Sains-Inreligion

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Cum Laude Yang Terlambat 26 Tahun !

Posted by agorsiloku pada Desember 22, 2007

Akhirnya, 26 tahun kemudian (1904), di kala Rektor Al-Azhar Mesir dijabat oleh Syekh Ali al-Bablawi, ditetapkanlah, bahwa kepada Syekh Muhammad Abduh harus diberikan haknya yang sebenarnya, yakni nilai tertinggi berupa : Cum Laude. Predikat yang diberikan kepada Muhammad Abduh atas kemampuannya untuk menjawab pertanyaan yang diajukan oleh panelis pada ujian terakhirnya sebagai mahasiswa Al Azhar. Beliau adalah bintannya mahasiswa Al-Azhar dan amat jarang mahasiswa A-Azhar secerdik dan semaju Muhammad Abduh dalam caranya dia mengungkapkan buah pikiran dan pendapatnya. Rektornya sendiri, pada saat itu sebenarnya mengagumi keteguhan Muhammad Abduh. “Bahwa dia tidak pernah melihat seseorang secerdas dan seteguh Abduh itu membela ilmunya“, dan bahwa dia itu sesungguhnya berhak mencapai derajat pertama (ad Darjatul Ula), bahkan ia berhak menerimanya lebih tinggi dari itu, kalau ada”.

Muhammad Abduh kemudian menjadi ikon pembaharuan.

Lepas dari siapa Muhammad Abduh, yang layak diperhatikan adalah usaha mempertahankan tradisi intelektual dan melakukan revisi atau keputusan yang dianggap keliru tetap dilakukan, walau Abduh tidak lagi membutuhkan Cum Laude-nya. Mungkinkah kita juga mampu merevisi kembali siapa-siapa pahlawan perang kita?, Seperti Bung Tomo misalnya. Gelar memang sering tidak dipentingkan oleh seorang tokoh, karena dia sendiri berkarya dan berjuang bukan karena pujian dari manusia; tapi demi sesuatu yang diagungkan dan diperjuangkan dengan seluruh jiwa dan raganya.

Apakah bangsa ini mampu mengenang dan memberikan penghargaan pada anak bangsa, seperti yang seharusnya terjadi?.

Iklan

4 Tanggapan to “Cum Laude Yang Terlambat 26 Tahun !”

  1. Tapi kalo saya tidak salah, ada ‘golongan’ yang menyatakan beliau ‘kafir’ ya pak?

    Karena beliau selalu menyarankan muslim untuk menggunakan logika dan otak kita..

    @
    Wah…saya tidak tahu siapa yang sesungguhnya beriman. Bagaimana mungkin kita mengkafirkan orang lain, ummat lain. Allah mengajak kita berlindung dan menghindari orang-orang kafir yang begitu jelas digambarkan ciri-cirinya. Tapi, dilarang pula pada saat yang sama kita menuduh orang lain kafir, apalagi jika sesama saudara. Bahkan menyerang, melecehkan kaum yang tidak bertuhanpun tidaklah diijinkan. Nanti mereka akan memaki Allah dengan segala cara. Jadi, tinggalkanlah. Kalau pun ada satu cara, sampaikanlah dengan cara yang baik. Kepada Nabi Musa pun, Allah memintanya datang dan mengajak untuk kembali kepada pengakuan kekuasaan Allah dengan cara yang baik. Kita memang menggunakan logika dan otak kita sepenuhnya. Mengapa tidak !. Nabi dilempari batu, Malaikat bertanya, apa mereka dimusnahkan saja !. Nabi mengatakan, jangan, mereka kaum yang tidak mengerti!. Boleh jadi, kita juga yang sedang tidak mengerti, boleh jadi kita menjadi sadar, ataukah mereka yang sadar bagaimana menempatkan syiar dalam kancah dunia. Semua serba pilihan 😀

    Dalam hal peng”kafir”an Muhammad Abduh, nah patut kita renungkan mendalam. Kasus yang sama menimpa Al Ghazali dan Ibnu Rusyd. Juga Yusuf Qardawi. Wah… mengerikan kalau sebuah proses berpikir dan kekuatan akal yang menjadi anugerah manusia digunankan (kemudian) sebagai alat pembenaran. Energi kesalehan dan intelektualitas mereka adalah cahaya-cahaya yang tentu lebih baik disikapi tidak dengan cara itu.
    Aneh memang kita ini, mutiara dilihat seperti lumpur, lain kali lumpur dianggap mutiara….

    Suka

  2. Amed said

    *Lirik komen Mansup*

    Ho ho ho, Muhammad Abduh si pemuja akal…
    Saya kok jadi ingat post saya yang resah-resah itu ya Mas?

    @
    Yap,… betul, beliau menempatkan akal di posisi terhormat. Oh ya, Mas Amed, search blognya dimunculkan dunk, biar dicarinya gampang kalau ingin menelisik… 😀

    Suka

  3. Amed said

    @ Agor
    Loh, kan theme blix secara default sudah memunculkannya Pak? Itu loh di kanan atas dekat tautan halaman, di dalam kotak warna kuning, trus ada tombol hijau “go” Makanya saya ndak perlu masang lagi widget searchnya.

    @
    Yap… baru kelihatan. Maaf ya. Ini kesalahan umum dari manusia, mencari dari apa yang dipikirkan bukan dari apa yang seharusnya dilihat dan diperiksa. Karena saya terbiasa mencari dari widget search yang ada di kolom kiri atau kanan, maka blog rekan juga dicari dengan cara yang sama. Ketika tidak ditemukan, berarti tidak ada. Gagal melihat bahwa tag header malah terpampang begitu jelasnya. Sekarang udah ketemu 🙂 . trims ya.

    Suka

  4. kurtubi said

    Akal dan wahyu kemudian menjadi seimbang yaa.. dimata Abduh memang banyak yang mencerahkan tapi lagi2 ulama adalah pewaris nabi dan ulama itu banyak tidak ada hegemoni yang tunggal.. bukan begitu kang Agor?

    @
    Iya Kang, kalau hegemoni tunggal kita amini padahal sudah tidak ada lagi utusanNya yang kasat mata maka kita akan mengamini pemimpin kita, satu orang ulama kita, atau penafsiran mutlak dari masa lalu yang kebenarannya tidak teruji. Hanya satu saja dan hadits shahih yang benar-benar shahih yang bisa menjadi petunjuk sepanjang masa. Seperti dalil phytagoras itu a2=b2+c2, hukumnya tetap, tapi aplikasinya berubah dan tidak tunggal. Meja, kursi, bangunan, memenuhi ketentuan dalil ini, tapi meja dan kursinya hancur bersama waktu, hakikatnya ada…..begitu juga Abduhnya telah berpulang, tapi sisi positifnya, keluasan pandangannya mengilhami baik rekan, sahabat, maupun pembencinya….

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: