Sains-Inreligion

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Perlu atau Pantas Nggak Bilang Sesat?

Posted by agorsiloku pada Februari 4, 2008

MUI sering dikritik karena termasuk yang sering dikritik pedas karena berfatwa :”sesat dan menyesatkan”. Begitu juga sebagian ulama (baca : panutan) yang suaranya didengar ummat berfatwa bla-bla-bla maka akan menjadi salah satu alat ukur yang kemudian menjadi bahan pertentangan, atau minimum wacana ummat.

Fatwa MUI tentang ucapan selamat yang berbeda keyakinan, halal dan haram, tentang agama Islam Ahmadiyah, pluralisme, dan masih banyak lagi.

Diikuti atau tidak diikuti, itu adalah pilihan ummat, berdosa atau nggaknya tentu bukan MUI yang memutuskannya. Mudarat atau manfaat itu juga berkembang berdasarkan persepsi atas nash nash yang ada.

Apakah MUI punya otoritas untuk menyatakan sesat atau tidaknya satu golongan yang “kebetulan berbeda” pandangan terhadap isi atau petunjukNya. Bisalah ini diperdebatkan atau bahkan dijadikan area untuk saling mempersalahkan.

Banyak silang pendapat bahwa tidak ada satupun yang punya otoritas untuk menyatakan satu atau lain yang berbeda tidak saling “menyalahkan”. Ini setidaknya dapat meminimalisasi kekerasan atas nama agama. Benarkah !?. Ada golongan-golongan dan sejumlah golongan yang bertindak secara keras (bahkan radikal) bahkan ada juga yang kemudian melahirkan permusuhan luar biasa !.

Namun, menurut saya, MUI atau yang kompeten pada bidangnya, yang berdakwah pada kebenaran perlu untuk bersuara menjelaskan kepada ummatnya atau ummat yang menjadi sasaran bahwa kesimpulan yang diperoleh adalah bla…bla…bla. Pernyataan ini bukan pemicu kekerasan, karena kekerasan dipicu oleh lemah dan tegaknya hukum di suatu negara. Menjaga keluarga dari aliran-aliran yang dianggap oleh mayoritas sesat adalah peringatan untuk mewaspadai. Tindakan hukum adalah persoalan lain.

Lalu bagaimana dengan yang menggunakan nama Allah untuk memerangi kemaksiatan yang dilakukan oleh warga?, bagaimana menghadapi radikalisme dalam agama yang menyentuh kepentingan publik yang lain ?!

Tahun 2007 menurut sumber dari Utan Kayu (yang juga doyan menyerang kebijakan MUI) ada 32 kekerasan yang dilakukan kelompok masyarakat beragama pada kelompok lainnya. Apakah MUI pemicunya, ataukah karena MUI itu justru kekerasan menjadi minimum. Bagaimana kalau tidak ada pernyataan, lalu kelompok masyarakat lain lah yang menyatakan dan sekaligus bertindak. Bertindak atas nama tuhan kelompok !? untuk mengamankan kelompoknya dari gangguan/militansi kelompok lain !?

Lepas dari a-i-u, menurut hemat agor selalu dibutuhkan oleh ummat untuk bertanya dan meraih petunjuk/informasi dari “yang dianggap kompeten” terlepas dari mereka itu mewakili pribadi atau kelompok. Sedangkan yang membuat kekacauan atas nama agama dan kemudian melanggar hukum negara, sudah seharusnya pula negara bertindak. Kalau yang bertindak itu adalah kelompok-kelompok dan tidak ada tindakan yang sungguh-sungguh dari negara, maka langsung tidak langsung, negara (Pemerintah) telah mengkambing hitamkan kebecusannya melaksanakan hukum demi kepentingan- kepentingan kelompok.

Iklan

9 Tanggapan to “Perlu atau Pantas Nggak Bilang Sesat?”

  1. danalingga said

    Gimana kalo MUI juga mengeluarkan fatwa sesat terhadap pelaku kekerasan? Bukankah lebih bijak?

    @
    😀 boleh juga. Namun, melihat kekerasan tidak perlu fatwa toh… apalagi yang jelas tanpa hak, karena itu mudah dipahami. Namun yang terselubung, dibungkus kepentingan atau tujuan tertentu, atau sisi-sisi aliran yang lebih banyak mudharat, memperkaya imam, mengambil alih kepemimpinan ummat dan seterusnya sampai masuk jalur-jalur yang kita tidak terbiasa memahaminya, yang terselip halus, yang tidak mudah dipahami awam, yang menimbulkan konflik bawah sadar… tidakkah diperlukan ada pembanding lain yang mereposisikan?…..

    Suka

  2. MaIDeN said

    Kalau yang bertindak itu adalah kelompok-kelompok dan tidak ada tindakan yang sungguh-sungguh dari negara, maka langsung tidak langsung, negara (Pemerintah) telah mengkambing hitamkan kebecusannya melaksanakan hukum demi kepentingan- kepentingan kelompok.

    TOP banget comment-nya

    tentang agama Islam Ahmadiyah,

    Ada link bagus nih soal Agama Ahmadiyah: http://harry.sufehmi.com/archives/2008-01-09-1576/

    @
    Trims Mas Infonya… saya termasuk pengunjung setia blognya Mas Harry… (tapi sudah lama nggak berkunjung… )

    Suka

  3. danalingga said

    Seharusnya memang tidak perlu fatwa melihat kekerasan pak. Tapi masalahnya ada juga masyarakat yang menganggap melakukan kekerasan terhadap yang sudah di cap sesat MUI itu adalah kekerasan yang halal.

    Nah, kalo itu solusinya gimana menurut bapak?

    @
    Kalau ingin menyerang kelompok lain, sesat atau tidak sesat itu persoalan nafsu. Kalau mengambil alih peranan Allah, maka Allah sendiri apakah meminta manusia melakukannya? Agama adalah petunjuk ahlak dan iman kepada Sang Pencipta, beribadah. Kita tidak usah jadi Allah untuk menghukum manusia lain karena kesesatannya dalam menjalankan agama. Tunjukkanlah jalan yang benar (menurut pemahaman ulama MUI atau ulama siapapun). Kalau urusannya menyalahi hukum negara, ya hukumlah yang bertindak. Berdialog adalah salah satu cara yang baik. Namun, jika mereka memerangi (dengan kata, dengan pedang, dengan ekonomi, dengan kekerasan) maka perangilah kembali, tapi jangan berlebihan. Itu kan perintah Allah kepada hambaNya. Peringatan MUI atau siapapun adalah peringatan, kalau mau sesat ya sesatlah, kalau mau jahat… jahatlah, tidak usah karena MUI. Namun, jelas pula MUI juga jangan mau dong dijadikan alat untuk melegitimasi kekerasan. Jadi, menurut agor sih, peringatan atau penjelas untuk saling mengingatkan itu adalah syiar agama, soal orang mengambilalih hak Allah adalah deviasinya. Penyimpangannya harus dikoreksi, tapi mengingatkan dan saling mengingatkan untuk kebaikan adalah perintah Allah kepada hambaNya. Setuju !?

    Suka

  4. Donny Reza said

    Kenapa ya, setiap ada institusi yang dinilai ‘nggak becus’ di negara kita, malah dianjurkan untuk dibubarkan?! Bagi kelompok Utan Kayu, MUI dinilai tidak becus, lha mereka?!

    Kalau setiap institusi yang ‘tidak becus’ dibubarkan, berarti pemerintah juga harus bubar toh?! Seharusnya kan diperbaiki, bukan dibubarkan…

    Bagi saya, MUI tetap diperlukan, bagaimanapun mereka lah ‘hakim garis’ di ‘lapangan’, meskipun yang namanya ‘hakim garis’ juga bisa berbuat salah, tapi setidaknya mereka lebih kompeten dibandingkan kebanyakan masyarakat yang awam. Jika kemudian fatwanya memancing kerusuhan, bukan sepenuhnya kesalahan MUI, karena barangkali ‘penonton’-nya belum siap menerima perbedaan, jadi cenderung anarkis. Namun, bagaimanapun keputusan ‘hakim garis’, ‘pertandingan’ harus tetap berlanjut kan?! Kalau ada yang rusuh, itu sih urusannya polisi…hihi 😀

    @
    ha…ha…ha… gpp kan dianjurkan untuk dibubarkan… kan hanya anjuran… anggap saja kritik pedas yang membangun. Menjadi lain masalahnya kalau memaksa dengan berbagai cara untuk dibubarkan paksa. JIL, MUI, atau siapa saja silahkan bubar kalau sudah tidak memberikan manfaat atau malah ngrepot-repotin. Lebih banyak mudarat dari pada manfaat. Presiden juga turun saja deh lebih cepat dari pada makin bikin susah bangsa. Gpp itu suara warga negara melihat deviasi yang terjadi. Dari situ tentu diharapkan koreksi ke luar dan ke dalam. 😀 DPR juga begitu…

    Suka

  5. danalingga said

    Yup, saya setuju pak. Marilah kita mendakwah versi kebenaran masing masing. Tapi janganlah sampai memaksa dengan kekerasan.

    @
    Berlakulah lemah lembut…. (duh susah nian melaksanakannya)….

    Suka

  6. Abu Afkar said

    Masalah menganggap orang lain sesat sebenarnya adalah yang wajar saja… Orang salafi menganggap sufi itu sesat atau paling halus “salah”, sebaliknya orang sufi menganggap salafi juga kurang lebih sama…. Orang Suni menganggap Syiah itu sesat, Orang syiah menganggap Suni itu sama juga….

    Yang jadi masalah sebenarnya, bagaimana kita memperlakukan orang yang kita anggap “sesat” itu? Al-Quran sebenarnya jelas memberikan 3 jalan dakwah, yaitu “hikmah”, “penuturan yang baik”, dan “dialog yang terbaik”. Tidak perlu ada jalan kekerasan, karena pada akhirnya semua bertanggung jawab kepada Allah atas pilihan masing-masing…

    Wallahu a’lam…

    @
    Pesan Abu begitu menjelaskan, namun ternyata fakta hubungan manusia menunjukkan bahwa klaim kebenaran begitu mudah terjadi pada setiap bagian. Lebih mudah berhubungan dengan Allah dengan segala kemahaanNya, dibanding manusia dalam segala keterbatasannya…..

    Suka

  7. Raja Ahmad Ismail said

    Assalamu’alaikum,
    Soal sesat menyesatkan (pengertiannya terbatas dalam ruang lingkup agama Islam), maka rujukannya adalah Al-Quran dan Sunnah Nabi yang Shahih.
    Sejauh kretaria sesat sudah terpenuhi menurut Al-Quran dan Sunnah, maka bolehlah “aliran” tersebut dikategorikan sesat dengan pengertian tidak sesuai dengan ajaran Islam. Contohnya, Aliran AHmadiyah, apakah Qadian atau Lahore. Karena keyakinan mereka bahwa Mirza Ghulam Ahmad adalah Nabi, maka bolehlah kita golongkan dalam pengertian “sesat”, karena i’tikad mereka sudah tidak sesuai dengan Al-Quran & Sunnah yang mengatakan secara tegas bahwa tidak ada Nabi/Rasul setelah Nabi Muhammad SAW, walaupun mereka berdalih bahwa Mirza Ghulam Ahmad bukan Nabi pembawa risalah.
    Begitu juga Islib, yang beranggapan semua agama sama, padahal Al-Quran sudah mengatakan bahwa yang diredha oleh Allah hanyalah Islam.
    Apakah MUI berhak?. Sejauh MUI adalah salah satu Lembaga bentukan pemerintah, maka menurut hemat saya sah-sah saja MUI mengeluarkan fatwa sesat.
    Apakah fatwa tersebut akan jadi pemicu kekerasan?. Tergantung dari tanggapan masing-masing. Karena untuk meluruskan kesesatan ini adalah kewajiban dan hak Pemerintah, bukan hak individu atau kelompok. Tetapi kalau pemerintah berdiam diri, sedangkan “aliran” berkenaan sudah menimbulkan keresahan dalam masyarakat Islam, maka tidak salahnya individu atau kelompok dalam Islam menegur dan menasehatinya dengan cara baik. Tetapi kalau tidak bisa dan tetap membangkang, maka tidak bisa disalahkan kalau masyarakat mengambil tindakan sendiri, walaupun mungkin akan mengakibatkan kekerasan sejauh bukan karena balas dendam atau lainnya. Mempertahankan keutuhan dan kemurnian Islam adalah suatu kewajiban bagi individu, kalau pemerintah sudah tidak mempunyai keberanian untuk mencegahnya.
    Mudah-mudahn sedikit koment ini bisa bermanfaat.
    Wassalam,

    @
    Mas Raja… terimakasih atas catatannya. Banyak hal saya sependapat, meski agak kurang juga ketika penetapan itu menjadi kewajiban pemerintah (kalau hak betul). Dalam hal ini Indonesia, yang punya Depag. Tapi pertanyaan bisa muncul, bagaimana kalau pemerintahan sekuler akan menetapkan?. Bagaimana kalau Presidennya bukan beragama Islam, bagaimana kalau depag tidak berfungsi atau dikuasai justru yang disebut sesat !?. Ukuran yang paling tepat dalam pemerintahan, semestinya hukum yang berlaku (baik secara sosial) maupun hukum pidana dan perdatanya. Keresahan adalah salah satu bentuk yang mengharuskan pemerintah melakukan tindakan preventif. Selebihnya, saya akur betul dengan yang Mas Radja sampaikan. MUI bentukan pemerintah atau bukan, sesuai namanya, tetap adalah salah satu aspirasi ummat. Masalah bisa rumit ketika pemerintah juga merestui aliran-aliran yang membuat sumber tercemari….
    Salam… 😀

    Suka

  8. Abu Afkar said

    Saya kutip:
    “Tergantung dari tanggapan masing-masing. Karena untuk meluruskan kesesatan ini adalah kewajiban dan hak Pemerintah, bukan hak individu atau kelompok. Tetapi kalau pemerintah berdiam diri, sedangkan “aliran” berkenaan sudah menimbulkan keresahan dalam masyarakat Islam, maka tidak salahnya individu atau kelompok dalam Islam menegur dan menasehatinya dengan cara baik. Tetapi kalau tidak bisa dan tetap membangkang, maka tidak bisa disalahkan kalau masyarakat mengambil tindakan sendiri, walaupun mungkin akan mengakibatkan kekerasan sejauh bukan karena balas dendam atau lainnya….”

    Apa iya cara menyikapi orang yang berbeda pendapat, meskipun kita anggap sesat itu seperti itu? katakanlah Syiah kita anggap “sesat”… Terus benarkah kita melakukan kekerasan terhadap mereka? Begitu juga kepada teman2 Islib? Begitu juga kepada teman2 sekuler?

    Wah, kalau begini caranya… Melihat majemuknya Islam di Indonesia bisa2 tiap hari perang negara kita…

    Wallahu a’lam…

    @
    Dalam pemahaman saya justru sedikit berbeda. Hak untuk berbicara (syiar agama) bukanlah hak siapa-siapa, tapi hak ummat Islam dalam menyuarakan kebenaran. Terlepas mau diterima atau tidak oleh pendengarnya. Jika tidak mau mendengar, serahkan kepada Allah untuk memutuskan. Bagi seorang ummat Islam malah itu kewajiban yang memberikan tempat baginya dan dan insya Allah untuk mendapatkan ridhaNya. Tindakan dan syiar adalah dua hal yang berbeda. Karena itu, bukankah seperti sitenya Mas Abu dan banyak lainnya… adalah menyuarakan karena mengharap ridhaNya juga. Organisasi atau bukan, adalah pilihan dalam syiar itu. Termasuk membentengi terhadap suara yang berbeda….
    Sedang kekerasan, hukum dalam masyarakat itulah yang harus ditegakkan. Seperti kata Mas Abu juga yang disitir dari AQ : Dengan cara yang baik, lemah lembut. Allah juga mengajarkan kepada kita untuk berbuat demikian. Bahkan meminta Musa melakukannya kepada Fir’aun.
    Salam, agor.

    Suka

  9. kalimusada said

    Assalamu’alaikum
    Saya masuk situs ini sebenarnya lagi nyari info ttg tenaga prana, eh pas baca-baca ternyata bagus, saya suka gaya bahasanya. Smart n Wise!! Soal saling menyalahkan menurut saya sih itu biasa terjadi, Islam sendiri pertama muncul kan ‘Aneh’, jadi kalau sekarang hukum islam dianggap ‘Aneh’ ya pantas aja, namanya juga zaman Jahiliyah Modern. Hehe, sip pisan lah pak blogna. Mantap.

    @
    Wass.wr.wb.
    Terimakasih, begitu banyak saudara-saudara maya yang memberikan catatan berharga dan selalu mewarnai membuat yang sederhana menjadi perlahan disempurnakan….

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: