Sains-Inreligion

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Ha…ha…ha… Emangnya Gw Bakal Masuk Neraka hah…?

Posted by agorsiloku pada November 1, 2007

Seorang sahabat, mengirimkan komentar yang menarik :

Assalamualaikum wr. wb.
Puncak kesombongan adalah keingkaran akal terhadap kebenaran Allah SWT.
Inilah yang menjadi musuh Allah SWT, vonisnya azab yg kekal di neraka, Naudzubillah.
saya rasa tidak perlu lagi ditanyakan kekal tidaknya vonis itu bagi org kafir, satu detik saja di neraka itu sudah naudzubillah, sangat mengerikan.
Jika Allah mengatakan azab kekal bagi orang kafir, maka saya meng_imani itu, karena yang menjamin adalah Allah Yang Maha Kekal (maka hal itu pasti terjadi), begitu pula dgn sorga yang kekal disisi_Nya, bagi org-org beriman yang diridhoi_Nya.
Tentu beda, jika yang berjanji adalah manusia, manusia hidupnya tidak kekal, walaupun sesorang berusaha menepati janji seumur hidup mungkin tidak akan lebih 100 tahun saja.
mungkin Maz perlu posting khusus bab panasnya neraka ini, nanti mungkin saya bisa ikut nyumbang sumber.
Di atas level itu, (maaf) masih setara binatang ternak, yaitu orang-orangg yg berbuat zalim karena kelemahan dirinya, mungkin khilaf, lalai, atau tidak sengaja.

….
Wasslamu’alaikum wr wb.

Pesan rekan yang saya hormati dan juga memberikan banyak pencerahan kepada saya pribadi ini menawarkan satu pertimbangan lain. Namun, sering terpikir : Apakah manusia takut sama kepada azab Allah, kepada murka Allah?.

Saya ingin menjawab, ya sekaligus tidak. Kalau ya penuh sih… nggak akanlah saya berani berbuat dosa. Namun, ketika takut itu datang; kemudian hanya satu daya yang dimiliki : memohon ampunanNya dari segala salah dan lupa, dari segala kesesatan dan kelalaian yang terjadi.

Sepanjang sejarah manusia, keberanian manusia untuk menentang dan tidak mau mengakuiNya terjadi sepanjang waktu. Memang manusia itu pemberani (dan bodoh).

Sejarah Fir’aun menegasi benar seperti dikisahkan dalam Al Qur’an. Tukang sihirnya Fir’aun saja kemudian mengakui kenabian dari Nabi Musa, ketika kehebatan sihir ular-ularnya ditelan oleh tongkat Nabi Musa yang menjelma menjadi ular (QS 20. Thaahaa 70). Sampai akhirnya balatentara Fir’aun bersamanya ditenggelamkan di laut. Begitu juga berbagai kaum yang dimusnahkan Allah di masa yang berbeda merujuk pada ketidakberiman dan sekaligus melakukan penentangan kepada Allah.

Kebebasan melakukan pilihan dalam takdir manusia dan memang benar rasanya, kesombongan berada di puncak nafsu sehingga tak takut terhadap ancaman yang begitu dekatnya. Komitmen Allah dengan mengirimkan rasulNya disertai mujizat yang nyata dan kemampuan akal dan pikiran tidak akan membuat takut manusia. Demikian juga dengan keniscayaan sains yang hanya dapat menyimpulkan bahwa di batas awal, tentulah ada penciptaan. Para saintis yang begitu pintar dan mengagumkannya tak tergerak hatinya untuk mengakui keberadaan pencipta.

Kalaupun ada dan mereka percaya bahwa alam semesta itu ada yang menciptakan, fakta kemudian tetap saja berkeinginan kuat untuk melakukan pemisahan antara dunia sains dan agama. Untuk mempercayai Al Qur’an sebagai pesan illahi begitu samarnya.

Mengapa?

Karena janji Allah bagi “mereka” itu sangatlah jauh. Sulit untuk dipercaya dan lebih terdengar sebagai dongengan belaka.

QS 23. Al Mu’minuun 36. jauh, jauh sekali (dari kebenaran) apa yang diancamkan kepada kamu itu, 37. kehidupan itu tidak lain hanyalah kehidupan kita di dunia ini, kita mati dan kita hidup; dan sekali-kali tidak akan dibangkitkan lagi, 38. Ia tidak lain hanyalah seorang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah, dan kami sekali-kali tidak akan beriman kepadanya.”

Sedari dulu, kecuali tentunya yang tergetar hatinya karena lantunan ayat-ayat suci. Yang tergetar jantung hati dan pikirannya karena sebuah kejadian atau tergetar mengetahui betapa ada sesuatu yang luar biasa dalam dimensi akal manusia terhadap penyajian Al Qur’an maka selebihnya, kebanyakan dari manusia, menanggap remeh agama. Karena manusia begitu percaya pada akalnya, Selalulah memiliki dalih di antara sejumlah petunjuk dan pemahamannya.

Demikian juga dengan “pengetahuan spiritual”, sebagai batu uji berpeluang untuk bergabung bersama kesombongan menjadi sesuatu yang berbeda. Manusia berkecenderungan untuk menafikkan Allah dan bergabung bersama jenis ciptaanNya. Sedikit manusia yang mencari keteduhan dengan datang padaNya.

Akhirnya, seperti prasyarat awal manfaat ilmu pengetahuan akan memberikan nilai tambah untuk mendekatkan kepadanya, intuisi spiritual, sampai kitabNya hanya mungkin menjadi bagian dari sebuah proses dalam pemahaman relijius oleh satu sebab saja : beriman. Jika kesombongan itu bisa dikikis, tampaknya hidayahNya akan tiba.

Dengan logika seperti itu, maka neraka dan surga hanya dipahami oleh orang-orang berakal beriman saja.

Jadi, Sahabat Elz dan rekan yang sudi memberikan masukan dan bertukar asa…., kira-kira nih… apakah keadaan di neraka akan mampu mencairkan keangkuhan manusia di hadapan Sang Penciptanya ? 😀

Iklan

8 Tanggapan to “Ha…ha…ha… Emangnya Gw Bakal Masuk Neraka hah…?”

  1. El Za said

    Assalamualaikum wr. wb.

    Iman menyangkut setidaknya 3 hal utama yaitu Agama, logika dan hati,

    Agama berkata:
    Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka
    logika berkata :
    api itu panas, jangan sentuh api.
    hati berkata :
    Janganlah diriku dan keluargaku yang kukasihi tersentuh api.
    maka Agama logika dan hati berkata:
    belajarlah agama untukmu dan keluargamu, sehingga dirimu dan keluargamu terhindar dari api neraka.

    Dari uraian di atas, setidaknya ada 3 hal yang menentukan keimanan seseorang :
    1. Pengaruh eksternal diri yaitu : keluarga, lingkungan, pendidikan, kata-kata org lain (nasehat, cacian, sugesti, argumentasi dsb), teman, sahabat, buku, internet, Doa orang lain (terutama orang tua), televisi, visual (apapun yg terlihat), suara (apapun yang terdengar). dsb

    2. dari diri sendiri, yaitu : olah pikir setelah mendapt masukan dari eksternal (inilah jadinya sangat penting masukan positif dari pihak luar, pada
    Point 1), kemudian kemauan hati untuk mencari kebenaran setelah dia paham betapa pentingnya kebenaran bagi dirinya dan keluarganya; selanjutnya, usaha-usaha nyata dari dirinya untuk belajar dan berdoa untuk keselamatan diri dan keluarganya.

    3. Hidayah Allah SWT, sebagaimana janjiNya,
    ** “Berdoalah padaku, maka akn KuKabulkan”, (maka berdoalah untuk hidayah bagi diri dan keluarga.)
    ** “barangsiapa bersyukur atas nikmatKu, maka akan kutambah nikmat itu, barang siapa kufur, maka azabku sangat pedih” (maka beryukurlah atas segala KaruniaNya, terutama nikmat Hidayah Iman Islam ini, yang merupakan nikmat terbesar dari segala Nikmat Allah SWT).

    Allah Maha Mengetahui rahasia hati, karena itu hendaklah rajin rajin kita berniat baik untuk mendapat Hidyahnya.
    Memang ada orang yang mendapat Hidayah setelah usia tinggi, banyaklah sebabnya. Misal : karena doa org yg makbul, tersentuh akhlak yang mulia dari kaum mukminin yang meneladani Rasulullah, dsb.

    Namun demikian jangan hanya berharap dari faktor kebetulan saja, sebagai orang tua kita wajib ” mensetting” anak-anak dan keluarga kita, karena kertas putih tidak akan berwarna merah jika tidak tersentuh zat warna merah, baik itu dengan pendidikan, keteladanan, akhlak mulia, dan Doa; karena Doa dan sumpah orang tua sangat makbul. Sebagaimana teladan dari Nabi Ibrahim As, sehingga keturunannya banyak yang menjadi para Nabi dan Ulama.

    Doa yang makbul sendiri tentu membutuhkan prasyarat, bahwa diri kita suci dari maksiat (maksiat hati maupun perbuatan) dan suci harta/makanan yang haram.

    Wassalamualaikum wr wb.

    @
    Wass. wr.wb. Mas Elz… benar sekali yang Mas sampaikan, tak terbantahkan. Apalagi hal terakhir ini membawa harta yang halal yang untuk dimakan oleh keluarga kita. Saya ingat ada saudara jauh yang memiliki anak begitu banyak untuk ukuran saat ini. Anak-anaknya sukses semau (kuliah dan lulus perguruan tinggi). salah satu kuncinya, sang ibu berkata adalah harta yang halal. Saya juga terkesan dengan salah seorang yang begitu kokoh prinsipnya, yang kemudian saya postingkan di blog ini : Semua harta harus halal.
    Terimakasih untuk kesediaan menemani agor. Rasanya bisa belajar dan diingatkan terus….
    Wass, agor

    Suka

  2. ganedio said

    Mengapa Iblis berani menentang Alloh? barangkali karena Iblis belum pernah mengetahui atau merasakan azab Alloh. Barangkali Iblis hanya mengetahui bahwa Alloh begitu Maha Pengasih dan Maha Penyayang.

    Setelah adanya kehidupan di bumi yang mengandung azab, Iblis baru mengetahui bahwa Alloh memiliki azab yang keras. Namun, ketetapan Alloh sudah tidak bisa diubah. Iblis dan pengikutnya bakal masuk neraka yang belum pernah dialami atau dirasakannya sebelumnya.

    Alloh lebih mengetahui.

    @
    Iblis berani menentang Allah, seperti dikisahkan Al Qur’an… karena kesombongannya. Kesombongan membuat orang tidak mau tunduk, bahkan terhadap Sang Pencipta sekalipun. Ini juga yang terjadi dalam dunia ini. … 😦

    Suka

  3. Herianto said

    Boleh juga mebuat postingan masalah : panasnya neraka asalkan berdasarkan sumber dari-NYA. Siapa yg tahu bagaimana panasnya neraka atau nikmatnya surga, kecuali jika DIA ada menyebut bagaimana di sana.

    Lalu, apakah pencapaian ridha-NYA sejalan atau bahkan lebih tinggi tingkatannya terhadap harapan surga dan ketakutan akan panas neraka_NYA itu ?

    Lho… buat masalah baru nih … 😆

    @
    Postingan tentang ini… memang… kalau tidak tahu… ya hanya bersumber dariNya saja. Jadi betul Mas Herianto, kecuali Dia ada menyebutnya. Yang jelas sih Dia sebutkan sangat panas, sumber sangat panas, air mendidih (air mendidih 100 derajat), tapi kita kan tidak tahu titik didihnya di surga. Air sangat dingin, kita juga tidak tahu sedingin apa. Yang jelas dingin atau panas, ketika terkena kulit… resiko bisa sama : Terbakar….

    Lalu, apakah pencapaian ridha-NYA sejalan atau bahkan lebih tinggi tingkatannya terhadap harapan surga dan ketakutan akan panas neraka_NYA itu ?

    Wah pertanyaan ini malah agor nggak berani jawab. Terlalu sufistik, derajat kewalian. Namun, tentu kita bisa bertanya, siapa yang lebih sufi, nabi atau penerusnya?.

    Suka

  4. El Za said

    Assalamualaikum wr wb.

    benar kata Mas Herianto di point 3,
    segala sesuatu mengenai agama hendaknya (harus) merujuk pada sumber aslinya, yaitu Al Qur’an dan Hadist Rasulullah SAW.

    saya sendiri sangat berhati-hati, terutama menulis sesuatu tentang agama, karena saya sangat takut kepada Allah SWT.
    hati ini seperti berderak pecah menuliskan ini karena takut kepada_Nya, semoga saya tidak menulis sesuatu yang akan jadi azab besar bagi saya di akhirat.

    sebagaimana peringatan Allah di dalam Al Qur’an tentang neraka, dan perintah untuk takut kepada Allah dengan sebenar-benarnya.

    ketika seseorang sudah kehilangan rasa takut kepada Allah, maka suka menuruti hawa nafsunya, sehingga lahirlah penentang agama ,para pendurhaka, para nabi palsu, dan orang-orang yang mengubah kitab-kitab Allah, Naudzubillah.

    oh tidak, saya bukan orang (sok) suci, yang berani mengatakan pasti masuk surga dan terbebas dari neraka.
    sesungguhnya saya sangat takut kepada Allah, dan selalu mohon ampunanNya, betapa diri ini telah banyak berbuat zalim dan dosa (sbgm doa Nabi Yunus As).
    Jika dengan rasa takut ini dapat menundukkan hawa nafsu saya dan semakin dekat kepada Allah, maka saya sangat bersyukur karenanya.

    Hidupku, matiku, Ibadahku hanya karena Allah SWT, hanya kepada Allah tempatku bergantung tentang Rizki dan terhindar dari Murka_Nya.

    semoga saya tidak merasa memiliki tingkatan yang tinggi dengan keangkuhan (saya berlindung diri kepada Allah dari segala sifat angkuh) dan selalu dikaruniai rendah hati dan tawadhu kepada Allah SWT.

    “Maka barangsiapa yang derhaka. Dan mengutamakan hidup di dunia. Maka sesungguhnya nerakalah tempat diamnya. Adapun orang yang takut akan kebesaran Tuhannya dan menahan dirinya daripada hawa nafsunya. Maka sesungguhnya Syurga lah tempat diamnya.” (Q.S. An Naazi’ at: 37-41).

    Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah sebenar-benar taqwa
    kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan
    beragama Islam. (QS. 3:102)

    Assalamualaikum wr wb.

    @
    Wass. Wr.Wb…
    Benar Mas Elz itu “sebenarnya” juga satu titik persoalan ketika kita “bermain-main” dengan tema postingan. Sumber asli?. Sumber asli dalam pemahaman saya adalah Al Qur’an dan hikmah kebijaksanaan serta hidayahNya yang bisa turun setiap saat dan selalu diturunkanNya pada segenap ummat. Kemudian saya mencoba memahami dari segenap sebaran ayatnya yang tak terbatas itu. Hadis tertulis adalah rujukan pendamping untuk memahami, tapi bukan sumber aslinya. Saya tak berani banyak memuat postingan mengenai hadis, khawatir keliru dan akhirnya menuliskan sesuatu yang tidak pada tempatnya. Selebihnya… saya masih pembelajar di wilayah ini…. Wass

    Suka

  5. kurtubi said

    Saya kira neraka itu finish, sebab itulah akhir dari perjalanan kita selain ke Syurga. Adanya Neraka dan Syurga cukup bagi hati yang tergetar akan kebenaran firman Allah, bahwa itu masuk kepada keimanan selain itu, yaa silahkan diakal-akalin.

    Wallahu a’lam maaf oot ..

    @
    menggetarkan hati … menuju kampung akhirat… kebanyakan manusia… menyepelekan hal ini.. (seperti judul postingan ini ya)…

    Suka

  6. nur said

    ya itu seh tergantung dri kepribadian manusia itu sndri, kta sbgai mansia hya bs mnerskan&mlakkan ap yg tlah mnjdi tugas&kwjiban kta. oleh sebab itu sblum mlkukan sesuatu lbh baik kt fkirkan trlbih dhulh untung&rugi yg akn di dpat.thank”s ya!!!!!!!!!

    @
    Adalah juga pemahaman fakta, yang terpesona dan bermegah-megah pada dunia maka menjalankan tugasnya pada pemahaman ini. Yang menegasi sebagai sebuah perjalanan menuju kampung yang lebih langgeng, sering pula meninggalkan dunia sebagai ladang berinvestasi…. Keuntungan dan kerugian berada pada pemahaman-pemahaman dan tindakan jangka pendek….

    Suka

  7. Assalamu’alaikum sahabat,

    Neraka mestinya dipahami juga oleh orang yang berakal. Kalau ia ahli komputer tentunya ia harus takut dengan Surah An Nisaa’ 56, karena ada azab yang looping di sana. 😀

    56. Sesungguhnya orang-orang yang kafir kepada ayat-ayat Kami, kelak akan Kami masukkan mereka ke dalam neraka. Setiap kali kulit mereka hangus, Kami ganti kulit mereka dengan kulit yang lain, supaya mereka merasakan azab. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.

    Bener-bener digital… 😀
    Tx mas Agor

    @
    Wass Mas Stefano
    Loop digital… bekerja tentu pada satu hukum yang berbeda dalam semesta yang dapat kita kenali…
    ungkapan yang menarik. 😀

    Suka

  8. alex said

    @ Stefano Al-Biruni@

    Neraka mestinya dipahami juga oleh orang yang berakal. Kalau ia ahli komputer tentunya ia harus takut dengan Surah An Nisaa’ 56, karena ada azab yang looping di sana. 😀

    Wah! Saya malah ndak peduli dengan neraka, karena sebagai orang yang nggak suka mati membawa hutang, saya malah lebih terpukul dengan looping pada surah Ar-Rahman: “Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?”

    Itu pertanyaan berulang-ulang benar-benar membuat saya berpikir bahwa ada yang mesti saya haturkan syukur.

    Neraka? Dalam hal ini, tanpa mengecilkan arti dosa, saya lebih percaya sifat rahim-Nya lebih dari sifat pembalas-Nya.
    🙄

    Apakah Allah ketakutan dengan akal yang diberikan-Nya pada manusia sebagai lampu penuntun panduan jalan? Meremehkan Allah benar kalo saya mendengar ada orang yang ketakutan atas nama Tuhan terhadap akal.

    Akal – Hati – Iman itu tiga serangkai yang tidak terpisahkan. Disinilah kita bisa memilih eksistensi apakah sebagai iblis atau malaikat. Di sinilah makanya Allah melebihkan Adam daripada makhluk lain ketika diciptakan, bukan?

    @
    hm… hm… ini komentar yang cantik. Terimakasih lho. Ini adalah pandangan tentang cinta dan takut. Seperti Nona Sufistik, Rabiatul Adawiyah, yang kerap puisinya berkisah tentang kemesraannya dengan Sang Pencipta. Di sisi lain, Mas Stefano memenuhi sebuah pesan dari Allah : “Takutlah hanya padaKu….”. Keduanya adalah bagian dari usaha mendekatkan diri kepadaNya.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: