Sains-Inreligion

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Kun Fayakun Versus Sim Salabim

Posted by agorsiloku pada Juni 18, 2008

Saya tidak paham bahasa Arab, jadi yang saya pahami Kun Fayakun itu seperti kata guru kelas saya dulu : Bila Allah menghendaki, cukuplah berkata “Jadilah”, maka terjadilah.  Saya juga tidak mengerti mengapa pemahaman “Jadilah” itu kemudian menjadi “Sim Salabim – Ada kadabra”, seperti seorang tukang sulap yang mengeluarkan kelinci dari topinya.  Namun, tentu saja kelinci tukang sudah ada, entah dimana.  Penonton tidak tahu dan tidak mau tahu, apakah kelinci itu ada dari ketiadaan lalu menjadi ada karena tongkat pesulap 😀 .

Apakah ada perbedaan pemaknaan pemahaman kita dengan kata “Jadilah” sebagai bentuk perintah pada objek yang dikenai perintah sehingga kata “Jadilah” menjadi sebuah kejadian tanpa proses, langsung muncul begitu saja.  Dengan kata lain, kalaupun ada proses, maka seluruh proses itu berlangsung seketika, tanpa jeda waktu.

Itu juga yang menjadi pertanyaan besar para ilmuwan tentang penciptaan awal alam semesta dari suatu yang tidak diketahui (anggap saja ketiadaan) kemudian bleg… dalam waktu diperkirakan kata ilmuwan hanya sepersekian milyar detik.  Konsep-konsep penciptaan berada pada waktu seketika dan juga merupakan proses panjang (bahkan sangat panjang) sampai milyaran tahun yang dalam sebagaian proses itu, termasuk proses-proses di masa lalu, dapat diamati oleh manusia yang kemudian hidup milyaran tahun kemudian. (penjelasan dari Sama, Ardh, Ma, Qalam, terurai di tulisan Prof A. Baquini ini)

Namun, setidaknya yang saya mengerti bahwa prinsip “Jadilah” adalah perintah pada objek yang dikenai perintah dan terjadinya adalah sesuai dengan kehendakNya.  Namun, proses itu kadang kita bisa memahami, dan sebagian lain kita tidak memahami.  Nabi Adam diciptakan dari tanah (QS 3:59).  Seperti penciptaan Isa.  Kita tahu Nabi Isa memiliki Ibu, proses mengandung, sampai kemudian lahir.  Apakah Nabi Adam juga begitu?.  Wah, saya nggak berani deh berspekulasi.  Kalaupun seperi Nabi Isa dilahirkan, berarti Nabi Adam juga dilahirkan?, cuma ngkali.. 😀  yang jadi ibu ya bumi itu.  Tempat segala mahluk hidup bertumbuh dan hadir (menjadi ada).  Sebuah pemahaman yang kalau saya tak salah diusung oleh Agus Mustofa. (koreksi ya jika pengertian ini keliru).  Ini juga membuat bingung juga ya, sehingga kemudian bertanya, kalau begitu di surga mana Adam pertama kali diciptakan?.

Banyak contoh lain, juga perihal pembalikan proses (bagaimana manusia dibangkitkan), 4 ekor burung yang dicincang kemudian dipisahkan tubuhnya kemudian dipanggil dan datang (QS 2:260).  Ini tanpa kita pahami prosesnya.

Namun, yang mungkin lebih baik kita memahami bahwa proses penciptaan itu bisa dipahami sebagai tanpa jeda waktu dan banyak dari proses penciptaan itu melalui tahapan-tahapan proses seperti layaknya manusia yang lahir dari rahim ibunya, seperti bagaimana bumi dihidupkan.

Pemahaman seperti ini, buat agor perlu untuk memahami apa yang dimaksud dengan Kun…

Iklan

22 Tanggapan to “Kun Fayakun Versus Sim Salabim”

  1. Ya saya susah memahaminya dalam penegertian anthropomistis, kalau dalam wilayah Ilahi dapat ‘diamini’ itu pun terbatas persepsi kita tentang kejadian, waktu, dan hakikat ‘jadilah’. Barangkali ruwet bermula, proses dan waktu dalam ukuran manusia berbeda dalam tindak Allah SWT. Kenimkatan sebagai manusia justru pada keterbatasan, bukankah begitu?

    Suka

  2. yudhisidji said

    walau dalam kalimat yg sangat sederhana saya pernah menulis bila “kun” tidak sama dengan sim salabim. saya berkecenderungan untuk mendekati pemahamannya, yang pertama dengan mengumpulkan seluruh ayat (semampunya) yang memuat kat “kun”. setelah itu kita analisakan. bila satu ayat saja dianalisa dengan hadits,saiyen,asbabun nuzul dst bisa jadi pada akhir bahasan saat muncul satu ayat lain atau lebih bisa menimbulkan masalah baru.

    atau bisa dengan menganalisa content atas obyek seperti bang agor sampaikan, tapi harus menyertakan ayat2 pendukung, misal seperti yg sudah dikutip @agor di 3:59, ada kata “kun”.
    kemudian adam dan isa yg diciptakan dari “turab”. ada baiknya “turab” ditulis apa adanya dulu, sekali lagi kumpulkan ayat2 yg memuat “turab”. setelah ada pengertiannya tanpa ada pertentangan ayat satu dgn yg lain, insya allah makna “kun” di ayat itu semakin dekat dst…dst.

    yang perlu dicermati bahwa terkadang (saya yakin semua lebih tahu)ayat satu dgn yg lain seperti “tidak akur”, ini karena ada kelemahan terjemah atau penafsiran.

    salam

    Suka

  3. haniifa said

    Duhh… agak bingungg neeh D: , kata nyah….
    Pria := xx
    Wanita := xy

    Disisilain…
    Spermatozoa (baca: QS 77:20) yang melaju cepat bakal janin pria (xx) dan…. spermatozoa yang melaju lambat bakal janin wanita (xy), tapi bisa-bisa diproduksi pada “TESTIS” pria ??

    Apa kalau bigituh proses nyah := Pria adalah wush…. penghasil bakal janin (xx) dan (xy) ??
    Selanjutnya jika proses itu tidak terjawab…
    STOP dulu baru baik nyah !!
    ————————————– End Komen-komen 8)

    Next…
    Proses kelahiran Nabi Isa a.s dan Nabi Adam a.s ????

    Wassalam, Haniifa.

    Suka

  4. haniifa said

    @mas Yudhisidji
    Gimana mas, apa bisa “mengakurkan” yang tersirat dan tersurat dari (QS 32:8) adalah sama persis dengan (QS 77:20)… ?!

    (Buat para Abu pasti sama dengan sayah… “AKURNYA”… bahwa yang dimaksud adalah “Pria“) 😀

    Wassalam, Haniifa.

    Suka

  5. haniifa said

    @mas Yudhisidji
    Maaf.. keluar gambar 8)

    Kemudian Dia menjadikan keturunannya dari saripati air yang hina (air mani) ( QS 32:8 )

    Bukankah Kami menciptakan kamu dari air yang hina ? ( QS 77:20 )

    Suka

  6. haniifa said

    @mas Yudhisidji
    Hallo… anybody home !!! 😀

    Bukankan Allah jika berkendak -KUN- dan terjadi setiap milidetik tak terhitung jumlahnya, tersirat dan tersurat pada [QS 32:8] dan [QS 77:20] ??

    Suka

  7. haniifa said

    @All
    Allah berfirman pada Surah
    ___________________________
    Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang gaib; tak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir biji pun dalam kegelapan bumi dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata [QS 6:59]

    Selanjutnya…

    Bila Allah menghendaki, cukuplah berkata “Jadilah”, maka terjadilah. (baca: QS 36:82)

    1. Bukankah sehelai daun “cocor bebek” yang jatuh akan menjadi tanaman cocor bebek.
    2. Bukankah biji kelapa yang jatuh dan seandainya terbawa oleh air laut, kemudian tumbuh menjadi pohon kelapa (baca: mayoritas ditepi pantai)

    Sedemikian rupa hingga…
    Allah Maha berkehendak… dan tidak pernah terbayangkan dalam satuan waktu dan satuan kwantitas/kualitas dalam akal dan fikiran manusia.

    Alangkah baiknya, jika :
    Sesungguhnya misal (penciptaan) Isa di sisi Allah, adalah seperti (penciptaan) Adam. Allah menciptakan Adam dari tanah, kemudian Allah berfirman kepadanya: “Jadilah” (seorang manusia), maka jadilah dia (QS 3:58)

    Just It’u saja !!… Ojo neko-neko
    Wassalam, Haniifa.

    Suka

  8. haniifa said

    @All
    Tapi kalau diskusi mengenai “Kun fayakun” yang direlasikan pada, sbb,…

    Spermatozoa (baca: [QS 77:20]/[QS 32:8]) yang melaju cepat bakal janin pria (xx) dan…. spermatozoa yang melaju lambat bakal janin wanita (xy), tapi bisa-bisa diproduksi pada “TESTIS” pria ??
    Ovarium adalah resesif (xx dan xy) saja ?!

    Kayaknya asoy geboy…. dech !!! 😀

    Salam hangat, Haniifa.

    Suka

  9. Donny Reza said

    Pemahaman saya tentang “Kun” itu sendiri sebetulnya memang melalui proses, meskipun tidak mustahil bagi Allah. Akan tetapi, terutama untuk persoalan kehidupan di dunia, saya masih berpendapat, “Kun” itu tidak akan menyalahi hukum sebab-akibat. Saya sebetulnya agak risih ketika seseorang mengatakan, “Kalau Allah menghendaki, Kun Fayakun”. Memang, benar. Hanya saja, saya kira Allah pun akan melakukannya ‘selogis’ mungkin. CMIIW.

    Suka

  10. haniifa said

    Mungkin penjelasan “Kun fayakun” ini masih agak abstraktif, namun tidak ada salahnya sebagai gambaran sim-salabim mas Pesulap 😀

    Allah berfirman dalam surah An Naml 40:
    _______________________________________
    Berkatalah seorang yang mempunyai ilmu dari Al Kitab: “Aku akan membawa singgasana itu kepadamu sebelum matamu berkedip“. Maka tatkala Sulaiman melihat singgasana itu terletak di hadapannya, iapun berkata: “Ini termasuk kurnia Tuhanku untuk mencoba aku apakah aku bersyukur atau mengingkari (akan nikmat-Nya). Dan barang siapa yang bersyukur maka sesungguhnya dia bersyukur untuk (kebaikan) dirinya sendiri dan barang siapa yang ingkar, maka sesungguhnya Tuhanku Maha Kaya lagi Maha Mulia”. [QS 27:40]
    Selanjutnya…
    Yang menjadi fokus-nya bukanlah bagaimana proses pemindahan singgasana Ratu Balqis, namun waktu/kecepatan pemindahan yang begitu sangat cepatnya bagi Nabi Sulaeman a.s…. dan hal ini lebih tidak terbayangkan lagi waktu/kecepatan disisi Allah bagi manusia dibumi,
    Sebagai bayangan, maka Allah menurunkan surah As Sajjah 5:
    Dia mengatur urusan dari langit ke bumi, kemudian (urusan) itu naik kepada-Nya dalam satu hari yang kadarnya (lamanya) adalah seribu tahun menurut perhitunganmu. [QS 32:5]

    Seperti apa kata mas Donny Reza, “Kun” itu tidak akan menyalahi hukum sebab-akibat… .
    Namun sekali lagi saya tekankan bukan “Kun Fayakun” nya yang menjadi point of view melainkan sebab-akibatnya (Object), sebagaimana ajakan saya pada komentar sebelumnya.

    Wassalam, Haniifa.

    Suka

  11. haniifa said

    Duhhh… dasar pelupa 😀
    Saya menggunakan kata fokus-nya dengan point of view, maksudnya supaya tidak menimbulkan “dikotomi”.

    Suka

  12. yudhisidji said

    @haniifa…
    ndak usah terburu-buru….
    anda cermati 7:189-190 lagi…..
    ndak perlu malu…. yang mengatakan yang bikin hidup manusia yg nulis teori xx dan xy itu…

    @donireza..
    saya setuju dengan anda

    Suka

  13. haniifa said

    @mas Yusdhisidji
    Waahh… 😀
    Siapa yang malu ?!
    dan…
    Siapa yang terburu-buru ?!

    Suka

  14. haniifa said

    @mas Yudhisidji
    Jadi ragu neeh….
    Apa mas ini, pakai kamus Bhs. Indonesia jaman “Urdu” gituh !! 😀
    ————————–
    haniifa Berkata:
    Juni 19, 2008 pada 4:39 pm

    Duhh… agak bingungg neeh D: , kata nyah….
    Pria := xx
    Wanita := xy
    (baca: komen saya no:3)
    —————————

    Sim salabim…
    Abrakadabra…..
    Wushhh…
    agak bingungg := “ndak perlu malu” 😀

    Suka

  15. Aburahat said

    Menurut saya KUN FAYAKUN adalah suatu tindakan Allah terhadap kehendakNya tdk dpt kita pikirkan tdk ada sebab dan akibat seperti apa yg kita perkiraan. KUN FAYAKUN terjadi atas kehendek Allah dlm menciptakan sesuatu. Begitu jg dgn kata yg didahului dg SUBHANALLAH. Akal kita terhenti memikirkan
    KUN FAYAKUN terhadap nabi Adam dan Nabi Isa berbeda. KUN pd Nabi Adam setelah proses sedangkan KUN pd Nabi Isa sblm proses. Wasalam

    Suka

  16. haniifa said

    Wahhh… jadi agak lebih bingungg neeeh 😀
    KUN FAYAKUN adalah suatu tindakan Allah terhadap kehendakNya tdk dpt kita pikirkan tdk ada sebab dan akibat seperti apa yg kita perkiraan.
    Jelasnya…
    Stop memikirkan sebab akibat….

    lalu…
    KUN pd Nabi Adam setelah proses sedangkan KUN pd Nabi Isa sblm proses.

    SEBAB setelah… lalu AKIBAT proses setelah
    dan…
    SEBAB sebelum… lalu AKIBAT proses sebelum

    Duhh… kapan stop nyah 😀

    Suka

  17. Bagi sebagian besar orang, kun fa ya-kun adalah sebuah bentuk pengakuan atas kuasa Tuhan yang tanpa batas. Juga, sebuah bentuk kepasrahan pada ilahi. Ya, diksi yang termaktub dalam surat Yasiin ini memang dimaknai sesuai terjemahan tekstualnya: “jika Tuhan berkehendak maka jadilah sesuai kehendak Tuhan.”

    Artinya, semua detail peristiwa dan kejadian yang terjadi di muka bumi ini sesungguhnya merupakan skenario Ilahi. Tak ada yang tidak!

    Diksi Kun fa ya-Kun, memang sebuah bentuk dukungan terhadap terminologi takdir. Namun, saya gelisah ketika melihat fenomena bahwa diksi ini kemudian justru dijelmakan sebagai sebuah tool (alat) “kepasrahan membabi buta” sebagian besar saudara seiman sesama muslim. Bahkan, ada yang sampai pada taraf begini: “sedahsyat apapun upayamu jika Allah tak berkehendak tak akan pernah terwujud cita-citamu, sebaliknya jika kau sudah memasrahkan segalanya pada Allah, niscaya mudah bagi-Nya untuk berkata Kun fa ya-Kun. Jadi, maka jadilah.”

    Saya gelisah karena konsep kepasrahan yang semacam itu cenderung meredam daya juang untuk maju. Saya gelisah lantaran ukuran-ukuran kemajuan duniawi juga akan dinafikan. Padahal, manusia hidup di alam materi. Bukan semata hidup di alam spiritual.

    Mengapa saya gelisah?

    baca di sini:
    http://kalipaksi.wordpress.com/2009/03/27/kun-fa-ya-kun/

    Suka

  18. khaerul Anwar B said

    Ah, menurut pendapat saya sih, Kun fa ya-Kun adalah gambaran sebagai petunjuk bahwa Allah adalah mahakuasa. Manakala Allah menghendaki terwujudnya “sesuatu” yg se-spektakuler atau se-njelimet apapun proses yg menurut akal manusia dibutuhkan guna mewujudkan “sesuatu” tsb, atau bahkan yg dianggap “mustahil” sekalipun, bagi Allah semua itu adalah perkara yg begitu mudah dan hanya dengan berfirman “Kun”, maka terjadilah hal tsb.

    Kun fa ya-Kun adalah salah satu tanda-tanda kemahakuasaan Allah swt dalam mencipta segala sesuatu, baik yg TAK PERLU melalui proses maupun segala sesuatu yg MEMBUTUHKAN proses.
    Disamping “Kun fa ya-Kun”, Allah juga mengajarkan kita “sunatullah”. Dengan memahami tanda-tanda ke-mahakuasaan Allah, manusia yg cerdas niscaya dituntun-Nya untuk beriman dan tunduk/patuh/taat pada-Nya. Sementara dengan memahami “Sunatullah”, yakni terwujudnya segala sesuatu sesuai prosedur, proses dan “aturan main” yg diberlakukan-Nya, seyogianya akan mendorong manusia untuk tergerak melakukan ikhtiar guna mendapatkan segala sesuatu yang diinginkannya.

    Dalam memahami agama, terkadang kita menempatkan paradigma “logika” dan “iman” secara kurang proporsional. Jika kepada kita diajukan pertanyaan ttg “adakah peran logika yg menyebabkan Abu Bakar r.a. langsung percaya pada isra mi’raj Rasulullah?” mungkin jawaban kita akan berbeda-beda.

    Menurut hemat saya, peran logika dalam kasus tsb justru sangat besar. Abu Bakar ra begitu cerdik menggunakan dan menempatkan logikanya secara tepat. Logikanya, bagi Abu Bakar yg tahu persis bahwa Rasulullah adalah sosok yg jujur, terpercaya serta masih harus berjuang untuk mengajak orang-orang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, mustahil menyampaikan sebuah dusta tentang sesuatu yg jelas-jelas tidak masuk akal siapapun, kecuali yg disampaikan tsb adalah siddiq -benar adanya!. Kalimat “bahkan hal yg lebih spektakuler dari itupun, jika beliau yg mengucapkannya, aku percaya!” adalah alasan logis dan konsekwensi logis dari kenyataan bahwa seorang “al-amin” yg sekaligus diyakininya pula sbg seorang Rasul Allah, mustahil berdusta. Bagi mereka yg logikanya terfokus pada “kisah isra mi’raj”, jelas akan sulit untuk langsung menyatakan “percaya”.

    Saya yakin jika kita mampu menempatkan logika dan keimanan kita pada proporsi yang tepat sesuai tatanan yang seharusnya, insyaallah tidak akan bingung atau terperangkap oleh jebakan yang menyesatkan menyusul diusungnya berbagai keniscayaan yg kerap dinilai irrasional dan perlu ditinjau ulang sesuai perkembangan, kemajuan dan perubahan zaman.

    @
    Apalah kata.. yang Mas Khaerul sampaikan, agor hanya bisa angguk-angguk saja… Salam.

    Suka

  19. Anonim said

    Adam diciptakan dari tanah karena itu ia dinamai Adam yang berarti Tanah. Sedangkan Nabi Isa al Masih atau Yeshua al Masiah diturunkan (bukan diciptakan) ke dalam rahim Mariam bukan oleh sperma laki-laki melainkan Rohul Kudus, bisa dilihat di Surat Mariam. Karena itu dikatakan bahwa Nabi Isa dikandung tanpa noda/dosa. Sepertinya hal ini tidak mungkin menurut pengertian manusia tetapi Tuhan berkata “apa yang tidak mungkin bagi manusia itu mungkin bagi Allah”. Karena Tuhan pencipta semesta alam Ia tidak bisa dibatasi oleh ciptaanNya baik itu hukum alam maupun pikiran manusia. Karena Nabi Isa tanpa dosa maka Dialah yang paling cocok untuk menebus dosa manusia. Kalau kita tidak percaya Dia dan mengakui Dia maka kita tetap membawa dan memikul dosa kita yang harus kita pertanggungjawabkan pada hari penghakiman. Binatang korban bakaran tidaklah cukup untuk menebus dosa kita. Seandainya ada orang menganiaya atau membunuh orang yang Anda cintai puaskah Anda apabila si penganiaya atau pembunuh itu memberikan seekor kambing sebagai ganti rugi? Kalau kita manusia yang berdosa tidak puas, bagaimana perasaan Allah Tuhan kita yang Maha Suci???

    Suka

    • Hardoko Insan Qudus said

      kalau begitu apa gunanya Nabi Muhammad SAW dilahirkan ke dunia ini ? Karena dalam Islam Nabi Isa AS tidak ditugaskan untuk menebus dosa dan Nabi yang HANYA diutus untuk Bani Israil. Menurut Al Quran Nabi Adam AS……….Nabi Nuh AS…….Nabi Ibrahim AS ……….Nabi Musa AS …….Nabi Isa AS dan Nabi Muhammad SAW adalah ISLAM. Menurut AlQuran : Agama yang diakui dan diridhoi disisi Allah SWT hanyalah ISLAM.

      Suka

      • agorsiloku said

        kalau begitu apa gunanya Nabi Muhammad SAW dilahirkan ke dunia ini ?
        He…he…, pertanyaan yang menarik, tapi ya jelaslah… Nabi Muhammad membawa risalah yang kemudian dikenal sebagai Al Qur’an. Pada dirinya, terdapat suri tauladan yang baik. Begitu Al Qur’an mengabarkan.
        Soal penebusan dosa,… ya itu ada dalam kekristenan. Agama Islam, setahu saya tidak mengenalnya. Setiap orang bertanggung jawab atas perilakunya masing-masing. Yang berhak mengampuni dosa manusia pada manusia, ya manusia itu sendiri. Dosa kepada Sang Pencipta, ya diampunkan oleh Sang Pencipta. Upaya manusia mengurangi dosa, minta ampun, amal shaleh, berzakat, dan tentunya ibadah vertikal.

        Suka

  20. like this

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: