Sains-Inreligion

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Mencari Jejak Tuhan Dalam Sains, Relevankah?

Posted by agorsiloku pada Agustus 15, 2008

Adakah jejak Tuhan dalam sains?. Apakah dengan mengenal sains, membaca keteraturan alam semesta, maka orang akan tunduk pada kebesaranNya?.  Masihkah akan percaya pada Allah setelah mendalami sekian banyak pengetahuan tentang alam semesta.  Tentang bagaimana alam terpelihara atau bagaimana alam semesta itu dilahirkan?.

Sains memang tidak menjelaskan tentang Sang Pencipta, begitu juga agama tidak menjelaskan tentang Sang Pencipta, tapi jelas dalam agama Sang Pencipta memperkenalkan diriNya (dengan nama-namaNya yang maha agung).  Sains juga tidak menjelaskan tentang bagaimana hukum-hukum alam terbentuk.  Pokoknya ada saja sepermilyar detik dari yang tidak bisa dijelaskan kemudian menjadi ada bleg saja sebagai sebuah kebetulan.  Bahwa kebetulan itu menghasilkan kebetulan-kebetulan yang lain tidak begitu penting.  Sepanjang sains bisa menjelaskan tentang kebetulan-kebetulan yang terjadi, maka Tuhan tidak diperlukan untuk terjadinya sebuah fenomena di alam semesta ini.  Alam semesta juga begitu, telah menjadi ada dan akan terus ada, kalaupun akan musnah, masih lama deh.. masih milyaran tahun lagi.

Argumen disain canggih karya Sang Pencipta, melalui perbandingan bentuk-bentuk kehidupan yang menunjukkan tingkatan-tingkatan kehidupan telah digeser oleh premis seleksi alamiah.  Dengan kata lain, seleksi alam di awal hipotesis Darwin, telah menggantikan peranan Sang Pencipta.

Biarpun (atau lebih tepat malah) ketikapun pengetahuan semakin canggih untuk mengenal perilaku genetik dari sel-sel awal kehidupan (biologi molekuler) yang memang sudah cukup kompleks dan rumit meskipun itu hanya sebuah virus, kesukaan untuk melihat kebetulan-kebetulan yang “mengherankan” dan makin terjelaskan semakin yakin bahwa faktor kebetulanlah yang membuat mahluk hidup itu menjadi ada.

Kita begitu yakin bahwa katak pindah ke laut menjadi laut menjadi ikan paus 😀  atau jerapah semakin panjang lehernya karena perubahan lingkungan.  Sainstis begitu percaya pada universal ancestor, bahwa diduga semua sel berasal dari sel leluhur yang sama.  Setelah melalui proses evolusi yang panjang akhirnya sel leluhur tersebut berkembang menjadi bermacam-macam sel seperti yang diketahui sekarang.

Singkat kata, semakin mendapat pelajaran sebagai mahluk berakal, maka semakin banyak kebetulan yang terjelaskan, dan semakin tidak diperlukan Tuhan untuk terjadinya sesuatu.  Tuhan, Sang Pencipta menjadi semakin samar dan jauh.  Perjalanan memahami sains, bukan semakin mendekatkan sang peneliti pada penciptaNya, tapi semakin mempertanyakan atau semakin meragukan.

“Oh begitu ya Pak Ust?”, sapa saya sambil pura-pura heran   🙂

“Mengapa ya ?”

“Sampeyan udah baca blom Al Baqarah sampai 10 ayat pertama saja.  Jelas di situ”.  Syarat untuk mengerti dan mengakui adalah mempercayai yang ghaib dan sampai ayat berikutnya.  Ayat ke 6 memberikan makna penting bagi yang beriman, mereka yang mengingkari (kafir) diberi peringatan atau nggak bakalan sama saja. Allah telah mengunci mati hati dan pendengaran mereka (ayat ke 7) dan bla…bla..bla…

“Ya jadi begitulah, kalau perjalanan sains adalah perjalanan mencari Tuhan, maka sains menjadi pelajaran spiritual untuk orang berakal untuk bertemu Allah.  Sebaliknya, jika melihat sains sebagai untuk sains dan meraih pengetahuan kebetulan baru, maka perjalanannya sains tidak mencapai tujuannya”.  Beriman menjadi prasyarat awal untuk memahami bahwa yang disebut kebetulan atau tak terjelaskan adalah perancangan sempurna, tanpa cacat logik yang semakin mendekatkan kepada Sang Pencipta”.

Pagi sudah semakin menjelang, peserta tausyiah pagi itu pulang dengan pertanyaan masing-masing di hatinya.  Entah apa yang dipikirkan masing-masing, tak sempat ditanya lagi.  Saya melangkah sedikit gontai, sambil kemudian mencoba menyadari bahwa menjadi beriman dan mendapatkan hidayahNya adalah anugrah yang haruslah disyukuri sepenuh hati.  Amal menjadi sia-sia dan tak berdaya guna jika sudah berakal, tapi hati terkunci mati.

Iklan

5 Tanggapan to “Mencari Jejak Tuhan Dalam Sains, Relevankah?”

  1. N. Arifin said

    Ada seorang ahli dalam matematika, yang juga fisikawan. Dia menghitung kemungkinan untuk terjadinya keteraturan dalam alam semesta ini (seperti yang kita alami dan nikmati sekarang ini). Dia mendapatkan angka kemungkinan 1 berbanding 10 pangkat 10 pangkat 1260 (1:10^10^1260 — dengan 2 supercript).Coba bandingkan kalau kita main ular tangga/ludo/monopoli dengan kemungkinan melempar dadu mendapat angka 6 adalah 1:6 atau 1:12.
    Arti dari angka itu adalah kita beserta alam dan segala isi nya saat ini adalah mustahil terjadi. Dalam matematika kemungkinan 1 berbanding 10 pangkat 50 (1:10^50) saja adalah sesuatu yang mustahil dapat terjadi.
    Evolusi bukan jawabannya, karena evolusi tidak terdapat dalil untuk melawan entropi atau ketidakteraturan. Pertanyaan nya, kenapa kita ada.. ???. Ternyata ada jawaban dari sains yang menyatakan bahwa Tuhan itu ada. Sayang banyak manusia walaupun pintar tetapi tetap menolak fakta yang meyakinkan ini.
    Memang kita (born muslim)di indoktrinasi percaya hal gaib sebagai sarana untuk percaya dan mengetahui Allah, tapi Allah memberikan ilmu kepada manusia yang menunjukkan eksistensi DiriNya dan sukar untuk dibantah.
    Itu baru dari ilmu matematika, bagaimana dari ilmu lain ? Kalau seorang ilmuwan itu jujur dalam menekuni ilmu nya – maka pada suatu saat ia akan menemukan Allah dengan ilmunya.Ia adalah Ulama.

    @
    Menarik memang, ada singularitas awal yang katanya kemungkinannya adalah sangat unik seperti mas jelaskan dan itu menjadi kebetulan pertama. Aneh ya, dianggap sebagai kebetulan dan setelah itu Allah tidak usah/tidak perlu campur tangan lagi dalam setiap proses penciptaan berikutnya.
    Jadi, ketika Tuhan bolehlah ada, dalam satu ketika, selanjutnya Tuhan berlepas tangan dan setiap kejadian dijelaskan menurut pengetahuan sains dan direkayasa juga dengan pengetahuan yang sama.
    Ini satu sisi.
    Di sisi lain, yang juga layak juga kita teladani, mereka sering adalah orang yang begitu bersungguh-sungguh dalam melakukan penelitian.
    Beruntung kita dilahirkan sudah dibekali indoktrinasi awal untuk mengenalNya. Namun, saya percaya bahwa dimanapun juga, pada wilayah manapun juga, Allah telah mengirimkan duta-duta untuk menjelaskan jalan kebaikan dan jalan kefasikan seperti yang difirmankanNya.
    Terimakasih pula untuk catatan-catatannya yang begitu melengkapi postingan ini.
    Wass, agor

    Suka

  2. sitijenang said

    kalo menurut falsafah Jawa, perbedaan manusia dgn mahluk lain, selain nalar, adalah rasa atau kehendak bebas/sejati. nalar cuma alat yg bisa menjadi pisau ganda. fakta bisa dipakai untuk mendukung dua pendapat yg saling bertolak belakang. kalau nalar tanpa rasa hasilnya (konon) sia-sia, sedangkan rasa tanpa nalar (katanya) cenderung menyesatkan.

    @
    Bagaimana mengelola rasa sambil tetap memaksimalkan akal. Pada beberapa sisi, apakah rasa bisa mengkebiri akal?., Mas Jenang kasih contoh dunk, rasa tanpa nalar… biar jelas buat agor ya… 🙂

    Suka

  3. sitijenang said

    bicara rasa, mungkin mas agor mesti baca-baca apa yg saya maksud dengan rasa, pada tulisan “Keselarasan Dalam Ilmu Kejawen”. bisa juga membaca wejangan Ki Suryo Mentaram. kalo contoh, misalnya saja rasa ingin menolong orang yg (tampaknya) sedang butuh pertolongan kita. katakanlah rasa simpati. namun, bila tidak dinalar dulu, dalam arti menimbang apakah bantuan kita tepat sasaran atau tidak, misalnya lagi, memberi orang yg pada dasarnya malas bekerja. pemberian kita justru menjadikan orang tersebut tetap malas. dari sini, menurut saya, rasa justru dapat mempertajan nalar.

    @
    Ini adalah kearifan “jawa” dan juga sisi pikiran universal. Namun, saya juga harus dengar juga wejangan Ki Suryo Mentaram….. Trims lho infonya….

    Suka

  4. sitijenang said

    eh maap, kebalik. nalar bisa mempertajam rasa. :mrgreen:

    Suka

  5. Kali ini, apa ngak judulnya yang salah tu? Dasar pikir tulisan ini sangat antroposentris, kali aja. Sain ‘dicipta’ untuk memahami sunnatullah. Dapat dipastikan semakin menjerumuskan dirinya seorang saintis ujungnya ‘memahami’, di balik pengetahuannya (yang secuil) itu ada yang Mahadahsyat, Sang Khalik. Pada posisi demikian, Sang Pencipta menciptakan apa saja dan manusia berusaha mempelajarinya (satunya dengan sains) untuk mendekatkan diri kepadaNya, kembali kepadaNya. Tidak kuciptakan jin dan manusia, kecuali untuk mengabdi. Mempelajari sains, memahami sains, dalam kerangka demikian. Kebetulan saja kini palu sains dikuasai pihak lain, tetapi Insya Allah, hakikatnya ke Pencipta. Salam.

    @
    Salah, eh… sekaligus benar…
    Dari sudut kaum beragama perjalanan sains menjadi bagian dari kaum berakal untuk mendekati atau mendekatkan kepada Sang Maha Pencipta.
    Namun, seperti kata Pak Guru : “Kebetulan saja kini palu sains dikuasai pihak lain, tetapi insya Allah hakikatnya ke Pencipta.”
    Benarkah?
    Mengapa ketika palu sains justru menghasilkan begitu banyak “peradaban” manusia untuk kemajuan dunia materiliastik, justru dikembangkan habis-habisan oleh yang sebagian besar justru “mentidakkan” Sang Pencipta. Filsafat positivisme dalam perkembangannya, harus diakui, sains yang selalu harus dibuktikan tidak menjadi lebih dekat dengan Sang Pencipta.
    Sebab yang sering kita lihat dan rasakan adalah, semakin banyak penemuan baru, maka “Allah” semakin digeser dari percaturan kehidupan. Sains bukan lagi perjalanan spiritual, tapi melesak pada tataran kemegahan duniawi…. Dunia di luar batas itu, bukanlah sains dan antroposentris, membuat tuhan terpinggirkan dalam khasanah berpikir manusia….
    Apakah tidak begitu?.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: