Sains-Inreligion

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Mau Berkorban atau Berkurban?

Posted by agorsiloku pada Desember 16, 2007

Menurut statistik seeh, ada 37 juta rakyat katagori miskin. Penduduk bumi Indonesia ini ada 220 jutaan. Kalau 80%nya berislam ria, maka 176 jutaan lah yang tergolong mampu. Kalau satu keluarga anggap saja isinya 10 orang (kebanyakan seeh), maka akan ada 17,6 juta keluarga. Kalau saja 50%nya berkurban karena perintahnya maka seenggaknya ada hampir 9 (sembilan) juta ekor kambing dipotong untuk  Ied Adha tahun ini. Tebar Hewan Kurban (THK), yang digelar tahun lalu dilakukan di 30 provinsi dengan hasil yang menurut saya sangat menyedihkan. THK hanya berhasil meraup 11.100 pekurban yang dibagikan di 230 kota/kabupaten, 1092 kecamatan, dan 2.817 desa.  Muri (Musium Rekor Indonesia), memberikan penghargaan kepada penyelenggara.  Tentu saja kita bersyukur kepada penyelenggara akan kesediaannya memanajemeni THK sebagai salah satu model pengelolaan nirlaba yang diharapkan terus berkembang dan menjadi salah satu model untuk mengembangkan pesan Allah dan pengampunan Allah pada manusia.  Semakin banyak usaha untuk memberikan perhatian, juga kepada yatim piatu melalui berbagai cara, salah satunya tentu saja dengan menggunakan blog seperti yang dilakukan Barak Amal 1992, layaklah kita berikan apresiasi.

Konsumsi daging masyarakat Indonesia masih 1,72 kg per kapita per tahun.  Masih teramat sangat kecil.  Kemiskinan dibelit kemiskinan, keserakahan dibelit keserakahan.  Ketikapun kemampuan ekonomi meningkat, masihkah kita terlalu berat meningkatkan jumlah konsumsi daging yang hanya 1,72 kg per tahun, untuk berbagi.  Nabi SAW berpesan :”Pada setiap bulu hewan kurban terdapat kebajikan”.

Berapa ya, jumlah hewan kurban dipotong tahun ini?.  Tentunya tidak termasuk memotong hewan kurban dari saudara-saudara kita yang hampir 200 ribuan yang sedang menjalankan prosesi haji.

Namun, ketika tadi kembali melewati jalan pulang, saya melihat tebaran sapi dan kambing sedang menunggu, menunggu saudara-saudara muslim memenuhi pesan berkurban dan tidak menjadi korban dunianya…..

Iklan

3 Tanggapan to “Mau Berkorban atau Berkurban?”

  1. Ersis WA said

    Ya ya asal jangan … dikorbankan atau dikurbankan. Mari berkorban atau berkuban, … itu perintah Allah SWT.

    @
    berkorban bisa moral dan materil, berkurban jelas material yang memang tidak sekedar “omdo” butuh aksi. Kita wajar prihatin, jika pilihan berkurban itu tidak dianggap penting. Sejak Nabi Adampun, perintah ini sudah diturunkan…..

    Suka

  2. semalam ikut pengajian. yah pengajian ‘tradisionil’ gt deh, secara yg dateng ibuk2 dr desa, seangsanya. bukan merendahkan, tp lg ga punya diksi yg lbh baik.
    topiknya salah satunya ttg kurban.

    kenapa ya, mayoritas pengajian yg saya denger, kok ga menekankan ttg kepedulian thd sesama. yg ditekankan adl surga-neraka, kisah nabi ibrahim-ismail. esensinya ga nangkep. jd cuma denger dongeng, tp ga nacep di hati.

    dan paling benci. krn pada hari raya idul adha ini, malah di endonesa paling adem ayem ga tampak meriah. apa krn ‘ritual’ ini ga ada unsur pamernya ??? krn ritual ini megharuskan utk menyisihkan penghasilan utk org lain, itu aja hukumnya ga wajib.

    AAAAAAAAARRRRGHHH 😦

    @
    Betul, mayoritas sepertinya gemar itu, tapi enggan dan sulit berbagi kebahagiaan materi (dibanding dengan penghasilan). Entah mengapa, sifat manusia cenderung serakah, loba. Tentu tidak semua, tidak boleh pukul rata. Semoga kita diberikan hidayahNya untuk tidak menjadi orang-orang seperti itu, dan saudara-saudara kita yang muslim semakin senang mengulurkan tangan bersedekah… (termasuk tentunya diri sendiri…., sangat boleh jadi teguran ini untuk diri sendiri lebih besar dari pada untuk orang lain)…..

    Suka

  3. ganedio said

    QURBAN TERBAIK
    Oleh Jojo Wahyudi

    Kuhentikan mobil tepat di ujung kandang tempat berjualan hewan Qurban. Saat pintu mobil kubuka, bau tak sedap memenuhi rongga hidungku, dengan spontan aku menutupnya dengan saputangan.

    Suasana di tempat itu sangat ramai, dari para penjual yang hanya bersarung hingga ibu-ibu berkerudung Majelis Taklim, tidak terkecuali anak-anak yang ikut menemani orang tuanya melihat hewan yang akan di-Qurban-kan pada Idul Adha nanti, sebuah pembelajaran yang cukup baik bagi anak-anak sejak dinitentang pengorbanan NabiAllah Ibrahim & Nabi Ismail.

    Aku masuk dalam kerumunan orang-orang yang sedang bertransaksi memilih hewan yang akan di sembelih saat Qurban nanti. Mataku tertuju pada seekor kambing coklat bertanduk panjang, ukuran badannya besar melebihi kambing-kambing di sekitarnya.

    ” Berapa harga kambing yang itu pak ?” ujarku menunjuk kambing coklat tersebut.

    ” Yang coklat itu yang terbesar pak. Kambing Mega Super dua juta rupiah tidak kurang” kata si pedagang berpromosi, matanya berkeliling sambil tetap melayani calon pembeli lainnya.

    ” Tidak bisa turun pak?” kataku mencoba bernegosiasi.

    ” Tidak kurang tidak lebih, sekarang harga-harga serba mahal” si pedagang bertahan.

    “Satu juta lima ratus ribu ya?” aku melakukan penawaran pertama” Maaf pak, masih jauh.” ujarnya cuek.

    Aku menimbang-nimbang, apakah akan terus melakukan penawaran terendah berharap si pedagang berubah pendirian dengan menurunkan harganya.

    ” Oke pak bagaimana kalau satu juta tujuh ratus lima puluh ribu?” kataku

    “Masih belum nutup pak ” ujarnya tetap cuek.

    ” Yang sedang mahal kan harga minyak pak. Kenapa kambing ikut naik?” ujarku berdalih mencoba melakukan penawaran termurah.

    ” Yah bapak, meskipun kambing gak minum minyak. Tapi dia gak bisa datang kesini sendiri. Tetap saja harus di angkut mobil pak, dan mobil bahan bakarnya bukan rumput” kata si pedagang meledek.

    Dalam hati aku berkata, alot juga pedagang satu ini. Tidak menawarkan harga selain yang sudah di kemukakannya di awal tadi. Pandangan aku alihkan ke kambing lainnya yang lebih kecil dari si coklat. Lumayan bila ada perbedaan harga lima ratus ribu.

    Kebetulan dari tempat penjual kambing ini, aku berencana ke toko ban mobil. Mengganti ban belakang yang sudah mulai terlihat halus tusirannya. Kelebihan tersebut bisa untuk menambah budget ban yang harganya kini selangit.

    ” Kalau yang belang hitam putih itu berapa bang?” kataku kemudian

    ” Nah yang itu Super biasa. Satu juta tujuh ratus lima puluh ribu rupiah” katanya.

    Belum sempat aku menawar, di sebelahku berdiri seorang kakek menanyakan harga kambing coklat Mega Super tadi. Meskipun pakaian “korpri” yang ia kenakan lusuh, tetapi wajahnya masih terlihat segar.

    ” Gagah banget kambing itu. Berapa harganya mas?” katanya kagum ” Dua juta tidak kurang tidak lebih kek.” kata si pedagang setengah malas menjawab setelah melihat penampilan si kakek.

    ” Weleh larang men regane (mahal benar harganya) ?” kata si kakek dalam bahasa Purwokertoan.

    ” bisa di tawar-kan ya mas ?” lanjutnya mencoba negosiasi juga.

    ” Cari kambing yang lain aja kek. ” si pedagang terlihat semakin malas meladeni.

    ” Ora usah (tidak) mas. Aku arep sing apik lan gagah Qurban taun iki (Aku mau yang terbaik dan gagah untuk Qurban tahun ini). Duit-e (uangnya) cukup kanggo (untuk) mbayar koq mas.” katanya tetap bersemangat seraya mengeluarkan bungkusan dari saku celananya.

    Bungkusan dari kain perca yang juga sudah lusuh itu di bukanya, enam belas lembar uang seratus ribuan dan sembilan lembar uang lima puluh ribuan dikeluarkan dari dalamnya.

    ” Iki (ini) dua juta rupiah mas. Weduse (kambingnya) dianter ke rumah ya mas?” lanjutnya mantap tetapi tetap bersahaja.

    Si pedagang kambing kaget, tidak terkecuali aku yang memperhatikannya sejak tadi. Dengan wajah masih ragu tidak percaya si pedagang menerima uang yang disodorkan si kakek, kemudian di hitungnya perlahan lembar demi lembar uang itu.

    ” Kek, ini ada lebih lima puluh ribu rupiah” si pedagang mengeluarkan selembar lima puluh ribuan.

    ” Ora ono ongkos kirime tho…?” (Enggak ada ongkos kirimnya ya?) si kakek seakan tahu uang yang diberikannya berlebih.

    ” Dua juta sudah termasuk ongkos kirim” si pedagang yg cukup jujur memberikan lima puluh ribu ke kakek.

    ” Mau di antar ke mana mbah?” (tiba-tiba panggilan kakek berubah menjadi mbah).

    ” Alhamdulillah, lewih (lebih) lima puluh ribu iso di tabung neh (bisa ditabung lagi)” kata si kakek sambil menerimanya

    ” tulung anterke ning deso cedak kono yo (tolong antar ke desa dekat itu ya), sak sampene ning mburine (sesampainya di belakang) Masjid Baiturrohman, takon ae umahe (tanya saja rumahnya) mbah Sutrimo pensiunan pegawe Pemda Pasir Mukti, InsyaAllah bocah-bocah podo ngerti (InsyaAllah anak-anak sudah tahu).”

    Setelah selesai bertransaksi dan membayar apa yang telah di sepakatinya, si kakek berjalan ke arah sebuah sepeda tua yang di sandarkan pada sebatang pohon pisang, tidak jauh dari X-Trail milikku.

    Perlahan di angkat dari sandaran, kemudian dengan sigap di kayuhnya tetap dengan semangat. Entah perasaan apa lagi yang dapat kurasakan saat itu, semuanya berbalik ke arah berlawanan dalam pandanganku. Kakek tua pensiunan pegawai Pemda yang hanya berkendara sepeda engkol, sanggup membeli hewan Qurban yang terbaik untuk dirinya. Aku tidak tahu persis berapa uang pensiunan PNS yang diterima setiap bulan oleh si kakek. Yang aku tahu, di sekitar masjid Baiturrohman tidak ada rumah yang berdiri dengan mewah, rata-rata penduduk sekitar desa Pasir Mukti hanya petani dan para pensiunan pegawai rendahan.

    Yang pasti secara materi, sangatlah jauh di banding penghasilanku sebagai Manajer perusahaan swasta asing. Yang sanggup membeli rumah di kawasan cukup bergengsi. Yang sanggup membeli kendaraan roda empat yang harga ban-nya saja cukup membeli seekor kambing Mega Super. Yang sanggup mempunyai hobby berkendara moge (motor gede) dan memilikinya. Yang sanggup mengkoleksi “raket” hanya untuk olah-raga seminggu sekali. Yang sanggup juga membeli hewan Qurban dua ekor sapi sekaligus.

    Tapi apa yang aku pikirkan? Aku hanya hendak membeli hewan Qurban yang jauh di bawah kemampuanku yang harganya tidak lebih dari service rutin mobil X-Trail, kendaraanku didunia fana. Sementara untuk kendaraanku di akhirat kelak, aku berpikir seribu kali saat membelinya.

    Ya Allah, Engkau yang Maha Membolak-balikan hati manusia balikkan hati hambaMu yang tak pernah berSyukur ini ke arah orang yang pandai menSyukuri nikmatMu

    —————————————————————————————————————–

    Sebuah Qurban Besar dari Kambing Kecil

    Seorang Tukang Becak ingin berqurban karena rasa syukurnya kepada Alloh yang telah memberinya kaki untuk mencari makan. Sudah lima tahun ia mengumpulkan uang untuk dapat membeli seekor kambing untuk qurban. Maklum harganya naik juga.

    Pada saatnyalah hari raya qurban yang dinantikan tiba. Uangnya sudah cukup untuk membeli seekor kambing.

    Tukang Becak itu menuntun kambing kecil ke tempat penyembelihan hewan qurban. Diantara hewan qurban lain, kambing qurban Tukang Becak itulah yang paling kecil.

    Banyak orang melihat Tukang Becak itu menuntun kambing kurus. Ada yang mentertawakan, ada yang menyindir, ada yang suit-suit. “udah bawa pulang aja, potong sendiri, makan sendiri”.

    Tukang becak menangis sambil berkata, “Ya Alloh, hanya seekor kambing kecil yang bisa kubawa, aku berharap Engkau senang, terimalah qurbanku ini Ya Alloh, aku telah berjuang mengumpulkannya selama lima tahun. Aku yakin bahwa Engkau tidak berpihak kepada orang-orang yang mengharap pujian manusia dalam berqurban”.

    Kemudian Alloh membalas qurbannya yang demikian besar dan tulus dengan rizki yang melimpah kepada tukang becak itu karena qurbannya hanya khusus ditujukan kepada Nya.

    Karena darah dan daging qurban tidak sampai kepada Alloh, tapi ketaqwaannyalah yang sampai kepada Alloh.

    @
    Asyik… saya naikkan ke postingan ya… artikel ini syarat pesan dan hikmah. 😀

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: