Sains-Inreligion

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Kompleks Perumahan Tentang Menulis

Posted by agorsiloku pada November 13, 2007

Berkunjung ke dunia tulisan, tiba-tiba saya merasa kembali ke dunia puluhan tahun yang lalu.  Bagaimana mengungkapkan gagasan secara tertulis.  Tumpukan huruf belum jadi kata, tumpukan kata belum jadi kalimat, tumpukan kalimat belum jadi alinea, dan tumpukan alinea baru memberikan makna kalau terjalin menjadi sesuatu yang bisa dipahami (dan dinikmati).

Karena keisengan saja, saya menulis tentang menulis yang dibuat saenak udel sendiri.  Kemudian menulis juga bagaimana menulis buku (sambil nggak pernah membuat buku 🙂 ) .

Namun, rupanya sejumlah bata merah atau adukan semen bukanlah bangunan.  Kalau ingin punya rumah tempat bernaung, ya semua komponen itu harus disusun.  Baru kemudian sadari bahwa beliau ini, begitu beragam gagasannya.  Begitu varasi pikirannya, menembusi setiap relung dan liku dunia tulis menulis.  Bolehlah, bermotokan Menulis Tanpa Guru.

Mengunjungi blognya, terang-terangan atau sembunyi-sembunyi 😀 seperti datang berwisata ke wisata menulis. Menulis memang menggambar imajinasi dalam bentuk simbol-simbol yang boleh dipahami dengan pemahaman hayati pemiliknya.  Itu enaknya menulis dan berimajinasi.  Imajinasi menembus ruang waktu untuk hidup di alam kebebasan pikiran.  Wisata menulis gembira, puisi, lintasan waktu, sampai urusan selingkuhan pikiran, quantum menulis, sampai menulispun butuh transpalasi….

Pantaslah, blog ini tidak sekedar pedagang  asongan atau penjual material bangunan, tapi memang arsitek menulis dalam segala perjalanan wisatanya.  Itulah spirit yang ditularkan kemana saja…..

Salam Pak Webersis, i like u blog :  http://webersis.com/

Iklan

3 Tanggapan to “Kompleks Perumahan Tentang Menulis”

  1. kurtubi said

    Nah bagaimana kelanjutannya kemudian kang agor? setelah sekian lama menulis dan menulis terus… apakah menemukan oase baru di sana? kalau saya sih masih ternganga… atau barangkali kang agor dengan segala pengalamannya, bisa membuat seperti bang Ersis dari sisi lain tentang quantum menulisnya… 😀

    @
    Wah dibanding (kok membandingkan !) dengan Bang Ersis seeh… tak seurat kuku deh…., namun oase baru tak diimpikan… cukuplah setetes air dalam seluruh keterngangaan juga. Pengalaman agor terlalu sedikit…

    Suka

  2. vino said

    salut…
    vino musti banyak belajar dari abang-abang keren-ku ini
    “mohon petunjuk”

    @
    Ide Bang Ersis seperti mata air pegunungan yang hutannya lebat… tak habis-habis 😀

    Suka

  3. He he … bisa saja. Ide itu datang dari sampeyan-sampeyan lho. Ulun manuliskan haja. Mari menulis, menulis, dan menulis.

    @
    Dari sebaran ide, dari kematangan menuliskannya kembali dan menyisipkan gagasan utuh ke dalamnya. Bumbu penyedap menjadikan semua bahan makanan yang sama dirasakan berbeda oleh banyak orang… 😀

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: