Sains-Inreligion

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Ketika Teguran Itu Datang.

Posted by agorsiloku pada Februari 25, 2008

Pekerjaan seperti tak habis-habisnya, beberapa bulan terakhir begitu sibuknya. Maklumlah target pekerjaan yang seharusnya selesai mengalami kemunduran. Tentu saja masih ada pekerjaan-pekerjaan kecil lainnya yang lebih kerap memakan waktu dari pada yang bisa diselesaikan. Begitulah hidup, seperti perencanaan keuangan keluarga, berkutat diperencanaan pas-pasan dan tidak berhasil keluar dari kebebasan finansial membuat hidup itu nikmat dalam gelutan kesibukan bekerja. 😀

Pagi itu, menjelang pagi saya baru bisa tertidur. Jelas, saya akan melupakan sholat shubuh berjama’ah. Apaboleh buat. Mata tidak bisa lagi diajak kompromi. Terlalu lelah setelah berhari-hari berkonsentrasi pada pekerjaan. Satu hal yang dilupakan, bekerja melebihi kapasitas sebenarnya juga mengurangi efesiensi dan keefektifan bekerja. Jadi sebenarnya bukan lebih cepat, tapi lebih lambat juga. Disadari, tapi tidak mampu mengendalikan.

Menjelang bangun saya bermimpi, dari jauh tampak sepertinya seseorang yang dikenal baik dan disayangi. Dia mendekat, tapi setelah dekat ternyata mahluk yang hitam dan ganas. Entahlah apa, tidak begitu jelas. Namun, dia menyerang dan menggigit wajahku. Saya berusaha melawan. Mungkin ini adalah reaksi tubuh ketika esok paginya terasa ada sesuatu yang terjadi. Ketika terbangun, sebagian wajah terasa kelu dan kaku, mata tidak bisa dikedipkan, mulut susah digerakkan. Saya masih berangkat ke kantor, seperti biasa pagi jam 7 pagi sudah tiba. Menuntaskan laporan untuk hari Senin bersama rekan lainnya. Namun, gangguan sudah mulai dirasakan. Selain wajah, yang lainnya, alhamdulillah baik-baik saja.

Penyakit yang dikenal sebagai Bell’s palsy ini diketahui pada hari Seninnya ketika saya memutuskan untuk segera memeriksakan ke dokter. Semula, saya pikir gejala awal stroke. Mungkin, tapi rasanya tidak ada gejala darah tinggi atau sejenisnya biarpun agak kegemukan.

Saya jadi ingat tahun lalu, di Medinah bertemu dengan seseorang yang sangat parah menderita penyakit ini. Orangnya sudah cukup tua, nyaris seluruh wajahnya turun ke bawah. Bahkan kulit matanya pun bergelayutan. Sangat parah, sehingga ketika saya melihatnya, segera saya alihkan pandangan ke tempat lain. Takut beliau merasa diperhatikan. Namun, saat itu, seperti tergambar kembali dalam ingatan; saya betul-betul kagum pada orang yang dilihat selintas itu. Beliau datang untuk berhaji. Apapun yang menjadi keadaannya, tidak menyurutkan beliau untuk memuji namaNya. Memenuhi panggilanNya.

Sakit adalah “musibah” ataukah “rahmat”. Bagaimana harus disikapi?. Kejadian ini kan hanyalah sebuah tanda. Sebuah curahan perhatian dan kasih sayang Allah kepada manusia, mengingatkan, menyuruh beristirahat lebih lama, memberikan kesempatan bercengkrama dengan seisi rumah dan perhatian dari rekan-rekan lain.

Memang badan terasa lelah dan sakit ini adalah perintah untuk memperbanyak istirahat. Sebuah penandaan kecil yang layak disebut sebagai sebagai tanda kasih sayang Allah.

Butuh cukup waktu dan terapi untuk menghargai kasih sayangNya kepada kita. Hari-hari belakangan sedikit berubah, berserah diri dan berusaha sembuh adalah pilihan. Di balik dinding rumah, .. di balik sana, saya tahu betapa banyak yang sangat banyak dalam rahmat dan musibah. Silih berganti. Semakin terasa, betapa nikmat Allah sesungguhnya begitu besar kepada hambaNya.

Iklan

9 Tanggapan to “Ketika Teguran Itu Datang.”

  1. setiaji said

    Amin, semoga dengan cobaan yang diberikanNya, kita semakin naik peringkat ketakwaan di mata Allah. Salah satunya dengan merespon cobaanNya dengan sikap terbaik kita. Amin ya Rabb..

    @
    Amin 😀

    Suka

  2. Elza said

    Assalamualaikum wr wb.

    nampaknya kisah dibawah ini sesuai, dari jauh nampak sebagai orang yang baik, memberi tawaran obat bagi yang sakit, tapi ketika dilihat dan dikaji lebih dekat, ibarat monster yang mengerikan !

    berikut dari email yang baru saya terima:

    Kuak Konspirasi Bikin Senjata Biologi dari Flu Burung – Buku Menkes Fadilah Bikin Gerah AS-WHO

    Menteri Kesehatan Siti Fadilah Supari (59) bikin gerah World Health Organization (WHO) dan Pemerintah Amerika Serikat (AS).
    Fadilah berhasil menguak konspirasi AS dan badan kesehatan dunia itu dalam mengembangkan senjata biologi dari virus flu burung, Avian influenza (H5N1).
    Setelah virus itu menyebar dan menghantui dunia, perusahaan-perusaha an dari negara maju memproduksi vaksin lalu dijual ke pasaran dengan harga mahal di negara berkembang, termasuk Indonesia.

    Fadilah menuangkannya dalam bukunya berjudul Saatnya Dunia Berubah! Tangan Tuhan di Balik Virus Flu Burung.
    Selain dalam edisi Bahasa Indonesia, Siti juga meluncurkan buku yang sama dalam versi Bahasa Inggris dengan judul It’s Time for the World to Change.
    Konspirasi tersebut, kata Fadilah, dilakuakn negara adikuasa dengan cara mencari kesempatan dalam kesempitan pada penyebaran virus flu burung.
    “Saya mengira mereka mencari keuntungan dari penyebaran flu burung dengan menjual vaksin ke negara kita,” ujar Fadilah kepada Persda Network di Jakarta, Kamis (21/2).

    Situs berita Australia, The Age, mengutip buku Fadilah dengan mengatakan, Pemerintah AS dan WHO berkonpirasi mengembangkan senjata biologi dari penyebaran virus avian H5N1 atau flu burung dengan memproduksi senjata biologi.
    Karena itu pula, bukunya dalam versi bahasa Inggris menuai protes dari petinggi WHO.
    “Kegerahan itu saya tidak tanggapi. Kalau mereka gerah, monggo mawon. Betul apa nggak, mari kita buktikan. Kita bukan saja dibikin gerah, tetapi juga kelaparan dan kemiskinan. Negara-negara maju menidas kita, lewat WTO, lewat Freeport, dan lain-lain. Coba kalau tidak ada kita sudah kaya,” ujarnya.
    Fadilah mengatakan, edisi perdana bukunya dicetak masing-masing 1.000 eksemplar untuk cetakan bahasa Indonesia maupun bahasa Inggris. Total sebanyak 2.000 buku.

    “Saat ini banyak yang meminta jadi dalam waktu dekat saya akan mencetak cetakan kedua dalam jumlah besar. Kalau cetakan pertama dicetak penerbitan kecil, tapi untuk rencana ini, saya sedang mencari bicarakan dengan penerbitan besar,” katanya.
    Selain mencetak ulang bukunya, perempuan kelahiran Solo, 6 November 1950, mengatakan telah menyiapkan buku jilid kedua.
    “Saya sedang menulis jilid kedua. Di dalam buku itu akan saya beberkan semua bagaimana pengalaman saya. Bagaimana saya mengirimkan 58 virus, tetapi saya dikirimkan virus yang sudah berubah dalam bentuk kelontongan. Virus yang saya kirimkan dari Indonesia diubah-ubah Pemerintahan George Bush,” ujar menteri kesehatan pertama Indonesia dari kalangan perempuan ini.

    Siti enggan berkomentar tentang permintaan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang memintanya menarik buku dari peredaran.
    “Bukunya sudah habis. Yang versi bahasa Indonesia, sebagian, sekitar 500 buku saya bagi-bagikan gratis, sebagian lagi dijual ditoko buku. Yang bahasa Inggris dijual,” katanya sembari mengatakan, tidak mungkin lagi menarik buku dari peredaran.
    Pemerintah AS dikabarkan menjanjikan imbalan peralatan militer berupa senjata berat atau tank jika Pemerintah RI bersedia menarik buku setebal 182 halaman itu.
    Mengubah Kebijakan
    Apapun komentar pemerintah AS dan WHO, Fadilah sudah membikin sejarah dunia.
    Gara-gara protesnya terhadap perlakuan diskriminatif soal flu burung, AS dan WHO sampai-sampai mengubah kebijakan fundamentalnya (embargo) yang sudah dipakai selama 50 tahun.

    Perlawanan Fadilah dimulai sejak korban tewas flu burung mulai terjadi di Indonesia pada 2005.
    Majalah The Economist London menempatkan Fadilah sebagai tokoh pendobrak yang memulai revolusi dalam menyelamatkan dunia dari dampak flu burung.
    “Menteri Kesehatan Indonesia itu telah memilih senjata yang terbukti lebih berguna daripada vaksin terbaik dunia saat ini dalam menanggulangi ancaman virus flu burung, yaitu transparansi, ” tulis The Economist.
    The Economist, seperti ditulis Asro Kamal Rokan di Republika, edisi pekan lalu, mengurai, Fadilah mulai curiga saat Indonesia juga terkena endemik flu burung 2005 silam.
    Ia kelabakan. Obat tamiflu harus ada. Namun aneh, obat tersebut justru diborong negara-negara kaya yang tak terkena kasus flu burung.
    Di tengah upayanya mencari obat flu burung, dengan alasan penentuan
    diagnosis, WHO melalui WHO Collaborating Center (WHO CC) di Hongkong memerintahkannya untuk menyerahkan sampel spesimen.
    Mulanya, perintah itu diikuti Fadilah. Namun, ia juga meminta laboratorium
    litbangkes melakukan penelitian. Hasilnya ternyata sama. Tapi, mengapa WHO
    CC meminta sampel dikirim ke Hongkong?

    Fadilah merasa ada suatu yang aneh. Ia terbayang korban flu burung di Vietnam. Sampel virus orang Vietnam yang telah meninggal itu diambil dan dikirim ke WHO CC untuk dilakukan risk assessment, diagnosis, dan kemudian dibuat bibit virus.
    Dari bibit virus inilah dibuat vaksin. Dari sinilah, ia menemukan fakta, pembuat vaksin itu adalah perusahaan-perusaha an besar dari negara maju, negara kaya, yang tak terkena flu burung.

    Mereka mengambilnya dari Vietnam, negara korban, kemudian menjualnya ke seluruh dunia tanpa izin. Tanpa kompensasi.
    Fadilah marah. Ia merasa kedaulatan, harga diri, hak, dan martabat negara-negara tak mampu telah dipermainkan atas dalih Global Influenza Surveilance Network (GISN) WHO. Badan ini sangat berkuasa dan telah menjalani praktik selama 50 tahun. Mereka telah memerintahkan lebih dari 110 negara untuk mengirim spesimen virus flu ke GISN tanpa bisa menolak.
    Virus itu menjadi milik mereka, dan mereka berhak memprosesnya menjadi vaksin.
    Di saat keraguan atas WHO, Fadilah kembali menemukan fakta bahwa para ilmuwan tidak dapat mengakses data sequencing DNA H5N1 yang disimpan WHO CC.

    Data itu, uniknya, disimpan di Los Alamos National Laboratoty di New Mexico, AS.
    Di sini, dari 15 grup peneliti hanya ada empat orang dari WHO, selebihnya tak diketahui.
    Los Alamos ternyata berada di bawah Kementerian Energi AS.
    Di lab inilah duhulu dirancang bom atom Hiroshima. Lalu untuk apa data itu, untuk vaksin atau senjata kimia?
    Fadilah tak membiarkan situasi ini. Ia minta WHO membuka data itu. Data DNA virus H5N1 harus dibuka, tidak boleh hanya dikuasai kelompok tertentu.
    Ia berusaha keras. Dan, berhasil. Pada 8 Agustus 2006, WHO mengirim data itu. Ilmuwan dunia yang selama ini gagal mendobrak ketertutupan Los Alamos, memujinya.

    Majalah The Economist menyebut peristiwa ini sebagai revolusi bagi transparansi. Tidak berhenti di situ. Siti Fadilah terus mengejar WHO CC agar mengembalikan 58 virus asal Indonesia, yang konon telah ditempatkan di Bio Health Security, lembaga penelitian senjata biologi Pentagon.
    Ini jelas tak mudah. Tapi, ia terus berjuang hingga tercipta pertukaran virus yang adil, transparan, dan setara.
    Ia juga terus melawan dengan cara tidak lagi mau mengirim spesimen virus yang diminta WHO, selama mekanisme itu mengikuti GISN, yang imperialistik dan membahayakan dunia.
    Dan, perlawanan itu tidak sia-sia. Meski Fadilah dikecam WHO dan dianggap menghambat penelitian, namun pada akhirnya dalam sidang Pertemuan Kesehatan Sedunia di Jenewa Mei 2007, International Government Meeting (IGM) WHO di akhirnya menyetujui segala tuntutan Fadilah, yaitu sharing virus disetujui dan GISN dihapuskan.

    PT. Rajawali Citra Televisi Indonesia

    @
    Menarik sekali… demi keuntungan, disain usaha ini dilakukan. Kejadian yang tampak pada berbagai industri. Sama seperti, perang harus diciptakan, kalau tidak maka mesin produksi peperangan tidak bekerja dengan baik. Senjata akan karatan kalau tidak ada permusuhan. Maka harus ada permusuhan kalau industri harus dihidupkan dan anggaran militer harus ditinggikan….
    Klasik, tapi terasa. Dipahami, tapi dikaburkan oleh sisi-sisi lain. Begitulah “dendam” kepentingan ekonomi menjerumuskan pada konspirasi tiada habisnya. 😥

    Wassalamualaikum wr wb

    Suka

  3. Haniifa said

    @mas Elza
    Saya seeh, nggak kaget baca berita itu.
    Wong dari dulu para petinggi WHO dan mas dobel we bush “burung”nya udah pada flue.

    Suka

  4. […] Ketika Teguran Itu Datang. […]

    Suka

  5. Indra said

    Assalamualaikum Wr Wb. Gmn kabarnya? dah lama baru mampir lagi. Mengenai ujian diatas, sy yakin itu suatu pertanda kasih sayang Allah Swt dalam bentuk teguran. Sedikit curhat nih he.. saat ini sy pun sama, lg banyak ujian, tapi mudah2an saja bisa melampauinya. Amiin. Wassalam.

    @
    Wass. wr.wb.
    Baik kabarnya, insya Allah dan semoga pula rahmatNya untuk Mas Indra selalu menyertai. Ya… betul Mas Indra, teguran adalah pertanda kasih sayangNya. Oh ya… selamat menempuh ujian… ujian formal maupun ujian kehidupan… 🙂 Wass, agor

    Suka

  6. Dono said

    Ass.wr.wb,pak Agor.
    Saya kurang sepaham bahwa penyakit itu adalah suatu “rahmat”.
    Sepengetahuan saya suatu penyakit adalah perbuatan syeitan terkutuk.
    Bukankah syeitan selalu mencari kesempatan untuk merusak cucu-cucu adam.
    Ketika rasullallah sakit, beliau didatangi oleh malaikat jibril a.s,lantas jibril a.s bertanya apakah beliau sakit? iya jawab rasullallah,lalu segera dibacakan beberapa ayat oleh Jibril a.s,seketika itu rasullallah sembuh.

    Wassalam,Dono.
    Alhamdulillah pak Agor sudah sembuh.

    @
    Wass.wr.wb Mas Dono.
    Alhamdulillah saya sudah bisa sedikit duduk berlama-lama di depan kedap-kedip layar monitor… 😀
    Beberapa bulan sebelum sakit, memang saya terlalu ber”sibuk” bekerja sehingga mengurangi kesempatan untuk berolah raga atau dalam bahasa sufi, memberikan sedekah secukupnya kepada pemberian Allah yang menjadikan anggota tubuh mendapatkan istirahat yang cukup. Setiap anggota tubuh dan hati kita harus mendapatkan sedekah yang cukup, makanan yang bergizi dan istirahat yang cukup. Karena itu, diingatkan. Pengingatan itu rahmat.
    Ada hadis, tapi saya tidak bisa sebutkan sahihnya, kurang lebih bunyinya begini : Tidak ada penyakit dari yang datang pada orang bertakwa atau beriman, kecuali karenanya sebagian dari dosanya diampuni. (Semoga Allah memberikan pengampunanNya).

    Ada juga dikisahkan seorang raja lalim dan jahat. Meninggalnya dalam keadaan damai dan ditangisi sanak saudaranya. Meninggal dalam kemegahan. Kemudian, di sisi lain, dikisahkan pula ada seorang shaleh yang rajin beribadah kemudian meninggal dan tubuhnya dikoyak-koyak anjing.

    Ini memang cerita dari sudut pandang kesufian.

    Cerita seperti ini diakhiri dengan sebuah pesan : Ketika menghadap Sang Khalik, raja lalim itu sudah tidak lagi memiliki amal yang cukup karena semuanya sudah dibayar di dunia. Sedangkan, orang shaleh itu pernah berdosa dan Allah menyelesaikan semuanya sampai ketika orang shaleh itu menghadap Sang Khalik, sudah bersih dari dosa dan terbuka lebar pintu Surga untuk dimasukinya.

    Sudut-sudut pandang ini merupakan cara pandang melihat Allah dalam prasangka baik. Allah mengikuti prasangka hambaNya.

    Meski saya teramat sangat jauh dari kemampuan untuk berserah diri dalam konteks seperti ini, namun mencoba untuk memahami dari sudut pandang ini merupakan salah satu usaha untuk ridha atas sakit yang terjadi. Rasanya pula, saya merasa lebih ringan ke hati. Apalagi, saya menyadari dalam dunia kerja saya sebagai seorang salesman yang kerap bertemu orang untuk berjualan, kondisi ini memungkinkan saya harus beralih profesi (jika kesulitan untuk sembuh).

    Namun, Alhamdulillah disembuhkanNya pula sehingga tidak terlalu lama meninggalkan sisa pekerjaan dunia yang rasanya memang tidak selesai-selesai……

    Terimakasih juga untuk perhatian Mas Dono dan rekan lainnya. Sungguh, pelipur yang sangat berharga…
    Wassalam, agor. 😀

    Suka

  7. Assalamu alaikum…

    @dono…
    Kalau buat seorang mukmin…sakit itu memang rahmat…Logikanya begini..ALLAH mengetahui akan hambanya apa yang terbaik baginya.mungkin saja seandainya hambanya sakit, Tentu saja ALLAH mengetahui seandainya tak dia beri sakit…maka kemungkinan besar harinya adalah bekerja yang nggak tahunya bikin usahanya kacau(karena hadirnya dia bekerja malah membuat hari ketika itu menambah beban baginya)…itu bisa saja terjadi..atau malah menambah iman seseorang karena sudah terlalu lama lupa akan ROBNYA.Bisa jadi dengan sakit ALLAH mengingatkannya(kan nggak ada yang mungkin)ini cuma gaya pemikiran kita untuk memahami bukan apa yang telah difirmankan ALLAH

    tapi lain halnya dengan dengan orang yang ingkar padaNYA.
    malah yang terjadi sebaliknya…….

    WALLAHU A”LAMU BISSHOWAB
    Wassalam

    @
    😀 terimakasih Mas Ayruel atas penjelasannya yang bernas…
    Wassalam, agor.

    Suka

  8. amburadul said

    Assalamualaikum…
    amal soleh. amal jariyah, selalu ingin menolong dan membahagiakan orang lain, sholat shubuh kontinyu dimesjid…. semoga tidak membuat akang kecewa pada ALLAH SWT… (pada suatu hari sy berbuat kasar pada seseorang dengan menampar wajahnya.. beberapa jam kemudian tanganku terjepit pintu..) adakah indikasi akang ke sana..? (maksudnya bisi kantor nyakiti orang..? sehingga akang jadi sakit) kumaha parantos damang..?
    Salam sono ti baraya salembur.

    @
    Peristiwa yang berhubungan dengan perilaku yang buruk, kemudian langsung tidak langsung mendapatkan “balasannya” kerap terjadi dan menjadi jentikan untuk sadar bahwa dunia itu adalah resultante sebab akibat. Terutama apabila kejadian itu secara teknis dan waktu “berbanding lurus” artinya antara satu peristiwa dengan peristiwa lainnya cukup mudah untuk direnungkan.
    Rasanya, hidup ini sudah sering menyakiti orang lain, meski awalnya bermaksud baik, bisa jadi penerimaan setiap orang berbeda. Bisa juga karena berbagai dorongan sebab akibat. Kadang sederhana, kadang rumit. Kadang ketika hati sedang gundah, tak mampu juga menerima atau mau mendengar kegundahan orang lain (padahal berdasarkan kewenangan, mestinya mau mendengar). Kadang mudah marah, kadang terlalu sabar, kadang memaafkan, kadang memaksa.
    Namun, mengaitkan dengan sakit sebagai sebab akibat bisa-bisa malah membuat pikiran tidak fokus..
    Alhamdulillah sudah mulai sehat kembali, biar belum 100%….

    Salam oge keur ka sadulur… 😀

    Suka

  9. […] kerap begitu terbiasa menyederhanakan dan melupakannya.  Sakit pun adalah musibah dan rahmat, juga peringatan.  Peringatan keangkuhan bisa terjadi dalam banyak peristiwa, bahkan hanya untuk kesempatan untuk […]

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: