Sains-Inreligion

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Teori “Perancangan Bodoh dan Perancangan Cerdas” :D

Posted by agorsiloku pada Februari 23, 2008

Susah juga ternyata menyimak berbagai perkara yang berkaitan asal mula kehidupan, penciptaan awal, perancangan bodoh atau perancangan cerdas, revolusi atau evolusi, darwinian, post darwin, biologi molekuler dan segala macamnya. Rasanya memang klaim satu dengan yang lain bakalan nggak ketemu. Apalagi Mr. Harun Yahya, yang begitu menegasi, bahwa Allahlah yang mahamenciptakan. Tidak ragu dan geser sedikitpun. Kata perancangan cerdaspun tidak beliau setujui. Beliau merujuk pada satu ketentuan yang sepertinya tidak boleh ditawar. Beriman kepada Allah. Jadi katakanlah itu. Jangan ditunda atau diganti-ganti agar lebih halus. Juga diingatkan untuk kaum beriman agar tidak menggantikannya dengan pendekatan lain.

Mungkin dan kalau boleh lebih memastikan bahwa perancangan kebetulan adalah hipotesis dari usaha serius menolak keberadaan Sang Pencipta. Itu sendiri jelas bukan teori sains deh. Masak sih kebetulan bisa dijadikan acuan. Itukan sama saja dengan ketidaktahuan. Tapi itulah, fakta juga bahwa ketika penelitian palaentologi menunjukkan adanya kehidupan yang tiba-tiba jadi renyek (banyak) di muka bumi, maka para ahli menyimpulkan adanya “ledakan evolusi“. Dengan kata lain, sains secara umum bukanlah (atau ogah) berdekatan dengan dimensi agama/ spiritual. Dan memang harus diakui susah kok. Paham sains kan pembuktian (materialistik), biar graviton ada secara teori tapi belum bisa dibuktikan secara eksperimen tapi paling tidak bisa ditera, ditutur oleh rumus atau teori-teori kuantum mutakhir. Tapi, penciptaan. “Jadilah”, jelas tidak bisa dijelaskan oleh sains. Sains butuh penjelasan. Sedangkan keberadaan Allah, pengakuan pada penciptaan adalah prosesi keimanan.

Sama juga, Teori Darwin tentu dikembangkan lagi. Tidak ada yang statis dalam sains, bisa berkembang dan bergeser. Mahluk hidup bukan lagi berubah dari cacing menjadi monyet lalu menjadi kuda terus sapi, terus jadi manusia (wah urutannya ngaco ya !), tapi monyet/simpanse dengan manusia punya nenek moyang yang sama. Jadi seperti pohon besar mahluk hidup gitu yang menurunkan mahluk-mahluk hidup berikutnya. Paling tidak teori kesamaan genetis mengajarkan begitu. Sedang, perancangan cerdas sebagai “lawan politik” sains dianggap pseudo sains.

Yah… lucu juga…mengapa peristiwa ledakan evolusi atau kejadian kebetulan kejadian mahluk hidup atau pohon nenek moyang yang sama bukan pseudo sains. Sama-sama kira-kiranya. Hanya yang mendasari keduanya sebenarnya berbeda. Yang satu merujuk pada usaha logis pembuktian ilmiah yang satu lagi didasari petunjuk Allah dan meyakini. Yang terakhir tidak ada dasar ilmiahnya sama sekali.

Memang… menyatukan iman dan pengetahuan (akal) tidak sederhana. Karena iman tidak menggunakan metodologis, tapi hidayah. Dan ini tidak ada dalam kamus sains.

Jadi, tetaplah minum secangkir kopi hangat atau teh dengan goreng tahu, tempe atau cemilan lainnya sambil tetap merenungi penciptaan dan alam semesta semuanya. Syukur kalau hati berdzikir :
QS 3. Ali ‘Imran 191. (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.

😀

Iklan

11 Tanggapan to “Teori “Perancangan Bodoh dan Perancangan Cerdas” :D”

  1. Rudi said

    Saya kira kritik Anda tentang Harun Yahya itu aneh. Lebih lanjut, kritik Anda tentang Harun Yahya boleh jadi keliru. Mungkin Anda harus memikirkan lagi komentar Anda itu. Terima kasih.

    @
    Dari Harun Yahya, (yang saya link dengan dari kata “Kata perancangan cerdaspun” tidak beliau setujui. Jadi, yang dapat saya tangkap, Harun Yahya tidak setengah hati dalam menarik garis kesimpulan untuk beriman kepada Sang Pencipta. Justru, saya malah tidak punya kapasitas untuk mengkritik Harun Yahya, saya malah kagum akan ketegasannya bersikap untuk istilah perancangan cerdas ini. Banyak ilmuwan yang ingin menggunakan kata ini sebagai kata ganti penciptaan.

    Kemungkinan kedua, bahasa Indonesia saya terlalu buruk untuk dipahami. Kalau itu, yah… mohon maaf.

    Terimakasih untuk kunjungannya. Salam. 😀

    Suka

  2. Haniifa said

    Bahasa sains “ledakan evolusi“ adalah bahwa malu-malunya para ilmuwan pada dari sbb:

    Sesungguhnya perintah-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya: “Jadilah!” maka terjadilah ia. (QS 36:82)

    @
    Ya.. betul malu-malu.. karena konsepsi materialistik dan positivistik tentu saja menghendaki pembuktian. Tapi, menyimpulkan ledakan evolusi adalah kata lain dari tidak tahu penyebab apa yang menyebabkan dalam satu masa tiba-tiba begitu banyak muncul ragam jenis mahluk hidup. Periode itu, enakkan disebut saja ledakan evolusi.
    Sisi lain, memang menyebutkan nama Tuhan dalam penciptaan juga memang harus diakui belum (tidak ada dalam pemahaman ilmu pengetahuan fisis).
    Posisi kata itu boleh jadi netral dan tidak memihak, hanya kaum beragama, khususnya agama yang asalnya dari Timur Tengah melihat hal ini dari kacamata semestinya manusia dalam ranah sains pun bekerja fisis dan metafisis tanpa usah keraguan menetapkan bahwa penciptaan itu ada….

    Suka

  3. Abudaniel said

    Assalamu’alaikum,
    “Ledakan evolusi”, sesuai dengan apa yang bisa saya tangkap, adalah suatu kejadian dimana suatu jenis atau beberapa jenis makhluk hidup tiba-tiba menjadi banyak dalam jangka waktu yang sama atau berdekatan.
    Kalau kita melihat keteori evolusi, maka “ledakan evolusi” adalah merupakan anti-evolusi. Karena evolusi memerlukan waktu dan tahapan dari suatu makhluk menjadi makhluk lain.Waktu yang diperlukanpun tidak sebentar, tetapi cukup panjang.
    Yang anehnya, kenapa evolusi manusia dari monyet ( menurut Darwin), tiba-tiba berhenti. Tidak ada lagi monyet, sejak ribuan tahun lalu, yang berubah jadi manusia sekarang.
    Setahu saya, evolusi manusia, dimulai dari setitis mani(bahkan dari seekor makhluk yang mirip kecebong)berevolusi sehingga menjadi manusia, balita, remaja, dewasa, tua dan akhirnya mati!.
    Tidak ada bukti dan hasil eksperimen yang menunjukkan bahwa si A berevolusi menjadi si B. Karena si A harus memiliki umur hidup yang sangat-sangat panjang untuk berevolusi nmenjadi si B.
    Begitu juga “ledakan evolusi” membuktikan bahwa campur tangah Allahlah maka terciptanya makhluk. Tidak ada bukti cacing berevolusi menjadi belut, walaupun sama-sama melata dan tidak ada juga bukti bahwa ayam bekisar berevolusi menjadi ayam bangkok, walaupun sama-sama ayam, kecuali dikawin silangkan yang akan menelurkan jenis ayam baru ( bangsar – Bangkok berkisar ).
    Evolusi hanya bisa berlaku didalam jenis itu sendiri. Contohnya, kambing kampung tidak memerlukan bulu yang tebal dibandingkan kambing yang hidup dikutub. Orang yang hidup didaerah tropis, tidak memerlukan bulu badan yang lebat seperti orang yang hidup didaerah dingin atau didaerah yang panas/gurun. Ini juga tidak bisa disebut “evolusi” tetapi hanya sekedar penyesuaian.
    Belum pernah orang negro berevolusi menjadi bule. Padahal sama-sama manusia. Apatah lagi monyet menjadi manusia. Monyet sendiri bakalan tertawa mendengar ini, itupun kalau memang monyet bisa ketawa.
    Wassalam,

    @
    Fakta ilmu pengetahuan, teori evolusi menjadi salah satu juga yang pada akhirnya dijadikan arena adu untuk memisahkan ilmu dan agama. Dan tentu saja, tidak bisa dihindari bahwa filsafat positivisme dan materialisme cenderung menolak adanya proses penciptaan. Istilah ledakan evolusi itu kan sebenarnya lebih merupakan pendekatan politis karena hasil penelitian tidak menjawab apa yang ditemukan oleh ilmuwan-ilmuwan ini. Kehadiran nama Allah memang tidak dan enggan diajarkan sebagai bagian dari prosesi ilmu (pengetahuan). Ini juga fakta yang enggan diakui oleh para pendukung evolusi.

    Suka

  4. haniifa said

    Salam,
    Firman Allah Yang Maha Awal dan Yang Maha Akhir :
    Sesungguhnya perintah-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya: “Jadilah!” maka terjadilah ia. (QS 36:82)
    Akal dan pemikiran Manusia:
    “Jadilah!” = Nilai Awal + Teori “Ledakan Evolusi”
    “Jadilah!” = Nilai Awal + Teori “Big Bang”
    Seberapapun kecilnya Nilai Awal menurut pemikiran manusia tidaklah lebih kecil dari nilai awal yang diberikan oleh Allah Yang Maha Awal.
    Seberapapun besaran Hasil akhir menurut pemikiran manusia tidaklah lebih akhir dari nilai yang diberikan oleh Allah Yang Maha Akhir.
    Wassalam.

    @
    Mungkinkah (menafsirkan !) bahwa jadilah adalah satu posisi dari hukum yang tidak dikenali menjadi hukum yang dikenali manusia. Begitu juga nilai awalnya.

    Suka

  5. Ayruel chana said

    Orang2 barat (non islam) hanya memikirkan dengan otaknya saja,tidak di hayati dengan akalnya.padahal itulah bedanya kita (manusia) dengan binatang.Kalau hanya memakai otak untuk berpikir,nggak ada beda manusia dengan binatang atau orang yang sudah mati.orang mati pun takkan bisa berpikir lagi walau otaknya masih ada..karena yang berpikir itu akal bukan otak.otak hanya penyampai(sarana:makana global) sinyal2 dari organ tubuh(seperti mata,telinga dll) melalui syaraf2 hingga sampai ke akal kita.

    Tanpa Akal : sama aja dengan binatang
    Kerusakkan syaraf atau otak : Berarti Gila
    Akal saja : Malaikat
    Akal & Nafsu : Manusia…kalau manusia nggak punya nafsu,maka tak kan ada keinginan2 untuk berpikir…hingga takkan mungkin manusia bisa membuat mobil,pesawat,dll.

    Jadi…: Kendalikan lah nafsu dengan akal jgn sebaliknya.dengan mengikuti perintah & meninggalkan larangannya yang telah disampaikan oleh Rosulullah (Nabi MUHAMMAD SAW)

    Wassalam…….

    @
    Mengendalikan nafsu… ini memang permasalahan terberat. Kerap karenanya sistem budaya mengarah pada hal-hal yang dipahami dan disukai hawa nafsu. Nafsu menjadi musuh kita yang nyata tapi tak nampak, karena kebenaran juga bisa dilipat-lipat di dalam geloranya….

    Suka

  6. Haniifa said

    Mungkinkah (menafsirkan !) bahwa jadilah adalah satu posisi dari hukum yang tidak dikenali menjadi hukum yang dikenali manusia. Begitu juga nilai awalnya.

    Wahh kena dech… 😀

    Tapi kira-kira dalam dunia internet:
    “jadilah” adalah server side
    (dengan kata lain kita nggak pernah tahu apa yang dikerjakan oleh
    program sisi server).
    Sedangkan hukum yang dikenali manusia adalah client side.
    (dengan kata lain kita hanya menerima output akibat umpan yang dikirim ke server).

    @
    ketika peer to peer bagaimana. Kesempatan yang setidaknya diberikan 5 kali dalam sehari… 😀

    Suka

  7. haniifa said

    ketika peer to peer bagaimana !!! secara prinsipil hakekatnya sama yaitu send and received 😦

    @
    😀

    Suka

  8. […] Operator XAND, eXclusive AND A ==== B = Hasil 1 XAND 1 = 1 1 XAND 0 = 0 0 XAND 1 = 1 0 XAND 0 = 0 Aplikasi didunia komputer, seperti kita ketahui bahwa operasi logical mendapat prioritas lebih dari aritmetik yang […]

    Suka

  9. […] Apakah ini tidak mengkhawatirkan? dan merusakkan akidah?.  Bagaimana kalau kemudian terbukti secara ‘ainul yaqin” bahwa AQ yang kemudian salah.  Malu deh para alim ulama itu, karena selalu berusaha mendekat-dekatkan kepada perkembangan dinamis ilmu pengetahuan.  Bagaimana kalau kemudian benar-benar terbukti bahwa kodok yang sekarang ada, benar-benar berasal dari Dinosaurus?. […]

    Suka

  10. abumuadz said

    teori evolusi itu ibarat “Melak SUGAN dina BOA jadina tangkal SUSUGANAN”

    kodok berasal dari dinasaurus?????
    tidak akan pernah terbukti sesuatu yang bertetangan dengan AQ itu benar.
    sejauh ini orang cuma bisa bertanya BAGAIMANA jika nanti salah???
    dia lupa bahwa dari awal dengan sampai sekarang terus Benar….

    @
    Tapi selalu juga usaha mengingkari menjadi bagian yang selalu menjadi bagian tak terpisahkan dari suatu berita dan peringatan….

    Suka

  11. […] Perancangan bodoh atau perancangan cerdas adalah kesimpulan dari membaca tanda-tanda kehidupan.  Itu tanda-tanda kekuasaan yang maha menciptakan.  Dalam teori evolusi sebelum mengalami evolusi, dalam otobiografinya, Darwin mengatakan : Argumen disain yang selama ini sangat meyakinkan, ternyata telah gagal. Kini hukum seleksi ilmiah telah ditemukan. Sekarang kita tidak dapat lagi mengatakan bahwa engsel kerang yang indah, misalnya, harus merupakan hasil perbuatan suatu Wujud yang cerdas (Tuhan), sebagaimana engsel pintu harus merupakan hasil perbuatan manusia. […]

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: