Sains-Inreligion

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Tidak Membutuhkan dan Tidak Menyerupai Apapun

Posted by agorsiloku pada Maret 24, 2008

Kata ini sederhana dan artinya esa, tunggal. Cukup banyak juga ilmuwan islam yang menegasi pemahaman ini. Jadi, ini hanyalah sekedar mengulang-ngulang saja. Namun, kalau salah, tolong koreksi ya.

Tidak Membutuhkan.

Sederhananya, kita butuh makan, kita butuh minum, butuh rekreasi, butuh pengakuan atau apa saja untuk menikmati atau merasakan kehidupan. Jantung kita butuh asupan darah, paru-paru butuh asupan oksigen, begitu seterusnya sampai segala hal dalam kehidupan mahluk membutuhkan segala jenis mahluk lain untuk berkolaborasi menjalani segala sesuatunya. Bahkan untuk makanpun kita butuh sejumlah bakteri yang jumlahnya bisa ratusan juta hanya untuk seorang manusia 😀

Belum lagi unsur-unsur ukuran-ukuran yang didisain didalam rumus genetika manusia yang harus menjelaskan kapan sehelai rambut akan berwarna putih atau kondisi rontok yang bisa terjadi. Pada waktu kapan, dan tentu saja lokasinya pun harus terdefinisi jelas. Jangan sampai rambut di bawah kumis tumbuh di atas kulit kepala 😀 Kalau mau lebih ke ranah lebih bawah lagi, di situ ada atom. Dia juga untuk menjadi atom butuh netron, proton, positron, elektron. Lebih ke dalam lagi, fisikawan mulai bertanya tentang gluon, muon, sampai cita rasa partikel paling elementer. Dia menjadi ada karena ada dukungan dari partikel lain yang paling elementer sampai-sampai alat ukur apapun yang bisa dibuat manusia tak mampu lagi mengukur kekecilannya. Namun hanya diyakini ada !.

Kehidupan manusia di alam ini jelas membutuhkan saling dukung, bersubstitusi dan saling membutuhkan untuk menjadi sesuatu. Jadi singkat kata, tidak ada satupun yang mengatakan “saya” mandiri tak membutuhkan apapun.

Tidak Menyerupai Apapun.

Segala hal yang bisa kita pahami karena kita mempunyai perbandingan atau satu acuan untuk menjelaskan, agar akal bisa memahami. Kita tahu besar karena kita kenal mislanya yang kita bisa bedakan Rini dari Rina karena masing-masing punya ciri. Ciri itu ada dalam bayangan kita, ada dalam akal berpikir kita. Jadi kita punya acuan. Perbandingan yang menjadi pengetahuan dalam otak berpikir kita menjadi acuan terhadap apa yang kita pahami atau objek apapun yang kita lihat, rasakan, atau sentuh.

Lalu bagaimana dengan pengetahuan “Tidak setara apapun”. Pemahaman ini artinya apa saja yang kita bayangkan atau kita pahami, maka pastilah “bukan itu”. Tidak menyamai dalam hal apa saja, baik itu rupa, bentuk, ukuran, atau apa saja. Apa saja yang kemampuan manusia membayangkan atau meng”akal”kannya, maka dipastikan bukan itu.

Termasuk membayangkan dengan akal tentang ahad ?.

Saya kira begitu juga. Maka tak layak kita membangun bayangan, termasuk batas kasih sayangNya atau pun batas kekuasaanNya tanpa dibarengi kesadaran hati bahwa apa yang dapat kita jelaskan sejelas-jelasnya sebenarnya “tidak lebih dari” atau “bukan itu” yang dimaksud. Karena tidak ada setara dengan apapun, maka penjelasan apapun juga menjadi “bukan itu”. Mungkin mirip atau mendekati tapi tetap jelas “bukan itu”.  Dan kita tidak pernah tahu batas yang kita kenali sebagai “bukan itu”

Kita sebenarnya mengenal dari apa yang kita mendapatkan informasi dari apa juga yang tidak setara dengan apapun itu menjelaskan keberadaanNya. Dari nama-namaNya dan maha karyaNya kita mengenalNya. Itu dengan catatan pengenalan yang “bukan itu”.

Di sisi lain,

Jujur saja seeh, saya kurang sreg dengan “usulan” atau komentar “maha pencemburu”. Mengapa?. Rasanya kok nggak nyaman ya, membandingkan persepsi manusia dengan persepsi ketauhidan. Kita pahami saja dengan akal tentang sifat-sifatNya… kita pun masih dibatasi bahwa kemampuan akal kita untuk memahami “bukan itu…”.

Namun, memang repot berurusan dengan manusia. Percayalah Allah maha penyayang, maha pengasih, maha berkuasa, maha pengampun, maha suci, lebih dari apa yang bisa dibayangkan oleh seluruh akal manusia.

Iklan

13 Tanggapan to “Tidak Membutuhkan dan Tidak Menyerupai Apapun”

  1. haniifa said

    Singkat kata “Perniagaan dengan Allah pasti menguntungkan, selama mengikuti sunatullah dan sunahrasul” 😀

    @
    😀

    Suka

  2. zal said

    ::lalu bagaimana kita mengenalNYA saat kembali…, sedangkan pada yang disempurnakanNYA juga memiliki ciri itu…, apakah tidak keharusan bagi kita menemukan minimal sebagian ciri yang sangat kita kenali…dan itu dikatakanNYA ini AKU…itu AKU…
    kemarin saya di mall, terpisah dengan isteri…, begitu tatapan saya pada bentuk isteri, meskipun itu lumayan jauh jaraknya, saya mengenalinya…saya dekati, dan memang isteri saya..
    saya bersyukur…, Terima kasih Allah, mengajariku tentang pengenalan…saya tersenyum sendiri…

    @
    😀 terimakasih dapat pelajaran baru. Lama tapi always New….

    Suka

  3. ariss_ said

    Sebagai ciptaan-Nya, saya tetap tidak bisa menekan hasrat untuk tidak “membayangkan-Nya”, padahal Tuhan yang ada dalam pikiran bukanlah Tuhan, ya tho? Bingung saya…

    Salam,

    @
    Ketika hasrat itu ada, maka kita mengetahui itu adalah “bukan itu”. jadi kita tahu yang dibayangkan juga bukan itu. Kalau selalu bertemu dengan bukan itu, kenapa kita membayangkan karya ciptaNya sebagai bagian dari kita mengenalNya. Sama dengan saya mengenal teman saya atau keluarganya atau mengenal Kawasaki, Honda… bukan tentang orang Jepang yang membuat mobil dan motor itu, tapi dari karya-karyanya. Juga tentu dari namaNya. Nama-nama yang diajarkan kepada kita….

    Suka

  4. haniifa said

    Salam,
    Memang godaan hasrat untuk “membayangkan-Nya” bisa timbul dalam benak, hal yang wajar memang …kita di ilhamkan fujur dan taqwa silih berganti per sekian detik bahkan. Namun bila kita menyelami dan menghayati Firma Allah dibawah ini, Insya Allah godaan tsb akan sirna.
    Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya dari pada urat lehernya, (QS 50:16)
    (yaitu) ketika dua orang malaikat mencatat amal perbuatannya, seorang duduk di sebelah kanan dan yang lain duduk di sebelah kiri. (QS 50:17)
    Selanjutnya kita ekspresikan dalam bentuk ….bersyukur.
    Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur. (QS 16:78)
    Wasalam.

    @
    Wass.wr.wb
    Jujur nih… pengalaman lama, ketika mencoba membayangkanNya terjadi justru ketika tidak mengenal ciptaanNya….
    Benar sekali…. agar kamu bersyukur… ini yang kadang khilaf ….
    Wass, agor.

    Suka

  5. Ayruel chana said

    Kalau andaikata…….Pencipta nampak dengan mata dunia kita yang lemah ini………seperti khayalan orang2 kafir(non islam)berupa patung dsb.

    Hmmmmmm…Jelas itu bukan sang pencipta.karena bisa dilihat oleh mata kita.
    Segala sesuatu yang kita lihat,mempunyai cacat,kelemahan dsb.
    Pencipta harus punya titel : tanpa Kelemahan

    Tapi :QUL HUWALLAHU AHAD
    Nggak ada lagi yanglainnya
    Nggak ada pencipta selain dia

    LA ILAAHA ILLALLAH
    LA ILAAHA ILLALLAH
    LA ILAAHA ILLALLAH

    Saudaraku…Minta’lah kepadanya supaya bisa mengenalnya.
    Karena hanya dia yang bisa…….
    Kalau kita pinta untuk mengenalnya,tentu saja dia akan beri.
    Nggak mungkin lah dia pelit….(soal sepele baginya)
    Tinggal anda menjalani prosesnya saja……

    Selamat menjalani….

    @
    😀 Salam selalu. !

    Suka

  6. Donny Reza said

    Meskipun jarang, tapi pernah juga membayangkan bentuk-Nya itu seperti apa sih? tapi sudah tidak pernah saya lakukan lagi…menyerah saya. 😀

    @
    Sebuah pengalaman…. kita tahu bahwa kita tidak mampu untuk melakukan hal ini.
    😀

    Suka

  7. Haniifa said

    Salam,
    @mas Donny Reza
    Sama saya juga … 😀
    Kadang ketika suara adzan berkumandang…
    Allahu Akbar
    Allahu Akbar
    Lalu saya membayangkan kebesaranNya…sangat terasa sulit.
    Seandainya kita membayangkan lingkup satu RT mungkin terbayang.
    Selanjutnya kita perluas satu RW…,satu Kelurahan…., satu Kota,…,satu Negara…,Satu Benua…Semua mungkin terbayang dengan bantuan visualisasi gambar.
    Lalu bagaimana membayangkan “langit dan bumi” ??
    Mereka (orang-orang kafir) berkata: “Allah mempunyai anak”. Maha Suci Allah, bahkan apa yang ada di langit dan di bumi adalah kepunyaan Allah; semua tunduk kepada-Nya. (QS 2:116)
    Wassalam.

    Suka

  8. Elza said

    Assalamualaikum Wr Wb

    Alam semesta ini tiada mungkin ada jika tiada yang menciptakan, jangankan alam semesta yang maha luas ini, segelas air saja tidak mungkin ada jika tidak ada yang ‘menuang’ air ti gelas itu.

    Bumi, bulan, planet, galaksi dan benda2 langit lain (yang tak berakal itu) tak mungkin bergerak sedemiian teratur hingga detik-perdetik jika tiada ada yang Mengatur.
    Dari benda mati berupa Bumi ini, tiada mungkin tumbuh mahluk hidup jika tiada ada yang Menghidupkan.

    Allah, Tiada Tuhan selain Dia.
    pemimpin adalah satu, jika tuhan ada lebih dari satu pasti akan berperang dan saling menghancurkan, sehingga bumi yang indah ini tiada mungkin tercipta walau cuma sedetik, tetapi kita lihat bumi terpelihara sekian ratus juta tahun hingga milyar tahun.

    Dia Yang Awal, tiada diperanakkan sesuatupun, Dia ada sebelum segala sesuatu ada.
    Dia Esa Zatnya, Sendirian sebelum segala sesuatunya ada, tiada ada yang sejenis denganNya, Dia tiada beristri dan tiada beranak.

    Dia Yang Menciptakan segala sesuatu, maka Dia tiada menyerupai dan tiada dapt disamakan/ diserupakan dengan apapun juga.
    Bukankah manusia tidak mau dan memang tidak bisa disamakan dengan kursi/meja atau benda-benda buatan manusia kan?

    Dia Maha Kuasa, tiada butuh sekutu dalam bentuk apapun.
    Dialah yang menciptakan segala sesuatu di alam semesta, maka tidak ada sesuatupun di alam semesta ini yang boleh disembah sebagai tuhan.
    KepadaNyalah segala sesuatu bergantung.

    Dia Maha Kekal dan Maha Mewarisi, tiada butuh keturunan dalam bentuk apapun.

    kenalilah Dia dengan mengenali ciptaanNya, dan jangan sekali-kali berfikir tentang ZatNya, bahkan hanya sangat sedikit ciptaanNya yang dapat kita kenali/pelajari dengan otak kita yang bagai sebutir atom dialam semesta ini.

    sesungguhnya kehidupan dunia ini hanya sekejap mata, tidak akan sampai 100 tahun, tidak ada sekeping uangpun yang kita bawa mati, hanya amal yang kita bawa mati, dan akhirat itulah negeri yang kekal, tergantung pilihan kita mau mengikuti jalan kekal di Surga atau jalan kekal di Neraka.
    jangan ragu jika Qur’an sudah berkata seperti itu, karena yang menjamin adalah Allah yang Maha Kekal.
    semoga kita ingat ketika kelak saat malaikat penjaga pintu neraka berkata kepada orang2 kafir, apakah tidak ada nabi yang diutus kepada kalian, sesungguhnya telah ditetapkanNya neraka yang kekal bagi orang kafir, maka mintalah pertolongan kepada apa yang kalian sembah (batu, manusia, jin, matahari, benda keramat dsb) jika mereka mampu menolong kalian dari azab ini.

    Astagfirullah hal Adzim…

    Semoga kita diberikan Allah kekuatan untuk mengikuti jalan kebenaran dan membimbing keluarga kita di jalan kebenaran pula.
    Semoga kita dan keluarga kita kelak diRidhoi Allah SWT sehingga dapat mencapai Husnul khatimah.
    Amiin..Ya Robbal Alamin

    Assalamualaikum Wr Wb

    @
    Subhanallah… lengkap sudah penjelasan ini…

    Suka

  9. haniifa said

    @elza
    Amiin.

    Suka

  10. Ayruel chana said

    ALLAHU AKBAR

    Terpaku,terfana Tiada sandaran ….hanya engkau….ALLAHU AKBAR

    Suka

  11. amburadul said

    ketika Nabi Musa ingin bersua dg sang pencipta……? setiap detak jantung kita, setiap desah nafas kita, setiap langkah kaki kita, setiap apa yang kita rencanakan….. goal akhir…semua berharap pasti ingin sukses.!!! tapi ketika kesuksessan tak dapat diraih, raib alias RAJA IBLIS merasuk kedalam hati kita dan berbisik :(“lu cape2 sholat wajib, tahajud, puasa senen kemis, beramal soleh, buktinye apa yg kau minta pada ALLAH kagak dikasih…kacian dech lu…..”) Sang pesuluk yang bertaqwa tdk akan pernah goyah imannya. ia yakin dg seyakin-yakinnya suatu saat nanti pasti akan bertemu dg sang penguasa jagat raya… sekalipun setiap harapannya tdk pernah dikabulkan.. ia yakin apa yg diberikan Allah itulah yg terbaik..
    Semoga saja.. kita tidk diuji dg hal yg berat2 Amin…

    @
    Saya juga berharap menjadi salah satu pesuluk itu, betapapun banyaknya kesalahan yang telah dibuat dan dapat memanfaatkan pintu ampunanNya yang masih dibukakanNya…. Amin.

    Suka

  12. […] Sebuah renungan yang menarik untuk disimak : […]

    Suka

  13. aburahat said

    Allah tdk membutuhkan apa2 dr makhluknya. Tapi kita setiap detikda setiap helaan napas membutuhkanNya. Tetapi Dia mempunyai keinginan dari hambanya. Allah tdk menyerupai apapun sehingga kita tdk bisa membayangkanNya.Tetapi kita bisa membayangkan melalui SIFAT2NYA. Dan apabila kita mau mengenal Allah, maka Allah siap memperkenalkan diriNya. Jd nda usah repot dan bingung

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: