Sains-Inreligion

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Mengapa Ya Allah Mengharamkan ini itu?

Posted by agorsiloku pada Juli 25, 2008

Pertanyaan ini juga aneh?.

Pokoknya yang dimaksud haram di sini adalah nggak boleh.  Kalau dilakukan  artinya melanggar perintah Allah dan kalau ditinggalkan artinya tidak melanggar perintah Allah. (Duh benar nggak ya definisi ini).  Lawannya adalah halal.  Artinya dibolehkan.

Timbul pertanyaan kemudian, mengapa ya diharamkan?.  Alih-alih taat mengikuti perintah Allah, malah mengutak-atik, bertanya, mengapa?.

Maka, karena perkembangan pengetahuan dan bacaan yang dimiliki, maka mulai jawaban-jawaban yang mewakili penjelasan Allah bermunculan.

Karena banyak cacing pitanya, karena kotor, karena emang perilaku hidupnya begini dan begitu.  Karena memabukkan, karena menyebabkan kehilangan pikiran.  Sedikit atau banyak sama saja.  Karena-karena itu adalah produk ijtihad yang menjelaskan sebab-sebab sesuatu dihalalkan atau diharamkan.

Penggunaan akal sebagai usaha mencari jawaban terhadap permasalahan ummat, tentu saja sah-sah saja.  Memang akal itu dipakai untuk mengerti dan memahami kok.    Tidak ada Al Qur’an atau Hadits kalau tidak ada akal.

Yang kadang, boleh jadi kita keselip ketika kita “merasa” telah memperoleh jawaban, kita telah mendapatkan kebenaran… eh pembenaran mengapa sesuatu itu dihalalkan.

Contoh sederhananya, logika dipakai untuk pertanyaan, mengapa khinzir diharamkan Allah.?  karena  itu mahluk itu  kotor, suka lepas tanggung jawab, cacingan, sumber penyakit dan bla…bla.  Kemudian, kalau itu semua direbus dua ratus derajat celcius selama sebulan penuh sehingga yakin se yakin-yakinnya bahwa itu sudah tidak lagi begitu, masih akankah diharamkan?.

Kadang, ada cerita.. Kalau sholat di Mesjidil Haram itu berpahala 100 ribu kali dibanding pahala di mesjid lainnya (Subhanallah, betapa maha berlimpahnya pahalaMu ya Allah).  Terus, logika berkata, itu sama dengan sekian tahun sholat di kampung sendiri.  Kalau begitu, maka bla…bla…bla….

Di sini permainan-permainan akal melogikan melewati batas-batas kalkulasi.  Tidak karena sholat itu berpahala sekian kali, maka sudah lunaslah 🙂  tidak juga karena sholat sepanjang hidup  sehingga digelari ahli ibadah, maka gugur kewajiban berzakat, kewajiban beramal sholeh. Kalau sholat ashar 2  raka’at karena diringkas, ya terus itu kan ada contohnya, terus nggak lah diringkas jadi 1 dan 1 lagi dengan alasan, yang penting jumlahnya 2.

Banyak contoh ketika kita sudah merasa mengerti maka kita mulai mendiktekan petunjukNya kepada manusia lainnya.  Susah ya… akal nafsu memang begitu.

Kadang-kadang, angan-angan jauh melewati batas akal.

Iklan

7 Tanggapan to “Mengapa Ya Allah Mengharamkan ini itu?”

  1. anama said

    Orang-orang yang mepersekutukan tuhan akan mengatakan kalau allah menghendaki niscaya kami dan bapak-bapak kami tidak mempersekutukan allah dan kami tidak mengharamkan sesuatu apapun. Demikianlah orang-orang yang sebelum mereka telah mendustakan hingga mereka merasakan siksaan kami. Katakanlah: adakah kamu mempunyai pengetahuan lalu kamu mengeluarkan kepada kami? Kamu hanya mengikuti persangkaan dan kamu hanya berdusta

    Katakanlah: maka bagi allah hujjah yang kuat, maka jika dia menghendaki niscaya dia memberi petunjuk kepada kamu sekalian

    Katakanlah: bawalah kemari saksi-saksi kamu yang dapat mempersaksikan bahwa sesungguhnya allah telah mengharamkan ini. Jika mereka mempersaksikannya maka janganlah engkau menjadi saksi bersama mereka dan jangan lah engkau mengikuti hawa nafsu orang-orang yang mendustakan ayat-ayat kami dan orang-orang yang tidak beriman kepada hari akhirat sedang mereka menyekutukan tuhan mereka

    Katakanlah: marilah aku bacakan apa-apa yang diharamkan atas kamu oleh tuhanmu: Janganlah kamu mempersekutukan sesuatu dengannya
    Berbuat baiklah terhadap kedua ibu bapak
    Janganlah kamu membunuh anak-anakmu karena takut kemiskinan, kami memberi rezeki kepadamu dan kepada mereka
    Janganlah kamu mendekati perbuatan-perbuatan keji baik yang nyata diantaranya maupun yang tersembunyi
    Janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan allah melainkan dengan alasan yang benar
    Demikianlah yang diperintahkan tuhan kepadamu supaya kamu memahaminya

    Dan janganlah kamu hampiri harta anak yatim kecuali dengan cara sebaik-baiknya sampai dia dewasa.
    Dan sempurnakanlah takaran dan timbangan dengan adil
    Kami tidak memikulkan beban kepada seseorang melainkan sesuai kesanggupannya
    Dan apabila kamu berkata maka hendaklah adil walaupun dia adalah kerabat
    Dan penuhilah janji allah
    Demikianlah yang telah diperintahkannya kepadamu agar kamu mendapat peringatan

    Dan sesungguhnya inilah jalanku yang lurus maka turutlah ia dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan lain, maka kamu bercerai berai dari jalannya. Demikianlah yang diperintahkan allah kepadamu agar kamu bertakwa

    Suka

  2. madopolo said

    @Agor
    Allah menghendaki kita umat yg muflihuun (sukses didunia dan akhirat). Klu dilarang berarti supaya kita jgn cilaka. Allah maha tau, apakah itu mengandung penyakit atau kita akan mengikuti sifat hinjir kita nda tau. Bolehlah kita teliti utk membenarkan Firman Allah tp bkn utk menolak.
    Memang ada yg memaksakan idenya (mendikte) tp kita tdk perlu menerima selama bertentangan dgn yg kita Yakini.
    Satu lagi saya sarankan jgnlah kita beribadah mencari pahala. Wasalam

    @
    Yang terakhir itu, janganlah kita beribadah mencari pahala. Wasalam.
    Hmmm.mm… saya terus terang, bukan sufi,
    Saya berharap keridlaan Allah, ampunannya dan pahala dunia akherat.
    Ingin kaya, makmur, dan masuk surga.
    Allah mengobral janjinya kepada kaum beriman dan mengajak berniaga dijalanNya. Untuk mencapai level mengharap hanya kepada Allah saja, sudah menjadi perjuangan yang rasanya tidak mudah dan tidak konsisten.
    Mengkonsepkan kerja sebagai ibadah saja, sudah … repot deh…
    Jadi, meski saran itu bagus, namun buat saya terus terang… not aplicable…. (apalagi cicilan rumah baru dimulai 😀 )

    Suka

  3. aricloud said

    Assalammu’alaikum

    Kalau kita punya sebuah kreasi, misalkan lukisan. Maka pasti kita juga punya syarat-syarat terhadap lukisan tersebut, misalnya lukisan saya itu tidak boleh kena air, atau tidak boleh di banting-banting, atau harus di simpan di museum, atau harus diberi bingkai dari kayu mahoni, de-el-el.

    Apalagi Allah SWT…Mahluk ciptaan-Nya pun pastilah memiliki syarat-syarat yang berbeda-beda. Dan sebagai pencipta, Allah SWT berhak untuk memberikan aturan berupa halal dan haram atau sunnatullahnya untuk keteraturan mahkluk-Nya.

    Bayangkan jika ambil satu contoh saja : misalnkan Zina itu Halal.
    Maka manusia pasti akan jadi lebih Sinting dibandingkan Singa. Mengapa? lha wong singa aja hidup berkeluarga dengan berpasang-pasangan.

    Lagipula, kita tidak perlu mempertanyakan alasan mengapa Allah SWT melarang ini dan itu serta membolehkan yang lainnya? Karena bukan itu esensinya, tapi ketaatan lah esensi sebenarnya.
    Misalnya, babi itu haram karena memang Allah mengharamkannya. Mengapa Allah mengharamkannya?, tentu Allah Maha Mengetahui. Tentu saja babi itu haram bukan karena babi itu mengandung cacing pita, kotor, dsb. Karena kalau karena itu, maka manusia pun bisa membantah : “Teknologi sekarang memungkinkan kita untuk memakan babi dengan aman” maka apakah babi kemudian jadi Halal?

    @
    Mas Aricloud : …”ketaatan lah esensi sebenarnya…”
    Cuma emang manusia juga yang suka mencari-cari alasannya. Tapi nggak apa-apa juga ya jika sebagian dari alasan Allah SWT mengharamkan dipahami manusia. Asal kita tidak memutlakkan seolah-olah kita sudah mengetahui seluruhnya, bahkan alasan logis dari akal juga jangan dijadikan hujjah bahwa itu penyebabnya, kecuali Allah memang menjelaskan sebab dan akibatnya.
    😀

    Suka

  4. madopolo said

    @Agor
    Hahaha mas Agor agar jgn terlalu dipikirin dapat Surga apa nda, baik kita pegang kata2 Imam Ali. Surga itu milik Allah. Jangan kita mengharap dpt surga krn AMAL kita. Klu dibandingkan Amal kita dng NIKMAT yg Allah berikan, perbandingannya seperti setetes air dgn Samudra.Jd sangat se-kali mengharapkan Sorga krn Amalkita. Yg kita harapkan hanya Rahmat Allah.
    Imam Ali berkata: Sifat manusia beribadah pd Allah 3
    1. Sifat BUDAK. Ia laksanakan krn ada PERINTAH/ LARANGAN
    2. Sifat PEDAGANG, Berbuat sesuatu krn PAMRIH.
    3. Sifat manusia merdeka, beribadah krn mensyukuri nikmat Allah
    Para Imam klu berdoa. “Yaa Allah kalau ibadahku mengharap surgamu maka jgn masukkan Aku kedlmnya. Dan Apabila takut pd Neraka maka masukkan Aku kedlm. Tetapi semua amal perbuatanku hanya ingin melihat WAJAHMU. Wasalam

    @
    karena itu, pingin dapat surga, karena mendapat ampunanNya. Kalau karena amal kita, rasanya seeh kok sok amat, amal sa emprit dosa sa gunuuuuung, kok ngarep pahala?. Saya sama sekali nggak bilang, masuk sorga karena amal kita, tapi mengharap dapat masuk surga dan diampuni dosa yang seabreg.
    Lha, Allah dalam AQ jelas dan begitu menjelaskan bahwa orang beriman, meminta ampunan dosa, bertaubat, mengakui keesaan Allah, dlsb-dlsb Yah begitulah.

    Kalau para imam itu atau seperti R. Adawiyah berdoa sambil tidak mengharap surga dan meminta jangan dimasukkan ke dalamnya. Entah karena mereka memang bisa asyik masyuk dengan Sang Penciptanya… sulit deh saya bayangkan.

    Biarlah itu urusan imam itu sendiri. Kalau saya sangat mengharap ampunanNya dan dimasukkan ke dalam surga. Saya takut kepada neraka dan ancamanNya, apalagi dosa-dosa terus saja berjalan terjerembab lagi terjerembab lagi. Kalau saja Allah tidak berpesan untuk tidak berputus asa pada rahmat Allah, mungkin sudah berputus asa… 😦 semoga nggak lah, karena saya percaya ampunanNya lebih besar dari murkaNya…

    Jujur saja Mas, saya nggak ngerti kok Imam itu bisa mengajarkan begitu kepada generasi berikutnya?. Atau itu sebagai bahasa komunikasi orang shaleh selevel imam Ali kepada Allah yang tidak bisa diartikan dalam konsep tekstual sederhana dengan cara berpikir orang seperti saya gitu. Imam Ali tidak takut pada Neraka dan minta dimasukkan ke dalamNya bukan karena ia tidak takut pada neraka, tapi lebih karena pernyataan cintanya kepada Allah. Itu sih pikiranku.

    Tapi, kalau Nabi Muhammad pernah berbicara seperti ini nggak ya?.

    Namun, teriring salam untuk Mas Madopolo yang sudah mampu berada pada level yang luar biasa tingginya…..

    Suka

  5. perempuannya said

    Angan-angan melewati batas akal? yup, seringkali!!
    Ada baik buruk pada halal dan haram. Ada hak dan keajiban disana, ada tujuan mencipta kekseimbangan.

    Soal pahala saya rasa tak usah terlalu dipusingkan bang, kita serahkan perhitungan ini kepada yang paling berhak menghitung.
    Soal sholat di Masjidil Haram saya kira cukup logis. Jalan untuk bisa sholat disana kan juga butuh niat, usaha, pengorbanan dan IKHLAS. Karena Allah itu maha teliti perhitungannnya, maha adil dan maha pemberi, adil. Maka muncullah angka 1000 kali melalui sabda Nabi. Tapi bukan berarti saat hal tersebut sudah bisa dilakukan kita berhenti.

    Masih ingat kata-kata Rasulullah? “Beribadahlah seperti akan mati besok, Berkerjalah-berusahalah seperti akan hidup 100 tahun lagi”

    Suka

  6. madopolo said

    @Agor
    Mas semua penjelasan logis sekali. Terima kasih
    Saya ingin menyampaikan sebuah hadis yg saya temukan dalam buku Imam Jalaludin as-Suyuti dalam bukunya:”Ihya’ al-Mayyit fi Fadha’il Al al-Bait yg diriwayatkan dlm buku hadisnya no 2920 bagian ke 8 juz I. Beliau menisbatkannya kepada Ad-Daylami melalui Abdullah ibn Ahmad ibn Amir yg bersumber dari ayahnya, Ali ibn Musa ar-Ridha dari Ali bahwa Rasul pernah bersabda:” ADA 4 ORANG YG AKU BERI SAFAT NANTI PADA HARI KIAMAT, yaitu: orang yg memuliakan anak keturunanku,orang yg memenuhi ke-butuhan2 mereka, orang yg menolong urusan mereka ketika mereka sangat membutuhkan pertolongan dan orang yg menyintai mereka dengan hati dan lisan yg tulus(HR Ad-Daylami).
    Mas ini saya sodorkan agar dpt meringankan beban mas seperti
    komentar mas pd saya no 4. Klu menurut hadis ini kan nda berat. Ini bukan hal yg serius hanya informasi kok. Wasalam

    @
    Trims Mas Madopolo. Saya setuju benar, Hadis ini nda berat. Hadis ini boleh jadi sejalan dengan QS Al Mudatsir 42-46. Syafaat diberikan juga dengan seizinNya. Kita tinggal menangkap kelogisan hadis itu dan komparasi dengan AQ.
    Wassalam, agor

    Suka

  7. Abudaniel said

    Assalamu’alaikum,
    Mengharap surga tidak dilarang.
    Bukankah kita diajar berdoa …..Ya Tuhan kami, masukkanlah kami kedalam sorga bersama kaum “Al-Abrar”.

    Mengenai kenapa Allah melarang ini dan itu. Sebenarnya hanya untuk menguji sampai dimana ketaatan kita. Bukannya Allah tidak tahu. Tetapi supaya umatnya tahu siapa yang taat dan siap yang membangkang.
    Padahal larangan itu, ditaati atau tidak ditaati tidak ada pengaruhnya dengan keMaha Agungan Allah dan keMaha Perkasaannya.
    Itu semua akan dikembalikan kepada manusia atu umat itu sendiri.
    Jangan ditanyakan kenapa. Tidak akan terjawab. Karena contohnya, dikatakan babi itu haram “karena mengandung cacing pita”. Lha kalau cacing pitanya dapat dibersihkan dari daging babi, apa babi jadi halal?. Ya tidak lah. Karena bukan itu alasannya.
    Khamar/Arak/alkohol, haram karena memabokkan. Kalau minumnya tidak tidak memabokkan apakah jadi halal?. Juga tidak.
    Patuhi larangan, kalau betul beriman. Jangan tanya sebab dilarang.
    Wassalam,

    @
    Larangan adalah ujian, ada juga karena sebab untuk kemashalatan. Namun, muncul pertanyaan, mengapa karena sebab kemashalatan. Kalau begitu mengapa ada?. Jawabnya kembali pada pernyataan pertama seperti mas sampaikan, untuk menguji….
    Terimakasih untuk catatannya.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: