Sains-Inreligion

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Memaafkan Almarhum Soeharto, Apa Susahnya Seeh?.

Posted by agorsiloku pada Januari 28, 2008

Maka putuslah segala beban yang sejarah dengan wafatnya Jendral Besar HM Soeharto kemarin siang, hari Minggu 28 Juni 2008. Bangsa Indonesia kehilangan salah seorang tokoh full senyum yang berhasil menswasembadakan pangan di negeri ini. Yang pemerintahannya kontroversial, dan represif sampai satu tingkat tertentu.  Yang mundurnya almarhum dari tampuk kepemimpinan menyisakan sejumlah pertanyaan dan yang mundur dengan terpaksa oleh demo-demo rakyat dan mahasiswa tak berkeputusan menjelang lengsernya beliau. Untunglah kecintaan beliau terhadap negeri ini cukup kuat sehingga tidak bersimbah darah dari sikap represif semasa kekuasaannya berjaya (kecuali represif terhadap tokoh-tokoh yang bersebrangan !)

Berhenti juga pemaksaan beliau untuk tetap harus hidup… (yah memang namanya juga usaha untuk mempertahankan kehidupan. Tindakan dokter adalah wajar dan manusiawi).

Permintaan di antara isak tangis kepedihan dari puteri sulung Pak Harto juga adalah sangat wajar dan manusiawi.

Sebagai bangsa pemaaf yang kalau marah merusak apa saja yang ada, lupa saudara, sudah sewajarnyalah kita memaafkan segala khilaf dan salah beliau sebagai seorang manusia, seorang pemimpin yang telah juga berjasa besar bagi bangsa ini.

Jadi ingat kasus KPU, ketua KPU dan konco-koncone melakukan tindakan korupsi dan diminta “mengingat” jasa-jasa para tokoh itu dalam melaksanakan pemilu, maka hendaklah dimaafkan.

Menurut ketidakmengertian saya, inilah salah satu titik keliru dari bangsa ini memandang sejarah.  Memandang pemaafan.  Begitu gampang dan nyaris tanpa beban, ketika sejarah ditutupi dengan alasan yang begitu relatif.  Kematian sang tokoh atau jasa tokoh secara otomatis menghilangkan peluang tegaknya kebenaran.

Masih ingat BLBI, kasus yang membuat skema kemplangan.  Konon (sekali lagi konon) jumlahnya mencapai ratusan Trilyun.  BCA saja, hutang keluarga Salim mencapai tigapuluh trilyun (30 ribu milyar rupiah).  Dan berapa uang yang kembali untuk meningkatkan kesejahteraan pertumbuhan rakyat yang semakin miskin …!

Peninggalan  Dosa sejarah ini tidak pernah tuntas, ditelan bersama waktu, bersama permohonan maaf sambil tidak pernah kita ketahui lagi, adakah kita mengambil pelajaran dari segala ketimpangan-ketimpangan yang terjadi !.

Apakah memaafkan artinya sama dengan lupakan, yang sudah diambil sudahlah… kita lupakan dan maafkan saja.  Apalah daya Republik ini untuk memaafkan sekaligus juga menerima atau merampas kembali uang atau kekayaan yang seharusnya bisa digunakan untuk menyejahterakan generasi berikutnya.

Semoga almarhun Bpk HM Soeharto diterima di sisiNya, dalam haribaanNya dan semoga pula apa yang diambil dari yang bukan hak beliau dan seluruh perangkatnya dapat diambil atau diurus untuk kemashalatan bangsa ini.  Semoga.

Semoga Pemerintahan punya kekuatan untuk  kembali pada posisinya, semoga juga tokoh Indonesia juga bisa untuk tidak mencampuradukkan antara jasa dan kejahatan.  Jangan karena ada sejumlah jasa besar, maka tidak ada lagi hukum yang bisa diberlakukan untuk orang-orang berjasa…..

Iklan

18 Tanggapan to “Memaafkan Almarhum Soeharto, Apa Susahnya Seeh?.”

  1. Seperti yang saya tuliskan di sini. Memang sebaiknya Pak harto mati. Dengan demikian, beliau terbukti bukanlah seorang jin, setan, malaikat, iblis apalagi tuhan. tetapi beliau tetaplah manusia sama seperti yang lainnya.

    Soal dosa dosa dan kesalahan beliau. Karena orangnya sudah modar, maka itu akan menjadi urusan beliau dengan Sang Pencipta.

    @
    Pak Harto bukan jin atau malaikat… tapi kharismanya untuk konco-koncone n keluarga membuat mereka berharap (mungkin) hidup selamanya.
    Urusan beliau dengan Sang Pencipta, tapi yang ditinggalkan yang dikungkungi kroni kan bisa dibagikan…. 🙂 Pak Harto sendiri sudah mengijinkan, kalau memang ada !. Tapi bagaimana dengan lainnya… akankan sisa (dosa) sejarah ini hanya menjadi bahan pelajaran sekolah saja !

    Suka

  2. Haniifa said

    Macan mati meninggalkan “belang”…kalau dikuliti 😀

    @
    belang itu, tentulah milyaran dollar nilainya… 😀

    Suka

  3. Donny Reza said

    Dengan semakin bertubi-tubinya berita saat itu, saya juga malah ‘ingin’ pak harto cepat mati saja. Kasihan juga melihatnya, sakit parah seperti itu di ekspos habis2an…

    @
    Untuk Pak Harto, tentunya beliau tidak tahu…yang kasian… ya yang menguwo-uwo sama yang melihat begitu banyak hasil 31 tahun memimpin negara dan tak dapat diusik…. Ada harapan tersisa, bukti sejarah yang tak pernah terungkap, supersemar dan sisa-sisa kejayaan setelah janji reformasi yang tak pernah terwujud…..

    Suka

  4. muse_napoleon said

    ya mbo sudah toh, ini ciri2 orang indonesia, ngga ada puasnya ya, orng uda mati, mau di kasusin bagaimana lagi, trus kalo emang salah, apa harus di gali lagi kuburannya, trus dimasukin ke penjara, lo mah bego, elo semua belum pernah di grayangin setan sih, skrg kita smua liat dri sisi baiknya dong, ngga ada dia mana ada pembangunan, btul ngga, hidup pak harto, eh uda mati ya, ya udah maafin aja dosa2nya, didunia kan uda di siksa, ya biarkan sang pencipta yang punya urusan, jangan ikut2 campur urusan tuhan, skrg mana kita tau, disana dia masuk surga apa neraka, apa ngga masuk dua-duanya, hhehehehehehe…….

    sekarang kita, termasuk gw, udah lah, jangan kita ikut2an pusing, biar semua kan ada hukum indonesia,

    kalo mau anak2nya tuh di kasusin, ya….pasti pada takut semua, antek2nya juga, di kasusin kalo berani,

    ini beraninya sama orang mati.

    @
    Sungguh, tidak lho berani sama orang mati. Yang dipostingkan di sini juga sama sekali tidak mempersoalkan pak Harto alm, tapi hanya bertanya, apakah kekayaan kroni yang diambil bisa kembali untuk rakyat indonesia. Kan ini negara hukum. Ambil contoh BLBI yang ratusan Trilyun biaya yang dapat menyejahterakan rakyat Indonesia atau untuk membayar hutang bangsa ke bangsa asing. Pertanyaannya, apakah kalau semua yang terlibat BLBI meninggal, lalu tidak perlu lagi ada upaya menarik uang BLBI itu dan cukup selesai saja dan biarlah uang jarahan itu menjadi milik anak cucunya. Apakah logika ini yang akan kita pertahankan demi hukum. Saya kira nggak ya… Paling tidak semoga nggak begitu ya… 😦

    Suka

  5. Bagaimapun seorang Soeharto adalah manusia hebat, dan berjasa. Sebagai manusia (hebat) Seharto tidak lepas dari kesalahan, Memaafkan kesalahan adalah wilayah manusia dalam hubungan kemanusiaan, soal dosa atau tidak urusan Allah SWT. Bila kita memaafkan, yang dimaafkan diringankan, yang memaafkan dapat pahala. (saya ngak tahu pasti, Insya Allah).

    Soal kesalahan yang bermuatan hukum, ya harus diselesaikan secara hukum, terlepas sesorang mati atau tidak. Hukum tidak mengenal wilayah matai atau hidup. Saya pernah merasakan nikmatnya hidup agak nyaman di bawah kepemimpinan Soeharto, dan diburu-buru aparat kemanan gara-gara ikut-ikutan mengkritik kebijakannya. Setelah dipikir-pikir, itulah perjalanan kehidupan. Jadi, … maafkan yang bisa dimaafkan. Belajar dari kebaikannya, belajar dari keburukkannya.

    Soal kroni-kroninya, kita serahkan pada hukum. Mudahan hukum di negeri ini menjadi hukum sesungguhnya karena ‘dijalankan’ mereka yang paham arti hukum sesunguhnya. Semoga.

    @
    Betul Bang Ersis… postingan saya sama sekali tidak membahas jasa dan dosa Pak Harto …hanya, sejarah terhadap kebenaran janganlah ditutupi hanya karena jasa yang begitu besarnya. Apalagi meninggalkan sejumlah gugatan yang uangnya bisa dipakai membayar utang negara ini…. Karenanya, contohnya diperbandingkan dengan BLBI. Pada kasus presiden-presiden dari Afrika (terutama), betapa besar jumlah yang dikemplang oleh diktatornya dan itu tersimpan dengan aman sejahtera di negeri-negeri yang bisa dan mau menyimpan uangnya dalam skala yang kadang sulit kita bayangkan….

    Suka

  6. Hedwig™ said

    Seorang yang katanya pakar politik menyebutkan bahwa pada masa Pak Harto, pembangunan memiliki visi-misi di awal, walaupun pada akhirnya berantakan. Tetapi pada masa pemerintahan saat ini visi-misi itu gak ada.

    Jadi ingat waktu masih sekolah dasar, dijejali dengan pengetahuan pelita (pembangunan lima tahun). Seandainya saja, tidak terjadi masalah, seharusnya pada saat terjadi penggantian kekuasaan, pembangunan tetap berjalan sesuai rencana.

    Masalah kroniwan dan kroniwati, memang sebaiknya segara dicari tahu, dan mengenai dana BLBI, penguasa saat ini harus rajin mengejar pelakunya.

    Seandainya aja, tiba-tiba para pengemplang BLBI mengembalikan semua uangnya beserta bunganya, apakah rakyat akan sejahtera juga ?

    @
    Indonesia, sebenarnya negara kaya banget. Kasus BLBI saja nilainya hampir 145 Triliun pada Tahun 2000. Pada saat itu APBN Indonesia kurang lebih 180 Trilyun, kalo nggak salah. Tahun 2007 ini, APBN Indonesia sekitar 700 Triliun dan kasus BLBI sudah bernilai 500-600 Triliun. Utang negara Tahun 2007 sudah membengkak sekitar 1200 Trilyun rupiah.
    Untuk bayar pokok utang sekitar 28 Trilyun dan bayar bungan hampir 95 Triliun.
    Kalau Mas Hedwig punya gaji 1 juta sebulan (12 juta per tahun) terus punya utang 10 juta dan akibatnya harus bayar bunga dan cicilan sekitar 4 juta (30%), padahal kebutuhan hidup setahun harus juga 12 juta… berarti harus hidup lebih miskin 30% dari seharusnya…
    Inikah negeri khatulistiwa itu.
    Jelas, kita seharusnya lebih sejahtera jika pembangunan tidak dilakukan dalam kerangka hutang yang akhirnya menjerumuskan negeri ini berkelanjutan. Vietnam bisa bangun, Korea apalagi… kok kita makin gagah dengan hutang dan kemiskinan… 😥

    Suka

  7. T.3.X pazZ said

    Saya sangat berduka cita Atas Meninggalnya Orang Yang Paling Banyak Berjasa Bagi Negara Indoneasia, beliau Sangat Pantas Diberi Julukan “JENDRAL BESAR” Saya Sangat Kagum Atas Prestasinya Selama 32 thn Menguasai/Menangani Negara Republik Indonesia,,Mungkin Sekarang Tidak Bakalan Ada Yang Bisa Menggantikan Beliau, Di Mata Orang Beliau Bisa Di Bilang Jelek,Tp Engga Di Mata Saya… “SELAMAT JALAN JENDRAL BESAR”

    @
    Saya juga termasuk mengagumi ketokohan dan sebagai pemimpin yang penuh perhitungan dan represif, kesediaan mundur akibat tekanan mahasiswa adalah salah satu ciri keneragawanan. Sedikit negara dunia ketiga yang presidennya bersedia/memilih mundur/meletakkan jabatan dari pada pertikaian berlangsung terus. Dan soal prestasi, rasanya juga banyak tindakan dan kebijakan beliau yang fenomenal….

    n life must go on… semoga keadilan ditegakkan di negeri ini…

    Suka

  8. WARDANA said

    saya siswa SMA N 2 PALEMBANG walaupun dia korupsi aku tetap mema’afkan segala kesalahannya, karena dia sudah banyak membangun negara Indonesia, terutama di bidang pertanian.

    @
    Melihat jasa beliau dan pembangunan yang dilakukan… juga senyum beliau; Tentu saja apa yang disampaikan Mas Wardana bisalah dimaklumi.
    Sama dengan maklumnya kita kepada keluarga yang setelah besar dan dewasa berhutang terus setiap tahun sehingga anak cucu dari keluarga tersebut harus membayar utang yang diciptakan oleh ayah-ayahnya di lahan zamrud khatulistiwa. Ketika semua tetangga-tetangga kita lainnya malah sibuk dengan mobil barunya.
    Toh bagaimanapun ia ayah kita. Saat ini, dengan penduduk Indonesia sekitar 220 Juta orang, maka entah itu bayi ataupun orang dewasa, entah di puncak gunung atau di ibukota… pukul rata punya utang ke bangsa lain sekitar Rp 6 juta….
    Mari kita maafkan… namun, etos kerja keras dan anti korupsi harus jugalah kita ke depankan… masak kita hanya jadi bangsa pengutang saja….
    Pemimpin-pemimpin bangsa lain, mungkin lebih busuk dari pemimpin kita. Namun jelas, mereka yang lebih jelek dari kita itulah yang kemudian memberikan pinjaman kepada bangsa kita.
    Mas Wardana dan generasi selanjutnya itulah yang menanggung beban di masa depan….

    Suka

  9. tobadreams said

    Memaafkan Soeharto ? Gampang, asal jangan diharuskan bersalaman aja. Tapi yang paling penting kan soal duit rayat yang ditilep, bakalan balik gak ya?

    @
    Ya… memaafkan (kalau memang salah adalah hal yang mudah). Namun, memaafkan karena ridha dan karenaNya juga bukan hal mudah. Soal duit rakyat … nah itu… yang bertanya dan yang menjawab sama tahunya 😀

    Suka

  10. ganedio said

    Bagaimana sikap saya kepada mantan Presiden Soeharto yang sudah meninggal dunia, cari amannya saja. Karena yang lebih penting bukan hubungan kita dengan Soeharto tapi sebenarnya hubungan kita dengan Alloh, yaitu

    – jangan berperasangka buruk kepada orang lain apalagi kita belum punya bukti dan saksi dengan mata kepala sendiri. Menuduh jina saja harus ada tiga orang saksi. Biarlah itu urusan Alloh yang mengadili nanti.

    – jangan membicarakan keburukan orang beriman yang sudah meninggal, apalagi tanpa bukti, hanya kata orang.

    – memaafkan kesalahan orang, Alloh menyatakan bukankah kalian juga ingin dimaafkan oleh Alloh, jadi maafkanlah. Biarlah itu menjadi urusan Alloh, apakah akan memberi ganjaran kepada yang memaafkan ataukah menyiksa orang yang tidak dimaafkan. Dan karena Alloh Maha Penerima Taubat.

    – berbuat baik kepada orang yang telah berbuat baik kepada kita.

    Sungguh rugi jika ternyata kita berperasangka buruk kepada orang yang sebenarnya baik. Dan itu tidak masalah di sisi Alloh, berperasangka baik kepada orang yang sebenarnya jahat kalau kita tahu.

    @
    Nasehat berharga… perkara sudah selesai… mengapa juga memendam kebencian…. Terimakasih pesannya yang berharga…. 😀

    Suka

  11. ganedio said

    Saya mengkhawatirkan timbulnya kesalahan yang berkelanjutan oleh jutaan orang di Indonesia kepada seseorang yang tidak dapat dibuktikan kejahatannya akan berdampak buruk bagi negeri ini.

    @
    Jangan kepada yang sudah meninggal, sisa sejarah biar dibuktikan oleh sejarah… yang masih hidup yang perlu mempertanggungjawabkan…. 😀

    Suka

  12. raoty said

    bangsa indonesia sekarang bisanya cm mencari2 kesalahan orang lain, g mau bersatu bahu membahu untuk kemajuan negara ini, mereka lebih mengutamakan kepentingan sendiri ato golongan dari pada kepentingan umum ato negara, pinternya omong doang…

    @
    Kita tidak punya semangat bushido…. 😦

    Suka

  13. engkus said

    Siapapun orangnya, akan memanen buah dari apa yang ditanamnya. Termasuk Pak Harto alm, wajar setelah dia wafat mendapat sanjungan,iringan do’a yang mengalir dari setiap penjuru tanah air, dan ajakan dari berbagai elemen masa untuk mema’afkan kesalahannya, karena jasa2 kebaikan beliau semasa hidupnya terasa maslahatnya bagi rakyatnya di masa itu. Dan wajar pula dia mendapat hujatan,cacian,makian,hinaan dan sebagainya karena itu adalah hasil daripada kejahatan politiknya mengambil pakse kekuasaan dari Bung Karno, memfitnah jutaan orang PKI dan Non PKI terlibat gestapu dan mengasingkannya ke Pulau Buru tanpa proses hukum, membunuh 7 turunan kehidupan masa depan daripada anak cucu ex PKI, dsb………………………………………..
    Jadi kita ga usah heran adanya pro kontra terhadap Pak Harto alm, karena semua itu adalah hasil daripada amalnya kembali kepada pemiliknya didunia maupun diakhirat. Masalah keadilan hukum, kita wajib berusaha untuk memperjuangkannya walaupun harapan untuk tercapai sangat tipis, karena sekarang ini adalah zaman akhir yang mana Rosululloh saw pernah bersabda :” Yarfaulloha adla minal hikam ” (Allah akan mengangkat keadilan dari muka bumi).

    Kurang lebihnya mohon maaf.

    @
    ah… hanya bisa mengaminkan… 😀

    Suka

  14. Quantum said

    Demikianlah susahnya menjadi pemimpin, seperti ancik ancik pucuking eri. Keputusan yang diambil oleh seorang pemimpin dengan didasari strategis kestabilan kadang menjadi simalakama, contoh jika PKI dibiarkan sama buruknya jika PKI diberantas (meskipun saat ini masih ada juga).efek domino dari kesalahan pemimpin terdahulunya yang mengijinkan kelompok berbahaya hidup di negeri ini.demikian juga efek ekonomi yang carutmarut saat ini juga efek domino dari penjualan aset aset negara dengan nilai murah (contoh freeport) utk dikuras habis habisan oleh asing.demikian juga pemimpin saat ini yang hanya mementingkan agar tetep populer hingga ragu setiap mengambil keputusan.Selama sistem pemilu/demokrasi tetap dianut (pilkada yang selalu ricuh siapapun pemenangnya ,hanya buang buang duit saja),Otonomi daerah yang kebablasan hanya mempercepat pemalakan liar (jauh lebih dahsyat dari era Bob hasan),hasilnya hanya semakin menuju kehancuran bangsa ini (banjir buktinya menjadi setiap tahun periodenya). Represif belom tentu selalu tidak baik.Tanpa disiplin,dan semau gue semua tidak akan teratur.

    Jangan bersyukur jika terpilih jadi presiden, tetapi mengucaplah Innalillahi wa inna ilaihi raji’un saja. karena sama seperti memegang bara api.

    @
    rente ekonomi di negeri ini tak pernah usai. Jadi pemimpin birokrasi seolah rahmat bukan lagi sebagai batu ujian….

    Suka

  15. Triman said

    Memaafkan orang yg sudah wafat adalah terpuji. Menuntut keadilan terhadap kejahatan adalah sudah sepatutnya dilakukan. Tapi yang lebih penting adalah berperan aktif ikut serta memajukan negara ini.

    Jangan pernah kita berpikir tindakan baik kita tidak berguna, karena sekecil apapun itu akan ada manfaatnya.

    Sedangkan untuk masalah hutang, maaf saya kurang sependapat dengan mas Agor, ditinjau dari sisi bisnis kadang hutang adalah tindakan yg memang perlu kita ambil. Contoh kasus, dari pengalaman saya, dengan berhutang saya bisa membuka suatu usaha. Alhamdulillah, laba bersih dari usaha tersebut bisa digunakan untuk dana kehidupan sehari2 selain untuk membayar cicilan hutang. Dan karena melibatkan beberapa pekerja, usaha itu mungkin juga turut mengurangi jumlah pengangguran.
    Dalam pengelolaan negara, saya rasa konsep bisnis juga diterapkan.
    Sehingga bagi saya, yang perlu kita kritisi bukan dari sisi hutangnya, tetapi bagaimana perencanaan dan pengelolaan uang dari hutang tersebut. Terimakasih.

    @
    Betul Mas Triman, sependapat pada alinea pertama. Sedang pada kasus berikutnya, berhutang pada bisnis… saya bukan ahli ekonomi syariah atau ekonomi Islam, jadi tidak paham juga bagaimana aturan main yang berlaku pada pinjam meminjam atau bagi hasil. Ataukah sistem bagi hasil, barter, bukan bunga yang menjadi titik sentral ukuran.
    Yang terakhir lebih penting lagi, bagaimana perencanaan dan pengelolaan uang (atau harta). Sedih juga kan, kalau menjual sawah lalu jadi buruh tani hanya untuk menikahkan anaknya… kasus yang banyak terjadi… 😦

    Dalam kasus hutang negara, Economic Hit Man (ada pada blog ini) adalah hal yang patut pula kita renungkan.
    Juga belajar dari negeri lain, mengapa Indonesia berhutang begitu besar, kok bukannya menjadi negara pemberi hutang… 😦

    Apakah tanah kita tidak cukup subur, rakyat kita pemalas?….

    Suka

  16. Elza said

    Assalamualaikum Wr Wb.

    bukan uangnya yang saya kuatirkan, uang bisa dicari dari kehebatan sumber daya manusia yang hebat, yang mengerikan adalah pemimpin yang korup memberi inspirasi yang luar biasa bagi rakyatnya untuk melakukan hal yang sama, dan setiap orang yang meniru akan menghasilak rekasi ditiru yang tiada habis,seperti chain reaction nuklir yang sangat menghancurkan, seperti bola salju yang akan semakin membesar seiring waktu.

    itulah tujuan sebenarnya !

    jika bangsa ini sudah hancur berkeping-keping seperti skenario 2025, maka negara ini akan mudah untuk dikuasai segenap kekayaan alamnya yang maha kaya ini.

    Para pemimpinnya dibrain wash untuk menghancurkan bangsa sendiri,
    mereka dicekoki dgn segepok uang yang nggak habis tujuh turunan siapa yang nggak ngiler? akhirnya ketagihan dan menjadi semakin tak bisa melepaskan diri.
    Ada rahasia yang terjadi dibalik segala peristiwa.
    Sebagai bangsa yang (terbukti)cerdas hendaknya kita dapat lebih teliti dan waspada.
    jika rakyat sudah saling gila harta, memakan sesama, tega pati, gila kekuasaan, rakus tak terperikan, ganas saling membinasakan satu dengan lain. maka bangsa itu sedang dalam rangka menghancurkan diri sendiri.
    kita biarkan anak cucu kita mewarisi kebrutalan itu, atau kita didik mereka bertahap menjadi pribadi unggul dan hebat yang bisa menyelamatkan bangsa ini dari kehancuran, itu adalah pilihan kita.

    Pilihan kita dari apa yang kita makan, uang yang kita dapat, tutur bahasa kita, dialog-dialog kita, akhlak-akhlak kita, doa-doa kita, kerukunan kita.
    jika tidak, maka jangan marah, bila kelak para penjajah itu akhirnya dapt menguasai negeri surga ini kembali, dan anak cucu kita sebagai budak-budaknya yang siap mempertaruhkan kehormatan dan lehernya demi tuan-tuannya itu seperti anjing atau ternak.
    sekali lagi itu pilihan kita, dan itu dimulai dari sekarang !

    Wassalamualaikum wr wb.

    @
    Wass.Wr.wb.
    Secara ekonomi, bukankah kita sudah betul-betul terjajah (pengalaman dengan IMF juga beberapa tahun yang lalu sudah begitu tampak).. 😦

    Dan betul, kita bahkan sering sudah tidak bisa lagi membedakan korupsi dengan fadilah, keuntungan dengan pembuntungan.\
    Begitu banyak kita bekerja untuk rente-rente ekonomi…..
    Wass.

    Suka

  17. Elza said

    Assalamualaikum Wr. wb.

    Kekayaan alam kita sangat membutuhkan profesionalisme dari bangsa ini, dan itu tugas kita, salah satunya adalah membina anak-anak kita.
    kekayaan alam yang sangat luar biasa inilah yang bikin orang asing sejak jaman dulu kala jadi gatel pingin mengaduk-aduk Indonesia dengan segala cara, dan
    mencoba memusnahkan bangsa ini, sehingga negara ini dikuasai mereka.
    coba simak berita terbaru hari ini.

    JawaPos 12 Feb 2008.

    Ditemukan, Lapangan Migas Raksasa di Aceh

    BPPT: Lebih Besar dari Milik Arab Saudi
    JAKARTA – Bencana dahsyat tsunami di Aceh 26 Desember 2004 memunculkan berkah tak terduga empat tahun kemudian. Berawal dari studi pascagempa tsunami di perairan barat Sumatera, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) kemarin (11/2) memublikasikan temuan blok dengan potensi kandungan migas raksasa.

    Direktur Pusat Teknologi Inventarisasi Sumber Daya Alam BPPT Yusuf Surahman mengatakan, Survei BPPT bersama Bundesanspalp fur Geowissnschaften und Rohftoffe (BGR Jerman) itu menemukan kawasan perairan yang di dalam buminya diperkirakan terkandung migas 107,5 hingga 320,79 miliar barel. Lapangan migas tersebut terletak di daerah cekungan busur muka atau fore arc basin perairan timur laut Pulau Simeuleu, Nanggroe Aceh Darussalam (NAD). “Kandungan migas itu luar biasa besar,” ujar Yusuf di Kantor BPPT Jakarta kemarin (11/2).

    Sebagai perbandingan untuk menunjukkan besarnya kandungan migas di Aceh tersebut, Yusuf menyebutkan, saat ini cadangan terbukti di Arab Saudi mencapai 264,21 miliar barel atau hanya 80 persen dari kandungan migas di Aceh. Sementara itu, cadangan Lapangan Banyu Urip di Cepu diperkirakan hanya 450 juta barel. Lapangan migas dapat dikategorikan raksasa atau giant field jika cadangan terhitungnya lebih dari 500 juta barel.

    Menurut Yusuf, angka potensi tersebut didapat dari hitungan porositas 30 persen. Artinya, diasumsikan hanya 30 persen dari volume cekungan batuan itu yang mengandung migas. Meski demikian, lanjut dia, belum tentu seluruh cekungan tersebut diisi hidrokarbon yang merupakan unsur pembentuk minyak. “Karena itu, penemuan ini perlu kajian lebih lanjut,” katanya.

    Dia menyatakan, meski belum diketahui secara pasti, salah satu indikasi awal keberadaan migas di cekungan tersebut dapat dilihat dari adanya carbonate build ups sebagai reservoir atau penampung minyak serta bright spot yang merupakan indikasi adanya gas.

    Sejauh ini, lanjut Yusuf, Tim BPPT optimistis perairan timur laut Pulau Simeuleu mengandung migas skala raksasa. Sebab, beberapa daerah yang memiliki karakteristik sama sudah terbukti mengandung migas. Di antaranya, di wilayah Myanmar, Andaman, serta California, AS.

    Meski demikian, BPPT akan tetap membuat perhitungan realistis. Menurut Yusuf, jika porositas diperkecil menjadi 15 persen, artinya diasumsikan hanya 15 persen dari volume cekungan yang mengandung migas, angka minimal cadangannya masih 53,7 miliar barel. “Tetap saja angka itu masih sangat besar,” terangnya.

    Penemuan BPPT tersebut mendapat tanggapan positif dari ahli geologi perminyakan Andang Bachtiar yang kemarin juga hadir di Kantor BPPT. Chairman PT Exploration Think Tank Indonesia (ETTI) itu mengatakan, wilayah perairan Indonesia memang memiliki banyak cekungan atau basin yang berpotensi mengandung migas. “Banyak di antaranya yang belum teridentifikasi,” ujarnya.

    Hingga saat ini, kata dia, sudah ada 66 cekungan plus 6 cekungan fore arc basin yang teridentifikasi berisi minyak. Pada 2003, lanjut dia, Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) berhasil mengidentifikasi hipotesis cadangan gas sebesar 26,7 triliun kaki kubik (TCF) yang tersebar di beberapa wilayah. “Kebanyakan memang berada di sebelah barat Sumatera,” terangnya.

    Terkait dengan penemuan BPPT itu, Andang menyatakan masih perlu kajian lebih lanjut untuk bisa mendekati hitungan berapa besar cadangan terbuktinya. Menurut dia, lokasi studi seismik 2D yang dilakukan BPPT dengan interval jarak 60 km masih terlalu longgar. “Harus lebih rapat lagi, paling tidak intervalnya 20 km,” katanya.

    Karena itu, lanjut dia, BPPT harus segera berkoordinasi dengan pemerintah untuk segera menindaklanjuti temuan tersebut. Sebab, untuk mengkaji lebih teliti, dibutuhkan dana cukup besar.

    Dia menyebut, untuk proses studi seismik 2D yang lebih rapat, dibutuhkan dana sekitar USD 7 juta. Kemudian, untuk mengetahui angka cadangan migas, perlu dilakukan minimal 14 pengeboran sumur di 14 titik cekungan. Biaya pengeboran satu sumur, lanjut alumnus Colorado School of Mines, AS, itu, sekitar USD 30 juta. Dengan demikian, minimal dibutuhkan dana USD 427 juta. “Itu baru untuk studi eksplorasi. Untuk pengembangan lapangan, jumlahnya jauh lebih besar,” jelasnya.

    Andang menambahkan, yang saat ini harus segera dilakukan BPPT dan pemerintah adalah koordinasi. Menurut dia, meskipun lapangan migas tersebut paling cepat baru dapat dikembangkan dalam waktu tujuh tahun ke depan, pemerintah harus bergerak cepat. “Jangan sampai potensi ini salah urus,” tegasnya.

    Dia mengatakan, karakter lapangan yang berada di laut dalam (kedalaman lebih dari 200 meter) jelas membutuhkan dana besar dan teknologi tinggi yang belum tentu dimiliki Pertamina selaku perusahaan nasional. Meski demikian, lanjut dia, jangan sampai tersebarnya informasi potensi tersebut justru dimanfaatkan pihak-pihak yang punya modal besar dan teknologi, yakni perusahaan asing. “Intinya, pemerintah harus berusaha agar potensi ini bisa dimanfaatkan secara maksimal untuk kepentingan bangsa,” jelasnya.

    Terkait dengan hal itu, Kepala BPPT Said Jenie menyatakan sudah melaporkan penemuan tersebut ke Departemen ESDM. Selain itu, pihaknya sudah memberikan tembusan yang ditindaklanjuti Pertamina dengan mengirimkan letter of intent kerja sama untuk menindaklanjuti temuan tersebut. “Kami harap semua pihak terkait bisa cepat merespons temuan ini. Sehingga bisa segera ditindaklanjuti,” ujarnya.

    BPPT juga telah menyiapkan satu kapal riset yang dilengkapi alat khusus seismik untuk meneliti lebih lanjut dan telah meminta kepada pemerintah untuk mengamankan daerah perairan barat Aceh tersebut. (owi/kim)

    Wassalamualaikum Wr wb.

    @
    wah, subhanallah…. membaca berita ini seperti mimpi. 😀

    Suka

  18. […] Elza | el_zach9@yahoo.com […]

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: