Sains-Inreligion

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Mutilasi dan Kesalehan, adakah hubungannya?

Posted by agorsiloku pada Agustus 7, 2008

Judul ini aneh dan tak masuk akal. Namun, ini juga fakta.  Sebuah fakta yang membuat kita bertanya-tanya.  “Kok bisa ya, seorang tenaga pengajar di TPA, melakukan tindakan yang sungguh-sungguh bisa dilakukan seperti seorang jagal sapi, kambing, atau ayam ?”  (Sambil kita bertanya juga, sama manusia kita bilang sadis, tapi sama sapi kita bilang asyik deh dagingnya? )

“Lalu bagaimana hubungannya antara pengetahuan agama, keshalehan, dan tindakan yang melampaui batas”.

“Apakah pengetahuan seseorang memiliki hubungan sebab akibat dengan kemampuan mengendalikan hawa nafsu?”.  Adakah masalah genetik (jika ada) dapat dijadikan alasan-alasan mendasar terhadap kriteria-kriteria standar moral yang disepakati.

Apakah seorang pemimpin rohani atau yang pengetahuan rohaninya sedalam lautan menjadi terbebas dalam kemungkinan-kemungkinan ini.

Pertanyaan sejenis ini bermunculan.  Bahkan, kerap dan sering kita jumpai tidak ada hubungan langsung antara pengetahuan dengan sikap moral.  Kesalehan tidak bisa didefinisikan dari kemampuan berpikir karena dimensi perilaku seperti berbeda dengan kualitas pengetahuan yang dimiliki.

Kalau pengetahuan (dunia dan agama) menjadi tolok ukur dari kualitas moral. Artinya gini lho.  Kalau orang itu pengetahuan agamanya top, pengetahuan sainsnya top, maka dipastikan dalam berbagai ukuran maka dia adalah orang shaleh bahkan maksum.  Kalau mesjid adalah perilaku hariannya, maka tidak mungkinlah yang bersangkutan akan memakan uang jama’ah?.  Kalau faktanya berilmu pengetahuan dan agama adalah ukuran dari keshalehan, maka tentulah Indonesia bebas dari korupsi, aman tentrem loh jinawi.

Di sudut dunia berbeda, kita bisa menjumpai orang beramal shaleh, sepi ing pamrih — rame ing gawe, namun sangat jauh dari rumah Tuhan, sangat jauh dari agama, bahkan semakin menjauh.  Di sudut dunia berbeda, juga kita jumpai menyebut namaNya, sambil ha..ha..ha.. hi..hi… membakar dan menghancurkan sebagian dari yang bukan haknya.

Bagaimana kita menjelaskan fenomena ini?.

Bagaimana menjelaskan fenomena orang yang menghabiskan waktunya untuk beribadah, tapi tidak mau membayar utang zakatnya, tidak mau melakukan qurban.  Tapi, kalau memberikan bantuan pada saudara, tetangga, lingkungan, atau sumbangan.  Dilakukan tanpa pamrih.  Sama sekali tidak mengejar popularitas.

Bagaimana kita menjelaskan fenomena ini?.

Ini menjelaskan, ada faktor-faktor lain. Pengetahuan agama tidak bisa (atau tidak selalu) menjadikan sarana spiritual untuk dekat kepadaNya.  Pengetahuan sains juga tidak bisa (tidak selalu) menjadi lantaran bagi peralanan spiritual.  Bahkan bisa sebaliknya.

Petunjuk Allah adalah hak perogatif Allah, Dia yang menetapkan siapa-siapa yang dikehendakiNya.  Pemahaman ini juga menimbulkan keterjebakan baru dalam sistem pemahaman masyarakat.  Kalau begitu !, tidak usahlah kita gunakan akal kita, kita manut saja sepenuhnya, dan keluar dari term yang ada, artinya bla..bla..bla.. (lucunya akal dibekukan oleh akal itu sendiri).

Atau bebas sebebas-bebasnya,

Atau jalan tengah.

Jadi bagaimana karunia itu dipergunakan?. Bagaimana syukur itu disyukuri, dan nikmat itu dinikmati, dan janji itu ditunggu !.

Iklan

10 Tanggapan to “Mutilasi dan Kesalehan, adakah hubungannya?”

  1. Donny Reza said

    Ya, saya tahu sekali rasanya -bukan mutilasi maksudnya. Bahwa saya tahu Allah maha melihat, itu pasti. Bahwa saya kenal dengan lingkungan yang baik, insya Allah. Tapi ketika melakukan ‘itu’ sesungguhnya saya melakukan karena sangat ingin melakukan, dan mencari kepuasan dari melakukan ‘itu’. Kata itunya, silahkan substitusi saja dengan segala kemaksiatan yang mungkin 😀

    @
    Mas Don… sy kok agak kurang paham maksud Mas. Maksud saya antara ingin dan kesalehan, mengapa tidak bersinergi ya. Padahal dalam kasus Ryan, secara keseluruhan yang dikenali lingkungan, dia adalah orang baik, mengajar di TPA lagi.

    Suka

  2. Hi Hi Hi. Mutilasi dan Kesalehan , adakah hubungannya ??? Saya tadinya agak ngelindur. Kirain aku ke sasar di blognya Daeng Fatah. Tahunya masih di blognya Mas Agor. Hi Hi hi…..Tanyanya kok serem banget ya ??? Kalo yang tanya Kang daeng fatah pasti akan saya jawab dengan semangat 45 hi hi hi. Tadinya saya perkirakan postingan seperti ini pasti akan muncul di blognya rekan-rekan atheis. Tapi yang mengejutkan kok yang posting justru anda Mas Agor. Jadi grogi mau ngomong apa. Hi Hi hi.

    Yang namanya khilaf baik khilaf beneran atau kilaf laten kambuhan ya saya rasa nggak ada hubungannya sama siapapun. Mau guru ngaji, mau profesor ya tentu saja bisa salah. Lha wong masih manusia biasa kan.

    Tetapi memang ada yang memprihatinkan juga sih, kalo ajaran agama dilihat sebagai semata-mata rutinitas. Maksudku kalo sampe transaksi korupsi, suap dsb dilaksanakan di tempat-tempat ibadah sembari beribadah. Saya rasa ya gimana ya? Memprihatinkan lah.

    Kasus Al Amin Nasution malah lebih luar biasa lagi, karena dalam salah satu kalimatnya Al Amin sempat menyuruh Sekda Bintan untuk Sujud Syukur.
    Kesannya sogok menyogok di mata mereka itu sesuatu yang direstui Tuhan. Sehingga habis transaksi mereka bisa bersyukur bareng karena transaksinya berjalan mulus.

    Saya malah jadi bingung sendiri. Bagus mana ya habis maling bersyukur atau habis maling nggak usah bersyukur ????

    Hi Hi Hi…. Pasti mas Agor milih jawaban lain.
    La la la la ….
    @
    Pertanyaan seperti rujukan Mas The Loving’s Pasword atau orang shaleh atau mutilator kan bisa sama saja. Agor juga bertanya yang sama, berpikir yang sama. Mengapa, pada contoh Mas, Al Amin Nasution bisa seperti itu?. Di sini ada hal yang harus dipahami, bahwa pengetahuan, wawasan, pengalaman, daya hidup, kemampuan, keterampilan, bahkan bekerja di wilayah-wilayah agamis, dengan pengetahuan agama yang tinggi sekalipun, bukanlah titik nilai dari hak perogatif Allah dalam hidayah. Cahaya Allah tiba pada hambaNya yang dikehendakiNya. Ini menempatkan posisi “niat” yang tak terukur menjadi satu titik nilai yang begitu utama dalam melihat latar belakang segala aksi/tindakan.
    Beriman kepada yang Ghaib, kalau dipahami pada titik sebagai “Yang tidak dapat ditangkap oleh pancaindera”, memposisikan pemahaman juga pada titik-titik — menurut agor — pada titik rendah dalam dimensi pengetahuan manusia. Kalau pengetahuan agama dipandang dari sisi pengetahuan (kajian ilmiah) maka “Surga” dan “Neraka” pun diperhitungkan dengan cara-cara akal. Berhitung mengikuti jual beli, pahala beramal dianggap sudah cukup untuk melunasi perilaku maling. Membayar zakat dari hasil curian akan membangun kesetimbangan. Jadi Tuhanpun dipersepsikan menurut akal.

    Jadi, di sini masalahnya adalah akal memberangus akal !.

    Lalu bagaimana maling harus bersyukur atau habis maling nggak usah bersyukur?.
    Wah pertanyaan sulit.
    Bagimana bentuk syukurnya?.
    Ya Allah, puji syukur hari ini saya bisa mencuri dan tidak ketahuan…
    Ya Allah, puji syukur hari ini saya bisa banyak maling lagi sehingga saya bisa mengumpulkan lebih banyak harta lagi. Percaya deh Allah, saya akan beramal dengan pemberianMu itu seperti yang engkau perintahkan?.

    Pertanyaannya, Allah seperti apa yang dipersepsikan oleh si Maling itu?.

    Suka

  3. madsyair said

    Naudzubillah min dzaalik

    Suka

  4. N. Arifin said

    Saya ingat ceramah waktu Isra Mi’raj lalu di mesjid saya. Dalam tausiyah, pak ustadz mengatakan bahwa di Indonesia banyak pejabat yang beragama Islam bahkan sampai menduduki posisi terhormat sebagai anggota DPR – kenapa masih korupsi?. Jangan salahkan Islam nya atau partainya atau dll, tapi lihat dulu pejabat ini sholat nya bener nggak?. Pilar Islam yang pertama ini, pasti akan mencegah seorang menjadi seorang mungkar. Kalau dia sholatnya bener tentu dia akan jadi pejabat yang jujur. (ada jaminan sholat mencegah perbuatan keji dan mungkar)
    Jangan-jangan, di Indonesia ini banyak orang dengan ilmu agama tinggi dan bisa bicara berbusa-busa tentang Islam bahkan sampai bikin orang menangis karena ceramahnya, tetapi begitu urusan yang satu ini yaitu sholat – mungkin nggak bener.
    Apalagi yang cuma tenaga pengajar TPA seperti Ryan, mungkin lebih parah lagi nggak sampai kulitnya atau cuma tau sebatas ritual setingkat anak TK/SD yang diajarnya.
    Saya takut kita adalah masyarakat Islam yang NATO dalam agama. No Action (sholat) but Talk Only (kulitnya aja alias Islam KTP).Jadi nggak usah heran – artinya tidak ada hubungan antara kepintaran dalam agama dan sains dengan kelakuan sebagai tukang jagal, koruptor, maling, dll.

    @
    tanda tanya juga. Karena kesibukan, sholat shubuh sebaris saja, itupun hanya para sesepuh. Tausyiah shubuh seperti dicontohkan Nabi, padahal janji pahalanya luar biasa, hanya bisa dihitung jari.
    Jadi, saling mengingatkan memang problematika tersendiri.
    shalat seperti apa yang tidak lalai?.

    Suka

  5. @Di sini ada hal yang harus dipahami, bahwa pengetahuan, wawasan, pengalaman, daya hidup, kemampuan, keterampilan, bahkan bekerja di wilayah-wilayah agamis, dengan pengetahuan agama yang tinggi sekalipun, bukanlah titik nilai dari hak perogatif Allah dalam hidayah. Cahaya Allah tiba pada hambaNya yang dikehendakiNya. Ini menempatkan posisi “niat” yang tak terukur menjadi satu titik nilai yang begitu utama dalam melihat latar belakang segala aksi/tindakan.

    Saya bisa menangkap maksud anda Mas Agor, tetapi saya pikir kita perlu lihat juga konsep penyeimbangnya yaitu bahwa manusia itu sendiri harus berusaha. Saya sendiri banyak melihat bahwa atas nama takdir Tuhan, manusia banyak yang melarikan diri dari tanggung jawab pribadinya. Kalau sudut pandangnya hanya dilihat dari aspek mendapat hidayah atau belum, atau hak prerogarif ALLAH. Dengan mudah manusia bisa melemparkan tanggung jawabnya kepada Tuhan. Saya rasa tugas manusia berusaha, setelah itu anggap saja bukan urusan kita lagi. Ya kita serahkan pada yang punya prerogatif setelah tanggung jawab diselesaikan dulu.Kalo kasus Ryan dilihat dari semata-mata konsep Takdir atau kehendak Tuhan, wah ….-

    @
    Di sinilah Mas password, dalam pengetahuan saya yang terbatas, mengartikan takdir sebagai sebuah ketentuan yang tertentu. Dalam pemahaman saya, takdir adalah sejumlah pilihan dari takdir yang bisa ditentukan oleh kita sendiri. Namun, setiap pilihan juga adalah takdir, merupakan resultante-resultante dari seluruh aktivitas dan do’a manusia kepada Allah SWT. Menyerahkan pada pilihan takdir adalah pilhan dalam menyadari dan usaha yang tetap dalam konsep berserah diri.
    Namun, kembali kepada kasus pengetahuan agama dan kecerdasan, tidak dengan sendirinya menjadikan seorang bertakwa adalah fakta bahwa rahasia ilahi terhadap hidayah pada manusia adalah hal yang harus digali. Seperti kita kenali juga betapa ingin dan harapan Nabi pada pamannya yang enggan memeluk agama Islam yang dibawa Nabi. Menunjukkan betapa hak ini juga tidak bisa dicampuri kekuatan manusia.
    Melemparkan pada tanggung jawab pada kepada Allah dan berserah diri tentu juga berbeda. 😀

    Suka

  6. Aricloud said

    Assallammu’alaikum

    Mutilasi dan kesalehan tentu ada hubungannya. Namun hubungannya itu bersifat kontradiktif.
    “Kesalehan” mengandung arti akhlak perilaku dan aqidah yang baik dan benar.
    Ryan, sang mutilator tentu tidak bisa dibilang atau dianggap sholeh. Walaupun dia seseorang mahir membaca AlQuran, bahkan mengajar Iqra’ seperti Ryan. Hal itu bukanlah bukti kesalehan, namun masih terbatas pada pengetahuan Ryan tentang membaca Alquran. Kesalehan seseorang tentu tidak hanya diukur dari seberapa besar pengetahuannya tentang agama, namun juga perilaku sehari-hari.

    Predikat ‘ulama (orang yang berilmu pengetahuan) juga berbeda dengan predikat muttaqin dan muhsinin.
    Co :Prof. Musdah mulia boleh dibilang ‘ulama, namun sebagai muttaqin dan muhsinin, nanti dulu.

    Jika agama masih sebatas di kepala, belum berinternalisasi ke hati dan jiwa, maka jangan buru-buru mengaku/diaku sholeh. Hal ini pun tidak hanya terjadi di kalangan agama Islam saja, bahkan kita tidak asing lagi mendengar berita :

    Kompas Edisi Sabtu, 12 Juli 2008

    BRISBANE, SABTU- Paus Benediktus XVI yang dijadwalkan tiba di Sydney, Minggu (13/7) besok, berjanji akan menyampaikan permintaan maaf atas skandal pedofilia dan pelecehan seksual yang terjadi di lingkungan gereja Katolik Australia. Janji itu disampaikannya dalam konferensi pers di atas pesawat yang membawanya dari Roma ke Australia. Demikian dilaporkan jaringan pemberitaan ABC, Sabtu (12/7).

    Kompas Edisi Jumat, 18 April 2008

    WASHINGTON, JUMAT – Paus Benediktus XVI menemui secara langsung para korban penganiayaan seks yang melibatkan kalangan pastur di Amerika Serikat. Pastur Federico Lombardi, juru bicara kepausan menjelaskan, Paus Benediktus dan Kardinal Boston Sean O’Malley telah menemui sekelompok kecil korban penganiayaan seks dan memberikan dukungan moril kepada mereka di Washington.

    Eit..lalu jangan lantas orang-orang atheis merasa menang..nanti dulu
    kita juga takkan pernah lupa dengan kebiadaban khmer merah, PKI, de el el…

    @
    Memang betul, di sini kita melihat bahwa pengetahuan dan sikap muttaqiin adalah dua sisi dalam satu mata uang….
    Salam, agor

    Suka

  7. yureka said

    Berita kemarin, pak Yuli (kalau ndak salah dengar) mantan calon bupati ponorogo kemarin yg tidak terpilih stress, bertelanjang tubuh dan berlari-lari di ponorogo sana. stasiun swasta secara vulgar men-shoot gambarnya.

    intermezo ini hanya untuk memberitahukan betapa kekuasaan dan harta membuat orang bisa gila, ryan yang guru tpa, mas Yuli yang mantan calon bupati. (bukankah mental mereka harusnya cukup bagus yaa ?)

    @
    Kita sulit memang menemukan pemimpin yang ketika menerima amanat menyampaikan : “Innalilahi wa inna ilahi roji’un”. Tapi, merayakan dengan sukacita atas kepercayaan dan kesempatan yang diberikan.
    Kekuasaan menjadi tujuan, bukan alat. Alangkah beratnya jabatan-jabatan itu ketika diminta pertanggungjawaban oleh pemberi kuasa yang sesungguhNya. Ketika Raja manusia bertanya, tentang amanat yang diberikan engkau apakan, harta yang diterima engkau gunaka apa, waktu yang dipakai digunakan apa?. Semua berpeluang terjawab dengan penuh rasa sesal.

    Suka

  8. Abudaniel said

    Assalamu’alaikum,
    @ Mas Aricloud,
    Betul Mas. Kesholehan seseorang bukan dilihat dari bisa atau tidak dan fasih atau tidaknya dia membaca AQ.
    Tetapi sejauh mana dia mengamalkan AQ dalam kehidupan sehari-hari.
    Banyak dikalangan orientalis yang malah hafal AQ, fsih membacanya ditambah dengan puluhan bahkan ratusan hadits diketahuinya. Shalehkah mereka ( dalam pandangan Islam) kalau mereka ternyata tidak mempercayai Islam, tidak mau bershahadat menganut Islam?.
    Begitu juga, mereka (orang-orang Islam) yang mengaku sarjana Islam, cendikiawan Islam, Profesor hukum Islam, tetapi dalam kesehariannya senantiasa merongrong Islam, mencaci para shahabat, meragukan kesucian AQ, menolak hadits. Apakah mereka sholeh?.
    Wassalam,

    @
    salah satu yang suka menjadi imam masjid di kampung saya mengatakan/bercerita di univ. cikaso Chicago – USA ada profesor Kaligrafi Al Qur’an dan beliau tidak beragama Islam. Jadi, beliau itu melihat AQ sebagai kajian keilmuan. Murni ilmu dan tidak mau melihat dari sisi lain. Mereka mengagumi Nabi Muhammad SAW bukan sebagai seorang utusan Allah, tapi mengagumi bahwa sebuah bangsa (Arab pada masa itu) hanya kurang lebih lima belas tahunan berubah dari jahiliyah menjadi masyarakat yang beradab dan berkembang terus sampai Cordoba… dst…dst . Pengkajian model dan kondisi-kondisi seperti ini menarik karena dalam sejarah perubahan bangsa, hampir tidak dijumpai kasus sejenis.

    Suka

  9. dexlon said

    Yup… don’t jugde the book by the cover!!!

    Suka

  10. hamba Allah said

    Janji suci. Di iringi doa untuk ridho illahi

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: