Sains-Inreligion

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Supirlah Yang Menyubsidi Pelajar, Bukan Pemerintah !

Posted by agorsiloku pada Agustus 2, 2008

Anakku cerita, sekali jalan untuk sampai ke sekolah mustinya bayar Rp 1.500,-, tapi kalau pelajar bolehlah membayar seribu perak saja, kadang kurang pun diterima.  Tapi ada juga supir yang NAKAL, SUPIR YANG JAHAT, harus membayar 1500 juga.  Sama dengan penumpang yang lainnya.  Padahal kan :bla…bla…bla”.

Bayangkan kejahatan yang dilakukan oleh SUPIR ini.  Kalau saja ada sehari ada 20 pelajar yang naik angkotnya, maka dalam sehari ada sedikitnya 500 kali 20 pelajar atau sama dengan SEPULUH RIBU RUPIAH kali 25 hari belajar, maka KEJAHATAN SUPIR ini bernilai Rp 250 ribu rupiah.

Lalu timbul pikiran, haruskah saya memaki Indonesia ataukah memaki penjahat jenis ini.  Ataukah cacian saya lemparkan untuk pemeras supir-supir ini.

Bukankah supir-supir inilah, yang terpaksa menambah jam kerjanya dari sejak pagi sampai tengah malam hanya untuk MEMBERIKAN SUBSIDI pada pelajar menuntut ilmu sambil tetap harus mengejar setoran.  Dengan segala kelelahan dan pungli jalanan dari pegawai pemerintah sampai preman jalanan?

Supir-supir binal itu, tak cukup gizi bahkan tak cukup juga untuk menyekolahkan anaknya yang mereka subsidi itu.

Lalu, siapa sebenarnya yang sedang melakukan kejahatan?.

“Apakah kamu, Nak yang harus disubsidi oleh para supir-supir yang mobilnyapun sudah penyok-penyok itu atau salib menyalib karena mengejar setoran !”

“Anakku tak menjawab !” (mungkin ia lagi memikirkan kembali, siapa pemeras supir-supir itu)

Ia terdiam

Aku juga.

dan

aku tahu pula, Pemerintahpun tak cukup sanggup untuk memberantas korupsi (lho kok korupsi, nggak nyambung !).

Iklan

6 Tanggapan to “Supirlah Yang Menyubsidi Pelajar, Bukan Pemerintah !”

  1. sitijenang said

    mungkin malah lebih sehat memaki diri sendiri. kita juga tidak bisa memberi solusi. :mrgreen:

    @
    Betul Mas, dalam konteks begini, menurut agor, SANGAT TIDAK PERLU MEMBERIKAN solusi. Kita percaya Orang-orang di Pemerintah itu sangat cerdas-cerdas dan pintar. Tidak butuh solusi. Mereka juga sudah tahu jawabnya.
    Ini hanya untuk mengingatkan Pemerintah saja, jangan terlalu dholim begitu dalam membuat keputusan.

    Kalau diingatkan, tidak perlu diberikan solusi kan. Soalnya orang pintar dan zalim itu sudah merupakan makanan sehari-hari yang kita lihat dari berbagai media.
    Mudah-mudahan kezholiman saya juga semakin hilang dan dapat diampuni taubat saya… 😦 : (

    Suka

  2. Saya sih sebenarnya sudah berusaha memikirkan solusinya. Tapi ya apa ada gunanya kalau ide ini malah saya posting ke anda. Hi Hi hi. Tapi didengarkan atau tidak oleh pemerintah, disetujui atau tidak, ya nggak papalah. Minimal sudah nyumbang mikir.

    Ide saya gini Mas Agor :

    Angkutan umum itu mestinya bukan dikelola swasta, tetapi sebaiknya pemerintah. Atau kalaupun dikelola swasta, harus disatukan dalam satu badan. Mirip PT KAI lah.

    Dengan cara seperti itu, maka karcis berlangganan termasuk karcis bersubsidi menjadi mungkin dilaksanakan.

    Kita bisa langsung beli karcis terusan untuk satu bulan atau bahkan satu tahun dengan harga lebih murah. Bila perlu wujudnya juga nggak harus karcis tapi mirip kartu gesek.

    Dengan cara ini : Sopir tidak perlu rebutan penumpang karena memang nggak ada yang perlu diperebutkan. Dia cuma diwajibkan jalan pada jam-jam yang sudah diatur. Jadi sopir menjadi pegawai pemerintah dan dibayar oleh pemerintah bukan ngejar setoran.

    Sistemnya mestinya tidak kejar setoran, tetapi bis berjalan pada jam-jam yang telah ditetapkan. Dan sopir digaji tidak atas dasar setoran. Mirip KA atau bis bandara.

    Hi Hi hi….Tapi saya pribadi juga agak berburuk sangka : Mustahil orang pemerintah nggak tahu ide ini, wong sudah banyak diterapkan di negara maju dengan Mass Rapid Transport-nya . Mengapa juga diIndonesia susah dipraktekkan.

    Mungkin menginjak orang kecil lebih mudah kali ya ????

    @
    Bagaimanapun ini ide baik dan saya juga yakin :”Mustahil orang Pemerintah nggak tahu ide ini”. Bukankah mereka sering jalan-jalan ke luar negeri untuk memborong studi banding. Yang mungkin tidak transparan, apa yang distudiin dan apa yang dibandingin…

    Kalau menginjak orang kecil lebih mudah kali ya ???

    Menurut pengalaman sendiri, lebih mudah. Hanya, jangan lupa, dosa orang teraniaya itu diijabah Allah.
    Sisi buruk dari sistem ini : Susah ngumpulin setoran.

    Suka

  3. sitijenang said

    @ lovepassword

    setuju tuh untuk menghilangkan efek ngetem. menurut saya kemacetan di jalan raya juga lebih banyak disebabkan sistem setoran. tapi, kalo pake sistem terpusat begitu berarti harus mematikan organisasi macam organda dan koperasi angkutan (apa tuh). trus yang ngurus angkutan katakanlah orang pemda… wah… jadi no komen deh :mrgreen:

    @
    setoran adalah efek sebab akibat dari sebab pertama.
    Sebab pertama adalah : karena ada penumpang yang mau naik, sebab ada pengatur lalu lintas (larangan parkir dan berhenti) yang dilanggar, dan sebab polisi tidak perlu bertugas dengan tegas dan disiplin.

    Sebab-sebab yang menjadi sebab pertama : salah didik penumpang, bikin sim tanpa ujian, dephub dan polisi pat gulipat, sistem setoran, dan lain sebagainya.
    Kalau sebab kedua yang diungkit: solusinya logis tapi kerap tidak menyelesaikan masalah. Kalau sebab kedua yang diungkap : lebih bersifat apologi dan tidak ada niat baik untuk menyelesaikan masalah.

    Kalau Birokrat bilang : Sesungguhnya ini tanggung jawab masyarakat, maka artinya : Sesungguhnya gue kagak perduli.

    Suka

  4. @setoran adalah efek sebab akibat dari sebab pertama.
    Sebab pertama adalah : karena ada penumpang yang mau naik, sebab ada pengatur lalu lintas (larangan parkir dan berhenti) yang dilanggar, dan sebab polisi tidak perlu bertugas dengan tegas dan disiplin.

    Kalau menurutku sih sistem setoran itu justru penyebab semua kekacauan ini.

    Bahwa mentalitas kita semua memprihatinkan termasuk penumpang, polisi, sopir dan sebagainya sehingga tidak taat aturan. Itu memang benar. Tetapi kalau kita mau memperbaiki ini dari sisi perbaikan kepribadian masyarakat , saya rasa solusinya lama baru selesai. Perlu diupayakan juga sih – tetapi ini adalah solusi jangka panjang.

    Solusi paling mudah(solusi praktis) ya hilangkan saja sistem setoran. Sopir angkot digaji negara atau organisasi. Sistemnya gaji harian atau bulanan atau lainnya bukan atas dasar setoran.

    Dengan cara seperti ini : Kecil kemungkinan sopir mau melanggar rambu larangan, ngebut, dsb. Mengapa ?? Ya karena dia nggak butuh penumpang. Penumpang tidak memberi dia uang.

    Ada atau tidak ada penumpang kan dia dibayar. Tugasnya dia cuma menjalankan angkot secara teratur pada jam-jam yang telah ditentukan dan berhenti pada tempat yang telah ditentukan pula.

    Dengan cara ini harapan saya : ya angkot nggak perlu kebut-kebutan, karcis berlangganan menjadi mungkin tanpa harus merugikan sopir, subsidi karcis juga kalo mau diberikan yang menanggung bukan sopir.

    Tapi kalo memang masalah utamanya birokrat nggak perduli seperti kata mas Agor, yah apa kata dunia.

    Hi Hi hi

    Penumpang yang butuh angkot.

    Suka

  5. sitijenang said

    @ wah setuju lagi dengan lovepassword. kalo mengharapkan perubahan perilaku penumpang, polisi, supir, dll bisa lama banget. busway, meski kontroversial, tapi sistem penggajian supir tampaknya terlihat efektif. gak ada istilah busway ngetem atau berhenti di sembarang tempat tiba-tiba. kalo sekarang ini kan istilahnya, “Hanya Tuhan dan sopir angkot yg tahu kapan angkotnya mo berhenti.” :mrgreen:

    @ mas agor
    dari dulu emang pejabat bisanya nyalahin masyarakat doang… EPG mulu… muahaha

    Suka

  6. […] aq pikir seh hanya untuk senang-senang aja eh ternyata dapat sebuah artikel yang diambil dari sini seperti […]

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: