Sains-Inreligion

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Keseimbangan Al Qur’an- Bag 7

Posted by agorsiloku pada Oktober 11, 2007

Pengantar : tulisan ini dikirimkan oleh rekan El Za yang telah berkenan mengirimkan kembali tulisan HMNA yang bernas dan memberikan banyak pencerahan. Dan dipostingkan di sini untuk menambah khasanah penulisan tentang Al Qur’an yang ditulis memang oleh yang mumpuni ilmunya, ilmu tentang kitab wahyu, dan juga mumpuni pada ilmu dunia 😀

Dua Cara Pemeliharaan Al-Quran: Hafalan-Pembacaan dan Teks Tertulis
oleh H.Muh.Nur Abdurrahman

Ayat-ayat Al-Qur’an selain ditulis semasa Nabi SAW masih hidup juga dihapal oleh banyak shahabat beliau. Sampai sekarang di antara ummat Islam seluruh dunia tidak sedikit yang hafal Al-Quran termasuk anak-anak. Ada dua cara pemeliharaan Al-Quran
1) hafalan/pembacaan
2) Teks tertulis

1) Nabi SAW memerintahkan pembacaan ayat-ayat Al-Qur’an dalam shalat dan menganjurkan tadarrus Al-Qur’an dalam setiap keluarga Muslim, khususnya dalam bulan Ramadhan. (Bukhari, Muslim, Abu Dawud, dll). Adalah fakta sejarah bahwa sejak dari zaman Nabi SAW sampai sekarang dan yang akan datang, setiap bulan Ramadhan di Al-Majid Al-Haram dalam shalat tarwih ditammatkan membaca Al-Quran. Ada saja penyimpangan Imam dalam pembacaannya itu, akan ditegur/dibetulkan oleh makmum, karena wajib hukumnya makmum yang shalat di belakang imam membetulkan kesalahan bacaan Imam, dan dengan demikian Al-Quran tetap terpelihara.

2) Teks tertulis dipelihara oleh Sistem Kontrol Keterkaitan matematis sistem 19. Untuk ini pembaca dipersilakan membaca Lampiran I Pidato Ilmiyah yang saya sajikan di Makassar, pada 25 Muharram 1416 / 24 Juni 1995, dalam Rapat Senat Terbuka Universitas Muslim Indonesia (UMI) dalam rangka Milad (Dies Natalis) UMI yang ke-41 [1954 – 1995] seperti di bawah.

Dibuka dengan: Basmalah Hamdalah Syahadatain Shalawat Kemudian baru diucapkan Salam
Judul: Metode Pendekatan Satu Kutub dalam Mengkaji Ayat Qawliyah dan Kawniyah

Lampiran I Pidato Ilmiyah di UMI
Padanya Sembilan Belas

Pendekatan Satu Kutub akan diaplikasikan dalam mengkaji sumber informasi ayat qawliyah, yaitu ayat (11 s/d 30) dari surah Al-Muddatstsir. Supaya jelas, yang berikut ini ini dituliskan arti paket ayat (11 s/d 30) dari surah Al-Muddatstsir.

(11)Biarkanlah Aku bertindak terhadap orang yang telah Kuciptakan sendiri.
(12)Dan Aku jadikan baginya harta yang banyak.
(13)Dan anak-anak yang selalu bersamanya.
(14)Dan kulapangkan baginya selapang-lapangnya.
(15)Kemudian ia ingin sekali agar Aku menambahnya.
(16)Sekali-kali tidak, karena sesungguhnya dia menentang ayat-ayat Kami.
(17)Aku membebaninya dengan mendaki yang memayahkan.
(18)Sesungguhnya dia telah memikirkan dan menetapkan.
(19)Maka celakalah ia bagaimana menetapkan.
(20)Kemudian celakalah dia bagaimana menetapkan.
(21)Kemudian memperhatikan.
(22)Sesudah itu dia bermasam muka dan merengut.
(23)Lalu dia berpaling dan menyombongkan diri.
(24)Lalu dia berkata: Ini tidak lain dari sihir yang dipelajari.
(25)Ini tidak lain dari perkataan basyar.
(26)Aku akan memasukkannya ke dalam Saqar.
(27)Tahukah kamu apakah Saqar itu.
(28)Tidak meninggalkan dan tidak membiarkan.
(29)Sengatan bagi basyar.
(30)Padanya sembilan belas.

Sebagaimana yang ditafsirkan orang pada umumnya, yang dimaksud dengan sembilan belas dalam ayat 30 adalah jumlah malaikat penjaga neraka Saqar, yaitu dengan menunjuk kepada ayat selanjutnya, yang artinya:
(31)Kami tidak adakan penjaga neraka itu melainkan malaikat-malaikat dan Kami tidak adakan bilangan mereka melainkan untuk fitnah ba gi orang-orang kafir.

Bertolak dari sikap ragu terhadap penafsiran manusia, diragukan bahwa ayat 30 menunjuk kepada ayat 31, oleh karena:

Pertama, ayat (11 : 30) merupakan satu paket, artinya antara ayat 30 dengan ayat 31 tidak diturunkan bersama-sama dalam satu waktu, melainkan dalam waktu yang berbeda, karena diantarai oleh turunnya ayat-ayat yang lain.

Kedua, neraka dalam ayat 31 menunjuk kepada neraka pada umumnya, sedangkan ayat 26 hanya menunjuk kepada neraka yang khusus yaitu Saqar.

Ketiga angka 19 tidak menunjuk substansi tertentu, 19 adalah murni bilangan, jadi terbuka untuk menunjuk substansi apa saja dalam Al-Quran.

Untuk itu sesuai dengan Metode Pendekatan Satu Kutub (MPSK) ditempuhlah langkah-langkah yang dimulai dengan observasi. Adapun observasi ini harus dimulai dari Asbab An-Nuzul. Gunanya ialah untuk mendapatkan “Kalimat Topik”
dari paket ayat yang diturunkan itu. Menurut Ibnu Jurair dan Ibnu Abdil A’la, sebuah riwayat yang berasal dari Ikrimah sebagai berikut:

“Pada suatu waktu Al-Walid ibn Al-Mughirah datang kepada Nabi Muhammad SAW, maka Nabipun membaca beberapa ayat Al-Quran. Rupanya bunyi atau isi ayat itu dapat menguasai pikiran Al-Walid. Ketika Abu Jahil mendapat kabar bahwa
Al-Walid mulai terpengaruh, segera ia menemui Al-Walid. Lalu ia berkata: ‘Kini keluarga persukuanmu tengah mengumpulkan harta bantuan untuk-mu.’
‘Untuk apa itu?’ jawab Al-Walid. ‘Memang untuk diberikan kepadamu, sebab engkau telah mendekati Muhammad, karena hendak mengharapkan hartanya.’

Demikianlah provokator Abu Jahl mengejek-ejek Al-Walid untuk membangkitkan jiwa angkuh Al-Walid, sebab Abu Jahl kenal betul bahwa Al-Walid ini sangat bangga dengan kekayaannya. Mendengar ejekan itu Al-Walidpun berkata: ‘Orang
Quraisykan tahu bahwa akulah yang terkaya di antara mereka. ‘Oh, kalau begitu,’ kata Abu Jahl selanjutnya, ‘cobalah terangkan kepada kaum-kaummu itu bahwa engkau membantah dan membenci Muhammad.’ Al-Walid menjawab:
‘Apakah gerangan yang aku ucapkan tentang Muhammad? Tak seorang juga di antara kaum (orang Quraisy) ini yang lebih pandai dari aku tentang syair, nyanyi ataupun kalimat jampi-jampi.’ Kata Abu Jahl pula: ‘Kaummu tidak akan senang, kalau engkau tidak membuat satu kata ejekan tentang Muhammad itu.’ ‘Kalau begitu biarlah aku pikirkan sebentar,’ jawab Al Walid. Sehabis berpikir ia berkata: ‘Yang dikatakan Muhammad itu tak lain dari sihir yang diterimanya dari orang lain. Itu tidak lain hanya ucapan manusia belaka.’
Tak lama kemudian, Allah menurunkan ayat 11 sampai dengan ayat 30 surah al Muddatstsir.”

Dari Asbab An-Nuzul tersebut dapatlah kita simpulkan bahwa kalimat topik dalam paket ayat (11 s/d 30) adalah ayat 24 dan 25. Lalu dia berkata: Ini tidak lain dari sihir yang dipelajari. Ini tidak lain dari perkataan basyar. Kata basyar ini tidak diterjemahkan, sebab kita akan mengungkapkan ma’nanya dengan cara mempergunakan Al Quran sebagai kamus (prinsip ayat menjelaskan ayat).

Langkah selanjutnya adalah observasi tentang arti basyar. Observasi ini berlandaskan pada prinsip ayat menjelaskan ayat seperti dikemukakan di atas. Adapun ayat-ayat yang mengandung kata basyar adalah seperti berikut:

-1-Maryam berkata Ya Tuhanku,betapa mungkin aku mempunyai anak,padahal aku belum pernah disentuh basyar (3:47).
-2-Tidak wajar bagi basyar yang Allah berikan kepadanya kitab hikmah dan kenabian (3:79).
-3-Berkata orang-orang Yahudi dan Nasrani, kami adalah anak-anak Allah dan kekasih-kekasihNya. Katakan: Mengapa Allah menyiksamu karena dosa-dosamu? Namun kamu adalah basyar di antara ciptaanNya (5:18).
-4-Dan mereka tidak menghormati Allah dengan penghormatan yang semestinya di kala mereka berkata: Allah tidak menurunkan sesuatupun kepada basyar (6:91).
-5-Berkata para pemimpin orang-orang kafir di antara kaumnya: Tidak kami lihat kau melainkan sebagai basyar seperti kami (11:27).
-6-Tatkala (perempuan-perempuan) itu melihatnya, mereka mengaguminya dan mereka mengiris tangannya dan berkata: Maha Sempurna Allah, ini bukanlah basyar, ini tak lain dari malaikat yang mulia (12:31).
-7-Mereka berkata: Kamu tidak lain dari basyar seperti kami(14:10).
-8-Rasul-rasul mereka berkata: Kami tidak lain hanyalah basyar seperti kamu (14:11).
-9-Dan ingatlah tatkala Tuhanmu berkata kepada malaikat: Sesungguhnya aku akan menciptakan basyar dari tanah liat kering dari lumpur hitam yang diberi bentuk (15:28).
-10-Berkata (Iblis): Aku sekali-kali tidak akan sujud kepada basyar dari tanah liat kering dari lumpur hitam yang diberi bentuk (15:33).
-11-Dan sesungguhnya Kami mengetahui mereka berkata: Sesungguhnya (Al Quran) itu diajarkan oleh basyar kepadanya (16:103).
-12-Katakanlah: Maha Suci Tuhanku, bukankah aku ini hanya basyar yang menjadi Rasul (17:93).
-13-Mereka berkata: Apakah Allah mengutus basyar menjadi Rasul (17:94).
-14-Katakanlah: Sesungguhnya aku ini basyar yang diwahyukan kepadaku: Bahwa sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Tuhan Yang Esa (18:110).
-15-Dan Kami mengutus ruh Kami (Jibril) kepadanya, menjelma di hadapannya (dalam bentuk) basyar yang sempurna (19:17).
-16-(Maryam) berkata: Bagaimana akan ada bagiku seorang anak laki-laki, sedang tidak pernah ada basyar yang menyentuhku dan aku bukan seorang pezina(19:20).
-17-Maka makan, minum dan bersenang hatilah kamu. Jika kamu melihat basyar (19:26).
-18-Yaitu mereka yang zalim berkata: Apakah ini tidak lain dari basyar seperti kamu (21:3).
-19-Dan Kami tidak jadikan abadi bagi basyar sebelum kamu (21:34).
-20-Maka berkata para pemuka orang kafir di antara kaumnya: Tidaklah ini kecuali basyar seperti kamu (23:24).
-21-Tidaklah ini melainkan basyar seperti kamu, dia makan dari apa yang kamu makan, dan minum dari apa yang kamu minum (23:33).
-22-Dan sesungguhnya jika kamu taat kepada basyar yang seperti kamu, sesungguhnya bila demikian, kamu benar-benar akan rugi (23:34).
-23-Maka kata mereka: Apakah (patut) kita percaya kepada dua basyar yang seperti kita, padahal kaum kedua mereka itu menghambakan diri kepada kita (23:47).
-24-Dan Dialah Yang menciptakan basyar dari air dan dijadikanNya keturunan dan keluarga besar dan adalah Tuhanmu Maha Kuasa (25:54).
-25-Tidaklah kamu melainkan basyar seperti kami (26:154).
-26-Tidaklah kamu melainkan basyar seperti kami. (26:186)
-27-Dan di antara ayat-ayatNya: Yaitu diciptakanNya kamu dari tanah, kemudian tiba-tiba kamu (menjadi) basyar yang berkembang biak (30:20).
-28-Mereka berkata: Kamu tidak lain dari basyar seperti kami (36:15).
-29-Ingatlah ketika Tuhanmu berkata kepada malaikat: Sesung guhnya Aku akan menjadikan basyar dari tanah (38:71).
-30-Katakanlah: Sesungguhnya saya hanyalah basyar seperti kamu diwahyukan kepadaku bahwa Tuhan kamu, Tuhan Yang Esa (41:6).
-31-Dan tidaklah bagi basyar bahwa Allah berkata dengannya kecuali dengan perantaraan wahyu, atau di belakang tabir, atau dengan mengutus seorang utusan, lalu diwahyukan kepadanya dengan seizinNya (42:51).
-32-Maka mereka berkata: Apakah basyar di antara kita (54:24).
-33-Maka mereka berkata: Apakah basyar yang memberi petunjuk kepada kami(64:6).
-34-Ini tidak lain dari perkataan basyar (74:25).
-35-Lawwaahah bagi basyar (74:29).
-36-Dan tidaklah itu melainkan peringatan bagi basyar (74:31).
-37-Peringatan bagi basyar (74:36).

Dari ke-37 ayat yang mengandung kata basyar, 4 di antaranya dalam surah Al-Muddatstsir. Selain surah Al-Muddatstsir, 29 (no.urut 35 dalam daftar Di atas), ke-36 ayat yang lain kata basyar jelas-jelas berarti ciptaan Allah yang masih hidup di atas muka bumi ini. Hanya manusia yang sudah mati saja yang akan menghuni neraka Saqar. Dari hasil observasi jelaslah bahwa menurut pengertian yang diberikan oleh Al-Quran sendiri yang digunakan sebagai kamus, kata basyar berarti makhluk manusia yang berdarah daging yang makan dan minum, berkembang biak, mempunyai keturunan dan berkeluarga yang masih
hidup di atas muka bumi ini. Mari kita fokuskan kepada ayat-ayat ini:

(26)Aku akan memasukkannya ke dalam Saqar.
(27)Tahukah kamu apakah Saqar itu.
(28)Tidak meninggalkan dan tidak membiarkan.
(29)Sengatan bagi basyar.
(30)Padanya sembilan belas.

Karena hanya orang mati saja yang akan dimasukkan Allah ke dalam neraka Saqar, maka hanya ayat (27), dan ayat (28) saja yang merupakan penjelasan terhadap ayat (26).

Maka pertanyaan yang timbul adalah: sengatan bagi basyar itu berupa apa?
Perhatikanlah Firman Allah: Innaa Nahnu Nazalnaa dzDZikra waInnaa Lahu- Lahaafizhuwn (S. Al-HiJr,
15:9), artinya: Sesungguhnya telah Kami turunkan Al-Dzikr (Al-Quran) dan seungguhnya Kami memeliharanya .
Cara Allah memelihara Al-Quran salah satunya ialah:

‘Alayhaa Tis’ata ‘Asyar,
Padanya sembilan belas.

Allah SWT memberikan kepada kita alat kontrol berupa sistem keterkaitan matematis angka 19, disingkat dengan “sistem-kontrol angka 19”. Yang dikontrol adalah jumlah bilangan dalam Surah, ayat, bahkan huruf. Jadi
sengatan bagi basyar bermakna siapa saja basyar yang mencoba untuk mengatakan bahwa Al-Quran itu karangan manusia seperti ucapan Al-Walid ibn Al-Mughirah yang menjadi topik paket ayat (11-30), yaitu ayat (24,25), atau mengganggu kemurnian Al Quran, maka kepadanya diberi sengatan dengan “sistem-kontrol angka 19”, ‘Alayhaa Tis’ata ‘Asyar.

Yang ditunjuk oleh nya, Haa dalam ‘Alayhaa Tis’ata ‘Asyar adalah muannats (gender perempuan), sehingga semua kitab-kitab tafsir mengatakan bahwa yang ditunjuk itu adalah neraka Saqar (neraka termasuk jenis kata gender
perempuan).

Seperti dikemukakan sebelumnya, bertolak dari sikap ragu terhadap penafsiran manusia, diragukan bahwa ayat 30 menunjuk kepada ayat 31. Akan diulang lagi keberatan kita seperti yang telah disebutkan sebelumnya, yaitu:

Pertama, ayat (11 s/d 30) merupakan satu paket, artinya antara ayat 30 dengan ayat 31 tidak diturunkan bersama-sama dalam satu waktu, melainkan dalam waktu yang berbeda, karena diantarai oleh turunnya ayat-ayat yang lain.

Kedua, neraka dalam ayat 31 menunjuk kepada neraka pada umumnya, sedangkan ayat 26 hanya menunjuk kepada neraka yang khusus yaitu Saqar. Setelah diadakan observasi mengenai Asbab An-Nuzul paket ayat (11 – 30) dan menghasilkan kesimpulan bahwa kalimat topik adalah ucapan Al-Walid yang dipateri Allah SWT dalam kedua ayat dalam surah Al-Muddatstsir, 25 dan 26,

Ketiga, angka 19 tidak menunjuk substansi tertentu, 19 adalah murni bilangan, jadi terbuka untuk menunjuk substansi apa saja dalam Al-Quran, maka kita tambah lagi dua keberatan.

Keempat, setelah mengadakan pelacakan makna kata basyar dengan Al-Quran yang dijadikan kamus, kata basyar jelas-jelas berarti ciptaan Allah yang masih hidup di atas muka bumi ini. Hanya manusia yang sudah mati saja yang akan
menghuni neraka Saqar. Jadi basyar tidak disengat oleh neraka Saqar, maka hanya ayat (27), dan ayat (28) saja yang merupakan penjelasan terhadap ayat (26).

Kelima, jika ayat ‘AlayHaa Tis’ata ‘Asyar, padanya sembilan belas, menunjuk pada neraka Saqar, maka tuduhan Al-Walid bahwa Al-Quran adalah sihir yang dipelajari dan itu adalah ucapan manusia, tidaklah terjawab sama sekali. Namun apabila ayat ‘AlayHaa Tis’ata ‘Asyar menunjuk pada Al-Quran sebagai jawaban tuduhan Al-Walid, ada pula keberatannya, oleh karena yang ditunjuk oleh nya,Haa adalah muannats (gender perempuan), sedangkan Al-Quran adalah dari jenis kata mudzakkar (gender laki-laki), sehingga semestinya alayHi, bukan alayHaa. Oleh sebab itu Haa menunjuk pada yang muannats dalam Al-Quran, yaitu: surah, bagian surah yaitu ayat, dan bagian ayat yaitu kalimat dan kata.

Kesimpulannya, ayat ‘AlayHaa Tis’ata ‘Asyar, artinya padanya sembilan belas, adalah jawaban atas tuduhan Al-Walid yang mengatakan bahwa Al-Quran itu tidak lain dari sihir yang dipelajari dan tidak lain dari perkataan basyar.

Alhasil, penafsiran di atas itu sangat berbeda dengan penafsiran yang umum. Bahwa angka 19 itu bukan jumlah Malaikat (sebagian dari Malak) penjaga neraka, melainkan angka 19 itu ada di dalam sebagian dari isi Al-Quran. Maka
menurut MPSK, penafsiran tentang angka 19 itu harus diuji-coba.

Uji-Coba Angka 19 dalam Al-Quran

1.1 Kalimah Basmalah

(1:1); terdiri atas huruf-huruf: (1)Ba, (2)Sin, (3)Mim, (4)Alif, (5)Lam, (6)Lam, (7)Ha, (8)Alif, (9)Lam, (10)Ra, (11)ha, (12)Mim, (13)Nun, (14)Alif, (15)Lam, (16)Ra, (17)ha, (18)Ya, (19)Mim, jumlahnya 19.

Dalam kalimah Basmalah ini kelihatan betul bahwa apa yang disebut dengan ejaan Utsmani adalah atas petunjuk dari Allah SWT, yaitu ada dua huruf Alif yang dicopot keluar dari sistem kalimah Basmalah. Alif yang pertama Dicopot dari sistem Ba, Sin, Mim, sebab bukankah kata ini berasal dari bi + ismun? Sehingga seharusnya dituliskan Ba, Alif, Sin, Mim, seperti dalam ayat iqra bismi rabbika dalam surah Al-‘Alaq (kita akan bertemu lagi nanti surah Al-‘Alaq ini). Alif yang kedua dicopot dari Al-Rahman, sebab bukankah bunyi ma- Itu harus dipanjangkan dengan alif? Sehingga semestinya dituliskan Alif,
Lam, Ra, ha, Mim, Alif, Nun. Maka demikianlah, padanya 19, kita lihat bahwa nya, Haa menunjuk pada kalimah Basmalah yang semestinya terdiri atas 21 huruf, tetapi berkurang menjadi tinggal 19 huruf, karena dicopot dua buah Alifnya.
1.2. Ayat (1:5) AYAK N’ABD WAYAK NST’AYN, 19 huruf
1.3 Ayat (1.6): AHDNA ALShRATh ALMSTQYM, 19 huruf
1.4 Bagian Ayat (1:7) ShRATh ALDzYN AN’AMT ‘ALYHM, 19 huruf
Bagi yang tidak bisa mengaji: Sh, Th, Dz masing-masing satu huruf

2. Jumlah kata yang membentuk Basmalah:
Jumlah Ismun 19 = 1 x 19
Jumlah Allah 2698 = 142 x 19
Jumlah Al-Rahman 57 = 3 x 19
Jumlah Al-Rahim 114 = 6 x 19
————————————
Jumlah pengalinya = 152
= 8 x 19
3. Jumlah surah 114, ini adalah kelipatan 19, yaitu 6 x 19.

4. Jumlah kalimah Basmalah juga 114. Walaupun Surah Al-Tawbah (ke-9) tidak dimulai dengan kalimah Basmalah, namun karena dalam surah Al-Namal (ke-27) ada dua kalimah Basmalah yaitu pada permulaan surah dan dalam ayat 40 yakni surat dari Nabi Sulaiman AS kepada Ratu Bilqis, maka jumlah kalimah Basmalah tetap 114. (Kita akan bertemu lagi nanti hubungan antara Surah ke-9 dengan Surah ke-27 ini dalam butir ke-11)

5. Ayat-ayat yang mula-mula turun yaitu ayat 1 s/d 5 dari surah Al-‘Alaq.
Kelima ayat tersebut termasuk sangat penting, sebab itu merupakan SK pengangkatan Muhammad yang Basyar menjadi Nabi dan Rasul Allah. Jumlah kata dan huruf seperti termaktub dalam tabel di bawah:

ayat jumlah kata jumlah huruf
1 5 18
2 4 14
3 3 14
4 3 13
5 4 17
jumlah 19 Jumlah 76 = 4 x 19
Jadi jumlah huruf 76 = 4 x 19, dan jumlah kata 19. Di sini kita dapat saksikan pula bagaimana ‘Alayhaa Tis’ata ‘Asyar, padanya 19, bahwa nya, Haa menunjuk pada SK pengangkatan Nabi Muhammad RasululLlah SAW, yaitu pada dua
hal terjadinya angka 19. Pertama, Ba, Alif, Sin, Mim dalam bismi rabbika tidak dicopot Alifnya, tidak seperti Ba, Sin, Mim dalam kalimah Basmalah yang dicopot Alifnya. Kedua, kata insaan bunyi saa dipanjangkan, namun dituliskan menurut ejaan ‘Utsmani dengan Alif, Nun, Sin, Nun, yang berarti di sini terjadi pula pencopotan huruf Alif. Andaikata terjadi pencopotan
Alif pada ayat 1 dari surah Al-‘Alaq seperti pada kalimah Basmalah dan huruf Alif tidak dicopot dari kata insaan, maka rusaklah setting sistem kelipatan 19 dalam SK pengangkatan Nabi Muhammad RasululLlah SAW, artinya jumlah
hurufnya tidak lagi 76, sehingga tidak habis dibagi 19. Sebenarnya kalau disimak lebih jauh, sistem keterkaitan matematis angka 19 ini bertujuan pula agar Al-Quran itu sampai kepada ejaannyapun harus otentik, tidak boleh mengubah jumlah huruf. Demi untuk keotentikan Al-Quran sampai kepada ejaannya, pencetak Al-Quran di Indonesia dan di mana saja di dunia ini, hal ejaan ini patut menjadi perhatian serius, yaitu harus memakai sistem ejaan Utsmani seperti Al-Quran yang dihadiahkan oleh Raja Fahd kepada para Jamaah haji. Dalam Al-Quran hadiah dari Raja Fahd yang memakai ejaan Utsmani itu
insaan dituliskan Alif, Nun, Sin, Nun, tidak seperti dalam Al-Quran cetakan Indonesia yang menuliskan Alif, Nun, Sin, Alif, Nun, yang tidak mencopot Alifnya.

Perlu pula diperjelas di sini tentang hal belum adanya titik-titik pada huruf-huruf di zaman Nabi Muhammad SAW, sehingga bunyi ba, ta, tsa dll. ditulis sama karena tanpa titik. Namun penambahan titik-titik itu di kemudian hari yang bertujuan untuk dapat membedakan bunyi ba, ta, tsa tersebut, sama sekali tidak merusak sistem, karena jumlah hurufnya tidak terganggu. Demikian pula pembubuhan tanda baca kemudian hari sehingga huruf-huruf Al-Quran tidak gundul lagi, yang bertujuan untuk memudahkan membaca Al-Quran, juga tidak merusak sistem, karena jumlah hurufnya juga tidak terganggu.

6. Jumlah ayat dan huruf dalam surah Al-‘Alaq; jumlah ayat 19 dan jumlah huruf: 285 = 15 x 19. Sekali lagi ditekankan, andaikata terjadi pencopotan Alif pada ayat 1 dari surah Al-‘Alaq seperti pada kalimah Basmalah dan huruf Alif tidak dicopot dari kata insaan, maka rusaklah setting sistem kelipatan 19 dalam surah Al-‘Alaq secara keseluruhan.

7. Kedudukan surah Al-‘Alaq dalam Al-Quran; surah ini menempati posisi nomor urut ke-19 dari belakang dalam Al-Quran.

8. Jumlah ayat dalam Al-Quran; terdapat perbedaan. Itu tidak berarti ada ayat yang hilang atau bertambah. Perbedaannya terletak dalam hal sistem pemberian nomor ayat. Ada yang memberikan nomor tersendiri bagi kalimah Basmalah seperti pada surah Al-Fatihah. Ada yang memasukkan kalimah Basmalah dalam nomor ayat berikutnya, jadi bergabung menjadi satu ayat. Ada yangmemberi nomor-nomor tersendiri pada potongan huruf-huruf gabungan pembuka Al-Muqaththa’aat. Ada pula yang menggabungkan huruf-huruf Al-Muqaththa’aat itu ke dalam ayat berikutnya menjadi satu nomor. Ada pula ayat yang panjang
yang menjadikannya dua nomor ada pula yang menjadikannya satu nomor saja. Dengan sistem pemberian nomor ayat yang berbeda itu, maka hasilnya seperti berikut: 6004, 6204, 6212, 6218, 6219, 6225, 6226, 6227, 6266, 6666. Jika kita ambil patokan sistem kelipatan 19, jumlah yang sah adalah 6004 = 316 x 19.

9. Sistem Al-Muqaththa’aat;
Al-Muqaththa’aat potongan-potongan (dari Qaf, Tha, ‘Ain, qatha’a, memotong) huruf-huruf yang terdapat dalam pembukaan surah-surah sesudah kalimah Basmalah. Banyak penafsiran mengenai Al-Muqaththa’aat ini. Dalam uji-coba angka 19 ini akan kita saksikan bahwa sesungguhnya Al-Muqaththa’aat itu merupakan kode matematis. Ada 29 surah yang dibuka dengan Al- Muqaththa’aat menyusul kalimah Basmalah. Surah-surah itu adalah surah ke- 2, 3, 7, 10, 11, 12, 13, 14, 15, 19, 20, 26, 27, 28, 29, 30, 31, 32, 36, 38, 40, 41, 42, 43, 44, 45, 46, 50, 68. Kombinasi huruf-huruf Al-Muqaththa’aat itu ada 14 buah,
yaitu:

1.Alif-Lam-Mim (2,3,29,30,31,32)
2.Alif-Lam-Ra (10,11,12,14,15)
3.Alif-Lam-Mim-Ra (13)
4.Alif-Lam-Mim-Shad (7)
5.ha,Mim (40,41,43,44,45,46)
6.’Ain,Sin,Qaf ha,Mim (42)
7. Tha,Sin (27)
8.Tha-Sin-Mim (26,28)
9.Kef-Ha-Ya-‘Ain-Shad (19)
10.Ya-Sin (36)
11.Tha-Ha (20)
12.Shad (38)
13.Qaf (50)
14.Nun (68)

Huruf yang membentuk Al-Muqaththa’aat 14 buah: (1)Alif, (2)Lam, (3)Mim, (4)Ra, (5)Kef, (6)ha, (7)Ya, (8)’Ain, (9)Shad, (10)Tha, (11)Sin, (12)Qaf, (13)Nun, (14) Ha. Kalau 29 buah surah yang mengandung Al-Muqaththa’aat, ditambahkan dengan 14 buah kombinasi Al-Muqaththa’aat, ditambahkan lagi dengan 14 buah huruf yang membentuk alMuqaththa’aat, maka akan diperoleh: 29 + 14 + 14 = 57 = 3 x 19. Jadi paling tidak alMuqaththa’aat itu merupakan suatu kode matematis yang mengikat komponen-komponen: jumlah surah, jumlah kombinasi huruf dan jumlah huruf menjadi satu sistem, yaitu sistem keterkaitan matematis kelipatan 19.

Setelah dilacak dapat diungkapkan qaidah seperti berikut: Kode matematis Al-Muqaththa’aat yang membuka Surah setelah Basmalah memberikan isyarat bahwa jumlah huruf atau huruf-huruf yang dinyatakan oleh Al-Muqaththa’aat dalam Surah itu adalah kelipatan 19. Jumlah huruf yang dinyatakan oleh huruf atau huruf-huruf Al-Muqaththa’aat persekutuan dalam beberapa Surah, adalah kelipatan 19. Di bawah ini dikemukakan contoh-contohnya.

9.1 Satu huruf dalam satu surah;
Contoh: jumlah huruf Qaf dalam surah Qaf sebanyak 57 = 3 x 19. Di sini kita
dapat saksikan pula bagaimana padanya 19, bahwa nya, Haa menunjuk pada ayat
13 surah Qaf. Orang-orang yang ingkar kepada Nabi Luth AS pada ayat-ayat
lain dalam Al-Quran mendapat predikat Qawmu Luwth. Dalam ayat 13 surah Qaf
orang-orang yang ingkar kepada Nabi Luth AS disebut Ikhwaanu Luwth.
Andaikata dalam surah Qaf ini juga dipergunakan istilah Qawmu Luwth, maka
akan kelebihan satu huruf Qaf dalam surah Qaf ini, dan akan menjadi 58,
sehingga tidak habis dibagi 19.

9.2 Satu huruf persekutuan dalam beberapa surah; Contoh: Huruf Shad persekutuan dalam ketiga surah Al-A’raaf, Maryam dan Shad:

Nama Surah Jumlah huruf Shad
Al-A’raaf 98
Maryam 26
Shad 28
Jumlah 152 = 8 x 19.

9.3 Beberapa huruf dalam satu surah;
Contoh: Kombinasi huruf-huruf Alif, Lam, Mim, Shad dalam surah Al-A’raaf:

Huruf Jumlah
Alif 2572
Lam 1523
Mim 1165
Shad 98
Jumlah 5358 = 282 x 19

Di sini kita dapat saksikan pula bagaimana padanya 19, bahwa nya, Haa menunjuk pada kata Bashthatan dalam ayat 69 surah alA’raaf. Pada waktu Jibril datang kepada Nabi Muhammad SAW membawa ayat tersebut, Jibril menginstruksikan kepada Nabi Muhammad SAW agar menyuruh tulis Bashthatan dengan huruf Shad walaupun sebenarnya barus dibaca dengan bunyi sin, dan untuk itu harus dibubuhkan huruf Sin kecil di atas huruf Shad. Kata yang sama artinya dituliskan dengan Sin pada Basthatan dalam surah Al-Baqarah ayat 247, karena memang harus dibaca kata itu dengan bunyi Sin. Andaikata
dalam surah Al-A’raaf, 69 dituliskan dengan Basthatan, maka akan rusaklah sistem kelipatan 19 dalam kombinasi huruf-huruf Alif, Lam, Mim, Shad dalam surah Al-A’raaf itu. AlhamduliLlah dalam semua Al-Quran cetakan Indonesia tidak ada yang lalai, semuanya membubuhkan huruf Sin kecil di atas huruf Shad pada kata Bashthatan dalam ayat 69 surah Al-A’raaf.

9.4 Beberapa huruf persekutuan dalam beberapa surah;
Contoh: Dalam contoh di bawah dikemukakan delapan buah surah yang mempunyai Al-Muqaththa’aat persekutuan Alif-Lam-Mim. Adapun surah Al-Ra’d yang dibuka dengan Al-Muqaththa’aat Alif-Lam-Mim-Ra termasuk juga dalam keluarga Alif-Lam-Mim. Demikian pula surah Al-A’raaf juga termasuk dalam keluarga persekutuan Alif-Lam-Mim, oleh karena surah Al-A’raaf dibuka dengan Alif-Lam-Mim-Shad. Dalam Tabel Alif, Lam, Mim di bawah ini diperlihatkan
perhitungan jumlah huruf-huruf Alif, Lam, Mim dalam ke delapan surah yang diikat oleh Al-Muqaththa’aat Alif-Lam-Mim tersebut.

Tabel Alif, Lam, Mim
No. Nama Jumlah huruf
Surah Surah Mim Lam Alif Alif,Lam,Mim
2 Al-Baqarah 2195 3204 4592 9991
3 Ali ‘Imraan 1251 1885 2578 5714
7 Al-A’raaf 1165 1523 2572 5260
13 Al-Ra’d 260 479 625 1364
29 Al-‘Ankabuwt 347 554 784 1685
30 Al-Ruwm 318 396 545 1259
31 Luqmaan 177 298 348 823
32 Al-Sajadah 158 154 268 580
Jumlah 5871 8493 12312 26676 = 1404 x 19

Contoh-rontoh lain sistem keterikatan matematis kelipatan 19:

10. Surah ke-27 ayat: 30 ada bacaan Basmalah, kalau bilangan surat dan ayatnya dijumlahkan, yaitu 27 + 30 = 57 (atau 3 x 19).

11. Surah ke-9 tidak dibuka dengan Basmalah, sedangkan Surah ke-27 mempunyai dua Basmalah yaitu pada permulaan Surah dan dalam ayat 30 (lihat butir 10). Ada hubungan yang menarik antara Surah ke-9 dan ke-27. Apabila bilangan
surat-surat dijumlahkan mulai dari Surah ke-9 s/d ke-27, (9+10+11+12+…+24+25+26+27) maka hasilnya adalah 342 = 18 x 19.

12. Seperti telah dijelaskan pada butir ke-4, wahyu pertama (Surah ke-96 ayat : 1-5 ) terdiri dari 19 kata (atau 1 x 19) dan 76 huruf = 4 x 19, maka wahyu kedua (Surah ke-68, S.Al-Qalam, ayat : 1-9 ) terdiri dari 38 kata = 2 x 19.

13. Wahyu ketiga (Surah ke-73, S.Al-Muzzammil, ayat : 1-10 ) terdiri dari 57 kata = 3 x 19

14. Surah terakhir yaitu S. Al-Nashr (Surah ke-110) terdiri dari 19 kata, dan ayat pertama terdiri dari 19 huruf. (Adapun ayat terakhir ialah ayat 3 S.Al-Maaidah (Surah ke-5).

15. Wahyu yang pertama kali menyatakan ke-Esaan Allah adalah wahyu ke-19, yaitu S. Al-Ikhlaash (Surah ke-112).
16. Kata WLYTLThf adalah pertengahan Al-Quran, terletak dalam ayat 19.

Kesimpulan Uji-Coba

1. Ternyata data yang diungkap dari uji-coba di atas mendukung penafsiran bahwa angka 19 menunjuk pada kalimat topik, seperti yang diucapkan oleh Al-Walid, dan bukan pada jumlah malaikat penjaga neraka Saqar. Artinya penafsiran angka 19 yang ditujukan pada kalimat topik didukung oleh data hasil uji-coba.

2. Penafsiran yang didukung oleh data hasil uji-coba di atas itu, mengungkapkan pula salah satu mu’jizat Al-Quran dari segi keterkaitan matematis angka 19, yang dapat disaksikan orang banyak dengan latar belakang pengetahuan yang sangat minim; yaitu hanya dengan mengenal tulisan Arab. Mu’jizat Al-Quran yang lain baru dapat dilihat, dirasakan, diresapkan, diapresiasi dengan persyaratan latar belakang pengetahun yang banyak, seperti misalnya harus faham bahasa Al-Quran, mengerti balaghah, filsafat, mendalami isinya dll.

3. Dari segi ilmu probabilitas, Rasyad Khalifa telah menghitungnya, yaitu 1 di antara 626 septilion , 626 dengan 24 angka nol dibelakangnya, 626 000 000 000 000 000 000 000 000. Jadi menurut ilmu probabilitas ini di antara 626 septilion manusia di permukaan bumi ini hanya ada satu orang yang dapat menyusun Al-Quran dengan sistem keterkaitan matematis angka 19 tersebut. Dan ini mustahil terjadi, oleh karena jumlah manusia yang mungkin dapat hidup di permukaan bumi ini mulai dari sejak manusia pertama hingga manusia tidak mungkin dapat hidup lagi, sangat jauh di bawah angka 626 septilion itu. Jadi
tidak mungkin Al- Quran itu karangan manusia.

4. Paket ayat 11 sampai dengan 30 dalam surah Al-Muddatstsir itu mengandung satu permasalahan yang mesti dijawab, yaitu kalimat topik tuduhan Al-Walid bahwa Al-Quran itu karangan manusia. Penafsiran angka 19 dengan jumlah penjaga neraka Saqar, tidak menyelesaikan masalah, tidak menyambut gayung Al-Walid. Penafsiran angka 19 yang didukung oleh data uji-coba di atas itu, menjawab tuduhan Al-Walid itu: “Hai Al Walid dan semua orang yang sependirian sejak zaman RasuluLlah SAW sampai sekarang dan yang akan datang!
Apabila anda mengatakan bahwa Al-Quran itu karangan Muhammad, maka inilah jawabannya: Lihatlah sistem keterkaitan matematis angka 19 dalam Al Quran. Lihatlah hasil kalkulasi Rasyad Khalifa probabilitas 1 di antara 626 septilion itu. Artinya tidak ada seorangpun juga yang dapat mengarang seperti Al-Quran itu. Al-Quran bukan karangan manusia, Al-Quran adalah wahyu yang diturunkan Allah SAW kepada Nabi Muhammad RasuluLlah SAW, baik secara langsung maupun secara tidak langsung melalui Malaikat Jibril AS.”

Catatan: H.R. Gibb sering dikutip pendapatnya oleh para muballigh dan penulis-penulis Muslim: Islam is indeed much more than a system of theology. It is a complete civilization. Ucapan itu dikutip oleh karena adanya kata complete. Padahal kalau kita mau sedikit jeli, kata civilization itu mengandung racun. Islam digolongkan dalam civilization , peradaban, artinya
Islam itu bersumber dari akar historis, artinya Islam itu dari otak Muhammad, bukan bersumber pada yang non-historis yaitu wahyu yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW. Alhasil Al-Walid dan Gibb satu golongan. Jadi eloknya tidak usahlah kita mengutip kata-kata orang, sebelum menyimak betul ucapannya, apakah bersih dari substansi yang bertentangan dengan aqidah. Untuk menunjukkan Islam itu sempurna, kita kemukakan saja ajaran dari Al-Quran dan Sunnah Rasul, ajaran Islam secara keseluruhan.

5. Dari hasil uji-coba di atas itu, kelihatan sangat penting dan serius mengenai ejaan. Artinya sistem keterkaitan matematis angka 19 itu sesungguhnya di samping bertujuan menjaga keotentikan Mushhaf ‘Utsmaniy dalam hal isi, kalimat dan kata, juga bertujuan untuk menjaga keotentikan dalam hal ejaannya (Al-Rasm Al-‘Utsmaaniy). WaLlahu A’lamu bishawab.

__


Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: