Sains-Inreligion

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Wahdatul Wujud Yang Wah !.

Posted by agorsiloku pada Oktober 21, 2007

Jujur saja, dengan pengetahuan yang minim dan terbata-bata, rasa-rasanya terlalu jauh untuk memahami konsepsi Wahdatul Wujud yang dicetuskan Ibn Arabi.  Dapatkah kita menjelaskan gelap pada gelap itu sendiri? Dapatkah kita menjelaskan tentang “terang” seperti matahari atau lebih terang lagi sehingga ke”terang”annya begitu nyata dan mata karenanya tak mampu lagi memahami dan melihat “terang”-nya matahari?.

Dapatkah kita memahami dengan akal kita sesuatu yang satu, menyatu menjadi satu atau menyatu dalam satu.  Karena setiap kata menyatu, artinya sebelumnya bukan satu.  Tiada sesuatu di alam ini selain Allah yang wujud. Dapatkah kita menjelaskan bahwa realitas wujud yang lain adalah semu dan tipuan. Bahwa alam semesta itu adalah sebuah hologram raksasa !.  Mencoba memahami filsafat wujud seperti kita berlari di area dimana kita tidak memahami apa-apa.

Boleh jadi memang, pemahaman ini bukanlah pemahaman akal, tapi pemahaman kesadaran.  Sebuah reposisi untuk memahami Sang Pencipta dan objek-objek ciptaan, termasuk mahluk yang sebagaian kecil, teramat-amat sangat kecil memahami kehadiranNya.  Dapatkah kita memahami esensi kesadaran tanpa akal sebagai bahan dasarnya,  dapatkah kita memahami kesadaran tanpa logika akal di dalamnya  Dapatkah kita mengatakan menyatu ke dalam satu padahal setiap berpikir kepada penyatuan, maka kita sedang memecah-mecah pikiran kita pada “Satu”.  Dan ini membuat satu menjadi tidak satu.  Kalau begitu, boleh jadi memang kita  sedang tidak memahami apa yang sebenarnya memang tak akan pernah bisa kita ketahui. Mencoba memahami filsafat wujud seperti kita berlari di area dimana kita tidak memahami apa-apa.

Iklan

31 Tanggapan to “Wahdatul Wujud Yang Wah !.”

  1. engkus said

    Background saya bukan dari pesantren atau sekolah plus, saya akan coba merespon tanggapan antum dalam memahami konsep whdatul wujud. “Kita sebagai orang awam akan sulit memahami jurnal kedokteran yang diterbitkan khusus untuk para dokter atau minimal pernah kuliah pada fakultas kesehatan. Karena itulah konsep wahdatul wujud yang di cetuskan oleh Ibnu Arabi dikhususkan untuk orang2 sufi bukan untuk orang awam seperti kita. Kalau kita memaksakan memahami tanpa terlebih dulu terjun menyauk ilmu tasawuf, sampai beruban pun akal kitu buntu untuk memahaminya. Ibarat kadar kemampuan kita mengangkat benda 50 kg, dipaksakan mengangkat 100 kg, organ tubuh kita akan rusak. Memahami wahdatul wujud tidak bisa hanya dengan kesadaran atau hanya dengan akal saja. Sebaiknya kita jalankan apa yang sudah kita fahami dan diyakini menurut kadar kemampuan kita.” Tuhan tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan tingkat kemampuannya”

    @
    Yap, memang begitulah Pak Engkus. Segala sesuatu ada ahlinya, ada pakarnya, ada yang menguasai persoalannya dengan baik dan benar. Segala macam, dari mulai membuat perkakas untuk mengorek telinga sampai membuat pesawat luar angkasa. Apalagi merenungi pembahasan dari para sufistik (dan tentu saja yang paling sufistik adalah Nabi sendiri yang bagian dari kekuasaanNya telah ditunjukkan kepada beliau). Kita juga tidak bisa memahami falsafah paling mendasar dari teori-teori fisika, Plank, Einstein atau Hawking. Dosen saya dulu pernah berkata, yang memahami maksud Einstein di dunia ini, tak lebih hanya belasan orang saja. Lalu, ada kawan bertanya :”Kalau begitu mengapa diajarkan?”, Ya karena dengan begitu akan sebagian besar ilmuwan akan bertumbuh dari pengetahuan yang sedikit menjadi pengetahuan yang lebih berarti bagi kebudayaan.

    Mengapa Allah mengajarkan kepada manusia apa-apa yang tidak diketahuinya. Ya tentu saja dengan logika yang sama untuk memahami keberadaanNya. Dzat yang sesungguhnya tersembunyi, yang karena cinta dan keinginan untuk dikenal maka menciptakan mahlukNya untuk mengenal siapa diriNya. KarenaNya, Dia kabarkan melalui utusanNya, melalui kemampuan akal manusia, melalui kesadaran dan kemampuan untuk pasrah yang tak bisa diukur dari setiap keunikan pengalaman. Karenanya pula, ibu saya yang tak pernah kuliah di dunia kedokteran, tak pernah mengerti satupun istilah kedokteran atau membedah, …. minimal berkesadaran untuk menjaga kesehatannya. Begitu pula banyak dokter yang dengan segala keahliannya, tak mampu juga menjaga kesehatannya meskipun memahami ilmunya…

    Karena itu pula, saya sependapat, tidak hanya dengan akal saja dan kesadaran (spiritual). Namun, jejaknya tentu harus dan hanya bisa dipahami karena akal. Tanpa akal seperti yg diberikanNya kepada manusia; maka manusia tdk punya modal utk memahami. Tak ada yang bisa dijelaskan…. 😀

    Sisi lain, sangat benar pula, jalankan (sebisa-bisanya) apa yang sudah dipahami. Kalau boleh nambahkan, … juga yang belum dan tak akan dipahami (iman), sedikit lagi… juga memahami apa yang belum dipahami… meski belum akan dapat memahami pikiran-pikiran Einstein….

    Suka

    • rizky darmawan said

      cukuplah Rosulullah teladan kita….mengapa susah2 mengambil resiko mau ngikutin yg tidak jelas…hati-hati tipu daya Iblis…habis umur hanya untuk memahami orang yg tidak jelas…hati-hati TALBIS IBLIS

      Suka

  2. jardeeq said

    puyeng juga ya!

    @
    Sama… puyeng… ketika ingin memikirkan kepuyengan… tapi tidak memikirkan juga tidak mengubah selera makan siang… 😀

    Suka

  3. Quantum said

    wahdatul Wujud / Al Halaj / Manunggaling kawula gusti / Syech Siti jenar. Saya termasuk yang menduga konsep tsb ada benarnya. meskipun saya sama tidak tahu nya dengan pak Agor.

    Dalam diri manusia, ada fitrah(suci), hanya terbelenggu materi (jasad) sehingga nafsu nafsu menyeret kita ke kematerian, tidak mau kembali kepada Allah(wujud yang tidak bisa musnah), apapun selain Allah bisa musnah. Jika kenikmatan surga digambarkan dengan materi ( bidadari cantik,sungai mengalir,pahala dan dosa dsb), masih belom kepada ibadah hanya semata kepada Allah tadi. Kalau pun andai Allah mencipta manusia setelah sekian milyar tahun di surga dibalas amalannya kemudian dimusnahkan Allah, relakah nafsu dalam diri jiwa tadi menerima apapun keputusan Sang Wujud.

    ketika didunia pun ada orang2 tertentu yang memang sudah menyatu (bukan menyatu wujud), tetapi menyatu kehendak dengan Allah. Meskipun semua gerak manusia juga berdasar kehendak Allah, tetapi nafsu manusianyanya juga dikehendaki bergerak. Tingkat rasul dan anbiya, ketika menerima wahyu tanpa nafsu tadi. Badannya hanya menjadi tunnel penyampaian Sang Khalik dengan sadar (berbeda dengan kesurupan yang tidak sadar).

    Untuk membedakan sabda manusia dari nafsu ataukah murni wahyu adalah penyampaiaannya tanpa error/ alias tidak terbata bata( tidak ada feebback pikiran mengecek apa yang disampaikan), tidak akan diselipi kata kata eee.. emm. batuk dsb. tp mengalir deras lancar,dan sangat berwibawa. makanya tidak ada wahyu untuk wanita. potensi kodratnya tidak memungkinkan dijadikan wadah menerima wahyu.
    Orang orang dengan level kerasulan ini tidak terikat syariah spt umat. Karena mereka justru membawa syariah/meluruskan/menyempurnakan syariah sebelumnya atau bahkan tidak untuk menyampaikan syariah(hanya untuk diri sendiri seperti nabi khidir).

    Nah,kadang hal tsb spt yang dimaksud Bpk Engkus, hanya yang expert. tetapi istilahnya kurang pas, expert di sini keliatan belajar. Padahal konsep tadi hanya Karunia Allah kepada orang2 tertentu yang dikehendaki, bukan untuk umum.

    @
    Ada begitu banyak pilihan kesadaran dan pemahaman yang mungkin masuk pada diri manusia. Manusia secara umum dipahami untuk mengerti melalui proses akal. Wahyu atau ilham, sebagai satu tingkatan pengetahuan yang diterima oleh manusia pilihan harus bisa diterjemahkan oleh otak dan hati untuk dipahami melalui akal. Intuisi atau apapun harus dipahami oleh akal. Yang kemudian berbeda, berada pada prosesnya. Ada yang melalui proses pelatihan, proses perenungan, proses pencarian (ini kegiatan ilmuwan sampai pendekatan tasawuf), ada juga pengetahuan yang diterima melalui proses ilham, pengelihatan metafisis yang tak setiap orang mendapatkan anugrah ini.
    Di sini ada perbedaan, menjadi tahu karena ilham atau mimpi, atau melihat yang tidak kasat mata (seperti disampaikan beberapa komentator, misalnya Mas Dono) berbeda dengan pengetahuan yang didapat melalui proses perenungan. Namun, ujung pemahaman pada akhirnya sama, melalui proses akal, proses perbandingan, dan latar belakang pengetahuan dari yang bersangkutan. Pengelihatan isi dunia yang dipahami dalam wujud totalitas juga harus diterjemahkan dalam bahasa manusia. Keagungan dan keluasan ilmu Allah tentu tak cukup dibahasakan dengan bahasa manusia. Karena itu, menjadi tahu, pura-pura tahu, dan membatasi hanya ekspert saja, pada dasarnya mengurangi potensi pemahaman yang mungkin terjadi. Pemahaman dunia metafisika, supernatural (yang semuanya tidak masuk katagori ghaib) adalah pemahaman berlapis, bertingkat-tingkat dan menurut agor seeh… jangan kita batasi sebuah proses dimana tujuan akhirnya mendekatkan diri padaNya. Selalu ambil pilihan inklusif dari jejak peristiwa.
    Bukankah Nabi juga menjelaskan (sebagian) apa yang beliau lihat dan temukan sebagai ‘ilm ketika ditunjukkan Allah sebagian dari kekuasaanNya?. Tidakkah itu semua yang dilihat dari kacamata kita semuanya totalitas metafisis?.

    Suka

  4. almascatie said

    butuh baca yang teliti dan pikiran yang tenang
    🙂

    Suka

  5. Herianto said

    Beberapa minggu lalu ada teman yg menyinggung2 masalah ini sambil membawa/memperlihatkan buku ttg syek siti jenar. Saya kira ini termasuk ke masalah prilaku sufi yang kelewatan (berlebihan). Wallahu a’lam. Apa penganutnya mulai banyak yah ?

    @
    Di wilayah ini, memang daya tariknya untuk menguji dan bertanya tinggi. Hasrat manusia untuk mencari jati dirinya adalah hasrat yang mendorong terciptanya kebudayaan juga…. Berlebihan atau tidak, saya juga kurang memahaminya…

    Suka

  6. epa said

    Se7 ama mas boy…aq tambah bingung.

    @
    Syukurlah… bingung itu kan pertanda mau berpikir… 😀

    Suka

  7. benbego said

    lagi-lagi ketemu bacaan yg berat.. ampiun deh..
    dulu sy jg pernah mempelajari konsep wahdatul wujud ini walau cuma kulitnya doang. banyak orang mensalah-artikan konsep WW ini dg bersatunya hamba dengan Tuhannya. Hal itulah kenapa Ibn Arabi, Al Hallaj, Syekh Siti Jenar bahkan Jalaluddin Rumi diaggap sesat. Klo yg saya pahami secara pribadi yg bego ini konsep hubungan WW tersebut baru pada tahap seolah-olah mereka menyatu dg Tuhannya. Logikanya adalah tubuh kita yg terdiri dari jasad, jiwa dan ruh ini pasti akan kembali pada-Nya.
    QS.As-Sajadah (32) :9 berfirman:”kemudian Dia menyempurnakan dan meniupkan ke dalam (tubuh) nya Ruh-Nya dan Dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati; (tetapi) kamu sedikit sekali bersyukur.”
    Tak heran Syekh Siti Jenar berkata “Ana AlHaq” Saya adalah Tuhan. bagi orang awam bebas mengatakan dia sesat krn sudah mengaku2 Tuhan. Padahal sejatinya yg ingin disampaikan Siti Jenar adalah Dzat, unsur atau sifat Tuhan ada pada dirinya. AlHaq sendiri adalah salah satu dari asmaul husna, nama2 Sifat Tuhan yang Baik.
    Berdasarkan kisah yg sy ingat (diragukan kebenarannya tp saya percayai, tdk ada dibuku manapun) selama ini kita tahunya bahwa Siti Jenar Mati di Pancung oleh para wali sembilan atau wali songo. Dalam versi saya bukan demikian: pada saat Siti Jenar disidang terjadi perdebatan yg sangat sengit mengenai konsep WW ini. Ternyata konsep yg dijabarkan Siti jenar adalah konsep ilmu tasawwuf tingkat yang sangat sulit dipahami orang awam. Bahkan para Wali mengakui ketinggian Ilmu Syekh Siti Jenar. Namun Para Wali jg menyesalkan mengapa ilmu itu diajarkan pada orang awam yg notabenenya ibadahnya baru dlm tahap belajar atau syariat saja. sehingga dikhawatirkan terjadi salah persepsi dalam memahami wahdatul wujud ini.
    yg jelas klo gw pribadi jg belum taraf ilmunya. ada yg bilang Siti Jenar ngga solat, belum tentu.. klo kata AA Jimmy, ilmunya masih cethek.. jd ngga tau dia solat apa ngga..
    kembali ke asmaul husna, coba km periksa telapak tanganmu, ada tulisan angka ngga, arab atau latin sama aja, terus jumlahin. jadi 99 kan. asmaul husna juga 99. berarti sifat2 baik tuhan ada didiri kita. tapi udah ngga murni 99 lagi kecuali pada saat kita lahir. Sifat baik kita, adil, pengasih, penyayang, dst itu adlah bukti nyata Allah ada dalam diri kita. Jadi apakah kita sudah Wahdatul Wujud dengan Tuhan Kita?

    Wallahu A’lam Bisshowab.
    maaf semua, udah pasti banyak salahnya. koreksi aja. lagi belajar kok..!

    @
    Dalam postingan ini, saya juga telah sampaikan ketidaktahuan saya… jadi rasanya tak mampu memberikan penilaian sesat atau tidak, benar atau tidak. Kesadaran spiritual seperti apa yang telah dijalankan sehingga sampai pada pengertian Ana Al Haq adalah sesuatu yang tidak bisa saya resapi. Apalagi dengan nama-nama yang sebenarnya berada pada tataran mendunia….

    Jadi kita sama ya.. 😀

    Suka

  8. raksa5 said

    Rupanya Mas Ben kesengsren ama WW yah atau pengagum sufi kelas tinggi sekelas Al Hallaj, Sy.Siti Jenar, dll.
    Baiklah saya hanya menambahkan semoga menjadi tentram akal dan nurani kita semua.
    Sebaiknya kita belajar dari awal dulu, yaitu mengenai ma’rifat kepada Allah sebagaimana dalam pelajaran tauhid disebutkan “Awalu dini ma’rifatullah” (Dasarnya beragama itu dimulai dari mengenal Allah/ma’rifatullah. Dari mana dimulainya? Yaitu ilmu Usuluddin yang didalam nya ada pelajaran Sifat dua puluh. Dalam sifat dua puluh itu ada tujuh sifat ma’ani (sifat2 Tuhan disandarkan kepada hamba). Mari kita uraikan satu persatu:
    Sifat “Hayat” – “Hayan” (Hidup – Yang Hidup)
    Sifat “Ilmu” – “Aliman” (Mengetahui – Yang Mengetahui)
    Sifat “Bashor” – ” Bashiron” (Melihat – Yang melihat)
    Sifat “Sama” – “Sami’an” (Mendengar – Yang Mendengar)
    Sifat “Kalam” – “Mutakaliman” (Berbicara – Yang Berbicara)
    Sifat “Qudrat” – “Qodiron” (Berkuasa – Yang Berkuasa)
    Sifat “Irodat” – “Muridon” (Berkehendak – Yang Berkehendak)
    Nah tujuh sifat itu oleh Allah disandarkan kepada hambanya, menjadi hak pakai untuk diminta pertanggungjawaban. Jadi menurut saya yang menjadikan konsep WW itu adalah karena sifat2 Tuhan ada pada hambanya.
    Kemudian mengenai perkataan Al Hallaj, Sy.Siti Jenar, sebenarnya adalah kalam qodim (bukan ucapan mereka)yang tembus keluar ucapan mereka (Kondisi ini terjadi diwaktu mereka dalam keadaan “fana” bukan dalam keadaan biasa). (“Fana” adalah mekanisme yang terjadi dalam ilmu thoriqat). Mengapa Kalam Qodim sampai tembus keluar? Karena pada hakikatnya manusia itu hanya majaz (bayangan).
    Perhatikan juga kutipan dari hadis qudsi sbb..”Hambaku yang sholeh selalu memujiku……Akulah yang menjadi ucapannya yang dengannya ia berbicara, Akulah yang menjadi matanya yang dengannya ia melihat, Akulah yang menjadi telinganya yang dengannya ia mendengar, Akulah yang menjadi tanganya yg dengannya ia beramal, Akulah yang menjadi hatinya yang dengannya ia berangan-angan…..”
    Kepribadian mereka (para arif billah, auliya, solihin, mukminin, mutaqin) segala yang ada pada mereka dari ujung rambut sampai ujung kaki, jasadnya, jiwanya, ruhnya adalah kepunyaan Allah. Mereka berserah diri sepenuhnya, tanpa ada keraguan sedikitpun.

    @
    Kehabisan modal untuk berkomentar. Trims uraiannya yang bernas…. 😀

    Suka

  9. danalingga said

    Waduh , berat kali ini bahasannya pak. Saya numpang nyimak aja deh, kali aja ada pencerahan di sini. 😀

    @
    Hm..m…m… sama, ini buat saya juga terlalu berat… jadi hanya melempar bola saja… 😀

    Suka

  10. JINGGA said

    ASS…
    BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIM…

    sebelumnya MOHON maaf bila AKU menulis semua NANTI banyak kekurangan bukan maksud menggurui atau mencoba MELEBIHI pengetahuan yang Berilmu dan Menjadi GURU dan PENERJEMAH..
    AKU hanya ingin berbagi pemahaman…. dari satu pengertian yang aku dapat tidak dari siapapun atau manapun….
    aku mengikuti “kata” dan “KALIMAT” yang lahir dari setiap Kesalahan dan kekeliruanku juga kehinaan dan dosa sendiri..
    99 nama ALLAH adalah INDAH dan SEMPURNA.. SATU itulah ya ALLAH
    ONE= 99=1 (satu itulah ALLAH = 99 nama ALLAH dan 99 = 1)
    siapakah 1
    dialah yang menyatu
    sapa sajakah yang menyatu
    dialah ALLAH
    kenapa KITA TERKOTAK dengan KATA “A L L A H ” tampa tau KENAPA ALLAH kenapa BUKAN HURUF lain kenapa 4 huruf Beda dan 2 huruf sama ( 4 =A , LL = 55 , 4 =A = H) diputar dibalik artinya selalu ada …. SAH .. : ALL itu BISA SAH dan BENAR bila DILAKUKAN DI AWALI segalanya KARENA ALLAH…
    apapun sekecil apapun…! JANGAN TINGGAL KAN DIA…”ALLAH”
    99 = nama INDAH
    1 = NAMA ALLAH (MENJADI SATU )
    1 = CIPTAANNYA
    99= NAMA CIPTAANYA
    1 = KESEMPURNAANYA
    99 KEHINAAN MANUSIA
    99 KESEMPURNAANNYA…. (JANGAN MENCOBA MENJADI DIA)
    cukup menjadi 1 = MANUSIA = CINTA
    ALLAH tidak MINTA kita MENJADI 99 namanya
    karena KITALAH KUTUB 99 KEHINAAN yang KITA tidak MAU AKUI dimata ALLAH…! ALLAH 99 SUDAH MUTLAK INDAH DAN SEMPURNA
    KITALAH 99 yang MUTLAK SALAH DAN HINA dan TAK MAMPU SEMPURNA…
    tapi masi ada 1 yang KOSONG untuk MENYEPURNAKAN menjadi 100
    1 = CINTA
    1 = JUJUR HATI
    1 = APA ADANYA
    1 = MENGAKU DOSA..
    1 = TAU KITALAH HINA itu
    1 = KITALAH BODOH itu
    1 = KITALAH amarah itu
    1 = KITALAH NAFSU itu
    1 = KITALAH segalanya …..hingga 99 (yang negatiF ITULAH kita manusia YANG tau DAN mau MENGAKU bodoh DI mata 99 kesempurnaannya YANG kita satukan dalam “ALLAH SWT”
    yang KITA PUJI dan SEMBAH juga AGUNGKAN…
    maka JADILAH kamu 99 nama ALLAH yang BUKAN KESEMPURNAANYA
    karena 99 kesempurnaan NAMA ALLAH yang INDAH + 1 NAMAMU itulah sempurnanya KEIMANAN … ( KEYAKINAN dengan BERSANDING dengan ALLAH kita MAMPU SEIRING dan DITUTUPI semua KEKURANGAN KITA)
    itulah WUJUD SEGALANAYA + (ALL = SEGALA “AH” 4= KURSI (H=HATI= GERBANGNYA)) untuk MENCAPAI KASIHSAYANG ALLAH… )

    semoga KITA tidak PERLU mencari WUJUD dalam MANUSIA…
    karena SEMUA MANUSIA yang TAU dan MEYAKINI dan MERENDAHKAN diri JUGA PERCAYA akan DIA , RASUL dan ALQURAN..(RUKUN IMAN ) akan mampu MEWUJUD KAN ALLAH diatas DIRI dan SEGALANYA….
    amien ya Rab alamin
    pahami dari KESEDERHANAAN dan KEKURANGAN juga KEBODHAN diri SENDIRI…..!! AKUI lah KETIDAK TAHUAN mu DIMATA ALLAH agar DIA akan MENDIDIK dan MENGAJARMU dengan caranya..
    semoga PA AGUS .. mampu membenarkan bila ada kesalahan dalam PEMAHAMAN sederhana SAYA JINGGA WANITA =IBU dan SINGLE PARENT

    @
    Uraian yang menarik… banyak kita bisa belajar dan betapa luas yang dijelaskan dari namaNya… karena itu, agor tak rasanya kurang “sreg” bila ada penyebutan lain untuk namaNya. MengenalNya hanya melalui nama-namaNya dan apa yang dijelaskan olehNya… tidak lebih dan kurang. Tidak menggunakan pendekatan maha yang lain….

    Suka

  11. solekan said

    memang sulit sekali kalau kita,omongkan perjalanan sang Sufi siti jenar yang telah menyatu dengan yang maha Kuasa ( ALLAH ). ini memang tidak perlu kita pikirkan akan tetapi perlu kita Rasakan/hayati. Emang kalau kita nalar tidak akan ketemu jawabanya. bahwa dalam diri manusia sebenarnya terdapat sifat-sifatNya. namun kita tidak boleh takabur. Marilah kita ingat sifat-sifat Allah dalam asma’ul husna. Sadarkah kita akan itu yaitu sebenarnya yang terjadi. Menurut pandangan saya SITI JENAR adlah tetap Walinya Allah.

    Suka

  12. haniifa said

    @mas Solekan
    Insya Allah, kalau anak gadis saya menikah… suatu saat.
    Maka saya menjadi Wali Allah… sebagai ayah kandung dari perempuan yang diserahkan kepada calon suaminya.

    Kalau mas Siti Jenar belon sempet menikahkah gimana yach !!!

    Buat para Bapak-bapak yang telah pernah menikahkan anak gadisnya… selamat anda telah menjadi Wali Allah, Amin.

    Wassalam, Haniifa.

    Suka

  13. aburahat said

    Saya mungkin sepaham dg mas Jingga tapi dari sdt pandang yg lain. Kelihatan mas Agor ingin mengasah otak kita maka saya jg mau mas Agor pikirkan pendapat saya ini.
    Akal kita sekarang berkeliaran dalam melihat sesuatu yg konkrit. Dan yg konkrit itu sdh ada sejak kita kenal akal kita. Sekarang mari kita mundur sblm ada yg konkrit tadi. Maka kita berada dlm situasi abstrak yg akal kita tdk mampu mengetahui apa yg kita hadapi maka kita hanya bisa katakan APA itu APA. Seperti kata mas Agor dptkah kita bayangkan SESUATU YG SATU MENYATU MENJADI SATU? atau Dapatkah kita mengatakan menyatu ke dalam satu padahal setiap berpikir kepada penyatuan, maka kita sedang memecah-mecah pikiran kita pada “Satu”. Jd APA itu SATU dan APA itu MENYATU. Krn kita tdk tau apa2
    Mengapa? karena kita lupa kepada yg SATU yaitu SUMBER dr segala SUMBER.
    Segala yg ada dalam alam semesta ini termasuk alamnya bersumber dr YG SATU yakni ALLAH.
    Saya akan bawakan beberapa ayat agar lbh jelas dari mana sumber yg kita lihat sekarang sbg sesuatu yg konkrit. Krn kita melihat ke yg konkrit ini maka akal dikacau bgm yg pecah2 itu disatukan sdgkan yg pecah2 itu satu:
    1.KATAKANLAH, ALLAH ADALAH PENCIPTA SEGALA SESUATU (QS 13:16)
    (Allah sbg SUMBER)
    2.ALLAH MENCIPTAKAN SEGALA SESUATU DAN DIA MEMELIHARA
    CIPTAANNYA (sumber pemelihara)
    3.DIA ALLAH YG MENCIPTAKAN YG MENGADAKAN YG MEMBENTUK RUPA, YG MEMPUBYAI NAMA2 YG PALING BAIK. (sumber segala2nya)
    Dengan APA segala ini Allah ciptakan? jawabannya dari KETIADAAN. Jd dari KETIADAAN td bersumber pd yg SATU kemudian diadakan DICIPTAKAN. Apa yg kita lihat sekarang terpecah belah menjadi 100 milyard SESUATU berasal dari ciptaan yg SATU yaitu Allah. Dan nanti pada hari yg ditentukan semua yg ter-pecah2 berserakan dialam semesta ini akan kembali menjadi SATU dlm KETIADAAN yg tinggal hanya WAJAHNYA.

    Suka

  14. truthseeker said

    @Quantum
    Dilanjutin donk komentarnya, krn juga tamggapan dr Agor tdk fokus ke comment mas Quantum.
    @Agor
    Banyak dr kt sdh pernah mendengar dan mgkn mencoba memengerti konsep wahdatul wujud (WW). Sangat menarik membaca semua komentar teman2. Semakin banyak komentar yg dibaca semakin kaya saya dg konsep saya yg sdh ada (pengayaan konsep ini tdk selalu berarti krn terjawabnya pertanyaan2, namun bs jg timbulnya pertanyaan2 baru dr konsep sendiri yg tdnya sdh dianggap solid).

    Salah satu konsep/tujuan dr tasawufnya para sufi kalau tdk salah adalah mendekatkan diri kpd Allah Yang Maha Esa. Di dunia sufi (kl ga salah) semua niat, lisan dan perbuatan kt menunjukkan sebrp dkt kt kpd Allah. Termasuk diantaranya adalah bagaimana cara kita memanggil/menyebut Allah.
    Kedekatan kt kpd Allah terhalangi oleh adanya hijab2 yg ada dr diri kt sendiri (EGO & Kehendak kita). Semakin kecil Ego dan kehendak kita mk menunjukkan semakin dekat kt kpd Allah. Jauh/dekat Allah bs dilihat dr cara pandang/penyebutan kpd-Nya, berikut adalah ilustrasi dr yg pernah kita jumpai:
    1. Fulan “A”: “Tuhan tdk ada (atheis)”.
    2. Fulan “B”: “Tuhan membuat manusia/saya susah”.
    3. Fulan “C”: “Kita serahkan kpd Yang di atas..”.
    4. Fulan “D”: “Dia/Tuhan yg lebih mengetahui..”.
    5. Fulan “E”: “Engkau ya Allah yg menguasai diri hamba..”.
    6. Fulan “F”: “Ana Al Haqq”

    Yang di atas sangat jauh, Dia msh jauh, Engkau msh kurang dekat, maka jika tdk ada aku/ego, yang ada hanyalah Allah, itulah yg paling dekat.

    Suka

  15. haniifa said

    Larut dalam “Manunggaling” bersama “Gusti” (baca: Nama Ibunya)”
    .Hening
    ….Adakah Jiwa
    ….Adakah Raga
    ….Panca Indra tak sempurna
    .Hening
    ….Kala usia menuju 2 tahun
    ….Kala Panca Indra sempurna
    .Damai
    ….Ketika menuju masa Aqli Baligh
    ….Inikah rupa ibuku, lautan kasih sayang itu
    ….Inikah rupa ayahku, daratan kasih sayang itu
    .Ramai
    ….Ketika jiwa lupa
    ….Ketika raga hampa
    Puji Syukur….. Yaa Allah,
    Mengisyaratkan “SyurgaMu” ditelapak kaki “ibuku”

    Semua orang pernah manugaling khan 😀

    Suka

  16. Theo jamm said

    kenapa pada setiap ayat2 yang menerangkan tauhid yang menampilkan kata abd’ diartikan sembah atau ilah? apa anda semua tidak melihat kejanggalan ini? apakah kita ini disuruh menyembah atau mengabdi??

    La ta’budu artinya “jangan menyembah” atau “jangan mengabdi”???
    kalau diartikan “jangan menyembah” kok nggak berbunyi La’ilahu
    bagaimana ilmu tafsirnya???
    kenapa?????
    ????????
    tolong bantu saya untuk menjawabnya
    thanks b4

    @
    Duh.. mohon maaf agor tidak mengerti yang Mas maksudkan juga, mungkin rekan lainnya bisa membantu.
    kalau kata itu artinya jangan menyembah atau jangan mengabdi, ya begitu. Kalau La ilahu artinya tiada tuhan ya begitu juga. Kalau “
    al la ta’ buduu illa allah ” ya artinya “agar jangan menyembah selain Allah“, apalagi menyembah la ta’ buduu syetan atau jin….
    Ilmu tafsirnya agor juga tidak tahu, mohon maaf. Ini harus tanya ahlinya.
    Salam, agor.

    Suka

  17. Dhar said

    ASW.

    WIHDATUL WUJUD, TIDAK JAUH DARI STATEMENT AGUS MUSTOFA.

    BACA BUKUNYA YANG BERJUDUL “BERSATU DENGAN ALLAH”

    TETAPI SEBELUM BACA BUKU ITU ANDA BACA DULU BUKU SEBELUMNYA YAITU
    “TERPESONA DI SIDRATUL MUNTAHA” DAN “MENYELAM KE SAMUDERA JIWA DAN RUH” SEMOGA ANDA DAPAT MEMAHAMINYA SECARA LEBIH HOLISTIK.

    BILA ADA YANG MAU BELI BUKUNYA BISA KIRIM E-MAIL KE SAYA DI : q-dhar@plasa.com

    ATAU KUNJUNGI BLOG SAYA DI : http://scientificfasting.blogspot.com

    NANTI SAYA KONFIRMASIKAN LEBIH LANJUT JIKA ADA YANG MAU MEMBELI BUKUNYA.

    SAYA JELASKAN SEDIKIT, KITA MEMANG BERSATU DENGAN ALLAH, TETAPI BERSATUNYA KITA DENGAN ALLAH BERBEDA DENGAN DZAT ALLAH YANG TIADA BATAS, KALAU KITA YA TERBATAS, KITA BERKEHENDAK SAMA SEPERTI ALLAH, TAPI KEHENDAK KITA TERBATAS. KITA PENYAYANG TAPI SAYANG KITA TERBATAS. DAN KITA INI DILIPUTI OLEH ALLAH YANG MAHA TIADA TARA/BATAS SEKALIGUS DILIPUTI OLEH KETERBATASAN KITA.

    SEMOGA PAHAM.

    WASALAMUALAIKUM.

    @
    Wass.wr.wb.
    Saya memang hanya beberapa buku saja yang ditulis Agus Mustofa ini. Judulnya cukup menantang. Kebetulan buku yang Mas sebutkan itu sudah lama saya membacanya. Hanya buku “Ternyata Adam Dilahirkan” yang dipinjam dan lupa dimana itu buku. Namun, soal kemampuan memahami secara holistik, yah… keterbatasan pengetahuan dan pengalaman memang menjadi seni kesulitan tersendiri… 😦
    Wass.

    Suka

  18. zal said

    ::Mas Agor, apakah salah mencoba mencari tahu tentang yang tidak diketahui, bukankah Ibrahim saja perlu bertanya agar Beliau lebih yakin, mengapa perlunya diciptakan melalui tangan-tangan manusia hologram, stereogram jika tidak diperlukan sebagai informasi…dan berprasangka baik…

    @
    Mas Zal ini benar-benar bertanya yang agor juga tidak punya jawabannya. Begitu sederhana pertanyaan yang dilontarkan sehingga begitu datar dan tidak tahu mana yang lebih menonjol. Begitu datar dan lebar, sehingga tak nampak ufuknya…. Begitu sunyi, sehingga begitu banyak pilihan untuk direnungi.

    Dunia kita memang hologram raksasa, sterogram yang memunculkan gambaran-gambaran dari peristiwa-peristiwa yang bisa dilihat dari berbagai sisi yang kemunculannya tak bisa diperhitungkan tepat oleh manusia. Bahkan hanya satu menit ke depan saja, hanya garis besar yang kita bisa ketahui. Persis seperti kita duduk di belokan jalan dan melihat yang lewat di depan kita, kita tak pernah tahu, siapa mendatangi kita sebelum ada memang berlalu…..

    Tentu kita selalu ingin tahu apa yang ingin ketahui dan sebagian sangat besarnya, kita tidak ingin tahu apa yang kita tahu dan tidak kita ketahui. Namun, kita selalu bertanya tentang apa-apa yang berlalu dalam angan dan pikiran kita serta apa yang nampak dalam mata dan matahati kita. Kita seperti membawa lampu sorot kecil manapak jalan di depan. Hanya sedepa, namun toh perjalanan berlalu pula menuju “cahaya” tujuan.

    Kembali ke Nabi Ibrahim yang mengolah akal dan selalu bertanya dan menarik kesimpulan, Nabi Musa yang bertanya dan meminta bukti, putera Nabi Adam yang menunjukkan kepasrahan ketika ancaman pembunuhan dari saudaranya, Nabi Ayyug yang memiliki tinggi adalah contoh bagi kita bahwa para nabiyullah memiliki karakteristik tertentu yang bisa jadi berbeda satu dengan yang lain. Namun tetap pada konsepsi tauhid yang begitu agung.

    Kita tentu memiliki karakteristik itu, walau sangat secuil…..

    Suka

  19. hery said

    tidak ada tujuannya…..

    @
    😀

    Suka

  20. gunawan wibisono said

    huwallah
    allah hu
    hu allah

    solat ku ada dalam nafasku
    dzikir ku ada dalam detak jantungku
    qalbu adalah kabahku

    dari jasad menuju ke muhammad
    dari muhammad menuju ahmad
    dari ahmad menyatu dengan ahad
    ahad adalah puncak untuk menuju ad

    dzat kembali kepada dzatullah
    sir kembali kepada sirullah
    nur kembali kepada nurullah

    itulah inalillahi

    @
    terimakasih untuk catatannya. 😀

    Suka

  21. SyamsiTabriz said

    Salamun’alaikum,

    saya ingin berbagi pemahaman..

    sebelum sampai membahas wahdatul wujud, ada baiknya kita sama-sama merenungi perbedaan antara pernyataan2 berikut :

    1.Melahirkan
    2.Menciptakan (khalq)
    3.Menjadikan (Kun)

    Allahu Ahad, DIA tidak “melahirkan”, tetapi DIA “Menciptakan”, dan DIA juga “Menjadikan”..

    Suka

  22. ozy said

    mohon untuk nimbrung sebentar, dan jika ada yang kurang mengena tolong di perbaiki. untuk memamahi konsep ketuhanan mungkin ada baiknya jika kita memahami ucapan ali bin abi thalib yang mengatakan ” setiap aku melihat sesuatu, maka disitu ada allah”, dari ucapan ini mungkin bisa kita dasari dengan arti kata “bismillah” (dengan menyebut nama allah)

    @
    Segala sesuatu karya ciptaNya…

    Suka

  23. haniifa said

    @Ozy
    Bismillahir rahmaanir rahiim dari 144 di Al Qur’an

    Al Qur’an disampaikan kepada Nabi Muhammad s.a.w

    Mana sumber yang paling lebih baik mengenai segala Konsepsi ?!

    @
    Sudah jelas.. soal mau atau tidak… kadang persoalannya ada di sini…
    Karena itu.. penafsiran berjalan dari waktu ke waktu, dari perubahan ke satu perubahan…
    namun cahaya yang menyinari dunia… dari matahari yang sama, dari pemilik yang sama….

    Suka

  24. haniifa said

    @Mas Theo jamm

    Coba kalau sampean mandi…. nyanyi lagu Padamu Negeri.. 100x 😀
    Enak mana..
    Padamu negri kami mengabdi
    atau..
    Padamu negri kami menyembah…. 😀

    Kalau sudah paham… mari kita lanjutkeun, tapi kalau masih hampa… silakeun mandi lagi.. 😛

    Mbah Abdi, Haniifa.

    @
    Wah.. tergantung atuh Kang Haniif… tergantung asal usilnya…
    Kalau padamu negeri.. kami berontak juga ada….
    🙂

    Suka

  25. rizky darmawan said

    KOMENTAR2 DISINI BANYAK YG MENYESATKAN ORANG LAIN….BICARA AGAMA SESUKA HATI…TANPA DALIL YG JELAS WADUHHHHH NAMBAHI DOSA AJ.

    Suka

  26. elzach said

    Assalamalaikum wr wb.

    Alhamdulillah masih ada yang mengingatkan tentang dosa:

    Jangankan yang mengaku ulama, para Nabipun diancam jika ada yang berani mengaku dirinya tuhan, jika apa yang diajarkan sebagaimana yang ditulis awal pembahasan ini adalah hal yang benar, maka pastilah Nabi/Rasulullah SAW yang pertama kali mengatakannya.

    *******
    AL ANBYAA’ [21.25] Dan Kami tidak mengutus seorang rasul pun sebelum kamu, melainkan Kami wahyukan kepadanya:
    “Bahwasanya tidak ada Tuhan (yang hak) melainkan Aku, maka sembahlah olehmu sekalian akan Aku”.

    AL ANBYAA’ [21.29] Dan barang siapa di antara mereka mengatakan: “Sesungguhnya aku adalah tuhan selain daripada Allah”, maka orang itu Kami beri balasan dengan Jahanam, demikian Kami memberikan pembalasan kepada orang-orang lalim.
    *******
    so, kita harus berhati-hati…harus berhati-hati….

    Wassalamualaikum wr wb.

    Suka

    • agorsiloku said

      Wassalamualaikum wr wb. Mas Elzah,
      begitu dalam yang diingatkan Mas untuk kita semua. Tak mudah karena kadang lidah begitu mudah silap dan mengatasnamakanNya, untuk sesuatu yang Sang Pencipta tidak menghendaki kita menjelaskan atas namaNya yang bukan apa yang diwahyukan kepada manusia…..
      Wass, agor

      Suka

  27. Anonim said

    wahdahtul wujud- asmaul husna- zero pribadi

    Suka

  28. al isa said

    wahdahtul wujud——- ——-asmaul husna——TUHAN kebaikan vs ILIN kejahatan—–rapat buku lauh mahfudzh(hakekat)—–transmitter—–tiada diri

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: