Sains-Inreligion

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Kemiskinan Struktural – Spiritual

Posted by agorsiloku pada Januari 6, 2008

Jadi ingat kembali dua judul buku yang pernah berlalu dalam ingatan : Tirai Kemiskinan – Mahbuq Ul Haq dan Pembangunan Ekonomi Dunia Ketiga – M. Todaro. Sudah lupa sebagian besar isinya, tapi intinya kalau tak salah kemiskinan struktural itu bak penjara untuk napi. Kemiskinan (material) dan kungkungan dalam kemiskinan membuat masyarakat baik secara pribadi maupun kelompok tak bisa   keluar dari lingkaran kemiskinan. Entah karena sudah terbiasa miskin, atau entah apalah namanya : Kemiskinan sosial ekonomi menjadi bagian keseharian sehingga tak lagi berpikir (baca : mampu berpikir) untuk keluar dari lingkaran kemiskinan. Hanya satu jalan untuk keluar dari lingkaran struktural kemiskinan : Ditolong.

Begitu terkungkungkah kemiskinan secara struktural?, mengapa kita korban tidak bisa keluar dari kemiskinan yang melandanya. Ya.. mungkin jelas sulit. Kemiskinan menjadi sistemik karena rendahnya kesadaran manusia, struktur tidak berjalan sebagaimana mestinya, dan penindasan; nyata atau terselubung.

Jadi, kalau gampangnya seeh kemiskinan struktural berkawan dengan kekerasan dan ketidakadilan struktural. Pengaruh yang saling beradu dengan pola kecenderungan hidup : konsumsi, kompetisi, dan konflik.

Lalu, apakah ada hubungannya dengan kemiskinan spiritual?, betulkah kita sepi(ritual) seperti disinyalir saudaraku ini? ataukah kita harus melihat (dalam keindonesian yang bersila satu : ketuhanan yang maha esa ini), kemiskinan spiritual karena perilaku pemujaNya tidak berada pada kesalehan sosial?.

Spiritual bukan agama, hanya sebuah catatan perjalanan jiwa dalam menata dimensi semu manusia.  Kita kerap terjebak dengan kemiskinan struktural sosio-ekonomi, namun kita kadang gagal melihat bauran dalam kemiskinan spiritual yang terstruktur.  Singkatnya.  Kita punya peluang besar terjebak menjadi miskin terstruktur dalam batin kita, terutama saya sendiri yang  merasakannya begitu berat keluar dari kemiskinan spiritual yang terstruktur sejak kecil hingga dewasa berpuluh tahun…..

Iklan

7 Tanggapan to “Kemiskinan Struktural – Spiritual”

  1. zal said

    Pak Agorsiloku, kira-kira struktur mana yang lebih utama..???
    apakah ada korelasi miskin spiritual berefek melemahnya pada struktur lainnya, atau efek melemahnya itu merupakan pancingan untuk melihat struktur spiritual…sebab sepertinya struktur spiritual lebih dikunjungi saat kesulitan melanda…

    @
    Wah Mas Zal bertanya dengan pertanyaan yang saya juga tidak tahu bagaimana menjawabnya. Waktu menulis postingan ini, dibuat ketika ingat mengenai kemiskinan struktural dan orang (miskin) materi dan lingkungan sulit keluar dari lingkaran kemiskinan ini kecuali ada faktor eksternal untuk membantunya. Tiba-tiba saya terpikir, bagaimana dengan orang yang berada pada lingkungan sangat kaya atau yang berada lingkungan penuh dogma-dogma dalam satu lingkungan yang sebenarnya berada dalam kondisi negatif. Namun, ia tidak juga bisa keluar dari lingkaran ini karena dogma yang masuk dan dipahaminya membuat dia tidak bisa (atau tidak bisa keluar) dari lingkaran spriritualnya yang sesat (atau tersesat) dibandingkan pandangan umum.
    Jadi ingat banyak kasus tragis suami isteri, dimana isterinya selalu ditekan bahkan dipukuli.. tapi tidak pernah mau bercerai dengan berbagai sebab. Ini seperti berada pada kondisi tekanan jiwa yang tinggi sehingga seperti pada kondisi fisis : kemiskinan spiritual…
    Kira-kira begitu jalan berpikir saya….

    Suka

  2. Nampaknya kemiskinan spiritual lah yang mebuat indonesia belum maju maju..

    @
    Sepertinya begitu. Mengurangi timbangan, korupsi berjama’ah membuat kita melihat etika hanya seperti ikan di akuarium. Bahkan seperti gaung yang suaranya makin samar…. kemiskinan juga dilihat sebagai objek, bukan subjek….. 😦

    Suka

  3. Donny Reza said

    CMIIW, meskipun kemiskinan spiritual yang paling berpengaruh terhadap perilaku manusia, tapi saya kok seringkali menemukan bahwa justru keringnya spiritualitas kebanyakan dipicu dari kemiskinan material ya?

    Barangkali memang benar apa yang rasulullah maksud, kemiskinan lebih dekat dengan kekufuran.

    @
    Sepertinya dua-duanya. Kekayaan juga sangat mempengaruhi dan menjadikan orang miskin spiritual. Banyak kisah dan pengalaman juga kekayaan membuat dunia menjadi indah, namun hati kering dari kasih sayang….

    Suka

  4. Herianto said

    Siapakah yg layak menjadi penyandang “dana” bagi pengentasan kemiskinan spritual ini. Oke mereka adalah para ulama2 yang sama kita hormati. Lalu bagaimana kita mengakui kefungsian mereka ini.
    Barangkali munculnya kelompok2 “tak wajar” dalam cara2 mencapai spiritual ini (MUI cs menyebunya aliran sesat) bisa juga kita lihat sebagai kegagalan keberfungsian para ulama di atas.
    Di satu sisi kemampuan fungsi para ulama dalam hal ini ada yg meragukan, di sisi lain para ulama sibuk berjuang pula mengakses kekuasaan dengan impian perombakan [yg lebih] mengakar.
    Di sisi yg lain lagi (kita2) juga sibuk menguras energi spritual ini melalui kekuatan rasional (intelektual) wacana [semata].
    ==========================================================
    Kemiskinan Struktural spiritual dan Kemiskinan Struktural Intelektual : ini tentu dua hal yg berbeda jalan pemecahannya.
    lalu seberapa besarkah keterkaitan mereka : Kemiskinan Struktural spiritual – Kemiskinan Struktural Intelektual – Kemiskinan Struktural Sosio Ekonomi.
    ==========================================================
    Problem kita memang mengakar. Agaknya tak cukup memandang dari satu sisi saja. 😀

    @
    Wow, tampaknya Mas Herianto memiliki spirit pada struktur sosio ekonomi yang kuat. Saya rasanya angguk-angguk kepala : kita punya masalah mengakar pada kemiskinan strutural (Spritual – Intelektual – Sosio ekonomi). Kemiskinan struktural kita bagi dua saja : kemiskinan struktural religiositas dan kemiskinan struktural etis. Dalam urusan religiositas, kita terpaku pada penggolongan-penggolongan dan kebanggan yang “mentidakkan” keberadaan golongan berbeda karena berbeda paham atau cara berpikir atau taat pemimpin tanpa alasan rasional. Kemiskinan etis terjadi ketika kita menjadi miskin perilaku. Perilaku jalanan, perilaku menyebrang, perilaku menghormati pemimpin, budaya antri, perilaku kepada lingkungan. Kita terjerembab oleh kepentingan-kepentingan jangka pendek yang menyebabkan kita kehilangan kemampuan (berkurang kemampuan) untuk bersikap arif terhadap sesama. Kemiskinan struktural intelektual terjadi karena proses pendidikan yang salah kaprah, tidak fungsional dan berbunyi ketika kecenderungan menjadi enggan meneliti, kesimpulan yang meloncat-loncat, dan menjadi ahli pada bidangnya. Kecenderungan generalis menjadi pukul rata dalam menarik kesimpulan. Singkatnya kemampuan untuk bersikap ilmiah kurang mampu diterapkan oleh sistem pendidikan formal dan informal dalam kehidupan kita. Berikutnya dan tentu kemiskinan struktural sosio ekonomi yang menjadi awal ide, bersumber dari segala kondisi yang menyebabkan kita menjadi bangsa yang tertinggal secara ekonomi. Mungkin bila sila ke 5 pancasila itu menjadi holy spirit bagi bangsa ini, 37 juta rakyat miskin itu menjadi keprihatinan nasional yang disertai pengentasan yang sungguh-sungguh. Ini yang memang yang selalu tidak pernah tinggal landas.
    Betul, begitu banyak yang harus diurai dengan semangat 45.
    Ah… rasanya kita jadi pengamat sosial ya….

    Suka

  5. zal said

    ::Pak Agor, Allah mengatur dengan seimbang, jika ada perkenaan dengan membangun iman bukan kualitas manusia yang membangun, namun seringnya kita merasa menjadi lebih baik dari yang lain
    “KU Tunjuki yang Ku Kehendaki Ku sesatkan yang KU kehendaki”
    kadar manusia dalam genggaman Allah, meskipun terlihat kita dalam kemampuan beribadah, hanya belas kasih Allahlah sebagai penolong, Yunus 99 dan 100 adalah bentuk kuasa Allah, namun yang sudah ada kiranya Allah berkenan mengembangkannya, dengan gerak niat yang juga Allah tempatkan “inna a’malu binniat”, inilah gerak do’a kita…dan Allah maha pengabul do’a

    @
    Ya betul… “merasa lebih baik dari ciptaan yang lain, begitu sering saya rasakan”. Meski di satu sisi ini menjadi (dalam anggapan benar), namun jelas itu bentuk kesombongan. Kesombonganlah yang menjerumuskan kita. Bahkan kadang kita juga sulit mengukur kualitas niat kita, sedang beramal, bersombong atau sungguh karena takut pada Allah Subhanahu Wata’ala.

    Suka

  6. hendri said

    kemiskinan yang sistemik

    Suka

  7. haniifa said

    Sultan RM Haniifa say: Kekayaan yang ajaib… 😀

    Note:
    kemiskinan yang sistemik
    KEKAYAAN SUMBER ALAM yang di pantau oleh alat SEISMOGRAPH buatan sendiri… meuren 😀

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: