Sains-Inreligion

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Yuk Kita Makan Rawon SETAN……………

Posted by agorsiloku pada April 23, 2008

Bah… Namanya sedikit mengiriskan hati, nggak enak didengar dan berkonotasi buruk. Tapi.. tak apalah sekali kali makan rawon, meskipun namanya setan. Berhenti depan Hotel bintang 5 JW Mariot, bersama rekan saya menikmati rawon SETAN. Rasanya cukup enak. Yang makan di situ jelas manusia, ada yang berjilbab ada yang berkeluarga. Apapun yang menjadi namanya, yang terpampang pada papan nama : “SETAN”, faktor rasa dan keunikan memang pilihan setan manusia manusia, khususnya tamu dari restoran ini.

Ilmu-ilmu marketing dan persepsi memang kadang berantakan dibuatnya. Kita tahu ada makanan enak Ayam Pak Sholeh Pandaan yang lokasinya sangat tidak strategis, masuk ke jalan desa dari jalan utama hampir lebih dari satu kilometer. Berjubel lagi pengunjungnya. Entah sekarang !. Lokasi tidak menempati arena khusus ketika keunikan dimiliki oleh produsen. Batagor Bandung yang kemudian terkenal itu, di awalnya bertahun-tahun yang lalu justru letaknya hanya di sebuah gang saja, sempit dan pekak di bilangan sebelah selatan Bandung. Kalau tidak salah awalnya di jalan kopo, kemudian jalan jatayu, dan bertumbuh meluas. Namun ramai dikunjungi.

Saya juga ingat, kalau jalan-jalan ke daerah Selatan Jawa, Kalau nggak salah arah ke Kota Tulung Agung, ada jualan ayam pedas di desa. Jaraknya dari jalan utama cukup jauh (beberapa kilometer) dan jelek lagi jalannya. Tapi di situ banyak rumah makan, khusus jualan ayam pedas.. (duh lupa namanya).

Seperti juga kalau pulang kembali dari arah Toraja ke Makassar, sebelum masuk makassar ada banyak jualan apa.. itu.. seperti ubi/singkong yang digoreng itu. Yah.. seperti banyak tempat di Indonesia, ada selalu makanan-makanan khas yang menarik simpati untuk dicicipi. Ada hal yang unik di situ meskipun penamaannya tidak seunik Restoran Setan itu (jadi ingat hotel Iblis… eh Ibis…) 😀

Di kelas-kelas besar industri, persepsi bergerak tak tentu arah. Gudang Garam itu memang gambar gudangnya garam, bukan rokok. Namun persepsi mengalahkan segalanya, kalau rokok ya gudang garam. Iklan Sampurna juga tidak jelas juntrungannya, tapi hanya mencari sensasi dan sulit dihubungkan antara bangunan persepsi dan produk. Toh berjalan begitu saja. Semua sukses dengan langkah-langkah uniknya. Mungkin konsistensi, mungkin lainnya. Jelas, teori-teori marketing agak kelabakan juga ketika menerjemahkan psikografis manusia. Tentu tidak semuanya salah, karena teori adalah produk pengetahuan manusia menilai dan mengamati sesuatu…..

Kembali ke Rawon Setan… rasanya lumayan… cukup enak untuk kelas rawon, dagingnya dipotong besar-besar…. kalau tidak ingat berat badan… bisa-bisa kesetanan deh…. 😀

Iklan

9 Tanggapan to “Yuk Kita Makan Rawon SETAN……………”

  1. haniifa said

    Waahh… saya kayaknya kena ilmu santet marketing neeh.
    Setiap makan Batagor Bandung, inget postingan mas agor.. 😀

    @
    Duh.. jadi rindu lagi batagor neeh….

    Suka

  2. fahmi! said

    sayang, rawon setan itu buat aku agak mahal. kayaknya nggak sebanding deh antara level kenikmatan dg harga yg mesti terbayar (imho).

    @
    memang rada-rada mahal… untung saja saat itu ditraktir…. 😀

    Suka

  3. ndarusi said

    klo lewat tulung agung jgn lupa nyicipin ” sego lodho” dan nasi pecel pake trasi dele .. mak nyuuus… salam knal bwt pak agor

    @
    Kalau ke Tulung Agung…insya Allah.. mo cari sego lodho….
    Salam kenal kembali.. 😀

    Suka

  4. Abudaniel said

    Salam,
    Rawon setan?. Mungkin nanti ada nyang nyiptain minuman dengan nama “Lumpur Neraka” dan “Gulai Lidah Vampire”.
    Yang jelas, sekarang sudah beredar “Kripik Setan” ( di Sukabumi? )satu bungkus harganya Rp. 500,–, bahannya dari ubi singkong ditaburi bubuk cabe rawit.

    Wassalam,

    @
    Kripik setan … yang pedes itu… sudah nyoba… sampai tersedak-sedak… 😀

    Suka

  5. haniifa said

    @mas Abudaniel
    Ha.ha.ha.
    Pantasan Angkatan Laut Amerika Serikat buat “Naval Medical Research Unit (NAMRU)” sejak tahun 70-an di Indonesia, rupanya negara produsen film jorok “drakula yang takut tiang jemuran”, mempersiapkan para “Vampire”nya jika migrasi ke Indonesia agar tidak diburu menjadi “Gulai Lidah Vampire”… 😀

    Suka

  6. agusdd said

    kayaknya salah bikin nama tuh bung. aturan SANTET, bukan setan, soalnya ane’ jadi tergiur menyantapnya. 🙂

    btw satu porsi berapa yach….

    @
    😀 makan berempat… kalau tak salah di atas seratus ribu rp…

    Suka

  7. wong cakep said

    oooh, untung makanan diatas g ada yang dikasih nama “PUAS”. Kalo pake’ nama ini, dijamin abis makan g pernah balik lagi. wakakaka…

    @
    😀

    Suka

  8. Chiw said

    waks… kok ngicip rawon setan ndak kabar2 saya Kang? kan deket sama tempat saya… [-(

    kan bisa saya traktir…
    😀

    @
    😀 wah.. nanti kalau ke surabaya lagi… mau deh ditraktir….

    Suka

  9. iwan said

    kalo aku setuju bgt tuh nama rawon setan… tp bkn krn bukanya malam hari. nama itu sangat pas dan kita baru sadar ketika kita uda slese makan n nunggu mbak kasir yg ketus n cuek bilang harganya… baru deh kita bilang SETAAAANNNN…. rasa n harganya bener2 gak sesuai…

    @
    Kalau begitu nama yang pas. Kemarin saya lewat Depok, eh ketemu juga Rawon Setan, tapi nggak mampir, takut ketemu mbak kasir itu… 😀

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: