Sains-Inreligion

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Lucu Deh Malaysia Itu (atau Indonesia?)

Posted by agorsiloku pada Januari 7, 2008

Orang Indonesia di Malaysia disebut “indon”, sebuah sebutan yang dikonotasikan negatif oleh Malay. Tidak usah tersinggung dulu, kalau saja kompetensi indon juga layak dihargai dalam satu komunitas, tentulah bangsa atau suku bangsa lain juga akan menghargai. Ini cara pandang untuk mengoreksi diri sendiri. Mungkin kita pantas mencerca negara sebelah kita ini, mungkin juga semestinya kita belajar dari mereka kembali. Kalau dulu mereka mau datang ke kita untuk belajar, kini, akui saja deh.. kita tertinggal dibanding mereka. Paling tidak tertinggal secara materi dan kekayaan. Tapi, soal jumlah penduduk miskin, jelaslah kita akan menang. Negeri di garis khatul istimewa yang dipuja puji dengan “rayuan pulau kelapa” dan batu dan tongkat jadi jadi tanaman seperti kata Koesplus itu hanyalah fakta spirit saja, bukan fakta keseharian bagi sebagian besar anak bangsa.

Wajar pula Malay “mengagumi” sisa budaya Indonesia dan berusaha memilikinya. Paling tidak, dari pada bangsa sendiri yang kurang berhasil (nggak enak kalau dibilang gagal) dalam menjelaskan budaya bangsa dibanding dengan bangsa-bangsa lainnya seusai perang dunia ketiga. Ketika klaim lagu “rasa sayange” dibawa dikumandangkan oleh malaysia, kita juga mengumandangkan “my way”. Hati kita disedot oleh budaya asing habis-habisan. Setan dari Thai juga merasuk ke sinetron dan film-film Indonesia. Reog Ponorogo juga “katanya” mau diambil …

Masalah ketika “hak cipta” intelektual di klaim sebagai milik bangsa lain, padahal itu milik bangsa kita?. Boleh jadi ini merugikan, ketika hak cipta anak bangsa diklaim milik bangsa lain, lalu dijual oleh bangsa lain dan kita hanya gigit jari saja. Tapi, emang milik kita yang kita banggakan juga bisa dijual sendiri?.

Namun, saya kira, sepanjang yang terjadi adalah mee too product. Budaya adalah sebuah proses, akulturasi budaya selalu terjadi pada hubungan antar bangsa, antar kebudayaan. Apakah betawi dengan Tanjidornya dan alat musik khas itu murni budaya Indonesia. Apakah batik itu murni Indonesia, apakah ukiran mebel Jepara itu khas Indonesia. Apakah bangsa lain tidak punya batik?, tidak punya ukiran mebel?, tidak punya alat musik tiup seperti betawi. Pertanyaan-pertanyaan selalu saling terhubungkan. Artinya, akulturasi budaya saling mempengaruhi satu dengan lainnya. Kemudian berkembang dan “tenggelam” atau berganti, atau terdiversifikasi.

Sebesar apa seeh kita mencintai budaya sendiri?. Duh juga jadi malu rasanya, di rumah saya punya sekian CD lagu ngepop, tapi hampir tidak ada lagu budaya daerah sendiri malah… 😦 , saya juga tidak punya baju daerah satupun, kecuali kebaya yang jarang dipakai isteri saya… 🙂

Orang malay, yang saya tahu saat ini lebih agresif untuk menyerbu “pasar dunia” ketimbang bangsa Indonesia yang jumlah penduduknya jauh lebih berjubel. Mungkin soal demokrasi dan kebebasan yang saya tahu, kita jauh di atas malaysia. Kalau urusan-urusan ini, kualitasnya jauhlah di bawah kita. Mungkin mereka lebih makmur (dan memang lebih makmur), tapi soal politik dan kebebasan, mereka jauh lebih tidak beradab.

Kompetisi dan Kompetensi.

Persaingan pada dasarnya intinya itu membangun kekuatan dengan kekuatan dan keterampilan yang kita miliki. Dalam hal jual beli hak cipta bangsa sendiri, semestinya kita banyak belajar dari negara lain, dan sekarang harus lebih banyak belajar ke malay itu.

Bukankah kita juga harus menjadi “prihatin” karena banyak tenaga ahli Indonesia di bidang seni, lebih dihargai oleh bangsa lain dibanding bangsa sendiri?. Apakah penghargaan seni di Indonesia dibanding penghargaan seni dari bangsa lain atau bangsa yang dianggap peradaban materialnya lebih maju dari kita?.

Sentilan kecil dari negeri tetangga itu, semoga saja bisa diambil sisi positifnya untuk memperbaiki nilai jual budaya dan cipta karya bangsa sendiri. Keributan ini juga, jika ditangani sebagai bagian dari proses komunikasi, maka dunia akan tahu bahwa budaya kita juga bagus lho.

Masak sih, kita bangga (atau kemudian hanya bisa prihatin) : Indonesia itu, sebelah mananya Bali yah… ?.

Hak Intelektual dan patenisme.

Seberapa besar seeh kita, seniman, budayawan, dan terutama perwakilannya di pemerintahan memperhatikan khasanah budaya Indonesia untuk dipatenkan di tingkat dunia?. Wah… saya tidak tahu juga (dan sering tidak perduli), tapi rasanya kita sangat kurang. Dan sudah tentu pula warga budaya itu mengeluh dan pedih juga karena di negerinya sendiri, karya cipta mereka kurang mendapatkan penghargaan. Bertahan dengan darah senimannya, hanya segelintir yang bisa hidup layak. Masyarakat kita jauh lebih mudah membeli barang konsumtif lainnya dari pada kemampuan menikmati budaya sendiri yang konon katanya adiluhung !.

(eh ini tidak relevan dibandingkan. Bandingkan dong dengan pelanggaran hak cipta).

Bicara soal pelanggaran hak cipta?. hak cipta?, musik, lagu, syair, pembajakan buku, komputer, naskah?… ah.. nggak ah… nanti dibilang maling teriak maling….

Setujukah dengan Klaim Hak Cipta Budaya oleh Negeri Serumpun?.

Tentu saja tidak !, mana ada yang rela seeh punya sendiri dianggap punya orang lain. Tapi, tentu juga mereka juga memiliki budaya sendiri lah.. Tapi mereka boleh jadi juga memang memiliki budaya yang “relatif miskin” miskin dibanding dengan khasanah budaya serumpun. Karena itu, mereka coba merebut/mengambil dari Indonesia. Itu juga karena mereka memang lebih pandai menjual dan lebih konsisten dari pemilik aslinya.

Di sisi berbeda, saya percaya, kompetensi asli tidak akan hilang.

Hanya, bagaimana ya… kalau mereka ambil dan patenkan karya anak bangsa Indonesia. Terus satu kali bangsa kita sudah lebih dewasa dan maju, memperkenalkan karya cipta budaya sendiri…. eh… tau-taunya waktu mau dijual di Eropa, Jepang, atau Amerika… kita diadukan karena kita telah melanggar hak paten Malay !?. Terus kita diwajibkan membayar royalti sama saudara muda kita, Malay.

Wah kalau skenario ini terjadi, benar-benar deh kita dirugikan karena itu juga artinya Malay sebagai mahluk hidup juga sebenarnya mahluk-mahluk serakah. Saya kira batas tertentu dan etika mereka juga akan malu. Mungkin sebenarnya mereka (seniman dan budayawan Malay) lebih malu dari kita…..

Jadi.. tentu kita bisa berdiplomasi dengan arif pula. Nggak usahlah saling “mengkafirkan”.

Namun, ya.. semogalah di dunia ini lebih aman dan Malay juga sewajarnya malu dengan cara-cara yang semestinya juga bisa lebih etis dalam akulturasi budaya ….

Iklan

21 Tanggapan to “Lucu Deh Malaysia Itu (atau Indonesia?)”

  1. sitijenang said

    buku-buku sejarah dunia sudah menulis asal-usul berbagai macam budaya, termasuk dari kita. kalau budaya sendiri sudah dianggap usang, begitu tetangga ingin mengapresiasi, meski dengan cara relatif keji, kenapa juga mesti gusar? ya toh? mereka seperti itu kan supaya bisa dianggap bangsa yang besar. makanya, harus punya tradisi simbol kebesaran (bukan kegedean).

    @
    Kita gusar, karena nggak nyangka.. kok klaim bisa dibuat oleh tetangga sebelah rumah… hanya kita juga dibuat kesel juga oleh sikap sebagian dari isi rumah kita… 😀

    Suka

  2. ridwansalimsanad said

    entah. mereka memang tidak punya etika dengan mengklaim sembarangan seperti itu. tapi ya kalo dipikir-pikir, apa kita sudah beretika?
    benar tuh, rasanya seperti maling teriak maling. sedih ya…
    tapi jujur saja, saya juga merasa kebanggaan saya pada budaya indonesia masih kurang. apakah ini juga dirasakan yang lain? kalau begitu, bisa-bisa suatu saat kasus royalti di atas benar-benar terjadi..

    @
    Kita kerap seperti maling teriak maling. Wajar juga “Rasa Sayange” diprotes Indonesia karena selayaknya sih saling menghormati. Layak juga kita bangga, kalau lagu itu digunakan malaysia. Yang nggak enak rasa itu karena mereka menganggap sebagai produk mereka. Ini lucunya. Namun juga, itu — kalau mereka memiliki cukup etika — tentulah mereka juga sangat malu (terutama birokratnya) karena mereka melakukan tindakan yang dipandang dari sudut moral adalah memalukan.
    Tapi, kalau mereka tidak merasa malu yah.. begitulah… tapi saya yakin mereka sebenarnya sangat malu bahwa mereka mengklaim yang bukan haknya… tapi saya juga kurang tahu seeh bagaimana survey mereka mengenai curi mencuri itu (jika dipatenkan). Tapi jika yang terjadi tanpa pematenan… ya gpplah… malah kita mustinya berterimakasih bahwa mereka lebih pintar menjual dibanding kita sendiri…

    Suka

  3. Haniifa said

    Bangsa Indonesia budayanya buanyak banget, tapi yang ngurus sekidit sekali sehingga wajar saja budaya bangsa dianggap “Tidak Bertuan”

    @
    Tidak terurus.. ini kata kuncinya 😦

    Suka

  4. andrieis said

    klo ga ada kejadian tsb, ga bakalan ada yg peduli ama budaya sendiri.
    apa ini teguran?

    @
    sepertinya… diingatkan… kalau diambil sisi positifnya… 😦

    Suka

  5. haniifa said

    Birokrat Indon = Birokat Malay, sama-sama tukang curi.
    Indon = mencuri dari dirinya sendiri
    Malay = mencuri dari teman sendiri

    @
    Dalam sisi ini, demi keberhasilan sendiri… malay ambil apa yang menurut mereka bagus… dari sisi ini, saya yakin hati para budayawan mereka malu atas tingkah polah birokrat malay….

    Suka

  6. Herianto said

    Indon = mencuri dari dirinya sendiri
    Malay = mencuri dari teman sendiri

    Baru sekali mendengar eh membaca “relasi” ini … 🙂
    Original ya … Cukup eh sangat tajam. 😀
    Wadduh… kena deh.. 😉

    @
    😀 …. 😦

    Suka

  7. chiw said

    mau marah… kita juga salah…
    mau komplain…miris…
    mau diam saja…kok rasanya ndak solutif…

    ah, yang namanya meniru itu kan salah satu perkembangan kreatifitas manusia…
    dari meniru ke proses penciptaan…

    🙄

    rasanya, menganggap para pencuri budaya itu sebagai orang yang gak berkepribadian, boleh juga… tapi…apa kita sendiri juga udah berkepribadian? ato jangan2 kita ini berkepribadian ganda?
    😛

    setidaknya, masih ada setitik atau bahkan bertitik titik rasa peduli yang tak hanya diucapkan…

    @
    Kalau tidak salah dengar berita, lagu rasa Sayange sudah “dilepas” lagi pengakuannya oleh Malay. Artinya, memang mereka “rada” insaf… atau atur strategi baru. Namun, seperti pada postingan ini. Memang selayaknya kita saling menghargai, juga tidak menjadi pencuri di sarang “pencuri”…

    Suka

  8. […] Lucu Deh Malaysia itu (Atau Indonesia?) […]

    Suka

  9. kamal87 said

    sekarang tinggal pikirkan bagaimana kita bisa maju seperti malaysia yang telah berhasil mengejar ketertinggalannya dulu

    @
    Kata teman orang Malay,:”Kamu indon, ide-idemu bagus-bagus… tapi banyak cakap… “. Jadi kurang berbuat… !.

    Suka

  10. haniifa said

    Salam,
    @Herianto
    Ha.ha.ha.
    Kira-kira yang miskin struktual-spiritual, siapa yach ! 😀
    Wassalam.

    @
    Saling tuding… !!! 😀

    Suka

  11. feelchah said

    salam..
    sy dari malaysia..
    maaf, mungkin sy kurang pengetahuan mengenai malaysia mencuri budaya indonesia..
    kenapa malaysia dikatakan mencuri budaya indonesia??
    ape yg dicuri??
    bagaimana dgn lagu rasa sayang itu??
    satahu sy..lagu itu berasal dari melaka atau pulau pinang..
    sy kurang pasti..
    tidak pulak sy tau di ambil dari indonesia..

    @
    Tulisan di atas tidak membahas sama sekali asal-usul lagu rasa sayange. Tapi, lebih melihat dari sisi akulturasi budaya. Tidak juga untuk mencari pembenaran. Saya benar-benar bukan ahlinya di bidang seni. Karena itu, postingan di atas tidak menunjukkan keberpihakan, namun ingin mengingatkan anak bangsa sendiri bahwa lebih rajin mematenkan karya bangsa. Maklumlah kami tahu pula dari ragam berita bahwa banyak produk budaya Indonesia malah dipatenkan oleh bangsa yang kini lebih maju secara teknologi dari umumnya (relatif) dari bangsa sendiri.

    Jadi kalau pertanyaannya : ape yang dicuri, ya… saya nggak bisa jawab. Dan memang postingan ini tidak memperdebatkan hal ini.

    Namun, kalau soal kayu hutan Kalimantan, mungkin lain ceritanya. Meski juga jelas anak bangsa sendiri telah berkorupsi ria mengirimkannya ke negeri tetangga yang nilainya trilyunan rupiah setahunnya. Tentunya, pemberantasan beragam hal seperti ini dan keprihatinan adalah kepedihan buat sebagian besar bangsa ini. Juga terhadap perjalanan hukum di dalam maupun ke luar nagari…..

    Suka

  12. Haniifa said

    Lho…
    Saya kok baru sadar, mpunya Oom sebagai diplomat piawai…
    Great answer… Om!! 😀

    @
    Rekan Malaysia juga saudara kita… punya cara pandang yang berbeda. Dalam dunia yang luas ini, kita memang harus berkaca diri. Saya pahami juga, tetangga kita juga tentu diharap punya wawasan seluas cara pandang demokrasi kita…

    Suka

  13. Abudaniel said

    Assalamu’alaikum,
    Sedih juga ya. Seni budaya kita (Indonesia) diakui oleh bangsa “lain” sebagai miliknya.
    Tapi kalau dipikir-pikir,mereka juga tidak salah. Bangsa “lain” itu juga adalah bangsa “kita” juga. Cuma lain negeri. jadi tidak heran kalau Wong Jowo Ponorogo disana mengklaim bahwa Reog adalah budaya asli mereka. Betul. Budaya mereka. Siapa yang berani bilang Reog bukan budaya asli Ponorogo atau orang Ponorogo. Cuma pengaprisiasiannya beda. Dinegeri asalnya, Reog hanya diapresiasi dan dilestarikan oleh “segelintir” bangsa Indonesia, yaitu masyarakat Ponorogo. Pemerintah?. Mannnaaaaa…..?. Tetapi dinegeri seberang, selain masyarakat Ponorogo yang bermukim disana, pemerintahnya juga turut berperan melestarikan dan mengapresiasi budaya “bawaan dari kampung” masyarakatnya.
    Contoh lainnya, lagu Rasa Sayange. Mungkin di Indonesia sudah jarang masyarakat pemilik lagu daerah tersebut menyanyikannya. Yang ada, mereka lebih suka menyayikan lagu-lagu pop, lagu-lagu dangdut, lagu-lagu yang bertema cinta muda mudi, bahkan juga lagu-lagu yang liriknya nyerempet-nyerempet hal yang berbau porno.
    Jadi tidak heran pula, masyarakat pemilik lagu tersebut yang berdomisili disana berinisiatif mengeluarkan statement bahwa lagu tersebut milik orang Malaysia (jelasnya orang daerah Indonesia yang berdiam disana). Salah?. Tidak!. Yang salah itu kita. Karena tidak menjaga “milik” sendiri. Kita memang acuh, sampai terjadi sesuatu, baru teriak-teriak.
    Satu lagi. Rendang. Siapa yang bisa menolak bahwa “Rendang” adalah masakan khas orang Minang/Padang?. Tapi bisa saja diakui sebagai masakan asli Malaysia. Kenapa tidak. Yang mengakui adalah orang Minang/Padang yang sejak zaman kerajaan Melayu sudah bermukim di sana. Salahkah mereka. Tidak!. Itu juga masakan asli mereka.
    Indonesia hanya tahu Bali sebagai sentra budaya yang bisa dijual.
    Bukan daerah lain. Berani menolak asumsi ini?. Coba tanyakan penduduk Amerika. Dimana Indonesia?. Pasti ada yang menjawab dekat Bali. Coba tanayakan dimana Bali?. saya yakin pasti ada yang menjawab, tidak jauh dari Australia. Bagi penduduk Amerika kebanyakan, Bali dan Indonesia adalah dua negeri yang berbeda.
    Jadi yang salah siapa?. Kita sendiri tidak perduli pada budaya sendiri. Kita sendiri tidak ambil berat pada harta sendiri. Dulu Sipadan & Ligitan yang diambil. Sekarang seni dan budaya diakui orang. Sedangkan kita?. Pemerintah dan Wakil Rakyat (?) masih tetap saling jegal menjegal demi kepentingan masing-masing. Kepentingan rakyat?. Tanya dan cari sendiri…………..
    Wassalam,

    @
    Wass.wr.wb…
    Ha…ha…ha… benar-benar… saya dulu sekali pernah ke Inggris tuh… kalau nggak salah masuk restoran Malaysia dan isinya lengkap dan komplit masakan padang. Jadi serasa di rumah sendiri. Mereka bilang ini memang masakan padang. Tapi lebih afdol jadi masakan Malaysia. Entah juga sih. Soalnya soal selera pedas, bukan padang saja. Thai lebih hot, meski rasa pedasnya seperti masakan menado.
    Saya juga pernah ikuti pameran waralaba di singapura (juga dilakukan di Senayan beberapa kali). Mereka dari Malaysia juga sangat aktif menjual masakan serupa Indonesia. Tapi saya pikir selalu ada kewajaran di situ. Selera makan orang Melayu kan mirip-mirip saja.
    Jadi tinggal siapa lebih dulu mematenkannya…. Apakah baso malang dan mie kocok khas Indonesia dan tidak bercampur dengan selera negeri tirai bambu?.

    Jadi balik lagi ke soal paten… dan hak paten, Indonesia emang harus lebih aktif karena memang … mau tidak mau ini adalah bagian dari proses bisnis yang mendunia…. dan kita jangan jadi penonton di arena itu….
    Wass, agor.

    Suka

  14. haniifa said

    Assalamu’alaikum,
    @mas Abudaniel
    Dulu ada ungkapan, Kalau jadi rakyak mendingan di “Malay”, tapi kalau jadi pejabat asik di “Indon”.
    Rupanya ungkapan itu ada benarnya, rakyat “malay” walaupun “rampok” dibelain ama penjabatnya, sementara “Pejabat” indon lebih mementingkan “keluarga” dan “kroni” ketimbang rakyatnya.

    @
    Duh… semoga pejabat Indonesia (yang masih mengerti arti korupsi dan mereka kaya karena korupsi) malu sama kekayaan mereka sendiri dan tentu saja sang PenciptaNya…

    Suka

  15. “Terus kita diwajibkan membayar royalti sama saudara muda kita, Malay.”

    Ya, inilah masalahnya, Indonesia selalu menganggap Malaysia sebagai lebih muda…

    Oleh itu Indonesia mudah rasa tercabar kerana yang tua tidak mampu menandingi yang muda…

    muda atau tua sesebuah negara sangat relatif, dari segi usia kemerdekaan, ya emang malaysia lebih muda tetapi dari segi sejarah, Malaysia dan Indonesia gak ada bezanya…

    @
    Agak sedikit keluar dari tema, kalau sebutan “saudara muda” saja ditelaah. Negara terakhir yang menjadi saudara termuda adalah Timor Timur. Dalam berbahasa Indonesia, kami tidak merendahkan atau mengesankan lain dengan sebutan “saudara muda” itu. Kalau ada sebutan “Saudara Tua”, biasanya penulisan orang Indonesia akan merujuk ke Jepun.

    Adanya unsur sejarah kemerdekaan yang memunculkan istilah itu. Jadi, menurut budaya Indonesia yang saya pahami, pernyataan ini tidak ada hubungannya dengan “yang tua” menandingi yang muda, yang tua harus lebih hebat — apalagi dalam urusan hak cipta….. 😀 —
    Dan sebutan tersebut, seyogyanya tidak dalam konteks untuk menghina atau merendahkan sama sekali.

    Suka

  16. […] Please check it for yourself. […]

    Suka

  17. Fitri said

    Kata Indon memang terasa hina bagi bangsa Indonesia. Tapi yang saya dengar dari mereka (warga Malaysia), Indon itu hanya singkatan saja dan tidak bermakna apa-apa.

    Suka

  18. elzach said

    Assalamu’alaikum wr wb.

    Sangat berat konsekuensinya jika ternyata ada pihak-pihak yang hendak mengadu domba Indonesia Malaysia, pasti ada beragam kepentingan disana, dan jika Indonesia-malaysia perang, ada potensi milyar dollar di kekeruhan itu.
    Oh ya pandangan dunia memang berbeda dengan pandangan akhirat, saya justru iri dengan mereka yang dicuri karyanya oleh oleh orang lain, ah…andai saja itu karya saya dan ternyata bermanfaat buat orang banyak, maka saya niatkan untuk amal karena Allah saja, daripada dapat hasil paten yang hanya berupa duit itu, dimana pasti saya akan sangat tergoda untuk menggunakannya bersenang-senang, yang bahkan bisa bermaksiat/ melanggar hukum Allah SWT.

    sesungguhnya umat Islam itu bersaudara.
    Wassalamu’alaikum wr wb

    Suka

    • @Elzch
      Saya setuju memang ada pihak-pihak tertentu yang ingin memancing diair keruh, khususnya hubungan Indonesia-Malaysia.
      Boleh percaya ataupun tidak silahken, tapi dalang dari semua ini adalah Yahudi-Persia, bukti didepan mata umat Islam bahwa di Malaysia lebih didominasi oleh faham Shyi’ah, saya tidak tahu apakah mereka menyadari atau tidak yang jelas sebagaimana artikel ini, adalah konspirasi Yahudi-Syi’ah untuk menghacurkan Masjidil Aqsa secara sistematis, kita tahu bahwa Al Aqsa itu merupakan situs Umat Islam kedua setelah Masjidil Harram.
      Bukti lain heboh soal satanic verses karya Salman Rusdie yang dibekingi oleh Pemerintah Inggris justru setelah Imam Khomeini mengeluarkan fatwa kosong melompong alias tong kosong. Relasinya sangat jelas dengan latar belakang Negara tetangga kita ini sebagau “satelit” Sekutu yang dimotori oleh Inggris-Amerika-Australia (faktanya ketiga negara tersebut merupakan komutas terbesar kaum Yahudi/Zionis).
      Bebeara tahun yang silam saya permah membaca artikel tentang “kartun Nabi dan Mahatir Muhammad” dari situs “19.org” atau “Submission.org”.. dsb. Isinya cukup mencengangkan karena sangat bertolak belakang dengan statement beliau. (Sayangnya semua artikel tersebut sekarang sudah tidak bisa diakses… 😦 )

      Suka

  19. Roy Rey said

    salam kenal

    Suka

  20. safian cheros said

    Assalamualaikum..

    Buat saudara saudaraku di Indonesia. Jgnlah kalian khuatir, ramai org2 melayu termasuk saya di Malaysia, masih amat menganggumi susur galur keturunan kami di Indonesia, seperti minang, jawa, kerinci, banjar dan sebagainya. Makanan saudara2 di Indonesia juga adalah makanan kami di malaysia. Kami yakin suatu hari rumpun melayu nusantara akan bangun dari segi kekuatan ekonomi dan ketenteraan di dunia ini, dan ianya akan didokongi oleh kemajuan Indonesia. Kami tidak pernah memandang rendah sama sekali terhadap Indonesia. Mungkin ada dari pihak kami yg melakukan kesilapan, tetapi percayalah, itu hanya umpama kesilapan yg dilakukan oleh adik beradik dan segelintir org yg tidak tahu bersyukur di malaysia. Kami amat bangga bila ditanya kami org apa,.. dan jawapan kami selalunya, saya org jawa,.. atau saya org minang,.. cubalah saudara tanya kpd saudara2 yg seramai 2 juta org warga indonesia yg dtg bekerja di malaysia, adakah pernah org melayu di sini memusuhi mereka? malah kami dakap ibarat saudara. Yang perlu kita lakukan sekarang ini, bersatu, andai kita mau melihat nusantara membangun dan tidak dijajah kembali… as salam.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: