Sains-Inreligion

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Menolak Tuhan Demi Kemanusiaan !

Posted by agorsiloku pada Agustus 14, 2008

Kok aneh ya !.  Tidak juga, begitu kuatnya kekuatan sehingga meniscayakan kemampuan otak sebagai satu-satunya yang utuh dan utama. Tentu saja ini bukan barang baru, gerakan untuk menolak kehadiran tuhan dalam kehidupan masyarakat udah dari dulu-dulu itu.  Nietsche bilang tuhan sudah mati. Yang dimaksudkan adalah gagasan tentang tuhan dinilai sudah tidak lagi mampu mengatasi tantangan moral dan zaman.  Begitu !.

Apakah pendekatan berpikir seperti ini absurd atau wajar?.  Lepas dari absurd atau wajar atau sebagai bentuk protes dari sejumlah manusia yang mengatas namakan Tuhan untuk memberantas manusia lainnya, penolakan Tuhan demi kemanusiaan adalah persepsi dari Tuhan Yang Jahat, bukan dari Tuhan Yang Maha Baik dan Maha Pemberi Rahmat.  Paling minimum, pemikiran ini didasarkan pada Tuhan Yang Tidak Perduli, Tuhan Yang Tuli, atau Tuhan Yang Netral.  Buat saya seeh… itu tuhan-tuhanan.

Tuhan dalam prasangkaan adalah Tuhan yang ada dalam kepala kita, yang bisa kita mainkan dalam pikiran kita seperti tuhan apa yang kita inginkan.  Tuhan yang ada dalam pikiran kita adalah tuhan yang bisa kita kuasai untuk memenuhi hasrat kita.  Tuhan direduksi menurut kepentingan pikiran yang ada di dalam pikiran kita.  Karena itu, ada dalam pikiran kita, dalam seluruh hasrat emosi dan kearifan ataupun kenakalan kita, maka kita juga melihat tuhan bisa dinegosiasi, bisa diperolok-olokan, bisa dianggap bodoh.

Kadang muncul pula pikiran kita, kita lebih suka kejadian sebagai kebetulan dan menihilkan kehadiran tuhan dari pada mengharuskan ada tuhan dalam kegiatan manusia.

Eh, tapi menolak Tuhan juga harus juga dipahami, menolak kekuasaanNya atau keberadaanNya.  Karena Iblis jelas mengakui keberadaanNya, mengakui kekuasaanNya, tapi juga melawan kekuasaanNya.  Menolak Tuhan demi Kemanusiaan bisa jadi Menerima Tuhan demi yang lain. 😀

Apakah ilmu pengetahuan menolak atau menerima kehadiran tuhan juga?.

Apakah kemanusiaan tidak bisa dibangun demi ibadah kepada Allah?

(eh ngomong-ngomong berapa banyak ya panti asuhan dibangun sebagai pengejawantahan kesalehan manusia kepada Allah, sebagai pengabdian ,dibanding dengan panti pembunuhan manusia)

Iklan

13 Tanggapan to “Menolak Tuhan Demi Kemanusiaan !”

  1. Donny Reza said

    Konon, salah satu alasan kenapa penyembahan berhala pernah begitu semarak karena para penyembahnya memang menginginkan Tuhan yang nggak bisa apa-apa, sehingga manusia bisa berbuat apa pun … 🙂

    Sementara dalam Islam, Allah benar-benar yang paling berkuasa atas manusia. Jadi memang wajar kalau banyak juga yang keberatan dengan Islam, takut nggak bebas lagi…

    @
    Mungkin juga agar Tuhan mereka bisa dikendalikan, bisa nyata, bisa tampil sesuai mode/selera, Jika perlu Tuhan berhala bisa dimasukkan ke dalam peti, bisa disimpan dalam rumah, bisa juga dipakai untuk mengumpulkan sumbangan dan hadiah-hadiah. Dan yang terakhir ini kayaknya lebih apdol 😀

    Singkatnya, memang betul. Tuhan yang nggak bisa apa-apa…..

    Suka

  2. aricloud said

    Kebanyakan orang yang putus asa terhadap Tuhan termasuk orang-orang Atheis berkesimpulan menolak Tuhan karena menghubungkannya dengan situasi kehidupan yang berlangsung, bukan Substansi Ke-Tuhan-an itu sendiri.
    Misalnya, ada orang beranggapan untuk apa beragama? toh orang-orang yang mengaku beragama sibuk berperang atas nama agamanya sendiri-sendiri?

    Mereka berdalih berapa banyak korban kemanusiaan akibat campur tangan agama? termasuk kegagalan agama mengendalikan perdamaian, moralitas dan harmonisasi kehidupan.

    Dalam islam, menurut saya, substansi akan keimanan merupakan dasarnya, barulah kita bicara ketaatan. Artinya antara ketaatan dan keimanan merupakan 2 hal yang berbeda. Beriman namun tidak taat, maka yang terjadi adalah disharmonisasi. Taat namun tidak dilandasi keimanan, maka ketaatannya bagai buih saja.

    Oleh karena itu berbicara tentang Tuhan tidak bisa bicara keimanan saja. Namun juga sejauh mana Tuhan ditaati? dan sejauh mana penegakkan Hukum juga dilakukan atas dasar ketaatan tersebut?

    @
    Mas Ari betul, Jangan putus asa terhadap Tuhan.
    Dalih yang menjelaskan bahwa agama gagal dalam mengendalikan perdamaian sangat menunjukkan kebodohan (zalim). Jelas agama adalah himbauan moral, jalan lurus, tentu tidak diperbandingkan dengan penegakan hukum. Kalau hukum ditegakkan, dengan atau tanpa nama agama, maka hukum sebagai panglima. Mau berperilaku setan atau berperilaku ulama, kalau semua taat hukum dan hukum dijalankan, maka hukum akan menjalankan tugasnya di tangan pelaksana hukum.
    Apakah hukum yang berlaku berbasiskan logika ketertiban saja, ataukah mendapatkan inspirasi dari agama. Itu yang harus diamati seksama. Yang mengatur harmonisasi kehidupan itu bukan agama, tapi orang yang taat pada agama, taat pada hukum berdasarkan agama.

    Suka

  3. zal said

    ::Mas Agor, jika benar seorang atheis, meniadakan Tuhan, mengapa harus ada membangun kelompok, apakah tidak mungkin dengan ini malah membangun Tuhan juga,
    Jika seorang atheis mampu berbuat baik, meski tanpa adanya Tuhan, alangkah luar biasanya, sebab berbuat tanpa tendensi apapun, bagaimana tidak, kebanyakan masih berharap tiap perbuatan berimbal pahala, surga, dan mengelak dari neraka bahkan mereka melakukan tanpa Tuhan sekalipun.

    Bagaimana pandangan Mas Agor, terhadap sesorang yang bekerja dengan penuh tanggung jawab, tanpa mengukur materi, waktu dll.

    namun yang saya perhatikan termasuk Niestche, lebih kepada keputusasaan dalam pencarian, sebab goresannya lebih kepada rintihan tak dapat menolak perasaannya, namun fikirannya tak mampu menerimanya, sehingga terkesan menolak keberadaaNYA.

    Namun bandingkanlah dengan tak risau, meskipun ada ayat yang mengatakan “kemanapun wajah dipalingkan disana wajah Allah berada..” meskipun tak pernah tampak olehnya namun sama sekali tak merasa risau dengan adanya ayat ini, bahkan kebanyakan berusaha menolak kematian, meskipun disadarinya setelah mati akan bertemu Tuhannya…namun jangan menginginkan mati sebelum mati, namun pula, rasailah mati sebelum mati…karana mati itu dapat mengenalkan DiriNYA yang sangat bermanfaat untuk menjalani hidup.

    @
    Meskipun saya punya banyak teman yang tidak perduli Allah dan mengaku ateis, tapi rasanya saya belum pernah bertemu dengan orang yang benar-benar ateis murni (tidak percaya adanya Tuhan sama sekali). Juga kalau membaca tulisan-tulisan yang rada berbau ilmiah untuk membuktikan Tuhan itu tidak ada, sepertinya mereka juga gagal menjelaskan kejadian penciptaan sebagai kebetulan. Lebih banyak, seorang ateis menutup pikirannya atau gengsi jika harus mengakui adanya kekuatan di luar dirinya yang sangat superior yang disebut sebagai Sang Pencipta.
    Memang ada pembelaan, yang penting berbuat baik kepada sesama. Tak perlu lagi Tuhan sebagai pembimbing kehidupan (kata itu berarti mengakui adanya Tuhan juga seeh, hanya mengingkari… ya mirip-mirip Iblis lah).
    Betul Mas Zal, di sini juga ada peluang untuk merasa “menjadi tuhan” atau menuhankan yang lain dalam bentuk yang lebih halus. Jadi ingat Fir’aun, Tuhan Nabi Musa lebih kurat dari Fir’aun.

    Bagaimana pandangan Mas Agor, terhadap sesorang yang bekerja dengan penuh tanggung jawab, tanpa mengukur materi, waktu dll.

    Menurut agor (sekali lagi ini sangat subjektif), mereka yang penuh tanggung jawab, tidak mengukur materi, dan berjuang demi kemanusiaan adalah posisi yang sangat bagus. Jika itu bagian dari kesalehannya, maka ia akan menemukan Tuhan yang memberinya kekuatan dan kemampuan untuk berbuat baik. Namun, jika karena pikirannya dan niatnya didasari keinginan untuk dipuji, lebih baik dari Tuhan (yang di matanya kejam), maka seluruh aktivitasnya sebenarnya tidak diniati “tanpa pamrih” (baik kepada manusia atau kepada Penciptanya). “Kesombongan” yang halus maupun yang tampak, agor kira menjadi bagian dari perbuatannya.

    Apakah di dunia ini, ada manusia yang berbuat tanpa didasari “niat”?. Di sini juga kita bisa melihat agama dari sudut pikiran (seperti Sejarah Tuhan yang dibuat oleh Karen Amstrong) dan yang menggunakan sudut pikiran kaum yang berakal.

    Suka

  4. Abudaniel said

    Assalamu’alaikum,
    Bukan hanya Nietsche saja yang mengatakan “Tuhan sudah mati”.
    Mahasiswa IAIN saja berani mengatakan “Selamat datang didaerah bebas Tuhan”.
    Bahkan ada yang berani mengatakan bahwa kalau Allah adalah Tuhan yang suka menyiksa, lebih baik cari Tuhan lain.
    Ini orang yang katanya beragama Islam yang mengatakan.

    Inilah cerminan segelintir masyarakat Islam yang sudah terkena suatu penyakit. Demi kemanusian, demi hak azasi manusia, demi kebebasan pikiran manusia,demi demokrasi, demi ilmu pengetahuan, apa saja yang bertentangan dengannya harus disingkirkan.

    Wassalam,

    @
    Mas Abu, Wass. w.w
    Apa yang Mas sampaikan juga adalah salah satu fakta (pedih) bahwa Mahasiswa IAIN yang jelas penguasaan bahasa dan asal-usulnya, jelas ilmunya berani mengungkapkan kata yang jelas-jelas berasal dari prasangkaan. Bahkan nyaris tanpa ilmu sama sekali. Tentu ini hanya contoh, karena agor ada beberapa teman dari lingkungan yang sama yang menurut agor, pantas sekali ybs jadi ulama besar. Karena prinsipnya, karena keluasan ilmunya, juga karena kesolehannya. Jadi, kalau ada bisul di tubuh yang sehat, insya Allah bisa disembuhkan…. 🙂
    Adalah kemudian tantangan pula, bagaimana pula dengan demi demokrasi, demi kebebasan pikiran manusia, demi ilmu pengetahuan… justru cahaya Ilahi dapat ditunjukkan…. biarpun hanya satu ayat.

    Mengajak berpikir dan berakal tanpa bisa memaksa untuk melihat sisi-sisi tanpa banyak kerumitan dan asal usul. Juga dengan meminimkan indoktrinasi… tetap bertauhid dan berprinsip. Tetap fundamentalis, tanpa takut kebebasan berpikir……

    Wass.

    Suka

  5. Abudaniel said

    Nyambung dikit 🙂
    Bahkan, demi yang diatas ( koment #4 ), Tuhan sekalipun harus disingkirkan, kalau perlu “dibunuh”.

    Wassalam,

    @
    Tuhan ini adalah tuhan dalam prasangkaan ya Mas Abu. Tuhan sekehendak pikiran/otak dan, lebih dari itu, satu pertanyaan yang kerap muncul, apakah menyingkirkan tuhan adalah bagian dari “kesombongan” manusia, yang tidak menyadari bahwa dahulunya manusia bukan sesuatu yang dapat disebut…..

    Suka

  6. zal said

    ::Mas Agor, ada banyak hal jika diamati cara Manusia berTuhan, ada yang memang mencariNYA, ada yang menjalankan saja dari pengetahuan yang dipercayainya dengan merujuk pada Mazhab, atau guru-guru, ada pula bahkan mungkin engga memahami sama sekali mengapa harus melakukan segala atribut peribadahan, namun karena sudah banyak yang menjalankan, maka iapun menjalankannya.

    Mengapa kita berasumsi menyalahkan mereka yang bisa jadi juga berpengetahuan, bisa jadi juga berilmu, apakah hanya lantaran pengetahuan yang ada pada kita, tidak ada pada mereka, atau malah sebaliknya…

    mari kita balik ke 15 Abad yang lampau, seandainya kita adalah kaum quraysh, atau lainnya yang pada waktu itu Nabi Muhammad mengakui Kenabiannya…apakah kira-kira kita akan beriman…sebagaimana perasaan bahwa kita telah mencoba beriman dengan susah payah (bukankah menurut Allah jalan yg lurus itu mendaki lagi berbatu…, )
    Mungkin jika saat ini Allah hadir dihadapan kita dan berkata Akulah Allah Tuhanmu, bagaimana…??? dapatkah kita mempercayaiNYA….

    Kalau segala sesuatu memang tersembunyi, dimanakah ukuran salah benarnya….???

    @
    Betul Mas Zal, karena itu dalam postingan ini, saya tegasi bukan masalah absurd atau wajar. Saya mencoba melihat dari kacamata sebab akibat (dalam prasangkaan) yang menimbulkan kesimpulan ini. Kalaulah kesimpulan yang saya buat ini keliru atau tidak sesuai dengan yang ada dalam pikiran saya, tentu pula akan ada perimbangan lain. Bisa juga jawabnya terjadi karena para pemeluk agama menampilkan kegarangan dan ketidakmanusiaan sehingga persepsi yang muncul menjadi berbeda.
    Pada tema ini, memang didasari judul sebuah blog yang menjadi tema yang buat agor sendiri, temanya cukup menggelitik.

    Suka

  7. dana said

    @zal

    Rasanya kalo Tuhan yang berkata Akulah Allah Tuhanmu itu tidak sesuai dengan Tuhan dalam bayangan saya maka serta merta saya tolak. 😉

    @
    Sedangkan ke Nabi Musa saja, Tuhan ada dibalik hijab… masa sih akan bilang ke Mas Dana… 🙂
    Tentulah yang bilang begitu pastinya bukan tuhan.
    Namun, tentu pula tuhan dalam bayangan juga, bisa dipastikan “bukan” itu.

    Suka

  8. gentole said

    Kadang saya berpikir, dengan atau tanpa Tuhan, manusia bisa menghormati atau menghancurkan manusia lainnya. Jadi, peluangnya sama. Saya bisa saja menerima Tuhan demi kemanusiaan. 😀

    @
    Memang, selain melalui pengenalan ilmu sosial dan sains yang dipahami manusia. Tuhan hadir melalui petunjuk langsung pada beberapa kitabNya sampai pada kitab yang terakhir Al Qur’an. Di luar kitab “resmi”-nya yang sebagian menimbulkan kernyit di dahi, sebagian lagi di-kalam-kan oleh para ahli dan ilmuwan peneliti.
    Yang menjadi manusia ada yang meragukan bahwa Allah telah menurunkan petunjuk melalui kitab, ada yang mempercayai mutlak, ada yang merasa perlu melakukan perubahan baik pada kitab ataupun melalui penafsiran, ada yang merasa cukup dengan yang tersedia di alam semesta saja, atau setiap kali menemukan mekanismenya, maka ternyata bukan tuhan yang ada di situ. Itu juga adalah kebebasan berpikir yang dimiliki manusia. 😀

    Suka

  9. dana said

    @agor

    Sedangkan ke Nabi Musa saja, Tuhan ada dibalik hijab… masa sih akan bilang ke Mas Dana…
    Tentulah yang bilang begitu pastinya bukan tuhan.
    Namun, tentu pula tuhan dalam bayangan juga, bisa dipastikan “bukan” itu.

    Nggak gitu juga , saya kan bukan Musa dan Musa bukan saya.
    Lagian, ketika dia bilang di balik hijab juga, persis deh kayak di kejadian Musa. Tetap saja jika berbeeda dengan bayangan saya akan saya tolak.

    Jadi kapan kira kira saya terima kang agor?

    @
    ha..ha..ha… Mas Dana ini ada-ada saja…
    Pernyataan pertama :
    “Rasanya kalo Tuhan yang berkata Akulah Allah Tuhanmu itu tidak sesuai dengan Tuhan dalam bayangan saya maka serta merta saya tolak.”
    Pernyataan kedua :
    “Sedangkan ke Nabi Musa saja, Tuhan ada dibalik hijab… masa sih akan bilang ke Mas Dana… 🙂
    Tentulah yang bilang begitu pastinya bukan tuhan. Namun, tentu pula tuhan dalam bayangan juga, bisa dipastikan “bukan” itu.”

    Jadi jelas
    “Akulah Allah Tuhanmu” adalah A dan A tidak akan tampak oleh manusia (di dunia)
    Bayangan saya tentang Tuhan adalah B –> Jika A tidak sama dengan B maka akan ditolak.

    Fakta keimanan :
    A adalah yang tak ada sesuatu apapun yang menyerupai.
    B adalah bayangan tentang A’ menurut Mas Dana

    Jelas bahwa A’ tidak akan sama dengan A pada kondisi manapun.

    Maka : Jadi kapan kira kira saya terima kang agor?

    Kalau menurut AQ, kita akan yakin setelah masa pertemuan itu tiba, setelah badan masuk ke liang kubur.

    Namun, yang repot sebenarnya bukan di situ. Jika B itu bisa dibaca oleh X dan X bisa memberikan apa yang diinginkan dan memunculkan B, maka B itu diterima sebagai A. Maka Mas Dana menjadi orang yang merugi. Semoga tidak ya !.

    Suka

  10. zal said

    ::mas agor, apa mungkin begini : “Allah tidak dapat diserupai dengan Makhluq” benar ya…kalau makhluk yang berlaku mungkin salah ya…, namun mungkin tidak kalau Allah yang berlaku menyerupakan diriNYA dengan MakhlukNYA…???

    Kejadian Musa di Tursina, sepertinya ada pertanyaan besar di benak saya, mengapa Bukit Tursina menghilang sesaat itu saja, dan Musa digambarkan ambruk, namun Musa amat sangat bersyukur..apakah permintaanya untuk Menatap Tuhannya berjawab, atau malah kesimpulan kita kalau Beliau malah ditakut-takuti…

    Pernah terbaca saya sebuah Hadist Qudsti yang Allah menyampaikan “AKU Ciptakan Makhluk agar AKU dikenal…” bisa jadi ini juga menjadi suatu tujuan penciptaan, di samping beribadah, di samping itu ada juga pernyataan Imam Ali Bin Abi Thalib yg menyatakan, “Awaluddiin ma’rifatullah”, sepertinya Mas Agor cukup banyak yang mengambarkan secara jelas bahwa Allah perlu dikenali saat ini, mungkin ya…, sebab jika nanti dikubur katanya seperti ini..”kami sudah tahu semuanya, kembalikan lagi kami agar kami dapat berbuat soleh…” apa kira-kira terbetik dari hal ini…kayaknya Harus kenal Rajanya nih baru dinikmati namanya mengabdi kali ya…

    @
    Wah.. agor juga rada bingung nih. Agor berpegang pada pernyataan : Tidak ada sesuatu apapun yang serupa dengan Dia (42:11) Pernyataan tauhid menjelaskan bahwa apapun yang kita pikirkan tentang “seperti itu” adalah bukan itu. Kita mengenalinya dari nama-namaNya saja. Tidak seperti “itu” dalam segala namaNya (kuasa, rupa, kasih sayang, rahmat, murka, mulia, halus, besar, agung, menghakimi, dan nama-nama agung lainnya). Karena keterbatasan kita diciptakan dalam segala potensinya, maka kita menjadi “tidak mungkin” berhadapan dengan Allah kecuali dihalangi tabir atau kita luluh lantak tak berbekas.
    “AKU yang dikenal” adalah “AKU” yang dikenal dari keagungan namanya-namaNya yang menunjukkan sifat dan karakternya.

    Dalam konteks yang sederhana, tentu saja saya juga mengenali Mas Zal yang boleh jadi pada bagian-bagian tertentu, saya lebih mengenal dari pada orang yang setiap hari bertemu dengan Mas Zal, justru karena kita telah berkomunikasi sekian lama. Begitu juga, Mas telah sebagian dari saya, mengenal Mas Abu, Mas Yureka, Mas Haniifa, dan sebagian sifat dan karakteristiknya.

    Yang kemudian Mas Zal jelaskan… sepertinya bergerak kepada level-level syukur dari ilmu hati… 😀

    Suka

  11. dana said

    @agor

    Sepertinya anda salah tangkap. Ketika saya sebut Tuhan berkata, itu belon tentu berkata seperti kita manusia dengan manusia berkata. Bisa jadi melalui wahyu, atau apalah yang dikehendaki Tuhan. Begitu kang.

    Biar lebih jelas, ketika ternyata saya mendapat wahyu yang kalau diartikan dengan bahasa manusia maka menjadi :

    Sayalah Tuhan ALLahmu, maka dengarkanlah kata saya

    Nah, saya bisa curiga , lah ini beneran Allah atau iblis? Sebab ternyata bayangan saya Tuhan tidak begitu. Atau malah saya sama sekali tidak punya bayangan tentang bagaimana Tuhan itu.

    LAh, kalo begitu bagaimana mas agor?

    Note:

    Terus terang itulah mungkin situasi yang dihadapi para nabi ketika menerima wahyu pertama sekali. Nah, saya tertarik mengetahui kira-kira bagaimana para nabi itu akhirnya tidak menolak. 😀

    @
    Mas Dana, sepertinya saya memang salah memahami juga lho. Habis rumit banget sih.
    Cuma yang agor pahami begini :
    Allah berkata kepada “ruh” manusia bahwa “Aku Tuhanmu” ada pada satu ketika di suatu masa ketika manusia bersedia menjadi khalifah di muka bumi. Selanjutnya, Allah mewahyukan melalui utusanNya (19:18). Jadi tidak akan pernah ada yang menyampaikan kepada manusia, entah wahyu atau apa saja dalam kebenaran dengan kata “Akulah Tuhanmu”. Kalau ada yang mengaku begitu, so pastilah “terkelabui”. Ini yang saya pahami.
    Yang kedua, dan tak kalah penting adalah, bagaimana manusia bisa tahu (dengan segala akal pikirannya) bahwa yang datang adalah utusan Allah (seumpama ada). Sedang Nabi saja sempat dalam keraguan dan ketakutan sehingga pulang dari Gua Hira minta diselimuti isterinya. Karena Nabi adalah hal khusus yang saya juga tidak mengerti, maka saya juga nggak tahu deh…

    Namun, bagaimana kalau hal seperti ini datang kepada manusia biasa, yang tidak memiliki apa-apa yang cukup untuk mengetahuinya. Apalagi jika “pengakuan” dengan ragam cara itu tiba dalam bentuk mimpi, pengelihatan halus, atau seperti terjadi pada beberapa pengalaman indigo?

    Saya juga tidak tahu deh. Bagaimana kalau datang itu menyuruh kita sholat, baca al Qur’an, berbuat baik kepada orang tua, beramal shaleh?. Kita semakin bimbang, siapakah yang datang.

    Saya kira, alat ukurnya hanya satu : Al Qur’an.
    Kemudian jika yang disampaikan adalah mencampuradukkan kebenaran (haq) dan yang batil (yang paling sering adalah mengabari kejadian masa depan, menimbulkan prasangka, memuji-muji, menjadikan penerima sebagai orang terpilih, dan lain sebagainya) maka nggak usah dipercaya. Itu tidak membebaskan manusia. Membebaskan manusia dari semua naluri-naluri yang menyebabkan ketergantungan kepada ciptaanNya. Boleh jadi ini bisa dijadikan alat ukurnya.

    Namun, agor tidak punya pengalaman dalam hal begini. Jadi jangan pernah percaya.

    Lalu kalau hanya kebaikan yang diperintahkan oleh “sesuatu” itu bagaimana?

    “Ya terima saja sebagai nasihat” (kalau nggak jadi takut 🙂 )

    Bagaimana kalau bayangan saya tentang tuhan adalah tidak punya bayangan?
    Menjawab dengan akal dan pikiran : “bukan itu” menjadi esensi ketidakmampuan manusia untuk mengenalinya, kecuali dari nama-namaNya. Maka kita belajar mengenalinya, justru dari karyaNya, bukan DzatNya.

    Mas Dana, pertanyaan Mas, buat saya sangat esensial… Al Ghazali banyak membahas mengenai yang terkelabui, merujuk ke sana, atau uraian dari Ibnu Arabi atau tokoh sufi lainnya jelas lebih mantap. Agor sama sekali tidak mengerti…. 😦

    Suka

  12. dana said

    Dan maaf jika saya terus menananyakan soalan itu. Sebab rasanya kalo berTuhan dengan untung-untungan, dimana nanti undiannya ditarik setelah hari pertemuan, rasanya kok sangat rawan untuk salah mas agor. Dan jika ternyata salah , tentu tidak bisa dibenarin lagi jika sudah hari pertemuan. Rasanya benar-benar menjadi berjudi berTuhan.

    @
    Mas Dana, banyak memang manusia yang bertanya seperti ini. Saya juga hati sering bertanya dan mempertanyakan dalam perjalanan semangat dan dalam ketakberdayaan dalam melihat ketidakidealan dunia. Proses pencarian tak berujung.
    Bagaimana kita yakin dalam ketidakmengertian, membenarkan apa yang kita tidak bisa uji (benarkah !), pada batas mana kita memiliki kebebasan pikiran.

    Apakah kita sedang berjudi?.
    Apakah kita sedang uji statistik?

    Kalau berjudi, kita berdigital, kita punya 0 atau 1. Judi yang hanya punya dua pilihan Percaya atau Tidak, Surga atau Neraka, Beriman atau Ingkar, Teis atau Ateis, Ada atau Tidak ada, Jual beli : bertransaksi atau batal. Hanya dua pilihan. Tidak lebih dan tidak kurang. 🙂

    Kalau kita pilih pilihan pertama : Percaya. Maka kita tinggal berharap diampuni kesalahan kita, karena kita percaya ada kehidupan sesuadah mati, karena kita percaya ada pertanggungjawaban. Tidak ada tempat lagi untuk tidak percaya. Jadi pilihan ini memiliki probabilitas 50% dan tidak ada percabangan lainnya.

    Kalau kita pilih pilihan kedua : Tidak percaya. Maka kita akan bertanya-tanya lagi, apakah benar ketidakpercayaan kita, apakah benar tidak ada kehidupan sesudah mati, benarkah tidak ada kesempatan kedua. Jadi tanda tanya masih ada. Sudah begitu, kalau nanti kita terbangun setelah mati… apakah kemudian terjadi?

    Suka

  13. Donny Reza said

    @Dana:
    Pada dasarnya, karena ketidaktahuan, sesungguhnya kita memang sedang berjudi di dunia ini. Jadi theis atau atheis atau pun ragu, ya itulah taruhannya. Hanya saja, karena ini adalah sebuah perjudian, dan saya bertaruh di salah satu agama -dalam hal ini Islam- maka saya yakin kita akan diberi tahu hasil taruhannya, entah untung atau rugi. Logikanya sederhana saja bagi saya. Kalau dihubungkan dengan manajemen resiko, menjadi atheis jelas lebih beresiko daripada theis.

    Dan kalau dihubungkan dengan kata “Ilah”, maka sesungguhnya tidak satu pun manusia yang tidak memiliki “Ilah”, bahkan atheis sekalipun memiliki “Ilah”, yaitu akalnya atau apa pun yang menyebabkan dia menjadi atheis, itulah “Ilah”-nya.

    @
    berjudi di sini kata lain dari melakukan pilihan… 😀

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: