Sains-Inreligion

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Seberapa Iba Kita Kepada Kepedihan Saudara Kita !.

Posted by agorsiloku pada Februari 22, 2008

Seberapa halus perasaan kita ketika saudara, rekan, tetangga, atau anak jalanan kehujanan dan kelaparan. Seberapa iba dan tersentuh ketika kita mengetahui siapa saja, bahkan kucing tergilas mobil, atau kaki anjing terpincang-pincang karena terlindas roda motor kita. Seberapa iba ketika kekasih hati kita menderita sakit dan kita tidak bisa berbuat apa-apa. Seberapa trenyuh !.

Seberapa banyak tangan kita tepiskan, raut muka dikerutkan ketika orang datang minta bantuan dan kita menghitung-hitungnya. “Waduh… tiap kali datang lagi-datang lagi !”. Itu pengemis yang itu-itu juga, itu anak yang itu-itu juga.

Yah… setiap kali kita merasa iba, setiap kali kita merasa kasihan, kita tak pernah tega melihat itu. Karenanya, kita, sejauh mungkin menghindarinya. Kalau sedikit uang, tak apalah, tapi kalau keseringan… Duh… untuk sendiri saja rasanya belum cukup…..

Rasa iba juga seperti kebiasaan, kalau melihat tangan manusia terluka atau patah ngerinya bukan main… tapi kalau lihat leher ayam patah…. tidak ada kengerian itu…

Lalu siapakah yang bersalah karena seorang anak bunuh diri karena lapar?. Diakah, kitakah?.

Lalu, bagaimana perasaan kita membaca berita dari Harian Surya ini (dikirimkan oleh Rekan El Za, melalui komentar). 😥

LAPAR, ANAK SD GANTUNG DIRI

Wednesday, 20 February 2008

Magetan-Surya, Heran melihat Teguh Miswadi, 11, tidak masuk sekolah sejak Senin (18/2), Sujarwo menjenguk salah-satu murid pintarnya itu kemarin. Pak guru Sujarwo, 45, khawatir sakit maag Teguh kambuh, dan dia ingin membawanya ke Puskesmas.

Namun, tiba di rumah Teguh yang tinggal bersama neneknya di Desa Pupus, Kecamatan Lembeyan, Kab. Magetan, Sujarwo terkejut bukan kepalang. Di sebuah kamar yang tak terkunci di rumah setengah kayu dan setengah bambu itu, Sujarwo melihat siswa kesayangannya tergantung kaku. Teguh sudah tak bernyawa. Teguh bunuh diri.

“Seutas tali tampar biru menjerat lehernya,” kata Sujarwo saat ditemui Selasa (19/2). Tali itu diikatkan pada blandar atau kayu penopang atap.

Menurut Sujarwo, Teguh gelap mata, sangat mungkin karena tidak tahan akan rasa sakit yang menyerang perut. Maag itu sering membuatnya mengerang. Penyakit ini seharusnya dilawan dengan makan teratur dan bergizi. Tapi, justru itulah yang tak mungkin didapatkan.

Beberapa tetangga membenarkan Teguh hanya makan satu kali sehari. Kondisi Teguh yang tinggal hanya berdua dengan neneknya yang renta, memang sangat memprihatinkan. Siswa kelas 5 SDN Pupus 02, Kecamatan Lembeyan, Kabupaten Magetan ini sering mengeluh sakit perut.

“Teguh menderita sakit maag akut sejak cukup lama dan.tak ada yang memperhatikan secara penuh sakitnya, termasuk kebutuhan makannya,” tutur Sujarwo dengan nada prihatin.

Dengan kondisi keluarga Teguh yang miskin, makan sebagai kebutuhan paling dasar tampaknya memang tak sanggup dipenuhi keluarganya. Teguh tinggal bersama Mbah Ginah, 76, neneknya yang buta di RT 2 RW 7 No 672 Desa Pupus, Kecamatan Lembeyan, Kabupaten Magetan. .

“Sebetulnya tidak ada yang aneh. Anak itu mudah bergaul dengan teman sebayanya dan tergolong cerdas. Hanya, dia sering tiba-tiba terdiam,” kata Sukarni, 35, tetangga Mbah Ginah.

Baru ketika bocah ini nekat gantung diri, orang-orang dewasa di sekitarnya melek. Betapa tersiksanya Teguh yang hanya bisa mengisi perut sekali sehari. Bahkan sebelum meregang nyawa, dia diduga sangat kesakitan. Ini terlihat dari tas sekolah, buku-buku, sepatu, serta seragam sekolah yang ada di bawahnya berantakan.

Sangat mungkin Teguh yang mengenakan kaus hijau dan celana jins biru ini berkelojotan menahan sakit.

Menurut Sukarni, Mbah Ginah menjadi satu-satunya orang yang dianggap paling bisa memberi perhatian pada Teguh. Tetapi, karena sudah tak bisa melihat, Mbah Ginah memiliki keterbatasan. Selain itu, kemiskinan selalu saja menjadi sandungan.

Bahkan ketika bocah malang ini tinggal bersama ayahnya, Suwarno, 41, dia juga tidak mendapat perhatian apalagi dirawat layaknya seorang anak. Lagi-lagi kemiskinan yang membuat keluarga kecil ini berantakan.

Kata sejumlah tetangganya, Suwarno harus berangkat ke sawah sebagai buruh tani usai subuh dan kembali ke rumah menjelang senja. Ibu Teguh, Supartinah, 38, telah pergi merantau ke Sumatera sejak Teguh masih kecil. Hingga kini Supartinah tidak pernah kembali, sehingga tak ada yang sekadar menyapa apakah bocah ini sudah makan atau belum, apakah di rumah ada yang bisa dimakan atau tidak.

“Teguh kemudian memilih tinggal bersama Mbah Ginah yang tinggalnya masih sedesa dengan ayahnya. Meski sama-sama miskin, mbah yang buta ini lebih telaten,” kata Sukarni.

Teguh memilih mengakhiri rasa sakit dan kemiskinan itu dengan caranya sendiri. Bayu, 11, teman sebangku Teguh di kelas, menangis mendengar teman belajar dan teman bermainnya meninggal.

Menurut Bayu, nilai pelajaran Teguh yang duduk di bangku terdepan ini bagus-bagus. “Selalu 7 dan 8. Dia juga mampu menirukan semua bentuk lukisan maupun gambar di atas kertas,” kata Bayu.

Bayu ingat, ketika bermain bersama, Teguh sudah berpesan mulai Senin (18/2) tidak masuk sekolah lagi. “Sabtu lalu dia bilang sakit maagnya kambuh,” tuturnya.

Setelah memastikan sebab kematian, Kapolsek Lembeyan, AKP Subagyo langsung menyerahkan jasad Teguh kepada keluarga untuk dimakamkan atas permintaan keluarga.

Ayahnya, Suwarno, tak bisa dimintai keterangan karena pingsan setelah melihat Teguh meninggal.

******

Duhai, masih pantaskah kita untuk….

Wassalamualaikum wr wb.

Iklan

3 Tanggapan to “Seberapa Iba Kita Kepada Kepedihan Saudara Kita !.”

  1. trijokobs said

    Om Agor,
    Pak SBY, anggota DPR yth, men sos, bupati magetan, camatnya tahu gak ya mengenai hal ini…

    hati-hati lho Aa’ agor, nanti kalau nulis ada anak laper terus bunuh diri bisa kena pasal banyak lho.. (kayak nasib monolog SARIMIN), pasalnya
    – menghina pmerintah, masak jaman begini masih ada yg laper…
    dll.

    Rp. 500 / Rp. 1000 jujur saja “kurang” berarti buat kita, tp sangat berarti buat mereka.. begitu Om Agor?

    for the world, you may be one person,
    but for one person, you may be THE WORLD.

    Nuhun om Agor.

    @
    Kalau tidak tahu… terutama mulai dari rt, rw, lurah, camat… maka… betapa amanat seorang pemimpin akan ditanyakan (kah) oleh anak dan neneknya yang buta di dunia itu. Mana tanggung jawab sebagai khalifah…. ?.
    Apakah kita siap juga ya ketika pertanyaan yang sama ditanyakan oleh organ-organ tubuh kita yang bertugas melaksanakan amanat….

    Suka

  2. Makasih nih, rasanya saya tadi terdepak.

    @
    Mudah-mudahan di dekat Mas Spitod tidak ada yang kelaparan….

    Suka

  3. cewek.chuper said

    Astgfirlloh..,artikel yg menyentuh.ktika membaca artikel ini,mshkah kt trus menghrap sesuatu mewah,sedangkan,,msh byk saudara kt yg kelaparan.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: