Sains-Inreligion

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

“Ma…Es Dalam Termos Itu Sudah Mencair.. Ma !”

Posted by agorsiloku pada Januari 12, 2008

Ma.., besok ada pendaftaran mahasiswa ITB di Gedung Surapati, jadi bikin es yang banyak ya Ma…Dalam bayanganku, besok tentulah es plastik yang dibikin ema akan laku banyak. Soalnya di Gedung Surapati, jalan Surapati Bandung ada pendaftaran mahasiswa baru. Tentulah mereka kehausan dan antri mendaftar jadi mahasiswa. Tentulah pula es yang dibuat emak hari itu akan laku banyak.Aku tersenyum senang, membayangkan besok tentu emak gembira dengan kerjaku hari esok.

Jam sembilan pagi, aku sudah duduk di pinggir antrian mahasiswa yang mendaftar. Ini hari ke sekian aku berjualan es. Aku bangga dengan pekerjaan ini, selain bisa membantu ibu, juga dapat tambahan sedikit uang. Yah.. lumayanlah.

Aku melihat mereka, para calon mahasiswa itu sedang sibuk mengisi entah apa, mereka saling bertanya satu sama lain. Aku menatap mereka yang sedang sibuk. Sibuk dengan formulir, sibuk tanya kiri kanan, sibuk bertanya sama temannya atau masuk dalam antrian. Sebagian lagi ada orang tua yang ada di luar antrian. Siapa tahu ada yang mulai haus dan berminat dengan es dalam termos. Sengaja hari ini aku membawa dua buah termos berisi puluhan es. Sudah begitu yakin pembeli hari ini akan banyak….

Satu jam berlalu.. tidak ada satupun yang haus….

Ah masih terlalu pagi mungkin!. Desahku dalam hati.

Dua jam berlalu.. ada satu mahasiswa melihat isi termos es. Tapi tidak membeli.

Tiga jam berlalu….aku sudah mulai berputus asa….
Sekarang waktunya orang mulai merasa lapar dan mungkin haus….

Tapi tidak ada juga yang memanggil atau ingin membeli es bungkusan plastik yang kemudian aku buka dan tunjukkan pada mereka. Siapa tahu ada yang mau membeli.

Setelah berjam-jam menunggu, aku tahu hari ini aku tidak mendapatkan apa yang diimpikan.

Aku pulang kembali ke rumah. Tertunduk lesu. Di jalan ada orang memanggilku, lalu kutunjukkan es yang kujual.

“Ah nggak jadi … esnya sudah mencair. Ini sih bukan es lagi !”

“Untung masih ada yang bagian bawah masih membeku”. Dia membeli satu buah. Itulah pendapatanku pada hari ini.

“Ma… !”, suaraku serak ketika tiba di rumah. “Ma… hari ini tidak ada yang membeli !. Esnya telah mencair semua. Di ITB tidak ada yang membeli. Aku tidak bisa menjual Ma…”, Aku tersedu hari itu. Aku sedih sekali…

Emak menatapku nanar, kemudian memelukku. :”Jangan khawatir, kita masukkan kembali ke dalam kulkas. Esok tentu ada yang membeli..” Aku larut dalam haribaan emakku. larut, seperti es yang mencair itu. Larut dalam ketakberdayaan.

Sore itu aku larut dalam kesedihan… untung emak tidak marah pada hasil kerjaku hari ini. Harapan-harapan pada hari esoklah yang membuat aku kembali harus berhasil menjual es. Ibuku memberikan harapan-harapan untuk tidak berputus asa…..

Tahun-tahun itu telah begitu lama berlalu, namun setiap kali aku melihat seorang anak penjual es… selalu saja hatiku tergerak untuk membelinya. Aku ingat kembali kepada masa-masa itu !. Masa ketika sebuah titik awal kehidupan seorang manusia untuk belajar memahami kehidupan. Itu pula sebabnya, aku selalu ingin membeli apa yang dijual putri dan bunga. Aku merasa, aku adalah kakak mereka, aku tahu kesedihan dan kebahagiaannya ketika pulang menjumpai emaknya. Aku tahu harapan apa yang dirasakan ketika akan menjual. Aku tahu apa yang ditakutkannya. Ya.. aku tahu persis. Termasuk juga menggelayutnya rasa malu ketika bertemu dengan teman. Termasuk juga ketika hampanya sebuah kebanggaan hidup. Karena aku bersama kehidupan seperti mereka dalam cermin retak bertahun lalu lamanya….

6 Tanggapan to ““Ma…Es Dalam Termos Itu Sudah Mencair.. Ma !””

  1. sibermedik said

    hiks..sedih tenan toh…

    @
    Selalu ada kesedihan yang memberikan semangat … semangat…

    Suka

  2. Just wondering, dari sekian banyak yang berjuang berapa persen kah yang berhasil dalam perjuangannya? Jadi ingat kata-kata istri saya, dari sekian banyak keluarga di daerah panyingkiran bandung, hanya 3 keluarga yang anak-anaknya berhasil lulus dari perguruan tinggi. Yang lain tinggal untuk menghabiskan sisa warisan keluarga yang tentu saja tidak seberapa.

    @
    Ketika ada dalam kemiskinan struktural, usaha untuk keluar dari lingkaran inilah yang menjadi titik balik. Perlu daya dari yang tersingkir dan yang berada di luar kemiskinan struktural.

    Suka

  3. hadi arr said

    begitulah seorang Ibu, selalu ada dalam keadaan apaun kita.
    salam buat Putri dan Bunga, semoga mereka kelak tumbuh menjadi Bunga Bangsa.

    @
    Semoga, insya Allah semakin banyak yang tergerak…😦 … 😦 harapan untuk 🙂

    Suka

  4. Herianto said

    Masa lalu semacam ini adalah spirit yg TAK ternilai bagi kekuatan diri di kehidupan berikutnya. Tak banyak orang yg mendapatkan spirit hidup (pengalaman dan dorongan) sehingga hidup baginya seperti tak bertantangan. “Sesungguhnya pada kesulitan itu selalu ada kemudahan”. Pada tantangan bahkan “penderitaan” hidup, ada kekuatan.

    Bahkan ada sekian anak manusia yang tak mampu menghargai hidup secara baik akibat kenyamanan masa lalu (kecil) nya.

    @
    Kesedihan dan penderitaan itu seperti obat… kadang kita merasa cambuk itu terlalu sakit, tapi juga memberikan daya untuk berharap bangun kembali…. Ah… indahnya masa kecil, yang kemudian dimengerti justru ketika mulai menjadi dewasa….

    Suka

  5. chiw said

    😥
    mengharukan…

    kalo saya, selalu tergerak buat membeli koran kompas yang cuma seribu rupiah itu. hampir sama dengan Kang Agor, saya merasa senasib dengan mereka, meski sebenarnya saya jauh lebih beruntung…😦

    @
    Yap… cerita itu hanyalah serpihan… tapi entah mengapa saya masih ingat juga … seperti cinta pertama..🙂

    Suka

  6. Fadli said

    Sangat mengharukan. Karena itu lah saya sangat menghargai profesi yang sungguh sungguh.

    @
    namun.. ketika itu dilewati… rasa bangga… betapapun kecil dan “bikin” malu…🙂

    Betul Mas Fadli… profesi harus dihargai sungguh-sungguh (tapi seperti apa ya…)

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: