Sains-Inreligion

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Al Qur’an Sebagai Cahaya Ilahi

Posted by agorsiloku pada Agustus 3, 2008

Allah adalah cahaya bagi langit dan bumi (QS 23:35). Al Qur’an juga dijelaskan sebagai cahaya, yang Kami tunjuki dengan dia siapa yang kami kehendaki di antara hamba-hamba Kami. Dan sesungguhnya kamu benar- benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus (QS 42:52)

Kok disebut cahaya ya?

Sudah tentu kita sudah pernah belajar apa itu cahaya.  Interaksi dengan Al Qur’an tentunya berinteraksi dengan petunjukNya.  Bahkan diingatkan pula, telah dirincikan segalanya dan janganlah kita termasuk orang ragu.  Lengkapnya ayat ini adalah : QS 5:114. Maka patutkah aku mencari hakim selain daripada Allah, padahal Dialah yang telah menurunkan kitab (Al Quran) kepadamu dengan terperinci? Orang-orang yang telah Kami datangkan kitab kepada mereka, mereka mengetahui bahwa Al Quran itu diturunkan dari Tuhanmu dengan sebenarnya. Maka janganlah kamu sekali-kali termasuk orang yang ragu-ragu.

Sampai kini, saya tidak pernah tahu (dan mungkin tidak akan pernah tahu) seberapa terperincinya. Namun, saya percaya bahwa telah dirincikan segala sesuatu yang diperlukan manusia untuk mencapai/menempuh jalan yang lurus. “Dan jangan sekali-kali termasuk orang yang ragu-ragu”

Sifat cahaya itu menarik.! Cahaya sebagai partikel, cahaya sebagai gelombang elektromagnetik, atau paket-paket kuantum. Cahaya ada yang tampak dan ada yang tampak, memantul, membias, dan sebagai energi panas. Fotosintesis juga bisa berproses karena ada cahaya.  Cahaya tampak juga berwarna-warni.

Cahaya tidak pandang bulu, tidak memilih, dia menerangi apa yang bisa diteranginya ke segala arah.  Tidak perduli di situ ada tumpukan sampah yang sangat kotor atau mobil mersi, penjahat ataupun ulama yang sedang khutbah atau presiden yang berlalu.  Intensitasnya sama.  Tergantung seberapa dekat dan jauh saja dari sumber cahaya.  Begitu juga(kah)lah petunjuk Ilahi.

Ada keindahan dan kekaguman tak terperikan kita kepada cahaya itu.  Allah memisalkan Al Qur’an sebagai cahaya, petunjukNya sebagai cahaya “sepertinya” menjelaskan seperti karakteristik cahaya memang sesuai dengan makna lahirnya.

Kalau seseorang membutuhkan cahaya, maka bawalah “cahaya” itu kepada yang membutuhkan.  Uh.. maaf bawalah sumber cahaya itu, bukan cahayanya. Syukur jika yang membawa juga disertai dengan suryakanta (kaca pembesar), sehingga huruf-hurufnya menjadi lebih jelas.  Tapi jangan membungkus cahaya karena nggak bisa.  Kalau ruangan kerja saya gelap, lalu minta lampu agar diterangi.  Maka tidak ada jalan lain, bawalah lampu itu kepada saya.  Anda tidak bisa membungkus cahaya lampu itu, memasukkannya ke dalam peti, atau memasukkannya ke dalam tas kerja dan membukanya. Anda mungkin bisa memberikan saya cahaya yang lebih redup, bukan lampu, tapi lilin. Karena tidak mungkin membawa cahaya, yang harus dibawa itu lampu yang mengeluarkan cahaya. Saya juga tidak percaya juga Anda bisa membawa sumber cahaya yang lebih baik dari cahaya lampu yang itu.

Allah melanjutkan dalam ayat berikutnya  QS 6:115. Telah sempurnalah kalimat Tuhanmu (Al-Quran) sebagai kalimat yang benar dan adil. Tidak ada yang dapat mengubah ubah kalimat-kalimat-Nya dan Dia lah yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. 116. Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah).

Subhanallah, cahaya Allah seperti petunjukNya adalah cahaya dan kita melihat karakteristik cahaya yang bisa kita kenali seperti itu.  Sumber yang terang benderang menerangi, tidak dibungkus, tidak dimasukkan ke dalam tas, tidak direka-reka. Juga, tidak untuk diakal-akali manusia (disembunyikan), dan boleh jadi juga setiap pemahaman dari kalimat-kalimatNya dipahami berbeda-beda, sesuai dengan kapasitas dan intensitas cahaya yang sampai kepada penerimanya.

Pertanyaan yang kemudian menelisik hati : Apakah kita menjelaskan atau menggelapkan?.

—–

Referensi tambahan.

QS 24:35. Allah (Pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi. Perumpamaan cahaya Allah, adalah seperti sebuah lubang yang tak tembus, yang di dalamnya ada pelita besar. Pelita itu di dalam kaca (dan) kaca itu seakan-akan bintang (yang bercahaya) seperti mutiara, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang berkahnya, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur (sesuatu) dan tidak pula di sebelah barat(nya), yang minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api. Cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis), Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang dia kehendaki, dan Allah memperbuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.

QS 42:52. Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu wahyu (Al Quran) dengan perintah Kami. Sebelumnya kamu tidaklah mengetahui apakah Al Kitab (Al Quran) dan tidak pula mengetahui apakah iman itu, tetapi Kami menjadikan Al Quran itu cahaya, yang Kami tunjuki dengan dia siapa yang kami kehendaki di antara hamba-hamba Kami. Dan sesungguhnya kamu benar- benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus.

Iklan

9 Tanggapan to “Al Qur’an Sebagai Cahaya Ilahi”

  1. yureka said

    mas agorsiloku,

    surat 24:35 saya pahami sebagai ayat muhkamat, hanya bahasanya memang rada sulit, itu berkaitan dengan astronomi (menggambarkan solar sytem sebagai miniatur semesta), coba cek di dalamnya ada kaukab dlsb.

    surat 42:52 saya pahami bagaimana quran sebagai “cahaya” yang mengubah sosok muhammad yang dikatakan Allah dholim menjadi beriman.

    @
    Mas Yureka, ayat itu tidak hanya berbicara mengenai sosok Muhammad saja kan? 🙂
    Sedang 24:35, ini ayat yang kita mungkin tidak akan pernah mengetahui esensinya, karena nembus lapisan kekuasaanNya.
    Saya kira ayat ini sangat luas maknanya, terlalu nihilis jika berada pada sistem tata surya… 😀 Menurut agor, ini adalah salah satu gap pengetahuan sains dengan ayat.

    Suka

  2. yureka said

    jadi inget waktu kecil : Nabi Muhammad naik buroq yang terbangnya secepat cahaya…bla..bla..bla

    kalo pake itungan mas agor, beliau bisa kesiangan pulang ya mas…?!

    @
    Kalau menurut hitungan ilmuwan dan dugaan masa kini, kalau terbangnya secepat cahaya, jangan-jangan nabi belum sampai ke Sidratul Muntaha.. 😀

    Suka

  3. yureka said

    jangan tekateki (baca:wallahualam) lho mas…atau, kalau Allah menghendaki kecepatan cahaya bisa berubah. Kekuasaan Allah itu mutlak.
    maaf mas agor… nggak nyambung dengan judul ya..??

    @
    Menurut para ilmuwan, masih ada relasi kuantum yang bekerja di atas kecepatan cahaya. tidak usah mengubah cahaya itu sendiri. Secara hitungan ada, tetapi secara nyata… wah ini sudah melanggar hukum entropi. (Manusia bilang melanggar hukum fisika, tapi sebenarnya, manusia aje khalee yang belum sampai.. 😀 )
    kalau bahasan nyambung dengan judul?… Nyambung, tapi esensinya nggak. Tapi gpp. Mas Yureka bersedia menerima secangkir kopi dan sedikit meminumnya sendiri sudah merupakan penghormatan buat agor… 😀

    Suka

  4. haniifa said

    Jadi inget kurang satu “ekor”… 😀

    Suka

  5. haniifa said

    Wahh…. anak “teka” makan rumput “teki” ?! 😀
    Waktu kecil ber “ekor”.. eh enggak ding… eh… ada ketang sauprit… 😀

    (ada ketang sauprit := bhs. bewok jambrong plus antek-anteknya)

    Suka

  6. haniifa said

    jadi inget waktu kecil : Nabi Muhammad naik buroq yang terbangnya secepat cahaya…bla..bla..bla
    As if….
    jadi inget waktu kecil : Nabi Ahmad naik buroq yang terbangnya secepat cahaya…bla..bla..bla

    Korek API dunk… 😀
    ——————————–
    by http://haniifa.wordpress.com

    jadi inget waktu kecil : Nabi Muhammad s.a.w naik buroq yang terbangnya secepat cahaya…bla..bla..bla

    ….Clear 😀

    Wassalam, Haniifa.

    Suka

  7. haniifa said

    Luk… eh lok… eh apa yach 😀

    Siji:
    jadi inget waktu kecil : Nabi Muhammad naik buroq yang terbangnya secepat cahaya…bla..bla..bla
    Berevolusi…. kalimat nya menjadi.

    Loro:
    jadi inget waktu kecil : Nabi Ahmad naik buroq yang terbangnya secepat cahaya…bla..bla..bla

    Telu:
    jadi inget waktu kecil : Nabi Ghulam Ahmad naik buroq yang terbangnya secepat cahaya…bla..bla..bla

    *** Anak teka super jorok 😛 ***
    ———————————
    IF ONLY…
    Nabi Muhammad s.a.w … very excellent

    Wassalam, Haniifa.

    Suka

  8. haniifa said

    Nggak pake itungan, Gampang khan. 😀

    Renang gaya yang lainnya :
    ————————–
    Rasul saw ?!
    berubah menjadi…. Rasul he.he.he. saw,… Clear 😀

    Nabi saw ?!
    berubah menjadi…. Nabi he.he.he. saw,… Clear 😀

    Imam Ali ?!
    berubah menadi….. Imam he.he.he.…. Clear 😀

    Beauty and the Beast —::Click Me::

    Wassalam, Haniifa.

    Suka

  9. haniifa said

    Jika hanya Jika tulislah dalam … dalam tulisan kamu dunk… 😀

    1. Rasulullah
    2. Rasul Muhammad s.a.w
    3. Nabi Muhammad s.a.w
    4. Imam Abu Bakr as Sidiq
    …Imam Umar bin Khattab
    …Imam Utsman bin Affan
    …Imam Ali bin Abi Thalib
    5. Khalifah Abu Bakar as Sidiq
    …Khalifah Umar bin Khattab
    …Khalifah Utsman bin Affan
    …Khalifah Ali bin Abi Thalib

    Wassalam, Haniifa.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: