Sains-Inreligion

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Sungguh lho, Saya Tidak Mengerti Arti As Sunnah !.

Posted by agorsiloku pada November 8, 2007

Kampungan ya!, emang iya. Tadi pagi, dalam kajian sehabis sholat shubuh dengan mode otak off, saya bertanya rada-rada “oon”. Bertanya :”arti as sunnah itu apa?”.

Para peserta tertawa, sedikit lucu, kok hari gini masih ada yang nanya pertanyaan begini!

Lha… kalau kagak ngerti ya nanya dong. Nanya itu kan tidak diharamkan, tidak dikafirkan juga kan. Jadi dari ada pura-pura pintar, mendingan kelihatan saja bodohnya.

Versi Terjemahan Depag Indonesia :

Tapi, tak apalah. Berikut ini beberapa catatan yang berhasil saya kumpulkan…. :
QS 3. Ali ‘Imran 137. Sesungguhnya telah berlalu sebelum kamu sunnah-sunnah Allah; Karena itu berjalanlah kamu di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana akibat orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul).
Terjemahan dalam beberapa bahasa :
Transliteration 137: Qad khalat min qablikum sunanun faseeroo fee alardi faonthuroo kayfa kana AAaqibatu almukaththibeena
Yusuf Ali 137: Many were the Ways of Life that have passed away before you: travel through the earth, and see what was the end of those who rejected Truth.
Shakir 137: Indeed there have been examples before you; therefore travel in the earth and see what was the end of the rejecters.
Pickthal 137: Systems have passed away before you. Do but travel in the land and see the nature of the consequence for those who did deny (the messengers).
M. Khan 137: Many similar ways (and mishaps of life) were faced by nations (believers and disbelievers) that have passed away before you (as you have faced in the battle of Uhud), so travel through the earth, and see what was the end of those who disbelieved (in the Oneness of Allah, and disobeyed Him and His Messengers).
Indonesian 137: Sesungguhnya telah berlalu sebelum kamu sunnah-sunnah Allah ; karena itu berjalanlah kamu di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana akibat orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul).
Melayu 137: Sesungguhnya telah berlaku sebelum kamu (contoh kejadian-kejadian berdasarkan) peraturan-peraturan Allah yang tetap; oleh itu mengembaralah kamu di muka bumi, kemudian perhatikanlah bagaimana akibat orang-orang yang mendustakan (Rasul-rasul).
QS 33. Al Ahzab 38. Tidak ada suatu keberatanpun atas Nabi tentang apa yang telah ditetapkan Allah baginya. (Allah telah menetapkan yang demikian) sebagai sunnah-Nya pada nabi-nabi yang telah berlalu dahulu. Dan adalah ketetapan Allah itu suatu ketetapan yang pasti berlaku,
QS 33. Al Ahzab 62. Sebagai sunnah Allah yang berlaku atas orang-orang yang telah terdahulu sebelum (mu), dan kamu sekali-kali tiada akan mendapati peubahan pada sunnah Allah.
QS 2. Al Baqarah 129. Ya Tuhan kami, utuslah untuk mereka seorang Rasul dari kalangan mereka, yang akan membacakan kepada mereka ayat-ayat Engkau, dan mengajarkan kepada mereka Al Kitab (Al Quran) dan Al-Hikmah (As-Sunnah) serta mensucikan mereka. Sesungguhnya Engkaulah yang Maha Kuasa lagi Maha Bijaksana.

Terjemahan dalam beberapa bahasa :

Transliteration 129: Rabbana waibAAath feehim rasoolan minhum yatloo AAalayhim ayatika wayuAAallimuhumu alkitaba waalhikmata wayuzakkeehim innaka anta alAAazeezu alhakeemu
Yusuf Ali 129: “Our Lord! send amongst them an Messenger of their own, who shall rehearse Thy Signs to them and instruct them in scripture and wisdom, and sanctify them: For Thou art the Exalted in Might, the Wise.”
Shakir 129: Our Lord! and raise up in them a Messenger from among them who shall recite to them Thy communications and teach them the Book and the wisdom, and purify them; surely Thou art the Mighty, the Wise.
Pickthal 129: Our Lord! And raise up in their midst a messenger from among them who shall recite unto them Thy revelations, and shall instruct them in the Scripture and in wisdom and shall make them grow. Lo! Thou, only Thou, art the Mighty, Wise.
M. Khan 129: “Our Lord! Send amongst them a Messenger of their own (and indeed Allah answered their invocation by sending Muhammad Peace be upon him ), who shall recite unto them Your Verses and instruct them in the Book (this Quran) and Al-Hikmah (full knowledge of the Islamic laws and jurisprudence or wisdom or Prophethood, etc.), and sanctify them. Verily! You are the All-Mighty, the All-Wise.”
Indonesian 129: Ya Tuhan kami, utuslah untuk mereka seorang Rasul dari kalangan mereka, yang akan membacakan kepada mereka ayat-ayat Engkau, dan mengajarkan kepada mereka Al Kitab (Al Qur’an) dan Al-Hikmah (As-Sunnah) serta mensucikan mereka. Sesungguhnya Engkaulah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.
Melayu 129: Wahai Tuhan Kami! Utuslah kepada mereka seorang Rasul dari kalangan mereka sendiri, yang akan membacakan kepada mereka ayat-ayat (firmanMu) dan mengajarkan mereka isi kandungan Kitab (Al-Quran) serta Hikmat kebijaksanaan dan membersihkan (hati dan jiwa) mereka (dari syirik dan maksiat). Sesungguhnya Engkaulah yang Maha Kuasa, lagi Maha Bijaksana.
QS 2. Al Baqarah 269. Allah menganugerahkan al hikmah (kefahaman yang dalam tentang Al Quran dan As Sunnah) kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang dianugerahi hikmah, ia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak. Dan hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran (dari firman Allah).

QS 2. Al Baqarah 269. Allah menganugerahkan al hikmah (kefahaman yang dalam tentang Al Quran dan As Sunnah) kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang dianugerahi hikmah, ia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak. Dan hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran (dari firman Allah).

Oom Wiki menjelaskan menurut bahasa adalah jalan ataukah cara, kebaikan atau keburukan. Dari para Santri juga dijelaskan yang sama, menurut bahasa berasal dari kata as sirah (perjalanan). Begitu juga yang dijelaskan Mas Cyber, adalah hujjah yang merupakan penjelasan dari Al Qur’an. Pengertian menurut syariat adalah apa yang disampaikan oleh Nabi SAW. Yang menegasi lebih sistematis dan menjelaskan pula bahwa Sunnah sebagai aturan atau ketentuan dari Allah adalah dari manhaj.or.id.

Tinggal bagaiman kita memahami “as sunnah”. Tentunya saling melengkapi. Saya percaya bahwa Al Qur’an itu telah menjelaskan secara terperinci, hanya kemampuan memahami keterperincian itulah kadang perlu didukung oleh periwayatan hadis, jika memang relevan. Lho kok percaya Al Qur’an telah memerincikan secara terperinci. Bukankah hadis itu yang rinci, al Qur’an seeh global-global saja !? Seperti sering dijelaskan oleh para ahli.

Iya juga seeh… buktinya penjelasan cara-cara ibadah kan meniru cara Nabi. Allah juga bilang begitu kok.

Iya juga untuk sisi ini, tapi bukan berarti Al Qur’an itu petunjuk global, ia juga memerincikan. Dan Allah menjelaskannya : QS 11. Huud 1. Alif laam raa, (inilah) suatu kitab yang ayat-ayatnya disusun dengan rapi serta dijelaskan secara terperinci, yang diturunkan dari sisi (Allah) Yang Maha Bijaksana lagi Maha Tahu,

Seperti diingatkan di bagian lain dengan ayat :QS 62. Al Jumu’ah 2. Dia-lah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan mereka Kitab dan Hikmah (As Sunnah). Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata,

O … o. ternayata pemahaman as sunnah banyak pilihannya (meski jika mengikuti apa yang disampaikan Al Qur’an dan as sunnah, lebih dapat saya pahami sebagai peraturan dari Allah). Hati kecil kadang masih bertanya juga kata “Kitab dan hikmah” (as sunnah). Tanda dalam kurung as sunnah, lalu as sunnah = hadits lalu hadits itu beragam dari dhaif sampai qudsi tentu bukan berarti Kitab dan hikmah dipahami Kitab dan hadits. Ini rasa-rasanya menyempitkan pemahaman.

Namun begitu, walau kurang sependapat dengan pengertian dari peserta tausyiah pagi itu. Rasanya lebih mantap menyimpannya sendiri. Wallahu’alam.

kopipais dari al manhaj.or.id :
Makna As-Sunnah Dalam Syari’at Islam. Menurut Etimologi [Bahasa]
Rabu, 16 Nopember 2005 09:02:31 WIB
MAKNA AS-SUNNAH DALAM SYARI’AT ISLAM, MENURUT ETIMOLOGI [BAHASA]
Oleh
Al-Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas

[A]. MENURUT ETIMOLOGI [BAHASA]
Menurut etimologi (bahasa) Arab, kata As-Sunnah diambil dari kata-kata:

“sanna-yasinnu-wayasunnu-sannaa fahuwa masnuunu wajam’uhu sunanu. wasanna al-amro aiy bayyanah”

[a]. Artinya: “Menerangkan”
“wa sunnatu : ash-shiiratu wa thobiia’tu wa thoriiqotu”

[b]. Sunnah artinya: “Sirah, tabi’at, jalan”
“wa sunnatu min Allahi : hukmuhu wa amruhu wa nahyuhu”

[c]. Sunnah dari Allah artinya: “Hukum, perintah dan larangan-Nya.”[1]

Menurut bahasa, kata As-Sunnah berarti jalan, atau tuntunan baik yang terpuji maupun yang tercela, sesuai dengan hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

“Artinya : Barangsiapa yang memberi teladan (contoh) perbuatan yang baik, ia akan mendapatkan pahala perbuatan tersebut serta pahala orang yang mengikutinya (sampai hari Kiamat) tanpa mengurangi pahala mereka sedikit pun. Barangsiapa yang memberikan contoh kejelekan, maka ia akan mendapatkan dosa perbuatan tersebut serta dosa orang-orang yang mengikutinya (sampai hari Kiamat) tanpa mengurangi dosa mereka sedikit pun”.[2]

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Artinya : Sesungguhnya kalian akan menempuh jalan (mencontoh) orang-orang sebelum kalian sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta, sehingga sekiranya mereka memasuki lubang biawak sekalipun, kalian akan ikut memasukinya”[3].

Bila disebut Sunnatullaah, artinya adalah hukum-hukum Allah, perintah dan larangan-Nya yang dijelaskan kepada manusia.

Allah al-Hakiim berfirman.

“Artinya : Sunnatullaah tentang orang-orang sebelummu…” [Al-Ahzaab: 62]

Di antara lafazh Sunnah dalam Al-Qur’an yang berarti jalan, cara yang baik atau buruk.

Allah al-‘Aziiz berfirman.

“Artinya : Allah hendak menerangkan (hukum syari’at-Nya) kepadamu dan menunjukimu kepada jalan-jalan orang-orang sebelummu…” [An-Nisaa : 26]

Yakni, Allah akan menunjukkan kepada kalian cara-cara orang sebelum kalian, yaitu cara (perjalanan hidup) mereka yang terpuji.[4]

Terkadang pula Sunnah bermakna balasan dari perbuatan tercela, yaitu Sunnah-Nya tentang pembinasaan ummat-ummat yang durhaka kepada Rasul-Rasul-Nya.

Di antaranya firman Allah.

“Artinya : Katakanlah (wahai Muhammad) kepada orang-orang kafir apabila mereka berhenti dari kekufuran mereka, maka Allah akan ampunkan dosa-dosa mereka yang terdahulu. Jika mereka kembali (berbuat kejelekan), maka telah berlaku Sunnah bagi orang-orang terdahulu.” [Al-Anfaal: 38]

Dan firman-Nya.

“Artinya : Mereka itu tidak beriman kepada Nabi padahal telah lalu Sunnah terhadap orang-orang terdahulu.” [ Al-Hijr: 13]

Sunnah di sini maksudnya adalah balasan Allah tentang pembinasaan ummat-ummat yang durhaka kepada Rasul-Rasul-Nya. [5]

[Disalin dari buku Kedudukan As-Sunnah Dalam Syariat Islam, Bab I : As-Sunnah Dan Definisinya, Penulis Yazid Abdul Qadir Jawas, Penerbit Pustaka At-Taqwa, PO.Box 264 Bogor 16001, Jawa Barat Indonesia, Cetakan Kedua Jumadil Akhir 1426H/Juli 2005]
_________
Foote Note.
[1]. Al-Qamusul Muhith (IV/231), Lisanul Arab (VI/399-400) dan Mukhtaarush Shihaah (hal. 317).
[2]. Hadits shahih riwayat Ahmad (IV/357, 358, 359, 360, 361, 362), Muslim (no. 1017), an-Nasa’i (V/76-77), ad-Darimi (I/ 130-131), Ibnu Majah (no. 203), Ibnu Hibban (no. 3308), at-Ta’liiqatul Hisaan ‘ala Shahih Ibni Hibban (no. 3297), ath-Thahawi dalam al-Musykiil (no. 243), ath-Thayalisi (no. 705) dan al-Baihaqi (IV/175-176), dari Shahabat Jarir bin ‘Abdillah Radhiyallahu ‘anhu.
[3]. Hadits shahih riwayat Ahmad (III/84, 89), al-Bukhari (no. 3456, 7320), Muslim (no. 2669) dan Ibnu Majah (no. 3994), dari Shahabat Abu Sa’id al-Khudry Radhiyallahu ‘anhu.
[4]. Tafsir Ibni Katsiir (I/522) dan Tafsir Fat-hul Qadir (I/452).
[5]. Lihat tafsir ayat tersebut dalam kitab Tafsir Ibnu Katsir (II/341 dan 602).

Iklan

3 Tanggapan to “Sungguh lho, Saya Tidak Mengerti Arti As Sunnah !.”

  1. El Za said

    Assalamualaikum wr. wb.

    Nukilan dari artikel di atas :

    “””
    Menurut bahasa, kata As-Sunnah berarti jalan, atau tuntunan baik yang terpuji maupun yang tercela, sesuai dengan hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

    “Artinya : Barangsiapa yang memberi teladan (contoh) perbuatan yang baik, ia akan mendapatkan pahala perbuatan tersebut serta pahala orang yang mengikutinya (sampai hari Kiamat) tanpa mengurangi pahala mereka sedikit pun. Barangsiapa yang memberikan contoh kejelekan, maka ia akan mendapatkan dosa perbuatan tersebut serta dosa orang-orang yang mengikutinya (sampai hari Kiamat) tanpa mengurangi dosa mereka sedikit pun”.

    “””

    Demikianlah para sahabat Rasulullah SAW, begitu taat dan patuh kepada tuntunan agama ini, ketika mereka sadar betapa bahaya menempuh jalan kebathilan, karena harus ikut menanggung dosa semua orang yang mengikutinya (dosa jariyah) dan mereka berlomba-lomba beribadah dan berbuat dan mengajarkan kebajikan (pahala jariyah). Mereka sangat berhati-hati dalam setiap kata dan perbuatan, itulah sebaik-baik generasi dan umat yang diciptakan. Umat yang saling mencegah keburukan, dan nasehat menasehati kebaikan.

    Boleh dikata, orang yang berbuat keji, tidak hanya berbuat keji pada diri sendiri tapi juga pada orang lain dan semua orang yang menirunya secara turun temurun.
    Naudzubillah.

    Wassalamualaikum wr wb.

    @
    Wass Mas El Za.
    Ada efek domino, ada multi player effect dalam mengikuti “sesat” dan “menyesatkan”, juga dalam arah resultante “kebaikan” yang tak terjangkau oleh hukum. Dalam kondisi berbeda, memakan harta yang haram akan membawa keburukan juga (kah) terhadap kenikmatan yang diraih walaupun tidak melakukannya. Naudzubillah.
    Berkenaan dengan postingan ini, sebenarnya ada pertanyan mendasar yang ingin dikemukakan. Kalau kita mendefinisikan as sunnah menurut bahasa di satu sisi dan di sisi lain al Qur’an menjelaskan posisi pengertian as sunnah dijelaskan dalam rangkaian ayat memiliki penjelasan yang tidak sama dengan etimologi bahasa, maka yang manakah akan kita tetapkan pengertiannya sebagai seorang mukmin yang bertekad tidak akan menambah atau mengurangi pengertian yang dijelaskan Allah?.

    Suka

  2. deedhoet said

    Seeep. Saya acungin jempol buat keberanian pak agor. Gak semua orang berani loh bertanya seperti itu di depan umum, apalagi kalo umurnya dah banyak, pasti mereka pada gengsi, hehe. Btw asyik ya masjid tempatnya pak agor, tiap abis subuh ada tausyiah kah? Waaw. Yang dateng biasanya berapa orang pak? Saya baru aja baca buku Misteri Shalat Subuh karangan Dr. Raghib As Sirjani (?), jadi pgn ikut subuh andi masjid. Tapi tadi pagi telat bangunnya hehe.

    Makasih pak postingannya, panjang banget. Baca dulu aaah 😀

    @
    lha bertanya kan nggak berdosa toh… nggak tahu juga nggak berdosa kan… 😀
    Yap… tausyiah… kata ustad hampir setiap hari dilakukan Nabi. Sholat fajar terus shubuh dst, lebih baik dari dunia dan segala isinya…. waw…. Yang sholat subuh seeh, nggak banyak… paling satu atau dua baris saja. Habis sholat shubuh, terus imam membacakan satu atau dua hadis… terus bubar…. terus sebagian lagi berkumpul lagi 5 -10 orang untuk bertausyiah… sampai jam setengah enam… terus ngantor… gitu. Kalau hari sabtu dan minggu baru kadang sampai jam 6 pagi… maklum banyak yang nggak ngantor. Terus juga, “panitia” menyediakan minum teh atau kopi dan sedikit penganan kalau sabtu dan minggu…. pokoknya asyik deh… di sini nggak ada yang saling mengkafirkan…kalau beda pendapat, selalu diakhiri dengan senyum. Tidak ada juga yang merasa paling pintar… wah pokoknya siip deh…Oh ya… manhaj kami berbeda-beda… kalau saya lebih sering mengambil jurusan Kampung Rambutan….

    Suka

  3. El Za said

    Assalamualaikum wr wb.

    Wah Maz Agor,
    pertanyaan itu menurut saya, hanya Allah (dan RasulNya) yang Tahu.
    agak sulit bagi kita manusia yang lemah ini untuk memahami batas yang jelas untuk tidak melanggar.
    pertama, kita sudah tidak hidup di zaman Beliau SAW. yang bisa bertanya langsung, yang kedua kita sering kali terbelenggu oleh hawa nafsu dan kepentingan duniawi.
    Bukankah memahami tidak sekedar mengerti, tapi juga mau melaksanakan.

    Semoga Allah SWT, berkenan melimpahkan Rahmatnya kepada kita sehingga kita dapat Bertaqwa kepadaNya.

    @
    Tahu sampai tingkat kedalaman dan kesadaran tertinggi… tentu kita tidak…
    kalau 1% atau 10% atau pokoknya sebagaian saja, sebagian kecil… karena antara tahu dan berilmu (mengetahui ilmunya) tentu ada perbedaan. Kita tahu matahari bersinar… tanpa kita tahu ilmu tentang matahari… Sangat boleh jadi, kita hanya membahas yang kita ketahui, bukan yang kita pahami ilmunya…

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: