Sains-Inreligion

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Penyelewengan Manfaat Rekayasa Tubuh

Posted by agorsiloku pada Februari 29, 2008

Sumber Intisari.

Sejak ditemukan, rekayasa genetika bisa disebut sebagai ilmu pengetahuan yang berkembang paling pesat pada akhir milenium ini. Sementara cabang ilmu yang dipercaya menyimpan rahasia kehidupan ini tak pernah lepas dari masalah teknik, ia pun didera serangan komersialisasi.

Salah satu contoh terbaru lompatan besar yang dibuat manusia di bidang rekayasa genetika ini adalah temuan imunolog Ellen Heber-Katz anggota American Association for Advancedment of Science di Philadelphia (Kompas 22 Februari 1998). Awalnya hanya satu prosedur standar laboratorium; melubangi daun telinga mencit untuk memulai eksperimen menggandakan sklerosis (jaringan yang mengeras). Tiga pekan setelah dilubangi ternyata daun telinga mencitnya pulih kembali, tak berlubang. Tindakan pengulangan pun, memberikan hasil serupa.

Setelah berdiskusi dengan ilmuwan lain, ia menyimpulkan, proses itu bukan sekadar penyembuhan normal luka, tetapi hasil regenerasi jaringan. Proses yang biasa hanya terjadi pada jenis amfibi, semisal katak, yang bisa meregenerasi tungkai.

Bersama koleganya, Ellen mencoba menerjemahkannya ke dalam praktek penyembuhan yang sesungguhnya. Menurutnya, perubahan telah terjadi pada mamalia, seperti mencit itu. Meski terjadinya masih pada mencit yang dibiakkan secara khusus, timbul ide bagaimana kalau kemampuan tubuh mencit melawan kanker dikembangkan menjadi kemampuan meregenerasi tungkai?

Ellen menduga, regenerasi pada mencit-mencitnya ada hubungan dengan reaksi kekebalan, namun belum dapat memastikan seberapa jauh peran reaksi kekebalan dan seberapa jauh akibat mutasi gen.

Membongkar sel tua
Sementara itu The Sunday Times (15 Januari 1998) mengabarkan, seorang ilmuwan AS lainnya telah berhasil menyingkap rahasia penuaan. Dari “main-main” dengan materi genetik, mereka menemukan “sumber zat awet muda” untuk membuat sel manusia hidup lebih lama.

Usaha memperpanjang usia sel manusia dipandang akan sangat bermanfaat bagi penanggulangan penyakit-penyakit yang berkaitan dengan keuzuran. Tim Dr. Woodring Wright, profesor biologi sel di University of Texas, Dallas, menggunakan enzim telomerase. Enzim ini dihasilkan oleh sel kecambah, seperti sel telur dan sperma, dan mempengaruhi telomere (ujung kromosom). Kromosom sendiri, seperti diketahui, membawa gen-gen atau “cetak biru” manusia.

Sebagian kecil telomere ternyata hilang setiap kali sel biasa pada tubuh manusia membelah diri. Namun karena sel normal tidak menghasilkan enzim telomerase, telomere tidak tumbuh lagi. Tim Dr. Wright berhasil menemukan cara untuk menumbuhkan kembali telomere ini dengan menggunakan enzim telomerase.

Tahun lalu tim Dr. Wright mampu membuktikan, hilangnya telomere berkaitan dengan keuzuran. Dengan telomerase, mereka yakin bisa meregenerasi telomere – sehingga penuaan (setidaknya di tingkat sel) dapat dihentikan. Namun, ia cepat-cepat mengingatkan, “Ini tidak berarti manusia dapat hidup selamanya.” Karena matinya sel hanya salah satu saja dari sekian banyak proses yang membuat seseorang menjadi tua.

Namun, penemuan itu dapat membantu memperpanjang usia sel dengan cukup berarti. Kebutuhan akan sel yang jauh lebih panjang umur dari yang sampai kini ada, memang amat dibutuhkan oleh para terapis gen dalam usahanya menyembuhkan pasien berpenyakit yang menurun, misalnya cystic fibrosis. Dalam terapi ini yang biasa dilakukan adalah mengambil sel-sel si pasien, memasukkan gen sehat ke dalam sel-sel itu, lalu mengembalikannya ke tubuh pasien. Diharapkan sel yang telah dimanipulasi itu akan mengambil alih peran sel-sel yang membawa kelainan penyakit tadi. Sayangnya, seringkali sel-sel sehatnya keburu “menua” di saat terapis selesai menanganinya, sehingga mati sebelum bisa berbuat banyak.

Dengan mencegah kematian sel, proses telomerase diharapkan juga akan merangsang sel-sel bekerja lebih baik. Timnya telah mencoba pada sel kulit, retina, dan kulit bagian dalam arteri. Hasilnya, semua sel tumbuh telomerenya bersifat normal tanpa tanda-tanda menjadi kanker.

Andaikan proses penuaan ini arena peperangan yang penuh misteri, maka rupanya manusia menyerang untuk menguakkan tabirnya dari segala penjuru. Profesor Stephen A. Krawetz dari Fakultas Kedokteran Wayne State University, “menembaknya” dari kasus-kasus progeria.

Progeria atau Sindrom Progeria Hutchinson-Gliford adalah mutasi yang mengakibatkan proses penuaan berlangsung segera setelah kelahiran. Hanya dalam waktu 7 tahun pengidapnya sudah mengalami keriput kulit, penyakit jantung, katarak, patah atau retak tulang yang tak kunjung sembuh, dan tanda-tanda pikun. Para penderitanya sering dalam ikatan keluarga. Rata-rata usia penderita cuma mencapai 13,4 tahun.

Pertumbuhan manusia normal dapat digambarkan seperti gunung. Tahap pertama meningkat, mencapai puncak (saat manusia berumur 20-an), kemudian tiba tahap kedua menurun. Dengan sendirinya, jika proses penuaan dapat dihentikan saat manusia berada di puncak, kemudaannya akan bertahan.

Penderita progeria dipilih karena kelainan ini adalah contoh tepat, di mana jam penuaan diputar dengan kecepatan amat tinggi, sehingga proses penguzuran berlangsung jauh lebih cepat daripada yang normal terjadi. Asumsi yang diambil Krawetz, semua gen yang berkaitan dengan proses penuaan adalah bagian dari respons normal karena suatu mekanisme kontrol telah hilang. Maka bila semua gen serempak “dipadamkan”, sehingga responsnya tadi terhenti, untuk dibiarkan berkembang normal, proses penuaan tidak akan terjadi.

Bila penanda progeria dapat ditemukan, Krawets akan mampu mencari jalan mematikan proses penuaan cepat akibat progeria. Jika berhasil, berarti telah ditemukan pula cara menghentikan semua jenis penuaan. Demikianlah, kiprah manusia dalam ilmu yang satu ini tak urung mengundang decak kagum.

Gen buruk pun bisa baik
Karena rekayasa genetik, diharapkan bukan hanya penyakit menjadi masa lalu, tapi orang dapat memilih jenis anak yang diinginkan dari katalog. Namun, sementara kemajuan ilmu tak sedikit, pemahaman mendasarnya masih sering dipenuhi pro dan kontra.

Sebagai contoh, ada pendapat, gen tunggal bertanggung jawab atas sifat khusus, mulai warna mata hingga kecerdasan. Malah, beberapa waktu lalu banyak orang dikejutkan dengan ditemukannya gen yang konon menandai apakah orang mudah depresi atau berperilaku homoseksual.

Padahal, menurut Stanton Peele Ph.D dan Richard DeGranpre Ph.D dalam tulisan My Genes Made Me Do It, “Keliru sekali bila kita mengira hanya ada gen tunggal di balik berbagai pembawaan manusia yang kompleks, seperti orientasi seks, perilaku antisosial, kelainan mental macam schizophrenia atau depresi.”

Sedang pembawaan yang sesederhana tinggi badan saja ternyata ditentukan oleh beberapa pasang gen. Belum lagi peran lingkungan. Mengapa anak-anak muda Jepang yang berusia 20 tahun rata-rata lebih tinggi 15 cm daripada generasi kakek mereka pada usia yang sama? Bukan karena mutasi gen, melainkan perubahan diet nasional bangsa itu. Jadi “keturunan” bukan segalanya.

Apalagi, gen yang buruk pun dapat bersifat baik. Gen haemoglobin S, misalnya, yang diwarisi dari kedua orang tua dapat menyebabkan si anak menderita anemia sickle cell, penyakit yang melumpuhkan dan menyebabkan mati muda. Tapi jika hanya gen tunggal yang terdeteksi, muncul kondisi asimptomatik (kecenderungan mengidap), yang justru membuat pengidapnya tahan terhadap malaria.

Maka tes genetik pun dinilai tidak memiliki informasi yang akurat dan spesifik. Saat ini saja telah bisa dilakukan tes untuk + 50 ciri gen yang mengindikasikan kemungkinan mengidap penyakit tertentu. Namun, hasil positifnya tidak menjamin pengidapnya pasti akan menderita penyakit yang bersangkutan, kalaupun ya, tak dapat ditentukan kapan, atau bakal separah apa.

Dari sini penelitian genetika diakui menimbulkan kondisi memprihatinkan karena jauh meninggalkan pemahaman moral dan kode etik.

Tak seorang pun mau memberikan nomor telepon maupun rekening bank terhadap orang asing. Ironisnya, di Amerika, yang notabene amat mengagulkan kebebasan pribadi, justru rahasia yang paling pribadi, menyangkut genetika, sedang terancam.

Di negara yang boleh dikata detak jantung masyarakatnya serba “dijamin” asuransi itu, banyak perusahaan asuransi “menyaring” calon pesertanya lewat uji genetik, data yang diperoleh lewat spesimen hasil pembedahan atau hasil uji darah yang tersimpan di data-base rumah sakit. Banyak orang tidak sadar, informasi ini akhirnya jatuh ke tangan Biro Informasi Kesehatan di Westwood, Massachusetts. Rupanya lembaga ini memasok informasi kepada perusahaan-perusahaan asuransi agar mereka terhindar dari penipuan oleh para calon pemegang polis. Bank data mereka konon telah mencakup kopi catatan kesehatan dari 10 – 20 juta warga Kanada dan Amerika.

FBI dan Departemen Pertahanan AS pun sedang mendirikan bank data DNA, malah milik FBI akan mengkoordinasikan bank-bank data DNA yang sudah ada di sedikitnya 32 negara bagian. Sistem ini diakui bakal amat efektif dalam memburu penjahat.

Meski demikian, ada juga negara bagian yang bertindak agak berlebihan. Virginia, misalnya, mengumpulkan darah dan liur semua pelaku kejahatan, termasuk penggelap pajak. Sementara penjahat macam begini biasanya tidak meninggalkan bekas cairan tubuh yang mengandung DNA. Maka timbul pertanyaan, untuk apa tes itu?

Bagaimanapun, akibatnya telah dirasakan oleh sebagian orang yang kurang beruntung, yang kini masuk kategori kelas bawah baru, genetic underclass. Pada awal 1970-an perusahaan asuransi di Amerika menolak permohonan calon yang positif memiliki gen anemia sickle cell. Padahal gen ini jamak terdapat pada keturunan Karibia berkulit hitam. Akibatnya, 10% warga Amerika hitam ditolak jaminan asuransinya, meski kebanyakan hanya positif memiliki gen tunggal sickle cell. Sedangkan AU AS menolak melatih pengidap serupa dengan alasan meragukan, ketinggian bisa memicu munculnya penyakit bersangkutan. Tahun 1979, kebijakan itu diubah setelah para “korban” mengajukan tuntutan ke pengadilan.

Protes serupa diajukan oleh dua tentara, Kopral Joseph Vlacovsky dan Lance Kopral (pangkat sebelum kopral dalam marinir AS) John C. Mayfield III terhadap Departemen Pertahanan AS. Mereka menolak memberikan sampel jaringan tubuh mereka dengan alasan pelanggaran hak konstitusional.

Pemberlakuan kebijakan publik berdasarkan uji genetik memang bisa merepotkan warga yang “tak berdosa”. Contohnya, Mary Jo Ellis Kahn, yang lolos dari derita kanker payudara dan ketua pertama Yayasan Kanker Payudara Virginia, menolak terlibat percobaan terapi gen. Ia khawatir jika positif ada gen penanda kanker payudara, dua anak perempuannya akan ditolak ikut asuransi kesehatan.

Ketegangan ditimbulkan oleh ketidakadilan terhadap warganegara kelas dua yang disebut “sehat tapi sakit”. Maka bila uji genetika menjadi penyaring, situasi di masyarakat pasti makin rumit, repot, dan resah. Apalagi kegunaannya menjadi dimentahkan manakala berlaku apa yang diramalkan Dr. Jose Zaglul, psikiater di University of South Florida, spesialis dalam konsultasi genetik, “Di masa datang akan ada uji terhadap ribuan jenis penyakit, jadi besar kemungkinan tiap orang mengidap satu di antaranya.”

Dengan diskriminasi genetika itu, para ‘warganegara yang secara genetika kelas dua’ dikhawatirkan akan dibatasi dalam mendapat akses untuk memperoleh perawatan kesehatan, jaminan keamanan keuangan, kepemilikan rumah, mendapatkan pekerjaan, kebebasan berganti profesi, maupun perbaikan kondisi tempat kerja.

Paten gen
Kemajuan ilmu genetika, membawa manusia pada tujuan yang semakin ambisius. Salah satunya, proyek Genome, pemetaan gen manusia yang bernilai miliaran dolar dan berskala internasional. Tujuan projek itu, membuat kronik urutan DNA yang menyusun seluruh gen manusia. Saat selesai, panjang buku besar akan mencatat + 3 juta elemen. Harapannya, banyak gen penyebab penyakit genetik bisa diidentifikasi.

Namun, proyek yang sekilas positif bagi kemanusiaan itu ternyata malah membangkitkan kontroversi. Di AS, proyek yang dilaksanakan oleh pemerintah, industri swasta, dan lembaga pendidikan, menjadi ajang perebutan hak paten oleh ketiga lembaga pelaksananya. Kode genetika ternyata semakin menjadi komoditi berharga. Lucunya, beberapa hal mendasar masih belum dihayati secara benar oleh para pelaku perebutan. Institut Kesehatan Nasional AS saja mengajukan permohonan atas 2.000 rantai gen, yang meski diketahui komposisinya, belum diketahui fungsi dan manfaatnya. Padahal salah satu syarat mendapat hak paten di AS adalah penemuan harus bermanfaat.

Mengapa paten menjadi demikian penting, dapat dilihat dalam pengalaman yang dialami seorang pengusaha bernama John Moore di tahun 1976. Pengusaha AS tersebut baru menjalani operasi pengangkatan kanker pada limpa. Tanpa sepengetahuannya, sel itu dibiakkan. Hasilnya, rantai sel dengan nama paten “Mo”. Mo dipakai untuk membuat 9 produk kebutuhan manusia termasuk interferon dan pemacu sistem kekebalan. Diduga nilai komersial rantai sel Mo dan byproduct-nya mencapai AS $ 3 miliar. Tanpa Moore pernah menerima sepeser pun.

Apa sesungguhnnya manfaat paten? Menurut Wendy McGoodwin, “Peneliti yang mematenkan gen kanker payudara hasil identifikasinya, sama dengan mengembangkan tes untuk mendeteksi kehadiran gen itu. Tes itupun jadi miliknya, sehingga ia berhak menentukan tarif yang dikenakan pada orang yang ingin melakukan tes.”

Konsep mengkomoditikan DNA telah membuat ngeri banyak orang, termasuk Dr. James Watson, yang bisa disebut “Bapak DNA” karena dialah yang pertama kali menemukan struktur DNA, dan karenanya memenangkan Hadiah Nobel 1953. Ia mengundurkan diri dari jabatan kepala proyek pemetaan gen AS sebagai protes atas pematenan gen.

Demikian pula ahli genetika Prancis Daniel Cohen, dengan alasan, “Pertama, masalah moral. Kita tidak bisa melakukan paten terhadap benda yang jadi milik setiap orang. Serupa dengan hasrat mematenkan bintang. Selain itu, melakukan paten terhadap sesuatu tanpa mengetahui gunanya, sama dengan menghambat industri.”

Berbagai reaksi negatif terhadap komersialisasi genetika pun bermunculan, termasuk dari Parlemen Eropa, Parlemen India, dan masyarakat asli di Pasifik Selatan, yang sering dijadikan objek penelitian genetika. Mengandaikan ilmu terus berkembang, teknik semakin sempurna, barangkali sebagian impian manusia kini akan menjadi kenyataan. Sukardi yang patah tangan tak perlu membeli tangan palsu karena tangannya dapat ditumbuhkan kembali. Namun, bagaimana nasib banyak manusia yang bakal jadi warga kelas dua hanya karena tak lolos “litsus” genetika? Akankah sang Piala Suci membuat manusia dipandang melulu sebagai komoditi bernomor, yang dinilai melulu dari “kualitas produk”-nya? Lebih mengerikan lagi, akankah ia menjadikan manusia takabur, berlagak sebagai yang maha tahu, berpretensi mampu menciptakan apa saja, termasuk makhluk serupa dirinya, bahkan menembus keabadian dengan badan kasarnya? (Dari pelbagai sumber/Sht)

Iklan

10 Tanggapan to “Penyelewengan Manfaat Rekayasa Tubuh”

  1. perempuan said

    Permisi copy paste bang agor…..

    @
    😀 😀

    Suka

  2. Sir Spitod said

    Sudah sampai sejauh ini, ya..
    Sebentar lagi zaman baru akan datang, kalau begitu.

    @
    mungkin kita nanti ketemu sama kawannya sun go kong… manusia kerbau, manusia bagi… Chu Pat Kai…. 😀

    Suka

  3. Cemol said

    Gila ya ternyata it IPtEK…
    Btw, Bos.. mau download all stuff aboout islam..?
    bookmark this site and open as you like : islam-download.net

    @
    Trims infonya…. 😀

    Suka

  4. haniifa said

    Stanton Peele Ph.D dan Richard DeGranpre Ph.D dalam tulisan My Genes Made Me Do It, “Keliru sekali bila kita mengira hanya ada gen tunggal di balik berbagai pembawaan manusia yang kompleks, seperti orientasi seks, perilaku antisosial, kelainan mental macam schizophrenia atau depresi.”
    Kok…rasanya benar yach mas. 😀
    Buktinya:
    schizophrenia adalah ketidak seimbangan dopamin dan asetilkolin, atau dengan neurotransmiter yang lain (serotonin misalnya).
    Dengan demikian tidak terbukti bahwa schizophrenia adalah penyakit yang dapat dipetakan secara genetis.

    @
    Yap… yang telah dapat dipetakan secara genetis juga masih banyak menyimpan rahasia penciptaan. Kita tidak pernah (belum mengerti) bagaimana gugus asam basa yang membentuk molekul itu kemudian menjadi rna/dna kemudian menjadi gen kemudian dan seterusnya menjadi mahluk hidup yang sedang mengetik di membacanya di layar monitor komputer…. 😀
    Kita juga masih terus bertanya, bagaimana sifat diturunkan dan bagaimana pengaruh lingkungan terhadap karakter yang terbentuk.

    Suka

  5. haniifa said

    Kang agor mana kopi hangat nyah !!
    kna schizophrenia nich….kok meneng bae 😀

    @
    Mulai bisa konsentrasi lagi… dikit… jadi kopi masih diaduk terus… 😀

    Suka

  6. haniifa said

    Salam,
    Allah berfirman :
    “Dan sahabatmu (Muhammad) itu bukanlah sekali-kali orang yang gila schizophrenia.” (QS 81:22)

    “Kita juga masih terus bertanya, bagaimana sifat diturunkan dan bagaimana pengaruh lingkungan terhadap karakter yang terbentuk.”

    Bagaimana sifat diturunkan ?
    Untuk memjawab pertanyaan di atas, saya cukup puas dengan membaca Surah At Takwiir ayat 22 dan Buku “Sejarah Hidup Muhammad” yang ditulis oleh Muhammad Husain Haekal dan diterjemahkan dari bahasa Arab ke bahasa Indonesia oleh Ali Audah.
    Walaupun cukup puas, tapi masih meyisakan satu pertanyaan yaitu korelasi antara No AQ Surah 81 (QS 81:22) dengan 22q11.2 deletion syndrome.
    http://hil4ry.wordpress.com/2007/10/24/etiologi-skizofrenia/
    Selanjutnya…
    Bagaimana pengaruh lingkungan terhadap karakter yang terbentuk ?!
    Kesurupan masal di sekolah-sekolah misalnya, sudah adakah penelitian secara menyeluruh ?? jeruk kok minum jeruk 😀
    Wasalam.

    @
    Salam.
    Karakter yang dimaksud yang belum saya pahami terutama ketika kebiasaan-kebiasaan yang saya punya ternyata dimiliki juga oleh anak saya ketika dia kecil untuk beberapa hal. Misalnya mengangkat kaki ke atas 😀 , susah bangun pagi 😀 . Di awal sejarah psikologi mengenai sifat manusia (karakter) tenang, mudah marah, atau lainnya dihubungkan dengan kekentalan darah atau golongan darah sebagai sifat pembawaan. Saya percaya (saja) bahwa selain kondisi fisis yang dipengaruhi oleh sifat genetis atau kombinasinya, juga (adakah) sifat bawaan itu juga dimiliki secara genetis?. Ini yang belum saya pahami…. 😀

    Wasalam.

    Suka

  7. haniifa said

    Salam,
    Kebiasaan-kebiasaan yang sama dari sifat orang tua terhadap anak tampak jelas dimasa kanak-kanak, dan akan berkurang setelah anak mencapai usia aqli balig. Anehnya menurut penelitian gejala schizophrenia menyerang saat usia produktif (aqli balig), saat masa remaja akhir, atau dewasa muda. Pada laki-laki, biasanya usia lebih muda, yaitu 15-25 tahun, sedangkan wanita lebih lambat sekitar 25-35 tahun.
    Kembali ke pertanyaan saya diatas: Kenapa Allah menempatkan ayat bantahan atas tuduhan pada Rasul pada Surah At Takwiir no ayat ke 22, lalu kalau kita ingat surah ke 22 (Surah Al Hajj) salah satu ritualnya adalah mencukur rambut (delete), Adakah pesan tersembunyi dari relasi tersebut ??.
    Wassalam.

    @
    Tentu ada pesan tersembunyi, tapi agor tidak memahami juga….

    Suka

  8. […] ini didapat dari postingan yang berjudul “Penyelewengan Manfaat Rekayasa Tubuh“ Seperti biasa terjadi dialog antara penulis dengan pembaca… Kok…rasanya benar yach […]

    Suka

  9. Haniifa said

    @mas agor
    Diskusi hangat ini saya dokumentasikan yachh…
    Maklum saya gampang lupa susahhh ingat … 😀

    @
    😀

    Suka

  10. 134253714342 said

    pengen nimbrung dong mengenai iptek….
    salam kenal…. Iwan

    @
    😀 ditunggu ….

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: