Sains-Inreligion

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Penganut Agama Melawan Perubahan Zaman?

Posted by agorsiloku pada Juli 29, 2008

Apa ya yang disebut perubahan zaman?.

Yah.. kurang lebih beginilah, kehidupan itu kan semakin lama semakin maju.  Cara pandang manusia semakin kompleks dan rumit.  Dulu kita nggak kenal handphone, internet, mobil.  Sekarang komunikasi sudah sedemikian maju dan hebatnya sehingga jarak sepertinya tidak ada.  Perubahan-perubahan itu membuat agama menjadi ketinggalan jaman gitu.  Tak mampu menyesuaikan lagi dengan tuntutan perubahan yang kian cepat.

Jadi…

Ya, sekarang mari kita evaluasi lagi, apakah agama diperlukan?,  Bukankah kita melihat bahwa sekarang ini agama justru menjadi penghambat kemajuan jaman.

Misalnya :

Misalnya gini lho, hukum mencuri misalnya.  Kalau agama kan bilang, mencuri ya dipotong tangannya (tentu saja dengan syarat-syarat tertentu).  Nah, emangnya dengan dipotong tangannya maka pencurian akan hilang !.

Seharusnya dididik, diajari moral dan kesadaran.  Diberi pekerjaan yang layak, dipenuhi kebutuhannya.  Kalau itu dipenuhi, maka hukum agama (dalam hal ini Islam) kagak lagi diperlukan kan !?

Contoh lainnya,

Misalnya soal minuman memabukkan, khmar gitu !.  Bagaimana bisnis bisa jalan.  Kan mabok minum itu untuk kepentingan pergaulan.  Sudah banyak negeri-negeri maju dan makmur menjadikan minuman beralkohol sebagai minuman penghormatan dan pergaulan.  Apalagi di negeri dingin, minuman ini sangat cocok untuk menghangatkan badan.

Ada lagi,

Misalnya soal bayar zakat.  Sekarang kan zamannya pajak, negara sudah mengatur bagaimana mekanisme pajaknya.  Jadi, ngapain bayar zakat lagi.  Ini kan namanya double account.

Apalagi beramal untuk yatim dan fakir miskin.  Itu tanggung jawab negaralah… agama kagak usah ngurusin.

Masih ada lagi ?.

Yah, misalnya makanan yang diharamkan.  Juga wanita-wanita modern kan sekarang harus hemat.  Jadi berpakaian mini itu wajar-wajar saja.  Kalau ada laki-laki yang “harras” ya wajar-wajar saja deh.

Contoh lain, ya banyak deh.  Singkatnya : apapun ritual yang dilakukan, selalu ada usaha-usaha yang memungkinkan manusia, dengan akalnya memungkurinya.

jadi, kesimpulannya agama adalah menghambat kemajuan. !.

Lalu apa jawaban kita terhadap perubahan jaman nih , boleh pilih atau tambahkan jawaban yang diinginkan :

  • Dasar bejat, terkutuk, calon neraka !.  Itu namanya bukan kemajuan, tapi itu adalah kehancuran moral.  Orang begini musti dirajam, diperangi, dihancurkan.  Dasar bla…bla….bla…
  • Itu adalah pikiran akal.  Agama itu harus dipatuhi dan ditaati.  Jangan pakai bertanya sebab akibat dan lain sebagainya deh.  Agama itu suci dan tidak bisa dijangkau oleh akal.  Bahkan akal sehat sekalipun.  Jadi tugas Anda itu adalah mengikuti petunjuk kitab suci, bukan menganalisis atau membantah.
  • Itu adalah ciri-ciri atau pertanda jaman bahwa agama emang sudah tidak diperlukan atau perlu pencerahan baru.  Kalau kekacauan semakin menjadi-jadi, maka percayalah nanti akan ada manusia sempurna dan agung yang memerangi kebejatan.  Sekarang ini, bersabarlah.
  • Ho..ho…ho… ini indikator kegagalan misi dan perlunya penafsiran baru.  Ijtihad baru.

Pada setiap zaman, selalu ada yang reaksioner, reformis, dan yang adem ayem.  Yang reaksioner akan melawan setiap perubahan terjadi dengan sangat keras untuk tetap mempertahankan tradisi yang ada.  Yang reformis melihat perlunya perubahan untuk memperbaiki masa depan bangsanya ke arah yang lebih baik, dan yang adem ayem atau moderat.

Iklan

8 Tanggapan to “Penganut Agama Melawan Perubahan Zaman?”

  1. madopolo said

    @Agor
    Kalau menurut saya seperti apa yg mas sampaikan diatas saya akan sampaikan dulu prinsip saya mengenai maunya jaman. Baru mengomentari beberapa masalah hukum. Saya berprinsip apabila kita tunduk pada keadaan jaman/situasi, maka kita adalah orang Jahiliyah Modern. Klu jaman Jahliyah sblm Rasul mereka membuat berhala lalu disembah. Tapi pda jaman modern ini, kita yg membuat situasi/kondisi tersebut lalu kita tunduk pada situasi/kondisi tsb.
    Sekarang saya coba memberikan pendapat atas beberapa hukum sosial yg mas tampilkan. Tapi sebelumnya saya akan sampaikan SETIAP HUKUM YG ALLAH SAMPAIKAN ADA SEBAB DAN AKIBAT.
    Mengenai pencuri potong tangan. Pertanyaan mas apakah setelah tangannya dipotong ia tdk mencuri lagi. Menurut saya tergantung alasan dia mencuri. Sekarang kita lihat mengapa sipencuri Allah hukumkan dg. potongan tangan dan bukan penjara.
    Allah itu Maha Rahman. Orang yg tak bersalah jgn kena getahnya. Coba mas bayangkan klu yg mencuri mempunyai keluarga dgn 3 anak saja, yg mencuri karena utk membiayai hidup. Bgm klu dia dipenjarakan? Siapa yg akan mencari nafkah utk keluarganya. Tapi klu potong tangan dia msh bisa mencari nafkah keluarganya.
    Untuk minuman keras: Klu dlm perjamuan kan bisa kita menolak.(sebenarnya saya ada cerita mengenai ini dan shahih, cuma nanti terlalu panjang)
    Dan untuk daerah dingin Allah Maha Mengetahui sehingga ada ayat yg memberi kelonggaran saya lupa disurah mana yg maksudnya adalah KHAMAR itu MUDHARATNYA lebih besar dari MANFAATNYA.
    Mengenai double account hehehe. Zakat tdk dipaksakan tapi pajak dipaksakan mas. Zakat bagi yg berkelebihan. Klu merasa kekurangan nda usah dikeluarkan. Tapi apabila berkelebihan yah daripada kedisko yg tolonglah tetangga yg nda makan. Jd setelah mas keluarkan pajak baru zakat.
    Mengenai pakaian mini menghemat. Biasa orang yg menghemat itu krn
    msh kekurangan. Jd menurut saya dpd keluar pakai pakaian mini biar aja dirumah dgn pakaian mini. Menghemat ongkos angkot/taxi. Wasalam

    @
    Tujuang postingan memang sebenarnya bukan pada contohnya, tetapi bagaimana kita mengevaluasi/memberikan penilaian pada kondisi/perubahan zaman dalam kaitannya kegagalan atau keberhasilan kita melaksanakan “perintah agama”. Penganut agama memiliki kecenderungan terpecah pada 3 kelompok : reaksioner, reformis, dan moderat.
    Yang berkecenderungan reaksioner akan cenderung kaku terhadap perubahan, sehingga kerap dinilai kolot dan tertinggal bahkan memusuhi kelompok lain.
    Yang reformis cenderung untuk melihat fakta dan manfaat dan melihat, kalau perubahan zaman yang terjadi bersifat negatif ke masa depan dalam pemahaman maka akan membawa arah pemikiran untuk melakukan perbaikan/penilaian. Ketika perubahan itu bersifat negatif (misal merusak moral) maka yang reformis akan menggerakan keterampilan dan pengetahuannya untuk “mengajak” secara damai pada perubahan yang lebih baik. Dengan demikian, dia sadar bahwa perubahan yang terjadi tidak selalu membawa pada kemashalatan ummat.
    yang moderat dapat menerima perubahan, disadari atau tidak biarpun membawa kebaikan dan atau keburukan bagi kemashalatan ummat. Kadang seorang moderat menunjukkan kepedulian ke arah reformis, kadang ke arah reaksionis. Kadang mengesankan ketidakpedulian.

    Suka

  2. gentole said

    Semuanya tergantng dari bagaimana Anda memahami kitab suci. Masalahnya, sebagian besar umat manusia merasa membutuhkan agama, termasuk saya, untuk mengisi kekosongan makna/nilai atau “nihilisme”, pada saat yang lain jiwa zaman terus berubah dan berbenturan dengan bagaimana agama selama ini dipahami. Solusinya buat saya adalah reformasi. Agama itu bukan separangkat aturan yang siap=pakai untuk segala zaman, setiap zaman harus membentuk nilainya masing-masing. Dalam pandangan saya, agama itu “berserah diri” dalam berbagai bentuk. Tuhan adalah inti dari agama. Yang anda sebut soal khamr, baju perempuan, potong tangan hanya refleksi keberagamaan saja, bukan Agama (din), dengan A besar. Emang ribet, tapi aku sih milih jalan itu.

    Salam kenal, btw.

    @
    Salam kenal kembali. 😀

    Suka

  3. Herianto said

    Ketika idealis (agama) dihadapkan dengan realis (perubahan jaman) tentu dibutuhkan fikih (fiqhul)) yang dapat menjembataninya.
    Salah satunya adalah : fiqhul waqi’ seperti karya DR Yusuf Qardhawi atau karya ulama-ulama lainnya.
    Kontroversial memang, tetapi pemikiran moderat menerima.
    Seperti fatwa-fatwa :
    – Kebolehan Kredit Berbunga (seperti untuk rumah)
    – Halalnya alkohol “spesial”
    – Keterlibatan politik
    – Pelibatan logika dalam fatwa agama
    – dstnya.

    Link-link anehnya : 😉
    http://www.google.co.id/search?hl=id&sa=X&oi=spell&resnum=0&ct=result&cd=1&q=fiqhul+waqi%27&spell=1
    http://alqiyamah.files.wordpress.com/2008/03/fiqhul-waqi-antara-teori-dan-terapan.pdf
    – dsbnya. 🙂

    Gmana menurut mas agor tentang ini. 🙂

    @
    Mas Herianto, pertama agor ucapkan terimakasih untuk rujukannya. Saya baru tahu, masalah ini masuk ke wilayah Fiqhul Waqi. 😀
    Ketika mempostingkan hal-hal yang menjadi issue antara kekinian dan fatwa ulama, saya sedang membaca buku : “Islam dan Tantangan Zaman” – Muttahari yang menjelaskan dengan cukup jernih bagaimana semestinya ummat “membaca” perubahan zaman. Tentu karena penulisnya Syiah, unsur Syiah tampak sangat jelas sehingga ide beliau mengelompokkan pada tiga hal reaksionis, reformis, dan moderat adalah juga yang saya lihat.
    Terbaca juga betapa sejarah kelam peradaban Islam banyak terurai dari masa ke masa karena perbedaan mendefinisikan masalah fatwa dan penggunaan logika yang kaku (jumud) dan yang moderat.

    Beberapa bacaan yang lainnya, saya melihat bahwa faktor reaksionis, reformis, dan moderat bermunculan. Pandangan Yusuf Qardawi yang bersifat moderat diserang habis-habisan oleh pandangan ulama lain. Pada kasus yang sama, untuk masalah jilbab misalnya, Quraish Shihab juga diserang karena sikap moderatnya. Pada kasus Islib malah over moderat dan menurut saya malah tidak berada jalan tengah, tetapi keluar jalur.

    Namun, fokus perhatian saya bukan pada saling membenarkan atau menyalahkan, namun logika dan akal sebaiknya ditempatkan sedalam-dalamnya pada etika universalitas. Mendalami lebih ke dalam fakta dan manfaat, mashlahat dan mudharat yang dianalisis mendalam oleh para alim ulama. Pada kondisi perubahan zaman, apa yang baik pada masa lalu, bisa berubah menjadi buruk (merugikan) pada masa kini. Kalau evaluasi dan analisis dilakukan dengan kedalaman yang baik dan mendalam. Tidak hitam putih dan tetap tentu saja berpegang pada AQ dan Sunnah Nabi yang handal, maka hasilnya untuk ummat adalah menyadari pilihan-pilihan yang akan dilakukan dalam konteks yang lebih tepat.
    Bagaimanapun fleksibilitas dalam beragama tanpa keluar dari jalur keyakinan juga tersedia dan disediakan dengan segala pengertian dan pemahaman.
    Yang saya maksud dengan hitam putih adalah dalam contoh ini sudah pasti yang disampaikan oleh Yusuf Qardawi tercela karena bla..bla… bla… atau sebaliknya. Kita bisa menganalisis lebih mendalam pada ragam kondisi dengan menjumlahkan manfaat dan kerugian dari satu sistem nilai yang membutuhkan penjelasan.

    Jadi problemnya bagaimana arif memanejemini pemahaman dan membuat ukuran-ukuran yang adaptabel tanpa keluar dari garis yang sudah begitu jelas. Menjawab pertanyaan mengapa (memahami sebab-akibat, aksi-reaksi), menjadi lebih penting dari pada “mengkafirkan”…. 😀

    Suka

  4. Herianto said

    Jangan yg paling atas yg dari sini :

    http://www.google.co.id/search?hl=id&sa=X&oi=spell&resnum=0&ct=result&cd=1&q=fiqhul+waqi%27+DR+Yusuf+Qardhawi&spell=1

    Gak kalah juga anehnya. 😆

    Suka

  5. madopolo said

    @Agor
    Terima kasih atas pencerahan pengertian atas posting tsb.
    Pd komentar saya nomor pertama: Saya katakan bahwa kondisi sekarang ini kita (manusia) yg menciptakan. Kemudian banyak dari kita2 dan mungkin 90% yg tunduk pd kondisi ini. Mas mengharap agar ada perbaikan utk kondisi sekarang ini. Saya ingin bertanya, Bagaimana:
    1.Secara tahap demi tahap
    2.Kembali kepada Al Qur’an dan Sunah Rasul?
    3.Atau secara Total
    Secara tahap demi tahap, dari mana kita akan memulai?
    Kembali kepada Al Qur’an dan Sunah Rasul, Siapa yg bisa menafsirkan Al Qur’an sesuai arti yg Allah kehendaki dan Hadis dan Sunah Rasul yg mana akan kita anut?
    Atau secara total, ini lebih sulit lagi. Tdk dpt saya bayangkan akibatnya. Dan utk nomor ini kita tunggu aja Imam Mahdi. Wasalam

    @
    Wah Mas, saya tidak punya kemampuan menjawab pertanyaan seperti ini. Jawaban terlalu lebar, tidak akan tampak fokusnya. Jawaban terlalu sempit, juga menjadi sebuah pembenaran.

    Untuk diskusi dari pertanyaan :
    Kembali kepada Al Qur’an dan Sunah Rasul, Siapa yg bisa menafsirkan Al Qur’an sesuai arti yg Allah kehendaki dan Hadis dan Sunah Rasul yg mana akan kita anut?
    Saya terus terang kadang masih bingung dengan pernyataan siapa yang bisa menafsirkan?. Seolah AQ itu begitu rumit dan susahnya, sehingga hanya orang-orang sakti mandraguna, yang hafal AQ seluruhnya, yang hanya mengerti bahasa Arab dan ahli tata bahasa arab saja yang hanya bisa memahami AQ. Kalau syarat-syarat itu tidak dipenuhi, maka jangan mimpilah untuk memahami AQ. Siapa yang berhak membatasi Rahmatil alamin untuk seluruh ummat manusia ini?.

    Pertanyaan sesuai arti Allah kehendaki?. Pertanyaan ini nggak bisa saya jawab lho Mas. Yang paling sederhana ya, Allah yang tahu dan maha mengetahui. Mengapa?, karena kita tidak bisa “membaca” pencipta kita. Tapi kita diajarkan untuk menjalani jalan yang lurus, yang diridhaiNya. Itupun ketika dijabarkan dalam hubungan antar manusia adalah sederhana-sederhana saja kok. Sabar, menyeru kebaikan, berzakat, beramal shalih, memohon ampun, percaya hari akhir, dll. Tidak rumit-rumit amat. Jadi saya pikir sederhana saja, punya uang seribu rupiah lalu berapa hak orang miskin yang harus saya keluarkan. Kalau bisa lebih, semoga Allah memberikan saya kekuatan untuk beramal, dst… Kalau sholat ngantuk, ya tidur… Inginnya sederhana saja gitu… 😀

    Lalu hadis dan sunnah rasul mana yang akan kita anut?. Duh, kalau saya sederhana saja, kalau itu sesuai dengan AQ dan akal saya untuk memahami, maka saya ikuti, baik dari Imam Ali, ahlul bait, Abu Hurairah, Abu Hanifah, Buchari Muslim, atau Imam Ali ar-Ridha, atau Asy’ariyyah, atau Jaf’ar as Shadiq atau mana saja deh… Nggak hafal. Saya juga terus terang, malas baca urutan periwayatan, matan, dlsb. Nggak ada deh waktu dan kemampuan untuk mengingatnya. Biar saja itu urusan para ahli. Kalau saya baca, lalu menurut saya sesuai dengan AQ dan logis. Begitu juga apa itu datang dari ulama lawas atau temporer nggak perhatikan. Jadi, dari manapun oke-oke saja.

    Wass, agor.

    Suka

  6. Ah, jadi merasa tersentil. baiklah, sebagai fakir pengetahuan agama. ijinkanlah saya sok tau di sini:

    Misalnya gini lho, hukum mencuri misalnya. Kalau agama kan bilang, mencuri ya dipotong tangannya (tentu saja dengan syarat-syarat tertentu). Nah, emangnya dengan dipotong tangannya maka pencurian akan hilang !.

    Entah kenapa untuk urusan ini saya setuju. Meskipun terkesan sadis, nampaknya inilah hukuman setimpal buat maling. kalau perlu Koruptor itu dijatuhi hukuman mati macam yang pernah saya tuliskan di sini. Namun dengan catatan pemerintah harus jujur bersih dan transparan tentunya, dimana tidak ada rakyat yang mencuri karena lapar atau untuk membiayai anaknya sekolah.

    minum itu untuk kepentingan pergaulan. Sudah banyak negeri-negeri maju dan makmur menjadikan minuman beralkohol sebagai minuman penghormatan dan pergaulan. Apalagi di negeri dingin, minuman ini sangat cocok untuk menghangatkan badan.

    Kalau yang ini, andai saja semua manusia memiliki rem yang sama dalam mengekang hawa nafsunya untuk minum. Mungkin sebaiknya yang ini dihalalkan saja. maksudnya halal dengan catatan bahwasnya manusia semuanya punya hati dan kesabaran malaikat. 😀

    Misalnya soal bayar zakat. Sekarang kan zamannya pajak, negara sudah mengatur bagaimana mekanisme pajaknya. Jadi, ngapain bayar zakat lagi. Ini kan namanya double account.

    Kalau pemerintah masih korup sebaiknya zakat saja. kalau pemerintah bersih, apa salahnya bayar dua duanya kalau memang nyatanya zakat dan pajak bisa mengurangi anak miskin dan terlantar.

    Yah, misalnya makanan yang diharamkan. Juga wanita-wanita modern kan sekarang harus hemat. Jadi berpakaian mini itu wajar-wajar saja. Kalau ada laki-laki yang “harras” ya wajar-wajar saja deh.

    Kalau yang ini tergantung budaya lokal deh. kalau semua manusia Indonesia punya respek dan kesadaran tinggi, kenapa harus membungkus para wanita? Apalagi kalau misalnya cuaca memang benar benar panas… tapi sebaiknya untuk hal ini, komentar saya seperti yang soal minuman itu saja deh komentarnya. —> Kalau yang ini, andai saja semua manusia memiliki rem yang sama dalam mengekang hawa nafsunya untuk minum. Mungkin sebaiknya yang ini dihalalkan saja. maksudnya halal dengan catatan bahwasnya manusia semuanya punya hati dan kesabaran malaikat. 😀

    Lalu apa jawaban kita terhadap perubahan jaman nih , boleh pilih atau tambahkan jawaban yang diinginkan

    Mari gunakan akal alias otak alias rasio yang diinstallkan gratis lengkap dengan aplikasi gratis pendukung dan add-ons nya oleh Sang Pencipta sebagai hadiah buat makhluk ciptaanNya.

    Kalau tersesat di hutan lantas hanya ada babi untuk dipanggang, kenapa tidak disikat? Karena kalau itu babi tidak kita makan toh kita akan mati dan matinya konyol alias bunuh diri, dan bunuh diri tentunya akan lebih tolol ketimbang menahan diri untuk tidak makan babi lantas mati kelaparan.

    Lagipula toh Sang Pencipta itu serba Maha bukan? tentunya Beliau yang Menguasai Seluruh Jagad itu juga Maha Pengampun dan maha Pengertian

    Sekian ocehan ga jelas dan sok tahu hari ini.

    @
    Saya suka deh dengan kata :”Mari gunakan akal alias otak alias rasio yang diinstallkan gratis lengkap dengan aplikasi gratis pendukung dan add-ons nya oleh Sang Pencipta sebagai hadiah buat makhluk ciptaanNya”.
    Dari sini, mari kita lihat, bagaimana kita melihat hukum Allah (sebagai contoh potong tangan) dengan hukum manusia, tidak potong tangan !?. Dapatkah kita bandingkan !. Bagaimana syarat potong tangan !, bagaimana fungsi saksi dan pembuktiannya?, berapa persen orang dihukum dan melakukan pencurian kembali, berapa akibat jera dari pelaku dan bukan pelaku terhadap kejadian pencurian yang dibuktikan. Berapa perbandingan pencurian yang dilakukan di satu wilayah yang menerapkan hukum Allah dengan hukum manusia?. Berapa biaya yang dikeluarkan akibat pelaksanaan hukum yang diberlakukan menurut hukum manusia dan hukum Allah.
    Pertanyaan berikutnya, mungkinkah kita melakukan penundaan hukum Allah (seperti terjadi di zaman Khalifah) pada satu masa, karena pertimbangan kondisi masyarakat yang dihadapi. ! Adakah contohnya pada Al Qur’an sesuatu yang dilarang kemudian dibolehkan, dan seterusnya dan seterusnya.
    Perbandingan ini nyaris jarang kita jumpai tersaji dalam satu metodologi ilmiah dalam kewajaran perbandingan. Kita lebih sering membandingkan jeruk dengan apel, bahkan dengan kuda. 😀
    Jika para ilmuwan Islam atau akademisi melakukan dalam contoh dan penelitian yang baik, insya Allah, hikmah-hikmah yang baik dapat muncul…

    Suka

  7. Abudaniel said

    Assalamu’alaikum,
    Berbicara masaalah hukum Allah, sebagai contoh seperti komen saudra-saudaraku diatas cukup menarik.
    1. Potong tangan ?. Setuju!. Untuk menumbuhkan efek jera ( demikian menurut beberapa ulama). Kalau masih mencuri, bukan tangan yang dipotong malah kaki. Kok?. Itulah hukumannya (saya lupa bunyi haditsnya). Kalau tangan kiri pertama yang dipotong, maka untuk pencurian kedua kaki kanan yang dipotong. Inilah keadilan Allah. Kalau kedua belah kiri yang dipotong (tangan dan kaki)maka hilanglah keseimbangan siterhukum. Masih mencuri juga, tangan kanannya dipotong. Eeee mencuri lagi, kaki kirinya yang dipotong. Kalau?… masih mencuri juga maka yang dipotong adalah lehernya (ini orang memang mau mati, habis nggak jera-jera). Inilah hudud dari Allah (demikianlah menurut penafsiran ulama).
    Tapi sebelum menjatuhkan hukuman, maka hakim ( dalam sebuah negara yang melaksanakan hukum Islam)juga harus menghadirkan saksi, menimbang alasan (mana tahu mencuri karena benar-benar terpaksa karena kelaparan, dan yang dicuri juga hanya sekadar penghilang lapar – beda dengan sekarang mencuri sudah menjadi pekerjaan, secara kasar maupun secara halus). Jadi bukan sekadar main tebas saja. Hukum Islam bukan hukum yang zalim. Hukum Islam jauh lebih dulu menganut praduga tidak bersalah. Tidak ada saksi, batal. Walaupun memang benar dia mencuri. Itu terpulang kepada Allah nanti hukumnya.
    Di Indonesia, hukum Allah tidak/belum dapat diterapkan, karena pencuri dengan penghukum (polisi, jaksa dan hakimnya) berprofesi yang sama. Sama-sama pencuri. Yang satu secara kasar dan langsung, sementara yang lain secara halus.

    2. Minum arak/khamar. Hukumannya disebat/dirotan. Ini pernah dilakukan olah Khalifah Umar Bin Khatab. Ini juga setelah mendapat bukti dan saksi. Jadi bukan sebarang sebat/rotan.

    Di Indonesia nggak bisa dilaksanakan. Peminum, saksi, penghukum sama-sama tukang minum.

    Bagaimana kalau dihalalkan saja?. Nggak bisa. Kecuali ada amandemen AQ dan penganuliran hadits Nabi yang shahih terhadap larangan minum khamar. Apa lagi beralasan yang sifatnya situasional dan kondisional. Arak bisa dihalalkan didaerah dingin. Karena bisa menghangatkan tubuh.
    Nanti akan ada pula orang menghalalkan zina, dengan alasan jauh dari istri dan nafsu birahi terlalu besar. Ini yang bikin repot kalau ngikutin pola pikir begini (sekarang memang lagi gencar-gencarnya “diperjuangkan” oleh Kaum Liberalis, termasuk kawin sejenis).

    Sementara ini dulu. Yang lain menyusul kalau ada kesempatan.
    Wassalam,

    Suka

  8. Anonim said

    dunia itu sudah kotor, jangan dikotori lagi !!!

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: