Sains-Inreligion

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Dalam Kenangan : Maman Noor La Bharat

Posted by agorsiloku pada Oktober 10, 2007

“Saya ingin memberikan satu lukisanku untuk persahabatan kita”, ucapnya ramah pada suatu ketika, ketika sama-sama masih berstatus layang dan masih menimba pelajaran sekolah.

“Ogah ah… saya hanya mau nanti saja, kalau Kang Maman Noor sudah berpameran…”

“Dan pamerannya harus di luar negeri. Nah nanti setelah itu baru saya tagih janji sampeyan…”.

“Oke deh, tapi baru saya berikan untuk rumah barumu kelak…….”

Waktu berjalan terus, usai lulus sekolah jarang-jarang kami bertemu. Yang saya dengar, beliau tidak banyak lagi berkarya, melukis. Namun “beralih profesi” menjadi pengamat seni rupa, kritikus seni rupa, dan kurator atau apalah.

Saya baru menagih janjinya dulu setelah sekitar 8 tahunan kemudian. Sebuah lukisan beberapa perahu di Pantai Cirebon. Lukisan yang dinamainya “Jenu“. Ada sedikit cacat di bagian kiri bawah lukisannya, cat minyaknya terkelupas. Dengan keahliannya, ia perbaiki lukisannya. Memang dari sekian banyak lukisan yang ditunjukkannya untuk kupilih, “Jenu” adalah pilihanku.

Kami bertemu sebelum kepergiannya ke asal, kepada Penciptanya, beberapa bulan yang lalu ketika gejala kanker getah bening mulai menyerangnya. Kami sempat bertukar sapa di tengah ringgisannya karena sakit dan harapan untuk tetap bertahan melawan keganasan penyakitnya.

Ingatan memang melampaui batas-batas. Masa lalu adalah serpihan peristiwa yang menelurkan rasa bersama dan kebahagiaan, ketika kita sama-sama tidak punya apa-apa dan pada waktunya kembali lagi tidak punya apa-apa. Kang Maman mengajari saya bagaimana menilai sebuah lukisan, memeriksa kualitas lukisan, dan saya diajari juga bagaimana mengetahui sebuah lukisan itu asli, restorasi, dan bagaimana melihat goresan-goresan pena lukisan di atas kanvas, pengaruh cahaya terhadap kilap lukisan, dan tentu saja bagaimana memelihara lukisan dengan baik. Mengapa sebuah lukisan jadi berharga, dan lain sebagainya.

Pelajaran itu, hanya menjadi pengetahuan belaka, meskipun sekali-kali saya berusaha mengingat kembali bagaimana menilai lukisan. Pernah satu kali, saya pergi ke Surabaya bersama seorang pengusaha besar di Indonesia ke salah satu sanggar lukisan. Pemilik sanggar menyambut antusias, dan menunjukkan lukisan-lukisannya (siapa tahu dibeli). Di antara banyak lukisannya, dia tunjukkan satu lukisan ukuran besar dan sangat dibangga-banggakan. Di situlah ilmu Kang Maman Noor bermanfaat. Setelah saya teliti, kemudian saya simpulkan lukisan itu hasil restorasi dan pelukis pertama bukan yang melakukan restorasi atas lukisan itu.  Goresan/sapuannya berbeda arah dan ketajamannya tidak sama dengan pelukis sebelumnya. Jadi itu bukan lagi lukisan asli pelukisnya. Lalu saya bilang :”Mas, masa sama Pengusaha ini Mas tunjukkan lukisan hasil restorasi!. Kan nggak pantaslah. Mustinya Mas bilang saja terus terang lukisan yang ditunjukkan itu bukan lukisan asli, tapi hasil restorasi gitu. Kan itu lebih fair deh.” Sang Pemilik sanggar terperanjat dan bertanya :”Mas ini siapa?”

“Oh.. saya, saya cuma menemani beliau saja. Tapi, saya muridnya Kang Maman Noor…” Dia terdiam dan malu tampaknya. Untunglah lampu sanggar di malam hari tak begitu terang, sehingga wajahnya yang memucat tak tampak. Jelas, bisa dipastikan pemilik sanggar ini tahu, siapa orang yang saya sebutkan tadi.

Pelajaran dari Kang Maman itu juga yang membuat saya suka berlama-lama melihat lukisan di Ubud Bali atau beberapa kali mengunjungi galeri atau pameran lukisan di tanah air. Tak membeli sih, maklumlah kantong cekak. Namun, sedikit pengalaman itu membuat saya merasa selalu bersahabat dengan rekan seperjuangan ketika sama-sama bergabung di penerbitan mahasiswa dulu.

Kini beliau pergi, saya tak tahu kapan akan menyusul. Sudah tentu, ini suatu kepastian. Persahabatan juga sebuah kepastian, juga sebuah keniscayaan. Kepergiannya, bagaimanapun akan menorehkan kehilangan salah satu dari tak banyak kritikus seni rupa di Indonesia. Kang Maman Noor dipanggil Allah SWT setelah diterjang sakit dan terbaring di Rumah Sakit Imanuel Bandung, tanggal 7 Oktober 2007. Beliau dikebumikan di kampung halamannya, Losari Cirebon. Satu tempat dimana kami pernah sama-sama menikmati bandeng bakar bersama teman-teman lainnya….

Selamat Jalan. Semoga pertemuan kembali kelak berada pada rahmat dan karuniaNya. Semoga kita berada pada pintu ampunanNya yang tak berbatas. Senantiasa.

Iklan

Satu Tanggapan to “Dalam Kenangan : Maman Noor La Bharat”

  1. Dwi losha said

    Teater stepa rintisan dr maman noer jg mnjadi ingatan2 kaum tua d losari,yang rasanya masih melekat

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: