirinya.

21. Permusuhan diantara orang-orang pintar adalah permusuhan yang paling berat dan paling berbahaya, karena ia hanya terjadi setelah didahului dengan hujjah dan peringatan, dan setelah tidak mungkin lagi ada perdamaian di antara keduanya.

22. Orang yang paling disukai oleh orang yang berakal adalah musuhnya juga berakal. Sebab, jika musuhnya itu berakal, maka dia akan merasa aman dari kejahatannya (kelicikan, keculasan dan kecurangan).

23. Sesungguhnya sesuatu yang tidak disukai (kesialan) memiliki batas yang pasti akan berakhir. Oleh karena itu, seorang yang berakal akan bersikap tenang sampai kesialan itu hilang (berlalu dengan sendirinya). Sebab, menghindar darinya sebelum habis waktunya justru hanya akan menambah kesialannya.

24. Celaan orang-orang berakal lebih berat daripada hukuman seorang penguasa, dan permulaan pendapat orang berakal adalah akhir pendapat orang bodoh.

25. Bagi orang yang berakal, hidup dalam kesusahan bersama orang-orang berakal lebih disukainya daripada hidup dalam kelapangan (kesenangan) bersama orang-orang bodoh.

26. Tidak ada penyakit yang lebih berat daripada kurang akal.

(Seri Kata-Kata Mutiara Amirul Mukminin Imam Ali Bin Abi Thalib as)

Muchyar Yara

Orang-orang Berakal.

Berikut ini dari milis Assunnah, Abu Farhan menjelaskan :

1/ Istilah “ulil albab” dipadankan dengan istilah “orang-orang yang berakal“, antara lain oleh Departemen Agama RI. Penjelasan atas apa yang disebut sebagai “orang-orang yang berakal” beragam pada berbagai surat dan ayat. Namun apabila digabungkan dan dikaitkan satu sama lain, penjelasan-penjelasan tersebut saling melengkapi.
2/ Memang cukup sulit mencari padanan istilah yang tepat dalam bahasa Indonesia. Ada sebagian orang memadankan dengan istilah “ilmuwan muslim”. Namun berdasarkan berbagai penjelasan atas istilah “ulil albab”, istilah “ilmuwan muslim” belum sepenuhnya mewakili istilah “ulil albab”.
3/ Pada hakikatnya, “ulil albab” merupakan perwujudan dari mukmin paripurna sebagaimana Allah subhanahu wa ta’ala inginkan.

Istilah “ulil albab” dalam Al Qur’an ialah “orang-orang yang berakal” yang memiliki ciri-ciri antara lain:
1. telah diberi petunjuk: QS 39:18
2. memilih Al Qur’an sebagai pedomannya: QS 39:18
3. dikaruniai pemahaman tentang Al Hikmah (Al Qur’an dan As Sunnah): QS 2:269
4. mampu mengambil pelajaran dari Al Qur’an (termasuk tentang keesaan Allah, sebagai penjelasan dan peringatan kepada manusia): QS 2:269, 3:7, 13:19-22, 14:52, 39:9
5. mampu memilih yang baik: QS 5:100
6. selalu mengingat Allah dan memikirkan penciptaan alam: QS 3:190-191
7. bertaqwa: QS 2:179, 2:197, 5:100, 65:10
8. takut kepada Allah dan takut pada adzab pada hari perhitungan: QS 13:19-22, 39:9
9. beriman: QS 65:10
10. memenuhi janji Allah dan tidak memungkiri perjanjian: QS 13:19-22
11. mempertahankan ikatan persaudaraan: QS 13:19-22
12. mendirikan shalat (termasuk shalat malam): QS13:19-22, 39:9
13. bershadaqah: QS 13:19-22
14. menolak kejahatan dengan kebaikan: QS 13:19-22
15. sabar mencari keridhaan Allah: QS 13:19-22
16. mengharap rahmat Allah: QS 39:9
17. beruntung: QS 5:100
18. memperoleh tempat kesudahan yang baik: QS 13:19-22

Mudah-mudahan kita tergolong sebagai “ulil albab”. Besar harapan saya bahwa ada di antara Saudara-saudaraku dapat melengkapinya.

Berpikir Keliru.

Kondisi berakal yang merupakan sebuah posisi “berpikir yang beriman” (pakai tanda kutip) juga digoda oleh kemampuan berpikir sebagai suatu proses dalam melakukan sintesis.  Ketergesa-gesaan, pemujaan tokoh adalah kondisi yang memungkinkan terjadinya kondisi yang menyebabkan manusia keluar dari akalnya.  Kita butuh mungkin melakukan pembelaan atau tentunya lebih baik merenungkan kembali, apakah kita berada pada klaim sudah berakal?.  Apakah pikiran kita sudah memberangus akal kita.  Bagaimanakah sejarah terbangunnya sikap beku (jumud) yang menimbulkan gejolak tidak kecil dalam sejarah peradaban menusia dalam mengelola pikirannya.  Bahkan juga sampai kini?.

Wallahu ‘alam.

Iklan

9 Tanggapan to “Ketika Pikiran Memberangus Akal !”

  1. aricloud said

    Menurut saya, sejatinya akal tidak akan memberangus akal.

    Akal akan menjadi fitrah yang menuntun manusia pada Allah jika digunakan untuk berpikir (tafakur) yang diiringi penyerahan diri kepada Allah SWT :

    “Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Tuhan) bagi orang-orang yang memikirkan.” (QS An Nahl: 69)

    “Dia lah yang memperlihatkan kepadamu tanda-tanda (kekuasaan)-Nya dan menurunkan untukmu rezki dari langit. Dan tiadalah mendapat pelajaran kecuali orang-orang yang kembali (kepada Allah).” (QS. Ghaafir, 40: 13)

    “kecuali orang-orang yang kembali (kepada Allah)” tanpa ini, maka justru akan menuntun pada penuhanan terhadap akal, yang berujung pada ketidakpercayaan terhadap Tuhan.

    Hal lain yang perlu dicermati adalah akal terkadang menjadi bebal akibat hasutan hawa nafsu dan lingkungan. Misalnya, sudah tahu korupsi itu dosa, dan kalau ketahuan pasti masuk TV dan masuk penjara, tapi akibat hawa nafsu, maka otak jadi bebal..tidak kesampaian untuk berpikir pada fitrahnya akal tadi, malah pikirannya dipakai oleh hawa nafsu :”bagaimana nih biar korupsinya gak ketahuan”.

    Lingkungan buruk juga tentu dapat membebalkan pikiran. Gak usah jauh-jauh, anak-anak muda sekarang kalo tidak punya pacar pasti malu sama teman-temannya. Hal ini karena lingkungannya (baca : TV, majalah, teman2) sudah membentuk persepsi bahwa punya pacar itu keren dan gaul, serta sebagai pembuktian diri bahwa “gue juga laku”. Akibatnya, dalam konteks ini akal menjadi bebal, sehingga muncullah kebutuhan baru yang negatif, yaitu anak muda harus punya pacar.

    @
    Mas Ari, waktu pertama menuliskan : postingan ini berjudul akal memberangus akal. Kemudian setelah direnung-renungkan kembali dan mencari link-link yang berhubungan. Betul kata Mas, akal tidak akan memberangus akal. Yang ada adalah pikiran yang disertai dengan kebekuan pikiranlah yang tidak memberikan toleransi terhadap perbedaan, yang diperkaya oleh prasangkaanlah yang kemudian memberangus akal oleh pikiran…..

    Suka

  2. zal said

    ::tks Mas Agor, sekarang setapak saya lebih faham, mengapa Umar, sering bertanya kepada Ali, dan mengapa Rasulullah begitu dekat dengan Ali disamping Abu Bakar.

    Sepertinya pendapat Mas Agor Akal memberangus Akal bisa jadi, sebab sebenarnya Akal umpama sumber segalanya, Jika Sumber Merdeka, maka gemerlap cahaya akan menerangi segalanya, namun iapun rela memperturutkan sebagian keinginan, dan merekayasa sebagian keinginan yang lain, agar si fikiran tidak menyimpang jauh, dan kesantunan akal, menyilahkan si fikiran untuk memimpin, apakah akan menyimpang setelah lurusnya…, kalau si fikiran tak dipercaya…apa gunanya diciptakan… mungkin lho…ini juga rekayasa koq… 🙂

    @
    Agor telah koreksi, bukan akal memberangus akal, tapi pikiran yang memberangus akal. Akal mengendalikan pikiran agar tidak menyimpang jauh. Akal memimpin, pikiran memproses. Agor memahaminya begini. Mungkin masih belum tepat juga… perlu bantuan diluruskan… 😦

    Suka

  3. zal said

    ::kayaknya ngga ada yg perlu dikoreksi, sepertinya yang diperlukan adanya suatu ketetapan pada diri kita sendiri, jika merah kita katakan, peganglah itu, sampai terbuktinya suatu keadaan, tidak akan ada yang mampu merubah diri kita, kecuali kesiapan diri, dan tibanya waktu Berkehendaknya Sang Berkehendak “bila engkau menunggu, Kamipun akan menunggu, sebentar…”
    Segala sesuatu terpenuhi lantaran adanya dimasukkannya malam pada siang, dan adanya bahtera yang membawa segala keperluan..” ya..inilah salah satu ayat yang membuat Nabi Muhammad SAW menangis semalaman, sampai Bilal datang menjemput, bahkan ayat tersebut juga dibacakan kepada Bilal, namun sepertinya Bilal engga ikutan nangis, mengapa ya…Koq cuma Nabiullah yang menangis….bukankah demikian juga yang dialami Umar sewaktu mendengar Surat Thahaa dibacakan Fatimah adiknya, mengapa Umar yang beringas yg menangis sejadi-jadinya, sedang Fatimah yang membaca bisa jadi engga faham, sisi ayat yang mana yang mencolek, syaraf tangis Umar RA…
    banyak yang membingungkan…mengapa dilalaikan, padahal tak jarang iklanpun dibuat dengan sesuatu yang menarik untuk dicerna…dan bukankah sesorang juga perlu mencari perhatian, agar ianya diperhatikan…akh..ibadahku sudah khusuk koq…lalu mengapa lalai…oh ..inikan bukan shalat ya…
    mesiu yang bergudang-gudang tak lagi kuperlukan, jika aku memiliki sedikit uranium….

    @
    🙂
    Agor koreksi karena ketika membaca kembali, kata akal di AQ berkonsepsi dengan iman dan petunjuk Allah. Jadi, agor memahaminya akal itu terdefinisi dengan bumbu penyedapnya adalah iman. Sedangkan konsepsi berpikir, memikirkan lebih pada proses, perbantahan dan prasangkaan, perbandingan.
    Mengenai Bilal atau Umar atau Hanifah dalam hadis yang diriwayatkan juga tentu saja memiliki perbedaan sesuai dengan latar belakang dan tingkat perhatian masalahnya.

    Suka

  4. zal said

    ::Mas Agor udah nonton I Robbot…, jangan lihat manusia-manusianya… yang dihancurkan terakhir itu..itulah perumpamaan otak…(meskipun disini yg ditampilkan sisi yg jelek..)
    Menguatnya dia maka seluruh sendi diri menjadi wilayah kekuasaannya, dengan demikian dengannya tangan memukul, dengannya lidah berbicara, dengannya kaki menendang…
    namun sebaiknya mintalah bukti pada diri, jangan percayai siapapun tanpa diri membuktikannya, mungkin sekedar ingatan Bahwa Allah Maha Pengabul Do’a, jika dunia diminta, maka dunia diberi, yang mengambil haknya didunia tiada kebagian lagi di akhirat…

    Mengapa Para Beliau, dapat menangis pada saat ayat dibacakan, sedang yang lain tidak, sebab sesuatu ditanamkan pada jiwa, sehingga dibisakan membaca…”setelah Kami beri beberapa nama kepada Adam…”

    bagaimana beda, orang yang dekat sekali hubungannya diberitahukan meninggal, dibandingkan, hal meninggal tadi disampaikan kepada yang engga punya hubungan history apapun…

    @
    Kalau nggak salah sudah nonton Robot. Namun, yang menarik dari situ, kompilasi berpikir dan merasa, difilmkan sebagai bisa terjadi pada robot. Jadi, robot punya rasa!.

    Memang betul Mas Zal, perbedaan datang dari kualitas rasa, juga kualitas pemahaman. Namun, pemahaman pikiran saja, memang tidak cukup kuat untuk olah rasa. Rasa jauh lebih niscaya dan tidak mudah didefinisikan jua….

    Suka

  5. sitijenang said

    kalo rasa dalam falsafah Jawa, setidaknya ‘aliran saya’ *halah* :mrgreen: , diibaratkan sebagai cahaya, sedangkan pikiran adalah lensanya. masalahnya, rasa di alam kejiwaan, seperti menurut Ki Suryo Mentaram selalu diisi dua suara. satu dari nurani dan satunya dari naluri. dua-duanya punya akses ke pikiran. karena itu, manusia bisa mengalami keraguan. sebabnya, dua suara tersebut bisa mengajukan usulan yg sama-sama logis.

    @
    Antara Nurani dan naluri, antara akal dan nafsu, antara kebaikan dan kefaikan, antara bisikan malaikat dan bisikan iblis….
    Wah… agor harus merenung dulu… tapi komentar Mas Sitijenang menggelitik… Contoh logisnya seperti apa ya?.

    Suka

  6. sitijenang said

    kalo contoh sih agak susah. tapi, akan saya coba. misalnya soal anak.

    Naluri: “Wajar kalo saya memenuhi semua keinginan anak. Toh saya punya waktu dan secara materi mampu. Bahkan, kalo bisa jangan sampai anak saya merasakan penderitaan barang secuilpun.”

    Nurani: “Saya harus mendidiknya supaya tahu bahwa tak semua keinginannya bisa tercapai. Dia harus belajar mandiri. Jangan sampai menjadi anak manja yang tahunya hanya meminta.”

    kira-kira begitu. kalo gak cocok berarti salah… he he he… :mrgreen:

    @
    Wah.. bener-bener agor musti pikir/renungkan lagi.
    Naluri selama ini adalah pilihan atau akal yang selama ini agor pikir tidak melalui/tidak melakukan proses berpikir. Spontanitas saja.
    Nurani juga sama, pilihan atau akal yang otomatis muncul pada suatu kondisi diminta atau tidak sebagai “jawaban” atas rangsangan yang datang ke dalam diri. Dia juga instant.

    😦

    Suka

  7. Ketika pikiran memberangus akal………………………….. Bagus saya senang dapat membaca tulisan ini, selagi saya menulis SingKingArt di http://ngehmologi.blogspot.com yang intinya mengelola pikiran sebelum akal bekerja untuk dapat merubah nasib keberuntungan sukses sikap+ perbuatan+ prilaku+ apapun IQ EQnya

    Suka

    • Semacam tip kiat rumus atau metoda inspiratif untuk merubah nasib keberuntungan sukses sikap+ perbuatan+ prilaku+ apapun IQ EQnya
      Dengan cara Mengelola pikiran sebelum akal bekerja yang masuk katagori Ngehmologi
      yaitu tulisan yang membahas tentang kesadaran ngeh ,lintasan pikiran, yang terbetik, yang terbesit, khotirah, blink dll

      Suka

  8. roni said

    alam fikiran saya lebih luas dr alam semesta.dan akal yg merubah alam semesta.
    cnth:dulu blm ada mobil,krn manusia merasa punya akal maka dr akal dan akal menyuruh tubuh kita tuk membuat mobil.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: