Sains-Inreligion

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Pulang dari “Hiatus”

Posted by agorsiloku pada Juni 5, 2008

Beberapa hari perjalanan pekerjaan yang penuh urusan dunia sepenuhnya, kembali membaca postingan dan komentar yang — alhamdulillah — lebih ramai malah dari biasanya. Rasanya jadi malu, begitu banyak telah disuguhkan rekan-rekan, namun ternyata belum sempat juga bersilahturahmi balik. Untunglah kesabaran dan kesediaan sedikit canda banyak dilemparkan. Karenanya, teriring selalu terimakasih menyemangati dan mengajarkan banyak hal dari lantunan komentar yang diberikan. Ada kurang lebih 10 halaman komentar (pages) yang panjang dan pendek dan sebagian lagi, karena keterbatasan waktu (OOT untuk menambah catatan komentar) serta limpahan pandangan dari rekan blog lainnya, maka tambahan catatan dari agor malah akan merusakkan alunan diskusi yang sedang berjalan.

Yang menggembirakan, selama pada blog ini “hidup” adalah kemampuan yang begitu tinggi dari rekan untuk guyon, saling memaafkan, dan santun yang menjadi warna dasar dari penyampai berita. Semoga karenanya, Allah SWT merahmati rekan semuanya yang sudi berbagi dan menambah wawasan bagi agor dan semua yang sudi berkunjung ke sini.

Banyak komentar dari satu tema postingan yang sesungguhnya lebih layak isinya dari postingan. Diskusi yang terjadi juga, bagi saya khususnya lebih merupakan sebuah dialektika berpikir yang secara bertahap saling melengkapi dan mencerahkan. Rasanya ingin mengedit kembali dan menjadikan postingan baru. Sayang saat ini begitu terbatasnya kesempatan untuk mengerjakannya. Namun, semoga dikejap lain bisa diurutkan kembali.

Beberapa memang ke luar dari jalur postingan, seperti juga balasan komentar saya juga, kerap keluar jalur sehingga beberapa syech bersedia turun gunung untuk meluruskan. Tentu ini hal yang membahagiakan sekaligus mengingatkan.

Penuhi dengan Ayat Suci.

Tidak terlalu juga, namun banyak dari tema postingan yang dibuat memang berada pada kriteria ini. Bukan tidak percaya pada logika dan akal, namun memang postingan yang dibuat adalah “bertanya” tentang ayat suci dalam konteks (sebagian) pada lingkaran ilmu, ilmu pengetahuan, dan pengetahuan. Saya sengaja bedakan ilmu (miliknya pakar), ilmu pengetahuan (pengetahuan berlandaskan ilmu), dan pengetahuan (belum tentu berlandaskan ilmu). Basis dasarnya tentu saja sesuai tema, sains – in religi. Maksudnya sekedar tampak gaya (ini format marketing) dan melihat dunia dalam kacamata keimanan. Bukan untuk mentidakkan, tapi harapannya memperkuat keimanan dan pengertian-pengertian yang bisa diraih dari agama, khususnya agama Islam.

Sebagai media terbuka, saya juga menghindari dan sangat menghindari untuk mendiskusikan antar agama. Selain merasa bukan pakarnya, apa yang ada di bilik hati masing-masing dalam hubungannya dengan Sang Pencipta janganlah sampai tercemari oleh hal-hal yang kemudian menyakiti sesama. Biarlah waktu dan pada waktunya yang membuktikan.

Sekali lagi, terimakasih atas kesudian berkunjung dan bertegur sapa. Terimakasih juga kritik dan sarannya serta diskusinya yang begitu hangat dan mencerahkan.

Salam,
dan beribu maaf serta semoga Allah meridhoi tempat ini sebagai salah satu usaha sederhana untuk meraih piala pahala akhirat…..

agor.

(terimakasih untuk semua kontributor, mas Haniifa, Mas Aburahat, Mas AbuDaniel, Mas Maiden, Mas 49, Mas Dono, Mas Elza, Mas Budi, Mas Rafi, Oom Webersis, Mas Erander, Mas Truth Seeker, Mas Kin, Anonim, Mba Nadiah, Mas Indra, Mas Yudhisidji, Mas Herianto, Mas Oka, Mas Abdullah, Mas Bagus, Mas Santri, Mbak Nunik, Mas Andre, dan semuanya).. sudah yang sudi berkunjung ke blog agor dan juga untuk Mr. Matt WordPress yang memberikan kesempatan untuk punya blog ini…..

Iklan

11 Tanggapan to “Pulang dari “Hiatus””

  1. alex® said

    Welcome back, Mas 🙂

    Suka

  2. aburahat said

    @Agor
    Selamat muncul kembali. Insya Allah kami semua mengharapkan mas dlm keadaan Sehat wal Afiah dan selalu dlm lindungan Allah SWT. Terima kasih atas tanggapan mas pd kami. Mudah2an dg adanya Blog ini kita dpt menyambung silaturrahmi walaupun hanya dgn kata2, tanpa mengenal secara fisik. Anggaplah hubungannya jiwa.
    Saya ingin menambahkan krn ada komentar mas mengenai sciens and Religions. Kita mencari kebenaran mempergunakan AKAL. Biasanya para Ilmuwan mencari kebenaran dari data2 yg ada utk menpt kebenaran tapi kita umat Islam berusaha membenarkan kebenaran yg sdh ada. Bagi saya dan saya yakin semua umat Rasul demikian cara mengembangkan ILMU

    Suka

  3. haniifa said

    Alhamdulillah….
    Udah balik toch 😀
    Gimana mobil mewah nyah,…
    Terutama nyang mogok bertahun-tahun, apa sudah bisa menggelinding gituh !!

    @
    mobil mewah jalan siih, tapi pelan…. kami lagi ngeliat lagi untuk ganti ke versi baru yang lebih lengkap asesorisnya…. sambil merancang erp buatan sendiri…..

    Suka

  4. haniifa said

    Syukur Alhamdulillah…
    Pelan juga nggak apa-apa khok mas, toch…jalanan nyah juga banyak yang berlubang.
    Insya Allah, jika nemu jalan yang mulus dan lurus… tinggal tancap gas… 😀
    Ohc… yach.
    Soal bawa ban serep, bagus tuh… siapa tahu kempes di perjalanan !!

    @
    Betul Mas Haniifa, setelah bergelut di mobil mewah…. lama-lama saya terkonsep masalah-masalah yang selama ini menjadi kesulitan, bagaimana menghubungkan data dokumen teks, gambar, pelanggan, supplier, sdm, transaksi, ledger, other account sampai pengendalian inventory lengkap dengan segala susunannya dan pergudangannya dalam satu pengendalian yang terintegrasi. Malah kalau diijinkanNya,…rasanya lebih baik jadi pedagang saja. Pedagang yang membuat mobil sendiri. Bukankah sampai sekarang kita belum punya ERP yang diakui di kancah International…. 😀

    Suka

  5. haniifa said

    Subhanallah…
    Ide yang sangat mulia mas…
    Sungguh saya baru bisa mendo’akan saja, semoga cita-cita mas Agor menjadi kenyataan… apalagi sampai ke kancah Internasional.
    Insya Allah, walaupun gelar tikarnya di “warung sendiri”… suatu saat bisa go public.

    Salam hangat selalu, Haniifa.

    @
    Trim’s apresiasinya. Memang seeh saya tidak punya kapasitas untuk itu… hanya me too product.
    Namun, ada hal yang kemudian sedikit terpahami bahwa menjadi ahli dalam pemograman dan analisis data saja, ketika bertempur di kancah bisnis real, maka harus memahami bukan sekedar relasi database, form, dan menu-menu yang njilmet, tapi juga hubungan-hubungan antara setiap fakta-fakta bisnis di lapangan.

    Memadukan keterampilan pemograman untuk menghasilkan program yang baik sudah banyak dihasilkan dalam modul-modul yang sepotong-sepotong, namun menyatukan konsep-konsep bisnis itu dalam satu sistem terintegrasi adalah persoalan yang penuh tantangan tersendiri.

    Kadang, saya jadi berpikir, alangkah bagusnya pendidikan IT di Indonesia justru mempelajari juga beberapa SKS pemahaman sistem bisnis internasional dan variable-variable sistemnya sehingga ketika seorang programer membuat satu modul, maka modul itu bisa dikembangkan tanpa henti sampai tercapai integrasi sistem tanpa bongkar pasang habis-habisan lagi….

    Kemarin waktu hiatus, saya sempat ke Drupa Messe, wah di sana software manufactur untuk printing sudah sangat maju. hiflex, dim!s, printvis, kodak, dan lain-lain. Bidang yang sebenarnya saya yakin banyak jago-jagonya di Indonesia, namun karena pemahaman proses bisnisnya masih tersendat, Konsultan IT Indonesia sering bekerja nanggung untuk kebutuhan jangka pendek. Ataukah memang ini watak kita ya…

    Salam hangat selalu, agor

    Suka

  6. Haniifa said

    Maaf mas, ini menurut saya pribadi… setelah sekian lama kita ngobrol sambil ngombe kopi… 😀
    * Memang seeh saya tidak punya kapasitas untuk itu *

    Menurut mas :
    Namun, ada hal yang kemudian sedikit terpahami bahwa menjadi ahli dalam pemograman dan analisis data saja, ketika bertempur di kancah bisnis real, maka harus memahami bukan sekedar relasi database, form, dan menu-menu yang njilmet, tapi juga hubungan-hubungan antara setiap fakta-fakta bisnis di lapangan.

    Gimana kalau menurut saya ??
    * Memang seeh saya sedikit punya kapasitas untuk itu *
    Duhh… kawanku ini ternyata selain pinter teori bisnis, disisi lain juga memahami binis real, yang melibatkan dunia IT.

    Menurut mas :
    Memadukan keterampilan pemograman untuk menghasilkan program yang baik sudah banyak dihasilkan dalam modul-modul yang sepotong-sepotong, namun menyatukan konsep-konsep bisnis itu dalam satu sistem terintegrasi adalah persoalan yang penuh tantangan tersendiri.

    Selanjutnya menurut saya ??
    * Memang seeh saya sedikit banyak punya kapasitas untuk itu *
    Duhh… kawanku ini ternyata selain banyak memahami dunia IT, ternyata mamahami juga bagaimana seharusnya memadukan dua konsep yang berbeda sehingga menjadi harmonis.

    Gimana kalau kita sepakati dulu pengandaian ini ?!
    __________________________________________________
    Seandainya saya mahir main gitar, tentu nada dasar dan iramanya mesti selaras dengan mas Agor sebagai vokalis… dunk 😀

    Wassalam, Haniifa.

    Suka

  7. agorsiloku said

    Salam Mas Haniifa, yang pintar bermain gitar, dan saya “vokalis”-nya.
    Memang kurang lebih begitu. Sebagai vokalis, kemudian dalam praktek “bernyanyi” sehari-hari kemudian saya tahu bahwa saya harus belajar lebih banyak lagi untuk memahami bahwa ternyata suara piano atau gesekan biola dari sebelah kiri berbeda dengan gitar yang dipetik di sebelah kanan. Kemudian, kita tahu bahwa suara-suara yang dihasilkan saling berinterferensi sebelum sampai ke gendang telinga pendengarnya. Harmoni dari sebuah orkestra bisnis inilah yang membuat ERP menjadi sebuah program yang sangat mahal dan implementasinya juga menjadi rumit.
    Namun, serumit apapun sebuah proses bisnis, pada dasarnya artikulasinya haruslah ditampilkan sederhana dan mudah dipahami.
    Menyederhanakan itu juga masalah, tanpa kehilangan kekuatan dan keindahannya….

    Suka

  8. Haniifa said

    Salam Mas Agor,…
    Jadi inget… para gitaris “pavorit” dan sebagian “vokalis” sayah 😀
    1. Lee Ritenour piawai dalam jenis musik jazz… tapi vokalnya 😛
    2. Santana piawai dalam jenis musik R&B plush soul… tapi vocal 😛
    3. Eric Clapton piawai dalam jenis musik R&B… vokal 😉 tapi rasanya lebih klop jika dibarengi suara-suara musik yang mas sebutkan.
    Disisi lain ada…
    4. Chris Rea kurang piawai dalam hal gitar… tapi vokal 😉
    5. Michelle Branch kurang piawai dalam hal gitar… tapi vokal 😉

    Ini guyonan… sajah
    Biar kata mereka pavorit berat, tapi nggak lah… harus nonton mereka dalam satu panggung maen bareng-bareng dan masing-masing dengan corak & style nyah !! … (apalagi jika nontonnya sedang sakit gigi… 😀 )
    Lalu gimana dunk….
    Duhh… sakit gigi ini rasanya agak terobati, jika masing-masing personel manut dan turut terhadap corak & style vokalis nyah…

    Tapi saya kagum juga, sama mas Eric Clapton saat manggung bawa gitar dan nyanyi sendiri lho…

    Suka

  9. Haniifa said

    Biarpun gratis…
    Asal vokalis-nya mas Chris Rea… yang main gitar dan beryanyi sendiri.
    atau…
    Asal vokalis-nya mba Michelle Branch… yang main gitar dan bernyanyi sendiri.

    Mau..mau… 😀

    Suka

  10. haniifa said

    @mas Agor
    Setelah saya baca berulang-ulang…
    Insya Allah, analogi kali ini bisa lebih membuka cakrawala karena saya modelkan dalam bentuk kenyataan.

    Harmoni dari sebuah Orkestra bisnis Blog

    Bagaimana ?

    Wassalam, Haniifa.

    Suka

  11. haniifa said

    @Mas Agor
    Walaupun kita cuma bisa lagu “Potong bebek angsa, masak dikuali”, tapi biarpun produk “lokalan”… ada kenangan manis tersendiri khan !! 😉

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: