Sains-Inreligion

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Peluang Mematikan Korban Lumpur Masih Terbuka!

Posted by agorsiloku pada Januari 30, 2008

Sejak semburan yang penuh kontroversi itu dan bahkan presiden pun sempat menangis dan berduka melihat korban lumpur Sidoarjo yang tidak/belum bisa ditangani dengan baik, maka kesempatan untuk memperbaiki masih ada. Tentu saja jika masih ada kemauan dan kesungguhan dari Pemerintah Pusat dan Daerah. Inilah yang kemudian sangat tidak ditampakkan, baik oleh Pemerintah Pusat maupun Daerah. Tangis dan keinginan untuk meringankan bencana ini dari Bapak Presiden yang cukup sibuk jelas tak cukup. Buktinya jelas, pengungsi masih bertumpuk-tumpuk dan mekanisme ganti buntung juga tidak kunjung usai.
Malah Tim Lapindo malah jauh lebih canggih dan perkasa ketimbang keinginan (habis sih cuma sebatas keinginan) Presiden. Kasus penyidikan akan dihentikan, dan iklan yang dipublikasikan oleh mereka benar-benar mempermalukan birokrasi dan ilmuwan negeri ini. (itu kalau masih punya malu seeh… )

Kompas, 30 Januari 2007 hlm 13 menulis : Lumpur Lapindo, Peluang Mematikan Semburan Masih Terbuka. Dalam diskusi Pakar bersama Publik : Mengurai Lumpur Lapindo dan solusinya, disebutkan bahwa semua pembicara menolak hipotesis semburan lumpur panas diakibatkan fenomena bencana alam, seperti gempa bumi yang terjadi dua hari sebelum 19 Mei 2006. Begitulah antara lain yang disampaikan oleh Wakil Direktur Pertamina Mustiko Salah, mantan Manajer Umum Pertamina Robin Lubron, dan ahli semburan pensiunan Pertamina Kersam Sumanta. Pembicara lain, geolog independen Andang Bachtiar.

Yang tercium saat ini justru adanya penyembunyian informasi seputar proses pengeboran awal. Rudi dan Andang menyebutkan kesulitan para ahli perminyakan dan geolog memperoleh data untuk menganalisa penanganan sumber semburan.
Data mikroseismik di bawah permukaan hingga kini juga tidak ada. Ia menyebutkan keanehan yang terjadi dua tahun ini, yakni tidak ada diskusi teknis di kalangan asosiasi teknik perminyakan, pengeboran, dan geolog tentang penyebab da solusi menghentikan semburan.
Kenapa?. Karena di dalam asosiasi-asosiasi itu ada orang yang punya kepentingan tertentu. Memalukan. Justru Walhi yang bisa melakukannya.
Tim Pengawas Lumpur Lapindo DPR Nizar Dahlan mengakui, banyak pihak bermain dengan banyak kepentingan. Ada relasi dengan proyek-proyek dan banyak kepentingan lain di luar kasus ini.

Musibah Bangsa.

Musibah yang besar untuk bangsa ini adalah pembiaran. Pembiaran korban dan cukup hanya dengan memberikan empati sesaat. Lebih busuk lagi ketika kaum intelektual (dan tentunya kaum agamawan) yang seharusnya berada pada barisan terdepan untuk menjaga etika dan moral bangsa di depan tantangan korupsi, manipulasi, dan segala bentuk tekanan keabsurditasan bangsa malah memilih diam dan pura-pura tidak tahu (atau tidak mau berdaya) atas penyimpangan yang terjadi. Sia-sialah semua idealisme masa muda dan pendidikan, ketika hukum dipat-patgulipatkan dengan alasan-alasan agama atau keilmuan.

Kutu yang mengisap darah atau disebut juga bangsat, tetaplah kutu. Dia tidak membela diri menjadi malaikat. Tidak menggunakan alasan kejahatan dengan lapisan kebaikan yang sebenarnya hanya untuk menipu cara pandang masyarakat. Agar informasi dan pandangan semakin bias. Rasanya, betapa semakin tidak nyamannya kaum terpinggirkan ketika yang berada di garda depan penjaga moral (bukan penjaga hukum) sudah bermain-main di wilayah paling sensitif bagi tegaknya etika.

Menurutku, ini adalah musibah bagi bangsa ini, lebih besar dari pada banjir. Yang kotor di sini adalah hati, yang membungkus angkara murka sehingga tampak anggun dan terhormat.

Kalau kebenaran sudah enggan disuarakan, lalu di mana lagi bangsa ini punya harga !?

(Karena itu, iklan yang dibuat Lapindo itu, menurut saya benar-benar penghianatan terhadap etika dan rasa keadilan). Orang berbuat jahat, dihukum bersalah dan mengakui bersalah. Tapi ketika tidak mengakui bersalah, orang masih mungkin. Derajat penghianatan menjadi lebih tinggi lagi ketika hati nurani juga berusaha diingkari ke depan publik. Dan yang menyakitkan, ilmuwan berperan juga di situ. 😦  )

Sungguh luar biasa.

Iklan

3 Tanggapan to “Peluang Mematikan Korban Lumpur Masih Terbuka!”

  1. jadi, masalah lumpur ini berhubungan dengan banyak bangsat pihak yak, bang 😆

    @
    Ah nggak… mungkuiiiin karona salah satu pemiliknya adalah …. itu tuh…
    slaah sorang terkayo di nagaro ini….

    Suka

  2. haniifa said

    Wahhh…saya baru tahu,klo pemiliknya slaah seorang terkayo di nagaro ini.!!
    Gimana biar lebih kayo lagi, inpesin duitnya buat wong jualan “Es” biye campur “Jus” Kala Pa (… eh salah.. es piye jus kelapa) di SIDOARDJO !! 😀

    @
    Jadi ingat Karun… !

    Suka

  3. […] seperti keberhasilan Pemerintah untuk tetap mempertahankan korban lumpur lapindo, amanat UUD 45 untuk kaum yang berada pada belenggu kemiskinan tak mampu cukup untuk mengetuk para […]

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: