Sains-Inreligion

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Zaman apa yang berubah menurut agama ya?

Posted by agorsiloku pada Agustus 8, 2008

Berubah?.

Dulu jaman orang naik kuda, kuda makan rumput.  Sekarang orang naik mobil.  Dulu naik kuda gagah, sekarang naik Cadillac, Mersi, Volvo atau Camry atau apa deh… sama.  Sama-sama bergaya.  Lalu apa perbedaannya?.  Dari segi fungsi sama, dari segi karakteristik tujuan sama.  Yang membedakan semata hanya bungkusnya kan?. 

Jadi apa dong dalam zaman ini yang berubah.  Semakin komplekskah? atau semakin mudah?.

Dunia memang berubah, namun banyak perubahan itu adalah kulit-kulitnya saja.  Pisang yang dulu pertama kali di tanam, masih pisang yang sama.  Itu siklus yang berulang.  Boleh jadi cara masaknya berbeda, tapi pisangnya masih yang itu-itu juga.  Manusia mengalami perubahan, karena yang tetap adalah perubahan itu sendiri.  Tapi, baju yang sama adalah pakaian itu-itu juga, yang membedakan modenya.  Kalau dulu koteka atau tertutup, sekarang terbuka atau tertutup.  Hampir-hampir perubahan itu lebih berfokus pada bungkus-bungkus kehidupan.

Memang sih, dibanding serangga atau kerbau liar.  Manusia mengalami perubahan cara hidup karena kemampuannya merekayasa cara hidupnya.  Musibah Anugerah itu tidak dimiliki oleh hewan.  Dia tetap, mulai dari cara makan, cara hidup, beranak pinak, ataupun bersarang.  Polanya sejak diciptakan sama saja dengan keberulangan dari generasi ke generasi.  Hanya manusia saja yang berubah dan perubahan lebih nampak pada kemudahan (baca : kenikmatan) menjalani kehidupan.

Jadi mana apanya dong yang berubah?.  Relevankah perubahan sehingga agama membutuhkan penyesuaian?.

Sebagian mengatakan ya, sebagian ya.  Namun, jelas penganutnya membutuhkan adaptasi mana yang berubah secara esensi (adakah?) ataukah yang berubah di level bungkus.

Agama Al Qur’an dan Perubahan.

Saya tentu saja mempercayai Al Qur’an itu asli dan dipelihara Allah sesuai janjiNya.  Kalau saya nggak percaya keasliannya, maka saya juga pada saat yang sama nggak akanlah percaya janjiNya.

He..he..he… Al Qur’an itu asli, kita semua tahu itu deh…

Tapi, kan memahaminya itu lho, beragam penuh tafsir dan persepsi (kata lain dari prasangkaan).  Jadi karena pemahamannya sudah tidak sesuai dengan maksud AQ yang kalau dulu ada otoritas yang menjelaskan (Nabi/Rasul), sekarang kan nggak ada !.  Udah nggak ada lagi yang bisa menjamin bahwa yang dipahamkan itu sesuai dengan AQ.

Jadi maksudnya, kalau pun “mobil”nya asli, tapi karena supirnya sudah tidak ada, maka tidak ada lagi otoritas dari supir manapun seperti supir yang menjadi pemberi peringatan itu.

“Oh… gitu ya”.

Jadi maksudnya janji Allah untuk menganugerahi hikmah pemahaman Al Qur’an ke dada manusia itu sudah tidak terjamin lagi.  Jadi ayat itu sudah nggak berlaku.  Sudah nggak relevan?.

Semua dalam kediaman.  Forum berhenti sejenak.

Lantas, kalau perubahan dan kesesuaian jaman bagaimana gitu.  Pertanyaan awal kembali bergema !.

Yah… kalau kita bermain kata mengenai ketidak sesuaian terhadap bungkus zaman, dan kita sudah tidak percaya bahwa Allah memberikan jaminan pemahaman kepada orang beriman dan bertakwa.  Memang tidak ada lagi yang perlu dibahas.  Hanya menyamarkan pemahaman untuk menipiskan peran petunjuk Allah dalam memahami jalan lurus saja.

Saya lebih berusaha meyakini penjelasan petunjuk sebagai cahaya dan hikmah yang diberikan tak akan pernah lapuk oleh zaman, tak hapus oleh banjir, tak juga menjadi gersang karena tipu daya dunia, dari pada harus meyakini bahwa kitab suci sudah tidak lagi relevan terhadap segala jenis bungkus kehidupan.

Iklan

18 Tanggapan to “Zaman apa yang berubah menurut agama ya?”

  1. dana said

    Tahu darimana Al quran itu asli mas?

    @
    Dari janji Allah. Kalau Allah tidak menjelaskan begitu, sangat boleh jadi saya juga banyak keraguan. Kemudian saya mencoba menelaah, benarkah yang Allah sampaikan. Astagfirullah, begitu banyak yang saya tidak tahu, dan yang tahu sedikit itu mudah-mudahan Allah mengampuni kelalaian saya selama ini yang begitu banyak melupakan pesan-pesanNya. Kalau saja tidak dipesankan untuk jangan sampai berputus asa pada rahmat Allah, dalam godaan perjalanan hidup… entahlah. Kalau bukan karena hidayahNya, betapa berat menjalani kehidupan ini….

    Suka

  2. dana said

    Yah… kalau kita bermain kata mengenai ketidak sesuaian terhadap bungkus zaman, dan kita sudah tidak percaya bahwa Allah memberikan jaminan pemahaman kepada orang beriman dan bertakwa. Memang tidak ada lagi yang perlu dibahas. Hanya menyamarkan pemahaman untuk menipiskan peran petunjuk Allah dalam memahami jalan lurus saja.

    Gimana kalo saya bilang tafsirnya lah yang sudah tidak sesuai dengan konteks sekarang? Kalo ayatnya sih masih sesuai-sesuai aja. Bagaimana tanggapan mas?

    @
    Sesuai atau tidak sesuai juga tafsir juga. Yang ditulis oleh Mufassir juga belum tentu bisa menjelaskan semua yang ada di pikiran mufassir. Kalaupun mufasirnya sempurna pemahamannya, belum tentu juga manusia dengan tingkat pengetahuan dan kecerdasan yang beragam bisa sama memahaminya. Potensi kecerdasan manusia itu sangat berbeda-beda. Meskipun tidak selalu hadir, setiap pagi dalam bertausyiah shubuh, hanya kurang lebih setengah jam sehari tapi kalau hari minggu bisa lebih lama saya sering sekali tidak bersetuju dengan penjelasan yang diterima. Bahkan kadang menurut saya tidak logis dan ngawur. Namun, ada ustadz yang mengingatkan esensi persoalannya yang harus dilihat. Kadang, saya dapati, sayalah yang sebenarnya berpikir ngawur dan amburadul. Saya bilang saja, saya nggak ngerti, tolong jelaskan. Alhamdulillah, dari mereka saya mendapatkan banyak ide menulis di blog ini. Dari komentator, saya mendapat banyak pengarahan juga.

    Buat saya, karya mufassir dari dulu sampai sekarang ini, yang sempet-sempet saya baca atau diskusikan adalah sebuah proses, betapa luas dan dalamnya ilmu Allah untuk manusia yang telah diberikan.

    Tidak setitik air dari lautan pengetahuan yang diberikan Allah pada manusia.

    Subhanallah, alhamdulillah, astagfitullah, allahu akbar.

    Suka

  3. sitijenang said

    mungkin perlu contoh yg lebih banyak, mas. misalnya, dulu satu orang kerja (ayah/ibu) bisa menghidupi beberapa anak. sekarang katanya jaman sudah maju, tapi dua orang kerja mati-matian aja kok masih pas-pasan. berubah iya, tapi kalo makin maju rasanya tidak juga.

    dulu produsen bersaing menciptakan barang yg bagus dan awet. sekarang, kalo bisa pokoknya tiap hari harus muncul produk baru terus, meski tidak seawet dan sebagus dulu.

    @
    Memang yang berubah bungkus dan keserakahannya. Ada orang yang kayaknya sampai 7 kali pangkat sekian turunan masih sangat super kaya. Barangkali sama hartanya dengan si Karun (Lho kok Karun, apa dari dulu juga sudah ada ya sampai kini), ada juga yang kerja keras habis-habisan dan miskin terus.
    Begitu juga barang bagus atau makanan, produsen bikin sebanyak-banyaknya dan mengendalikan pasar.

    Banyak sekali bungkus yang berubah-ubah, tapi tidak mampu mengubah esensinya. 😀

    Suka

  4. @ ada juga yang kerja keras habis-habisan dan miskin terus

    Mengapa bisa seperti itu ? Kesalahan sistemkah ? Takdir Tuhan ? Atau kerja keras tapi kurang bekerja cerdas ? Atau terlalu jujur ? Atau ?

    @
    Kalau kita bicara di ranah agama, jangan kita batasi pada ukuran dunia saja. Tapi ukuran hidup sampai hari kebangkitan, kehidupan yang lebih kekal dan ditetapkan dalam keyakinan kita dalam kemahaadilan Allah.

    Jadi pertanyaan seperti ini harus (sebaiknya dalam dua model). Model pertama adalah model hak-hak dan perjuangan untuk meraih etos kerja, keadilah manusia, dan ketertindasan ekonomi oleh kelompok-kelompok yang secara sosial-ekonomi bertindak melampaui batas.
    Model kedua adalah model di ranah agama. Artinya juga kita harus berusaha (dan berdoa kepada Allah untuk terbebas dari keterindasan itu). Tapi kalau ditindas atau teraniaya juga, kita juga harus “rela” namun tentu tidak fatalis.

    Jadi jawabnya, kerja habis-habisan dan miskin terus?. Karena rejekinya memang cuma sauprit. Tapi percayalah, Allah maha adil dan bijaksana. Maka bla…bla…bla…. maka insya Allah bisa diperbaiki. Jawaban lain, memang dalam sistem kapitalistik… bla… bla…bla…
    Jawaban lain, Harus bekerja lebih keras lagi, tapi kalau tidak bisa keluar dari kemiskinan absolut maka bla…bla…bla (ini persoalan makro ekonomi).

    Jawaban lain, insya Allah pada suatu masa akan datang Ratu adil yang bla…bla…bla… 😀

    Suka

  5. dana said

    Wah, top tanggapannya mas agor. Makasih banyak. 😀

    Suka

  6. zal said

    ::mas agor, tergantung persepsi apa yg dipandang berubah, banyak zaman yg katanya sudah lampau hingga kekinian…namun satu hal yg saya pandang, “kami mengerjakan dalam 6 masa”…, sebagai Citra Tuhan seringnya Manusia yg memberi tanda pada tiap termin pekerjaan yg dilakukan…saya yakini dengan pandang yakin ini, merupakan ejawantah dari Sang Citra itu sendiri, jadi sampai 100% akan terus berubah…apakah itu termasuk zaman, ya terserah menyebutnya apa…, tapi akan selalu berubah menuju kualitas sempurna…meskipun akhirnya Mesjid yang dibangun meski dengan Megah dan besar..akan kosong melompong…

    @
    Dan kebanyakan kita (sering termasuk saya) melihat bungkus itu lebih penting dari isi. Persis seperti dunia sosio ekonomi dan sistem nilai yang diajarkan saat ini. Semua bungkus yang diutamakan. Contoh yang paling mudah saat ini Nokia, bukan menjual ponsel lagi, tapi menjual casing. Konsep-konsep bungkus ini menjadi kunci di dunia marketing. 70-80 % iklan televisi juga selalu mengekonomikan bungkus…..
    Kalau begitu, hidup ini penuh dengan pupur.. eh bungkus ya… 😀
    Jarang yang seperti Mas melihat dari ejawantah dari Sang Citra.

    Suka

  7. zal said

    ::eh dan..engga tahan juga engga ngeblog ya… 🙂

    Suka

  8. dana said

    Masih tetap ngeblog kok zal. Tapi yang disatunya. Kalo yang sebuah perjalanan tak stop dulu.

    *sori mas agor, numpang dikit*

    Suka

  9. Hi Hi Hi. Jawaban anda kok banyak banget ya ??? Diantara sekian jawaban tadi (soal kerja keras tapi miskin )sebenarnya anda paling mantep milih yang mana , Mas Agor ? Sulit ya kalau harus memutuskan.

    @
    Tidak ada jawaban tunggal terhadap isi dunia ini Mas Lovepassword. Namun, kalau Mas suka, buku Negara Dunia Ke 3 Todaro adalah buku yang sangat layak dipahami mengenai kemiskinan dari sudut dunia. Kalau tak salah juga Tirai Kemiskinan Mabuq Ul Haq juga referensi yang sangat baik untuk memahami mengenai kemiskinan.

    Yang berkait dengan konsepsi agama dan perilaku politik di AQ dijelaskan agak samar. Tapi sesungguhnya mereka berbuat kerusakan, tapi mereka tidak menyadarinya. Dan pembahasan Dr. Wahbah (ulama Suriah) yang berkunjung ke Indonesia baru-baru ini, sangat layak dijadikan referensi.
    Banyak pula pemikiran kekhilafiyahan yang merujuk pada ketimpangan dunia dalam tindakan melampaui batas yang perlu dilawan atas hegemoni ini keserakahan kapitalistik yang menyebabkan kemiskinan menjadi suatu yang absolut.

    Kita bisa komparasi pula dengan tindakan :”Economic Hitman”.

    Namun, jika dari sudut-sudut yang lebih kecil. Hanya satu pilihannya Etos Kerja. Bangsa ini sangat miskin etos kerja. Semangat untuk prihatin, berjuang, dan efisien sangat sedikit dijalani.

    Dari konsep agama, bersyukurlah atas apa yang diterima/rizki Allah kepada hambaNya. Berapapun.
    Jangan membuat derita di dunia, menjadi bekal di neraka. Mari kita membuat derita dunia adalah bekal investasi di akhirat, sehingga Allah berkata :”Telah Kutahan rejekimu di Dunia, Telah lulus engkau dari ujianku. Sekarang terimalah pahala rahmatKu, terimalah kebahagian apa yang engkau inginkan di dunia”. Lalu si Fulan terkejut dengan bidadari dan anggur yang dihalalkan dan istana dengan taman-taman yang indah.
    Wah ini cuma penghiburan doang.?. Fulan yang percaya negeri akhirat tidak akan berkata begitu. Ia ikhlas dengan apa yang diberikan Allah padanya.

    Suka

  10. @Namun, jika dari sudut-sudut yang lebih kecil. Hanya satu pilihannya Etos Kerja. Bangsa ini sangat miskin etos kerja. Semangat untuk prihatin, berjuang, dan efisien sangat sedikit dijalani.

    Miskin itu karena kurangnya etos kerja atau kesalahan/tirani sistem ya ? Sehingga yang kaya makin kaya, yang miskin sulit pindah posisi ? Kombinasi mungkin ya ? Atau mungkin perlu dilihat kasus per kasus ?

    Terkait dengan sistem, semestinya orang miskin harus bagaimana ?
    Harus melawan/protes sistem yang tidak adil ? pasrah saja ? atau terus berusaha dalam posisinya sekarang dengan mengabaikan ketidak adilan sistem ?

    @
    Jangan pikirkan semestinya orang miskin harus bagaimana lho, mustinya “orang yang tidak miskin” yang melawan segala tirani yang membuat orang miskin tetap ada. 😀

    Suka

  11. rasyeed said

    “Karena kau terpaku pada bentuk, kau tak menyadari makna. Bila kau bijak, ambillah mutiara dari cangkangnya!” -Rumi-

    Hmm… yeah, semuanya terkait dengan penafsiran, yang cenderung subjektif.. tergantung dari kacamata mana menilai. karena tiap individu mempunyai persepsi, redaksi dan deskripsi sendiri.
    -komen oot- 🙂

    Suka

  12. Mutiara pun ada bentuknya. Bahasa ada alunanannya. Bukankan karena kilau juga mutiara jadi dianggap berharga. Wahai Rumi pujaan hati. Biarlah kulihat keindahan mutiara yang masih tersimpan di cangkangnya. Misteri adalah keindahan tersendiri. Mengapa harus kupecah cangkang hanya untuk melihat keindahan ?

    Suka

  13. haniifa said

    😀

    Suka

  14. Jangan pikirkan semestinya orang miskin harus bagaimana lho, mustinya “orang yang tidak miskin” yang melawan segala tirani yang membuat orang miskin tetap ada. 😀

    He he he, masak orang miskin nggak boleh mikir. Wah.

    @
    Duh, maaf deh. Maksud agor, kalau kita berpikir bagaimana seharusnya “orang miskin dari pikiran orang miskin itu sendiri” maka persoalannya akan cenderung seharusnya… seharusnya orang miskin itu begini… begitu. Padahal, karena dia tidak bisa begini…begitu… maka dia miskin. Jadi upaya di luar orang yang miskin untuk mengeluarkannya dari kemiskinan menjadi keniscayaan yagn utama. Yang miskin itu sendiri tidak berhasil keluar dari lingkaran kemiskinannya karena sudah kepentok ke sana sini.
    Memang ada satu dua orang bisa keluar dari lingkaran kemiskinan, tapi tidak mampu juga keluar dari lingkaran kemiskinan. Namun, ini masih digantikan lagi oleh pendatang-pendatang baru yang tidak kalah miskinnya dan mengolah kemiskinannya untuk bertahan dalam kemiskinan. 😀 (ngaduk deh… )

    Suka

  15. Rasyeed said

    Kemiskinan sendiri itu apa ya? Hmm..

    @
    Apa ya.. kalau saya pahaminya begini :
    Kemiskinan yang paling mudah tampak ya ukurannya adalah pemenuhan sandang, pangan, dan papan.
    Ketidakmampuan untuk hidup pada batas minimal yang disepakati adalah miskin. Pemerintah menetapkan miskin dengan 14 kriteria (yang layak mendapatkan bantuan langsung tunai). Ketepatan ukuran bisa diperdebatkan.
    Tentu juga kita bisa memperluasnya pada kriteria lainnya mengenai kemiskinan (sosial, pribadi, dan lain-lain). Namun, memang yang tampak adalah kriteria miskin secara materi untuk memenuhi kebutuhan dasar minimum.
    Yang perlu kita soroti, saya kira kemiskinan absolut. Disebut absolut karena si miskin karena kemiskinannya, tidak mampu keluar dari garis kemiskinan kecuali ada tenaga dari luar untuk mengangkatnya dari lingkungan miskin. Misal pengemis yang setiap hari mengemis dan pikirannya hanya bisa mengemis. Daya dorong untuk keluar dari kemiskinan harus diberikan oleh pihak ketiga agar bisa hidup lebih layak, entah melalui pendidikan, kesempatan kerja, atau belas kasihan…..

    Suka

  16. haniifa said

    Kemiskinan sendiri itu apa ya? Hmm..
    Heemmmm…..
    Sampean merasa miskin apa nggak, Gitu doang kok repot aja 😀

    Suka

  17. Abudaniel said

    Assalamu;alaikum,
    Sebuah tafsir atau penafsiran terhadap ayat-ayat AQ, tergantung dari sejauh mana kemampuan ilmu mufassirin dalam memahami suatu ayat dan konteksnya. Tergantung juga dengan zman dan lingkungannya.
    Tentu jauh sekali perbedaan hasil tafsiran antara seorang penafsir yang memiliki cukup ilmu alat sebagai penunjang keakuratan penafsiran dengan penafsiran orang yang kurang atau tidak mempunyai ilmu alat tersebut. Begitu juga akan berbeda sudut pandang dalam penafsiran suatu ayat antara orang yang hanya memahami dan ahli dalam ilmu agama semata dengan orang yang hanya memahami dan menguasai ilmu dunia semata. Begitu juga akan jauh bedanya hasil tafsir orang yang memahami dan menguasai ilmu agama dan ilmu dunia (sains dan tekhnologi )sekaligus.
    Begitu juga beda hasilnya tafsiran para mufasir dari kalangan shahabat dengan tabiin, tabiut tabiin dan ulama-ulama tafsir setelah mereka, begitu juga dengan ulama-ulama mutakhirin.
    Hal ini terjadi karena perbedaan tingkat keilmuan di antara mereka dan juga perbedaan zaman yang juga mempengaruhi perbedaan sudut pandang dalam penilaian sebuah ayat, terlebih-lebih ayat-ayat yang bersifat muhtasyabihat yang menjurus pada bidang sains dan tekhnologi.
    Kalau ayat-ayat yang muhkamat, terutama dalam hal masasalah keagamaan, akidah, syariat maupun muamalah, maka sedikit sekali terjadi perbedaan, paling-paling hanya dalam hal furu’iyah saja.
    Tapi anehnya, zaman sekarang, orang-orang yang tidak berilmu,yang baca Qurannya masih berlepotan, mahraj huruf Arabnya nggak karuan-karuan, bahasa arabnya cuma tahu ente dan ana. rujukannya juga mengambil dari orienatalis, sudah berani menafsirkan ayat, bahkan tidak jarang mengubah hukum yang sudah baku yang ditunjukan oleh ayat-ayat yang muhkamat, apalagi yang muhtasyabihat. Sudah berani mengeluarkan hukum halal dan haram, bahkan lebih kacau lagi sudah berani merobah dan menasakhkan hukum yang sudah qathi’. Na’uzubillah.
    Makanya, sebagai mana diriwayatkan dari Nabi, bahwa suatu saat nanti ilmu agama akan secara berangsur ditarik dari permukaan bumi dan alam sejagat ini dengan cara mematikan para ulama-ulama yang betul2 ulama, sehingga umat tidak punya tempat bertanya kecuali kepada “ulama-ulama” karbitan yang tidak berkompeten untuk menjawab, terutama dalam masaalah fiqih. Sehingga sesatlah kebanyakan manusia kecuali siapa-siapa yang dikehendaki Allah untuk tetap dijalan lurus.
    Wallahu a’lam
    Wassalam,

    @
    Mas Abudaniel, terimakasih untuk catatannya yang berharga. Sedikit agor ingin memberikan catatan kembali. Ketika suatu masa, penafsiran AQ dalam beragam model dan metode sebagai suatu kebebasan memahami AQ, masyarakat umumnya resah. Begitu banyak fatwa-fatwa bertebaran dari berbagai orang baik ulama sesungguhnya maupun karbitan, atau orang yang hanya sekedarnya saja. Kondisi ini kemudian dinilai meresahkan sehingga para ulama bersepakat bahwa “pintu ijtihad” telah ditutup. Pengertian ditutup ini, yang agor ketahui adalah karena pada masa itu (sebelum 4 atau 5 mazhab) bertaburan persepsi-persepsi agama yang dipahami secara bebas sehingga untuk mengatasinya, para ulama bersepakat bahwa rujukan yang harus dilakukan dalam memahami (baca menafsirkan) adalah merujuk 4 mazhab itu (Maliki, Hambali, Safei, Hanafi) dan ada yang menambahkan Jaffar. Kalau tak salah, jumlahnya menjadi 7. Ini sebagai titik tolak ukur berpikir dari orang Islam dalam memahami agama.
    Namun, setelah sekian ratus tahun kemudian setelah “pintu ijtihad” ditutup, ada upaya “membuka” kembali. Upaya pembukaan ini tentu memiliki dampak logis pada situasi kekinian dan situasi saat para ulama menarik kesimpulan untuk “menutup”. Dalam usaha membuka ini dan mempertahankan untuk tetap “menutup” ada pada sisi-sisi yang ada alasan yang bisa (dan mungkin) juga tidak bisa dipertanggungjawabkan.
    Kemampuan berpikir dan berakal manusia yang mengalami perubahan tentu tidak bisa dipatok begitu saja dalam kerangka “menutup” pintu berpikir. Proses ini adalah sangat alamiah dan menjadi ciri dari manusia yang berakal.
    Ada masalah kekinian yang memang tidak ditemukan pada satu masa dan membutuhkan pemecahan logik atau kaidah-kaidah yang membutuhkan “pencerahan”. Jelas perlu kearifan dari seluruh pihak, khususnya dari kaum yang merasa punya tanggung jawab dan kunci pemahaman. Di sisi lain, kita juga harus meyakini bahwa pemahaman AQ, petunjuk AQ adalah petunjuk Allah kepada seluruh manusia, lebih khusus yang beriman dan bertakwa. Tidak membatasi para ulama dan para ahli tafsir masa lalu atau masa kini. Ulama dan ahli tafsir masa lalu, layak untuk dipertimbangkan dan dijadikan acuan pemahaman dan layak pula ulama dan ahli tafsir masa kini memberikan cakrawala yang berimbang.
    Namun, dari banyak sisi, persoalan lebih banyak di tingkat cabang. Sedangkan, di tingkat induk ya, alhamdulillah, kita semua hepi-hepi saja.
    Lalu, dengan segala pengetahuan dan pemahaman Orientalis yang harus kita pahami pula mereka pandai dan cerdas, juga melihat celah pemahaman yang menyamarkan akidah. Apakah hanya akan duduk manis, ulama-ulama yang sesungguhnya harus mengambil peran lebih aktif. Tinta ulama adalah jihad, dan tentu kita merindukan mereka. Strategi berjihad juga adalah hal yang perlu kita renungi hati-hati.
    Pada akhirnya, ummat yang cerdas adalah ummat yang memiliki cukup pengetahuan dan punya akal dan pikiran untuk memilah. Kemampuan memilah itulah yang pada akhirnya menjadi bagian penting dari sifat dasar karakter manusia : Memilih kebebasan yang telah dianugrahkan kepadanya, melewati batas ruang dan waktu.
    Wallahu a’lam
    Wassalam,

    Suka

  18. Abudaniel said

    Assalumu’alaikum,
    Mas Agor,
    Betul kata Mas, bahwa setelah masuk zamannya ulama mutakhirin, ada sebahagian “ulama” mengatakan pintu jihad sudah tertutup. Sejak itulah, detik-detik kemunduran dalam keilmuan, terutama ilmu agama, mulai mengalami masa surut. Ulama belakangan ini tidak lagi termotivasi bahkan sudah hilang ghairahnya untuk berijtihad. Apakah karena kekurangan ilmu alat maupun karena kemalasan akibat melimpahnya harta dunia. Banyak “ulama” yang menjadi pegawai pemerintah dengan gaji dan pendapatan yang lumayan. Sibuklah mereka dengan harta dunia. Hilang kemauan untuk menggali ilmu. Maka dikatakanlah “pintu ijtihad” sudah tertutup. Padahal tidak ada yang menutup kecuali “ulama” itu sendiri. Hal ini diperparah lagi oleh campur tangannya pihak yang memang tidak menginginkan berkembangnya Islam.
    Maraklah taklid kepada imam mahzab. Akibat dari taklid ini maka terjadilah “perang” diantara pengikut mahzab. Bukan para imamnya yang berperang, tetapi pengikutnya yang bertaklid yang gontok-gontokan. Saling membela mahzab masing-masing, walaupun mungkin argumen mahzab lain lebih kuat dari mahzabnya.
    Untunglah Allah masih tetap menuntun umat dengan dilahirkannya ulama-ulama yang menghidupkan lagi ijtihad.
    Tapi seiring dengan perjalanan waktu, selain ulama-ulama yang memang berkompenten dalam menggali hukum atau menafsirkan ayat, muncul pula ulama-ulamaan. Sehingga timbullah kekacauan dikalangan umat dalam mencari kebenaran. Timbullah silang sengketa masyarakat dalam memahami agama. Bermunculanlah mahzab-mahzab baru yang jauh dari kebenaran. Timbullah pendapat agar AQ ditafsir ulang. Timbullah pendapat bahwa AQ bukan kitab yang sakral. AQ harus dikaji secara hermeutika, layaknya kitab suci yang bermasaalah. Timbullah keraguan terhadap pribadi-pribadi para shahabat. Bahkan terhadap shahabat yang sudah dijamin masuk sorga sekalipun.
    Hal ini diperparah dengan api yang disulut oleh para orientalis dan para pengikutnya,termasuk dari kalangan umat Islam sendiri, bahkan yang berpridikat sarjana ilmu Islam lagi.
    Muncullah orang-orang yang tidak berilmu tapi berani berijtihad dan menafsirkan AQ sesuka mereka. Dengan alasan kebebasan berpendapat. Hak untuk berijtihad bukan hanya milik ulama. Hebohlah umat.
    Contoh kecil saja. Saya yang tidak hafal abjad hijaiah dari alif sampai ya, hafal AQ hanya sekadar untuk menunaikan shalat, hanya tahu tarikh Islam dan shirah dari guru ngaji saja, tak pernah melihat yang namanya kitab Mizanul I’tidal, Rijalalul hadits dan sebagainya. Tidak faham ilmu Mustalahah Hadits. Tahu haditspun sekadar saja, hafal ujung pangkal terlupa, hafal pangkal ujungnya lupa. Eeee sudah berani mengeluarkan fatwa dalam masaalah fiqh. Sudah berani menafsirkan ayat-ayat AQ. Sudah berani mencerca ulama. Berani pula meragukan kejujuran para shahabat. Tidak tanggung-tanggung berani pula mendhaifkan hadits shahih, menshahihkan hadits dhaif dan mengatakan AQ harus dikoreksi. Manasakh mansukhkan ayat AQ.
    Apa jadinya umat kalau ini dibiarkan. Pintu ijtihad tetap terbuka. Tidak pernah ditutup atau tertutup. Tapi yang bisa dan boleh melakukannya haruslah memiliki ilmunya. Memiliki alatnya. Bukan setiap orang atau siapa saja. Bahkan kafir sekalipun bisa berijtihad. Orientalis juga “harus diterima” ijtihadnya. Harus dipakai pendapatnya. Wajib kita merujuk kepada kitab-kitab mereka. Dengan alasan mereka mengkaji secara ilmiah. Padahal mereka tidak percaya kepada Islam. Padahal banyak daripada mereka memanipulasi pendapat ulama terdahulu. Mendustakan shahabat.
    Wallahua’lam.
    Wassalam,

    @
    Yang dimaksud “menutup” pintu ijtihad, yang agor pahami terjadi karena sebelum 4 atau sampai 7 mazhab sebelumnya ada, banyak ulama atau orang biasa yang main “fatwa-fatwa”-an. Jadi, untuk menghindari “kekacauan” dan beragamnya persepsi, para ulama bersepakat bahwa seluruh penafsiran yang muncul haruslah mengacu pada 4 atau 5 ulama besar yang kemudian dijadikan mazhab itu.
    Penutupan itu tentunya punya maksud baik, dan relatif mengamankan kesembarangan orang dalam menafsirkan.
    Dengan kata lain, jika berijtihad, lakukanlah dengan melihat ke mazhab-mazhab besar itu yang ilmu dan karakteristiknya sudah handal. Mazhab-mazhab itu sendiri dalam melakukan penafsiran ada yang menggunakan rasional logik – qiyas, atau apalah. Dan masing-masing memiliki kehandalannya masing-masing.
    Pendekatan yang dilakukan di masa itu, agor kira ada manfaatnya sehingga cukup tenang untuk sekian masa. Ahli sunnah wal jamaah, adalah salah satu yang menyepakati bahwa penafsiran haruslah merujuk pada penafsiran mazhab mereka yaitu yang bla…bla…bla…
    Di sisi lain, ada tantangan baru, khususnya yang membuat AQ menjadi samar. Ragam caranya baik dari luar maupun dari dalam. Di jaman akhir, interpretasi juga suka seenak-enaknya, termasuk mencerca ulama. Boleh jadi masa itu, masa gelap itu sedang berkunjung kembali. Namun, bagaimanapun emas tidak akan kehilangan sinarnya hanya bercampur lumpur. Begitu juga akidah.

    Mas Abu benar, banyak yang berani mengeluarkan fatwa urusan fiqih padahal tidak mengerti ilmunya, dan hebatnya lagi diikuti dan diaminkan demi yang namanya kebebasan berpendapat, padahal sebagian dari mereka adalah juga tidak percaya Islam. Kalau hal ini, tentu persoalannya sedikit berbeda, karena bisa jadi dan sangat bisa jadi, urusannya berbeda.

    Mengenai tidak kenal bahasa Arab atau ilmu hadis tapi berfatwa. Kalau kita merujuk pada sejarah, yang sangat menguasai sejarah, menguasai bahasa Arab dan memang berasal dari lingkungan Arab sekalipun, boleh jadi dan bisa saja “membekukan” pikiran sehingga mengeluarkan fatwa yang kemudian diaminkan kelompoknya bahkan nyaris membuat agama menjadi berantakan. Sejarah Islam tentang kelompok-kelompok ini juga tidak kalah “mendirikan bulu roma”. Bahkan juga dengan energi kesalehan yang sangat tinggi, tidak pernah lepas dari sholat dan beramal shaleh (dalam mata manusia), kemudian juga menyikapi yang di luar kelompoknya sampai menghalalkan darah. Sejarah telah mencatat hal ini.

    Yang perlu diperhatikan pula adalah, jika di masa lalu, akses ke informasi dan pengetahuan itu amat terbatas, maka kini menjadi luas dan mudah. Nah, dengan hujan informasi yang begitu banyak dan luas. Kalau para orang berakal hanya duduk manis saja, maka kita tahu pula betapa kemenangan dangkal jauh lebih banyak dari pada kemenangan di jalan lurus.
    Namun, agor melihat, pada saat ini banyak kaum fundamental dan aktif yang meyakini kefundamentalannya dalam bidang tauhid berjihad dengan keterampilan dan kemauannya untuk melawan apa-apa yang Mas Abu khawatirkan tersebut.

    Bukankah ini juga usaha yang semoga Allah Swt, meridhaiNya.
    Wassalam

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: