Sains-Inreligion

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Kisah Tentang Putri dan Bunga

Posted by agorsiloku pada Oktober 5, 2007

“Assalamualaikum…. “,serunya berkali-kali. Itu suara dua anak kecil yang terdengar, biasanya sekitar setelah magrib atau menjelang isya. Isteri atau anakku yang mendengar tentu sudah tahu apa maksud salam itu. Suara mereka begitu jernih dan terdengar merdu di telinga. Pertanyaan-pertanyaan kecil kepada mereka akan dijawab dengan kesantunan dan kepolosan anak-anak. Bunga usianya 4-5 tahun dan Putri berusia 7-8    tahunan. Mereka berdua menjajakan makanan yang dimasak ibunya dan berkeliling di perkampungan kami. Biasanya, kunjungan ke rumah kami dilakukan terakhir sebelum pulang ke rumahnya di dusun sebrang. Putri sudah sekolah, adiknya belum. Mereka adalah anak-anak korban kemiskinan yang berjuang untuk meraih kehidupan dalam keseharian.

Kalau suara merdu itu terdengar, maka kami menganggap ini perintah suka rela untuk membeli sisa penganan yang dijualnya. Kadang donat, roti, kue pastel, atau sejenisnya. Kami membeli bukan karena kami meminatinya, tapi karena kami menghargai perjuangannya. Kadang memang bisa dinikmati kue pastelnya, kadang untuk bersilaturahmi dengan tetangga, apalagi jika masih cukup makanan di rumah.

“Putri kelas berapa?”

“Kelas dua”, sigap suaranya, jernih ucapannya.

“Ini siapa yang membuat?”

“Mama…”, jawabnya serempak. Lucu juga, pertanyaan apa saja, kerap dijawab kakak beradik ini serempak.

Setelah kami membeli, kadang sampai dagangannya habis, kami tawari lagi :

“Putri mau pastelnya?”

“MAU …. !”, Jawabnya berbinar. Kami kemudian menyadari, betapa Putri dan Bunga punya tanggung jawab untuk menjual, dan mungkin dia juga berharap ada sisanya untuk dimakan. Mungkin juga sambil menjual perutnya lapar dan ingin memakan barang jualannya. Namun, tidak dilakukan karena ada pertanggungjawaban pada ibunya.

“Biasanya, kami beli dan kami berikan lagi beberapa potong penganan untuk penjualnya”.

Kadang, aku bilang sama anakku, lihatlah Putri dan Bunga, mereka tidak punya kesempatan untuk berbahagia seperti anak-anak yang lain. Mungkin juga mereka berbahagia dengan segala kesederhanaannya. Mereka tidak mengemis, mereka berdagang, mereka berjuang untuk kehidupannya.

Kalau sudah lama tak datang, saya bertanya sama Isteriku. Kok tidak ada penganan di meja, apa Putri dan Bunga hari ini tidak berjualan…?.

Putri dan Bunga adalah sosok anak di bawah umur yang terpaksa harus bekerja untuk masa depan Indonesia !!.

Iklan

6 Tanggapan to “Kisah Tentang Putri dan Bunga”

  1. Herianto said

    Semoga sebagian dari zakat yg terkumpul dalam waktu dekat ini mengalir ke orang2 seperti mereka…
    Bahkan kita tak tahu kmana dana zakat yg lain tersebut mengalir … ?

    Atau kita tak boleh tau, yg penting berzakat, beres.

    @
    Apakah kita membagi-bagikan ke tetangga juga, yang malah sebenarnya mereka juga ada yang membagikan zakat!. Mungkin sih nggak ya…, tapi kalau di hari raya Qur’ban, saya yang kebetulan berkurban juga ikutan menerima daging kurban. Kalau tahu, saya tolak deh, masa diberikan sama yang kegemukan karena kebanyakan daging…. 😦

    Suka

  2. danalingga said

    Sebuah kisah yang sangat menyentuh kemanusiaan pak. Dan tentunya mengajak kita dapat bersyukur senantiasa. Semoga bisa.

    @
    Hanya butiran pasir kehidupan… begitu banyak anak-anak yang seharusnya berada pada kenyamanan hidup, namun terpaksa menjalani hidup dewasa dan itu dimana-mana ada tanpa cukup perhatian dari pemilik mesjid yang megah, departemen sosial, hak asasi, dan lain sebagainya. Kita hidup dalam ketidakpedulian (sambil zikir siang dan malam) 😦

    Suka

  3. El Za said

    Assalamualaikum Wr Wb.

    Mengharukan sekali.
    Dalam dunia yang semakin tua, masih ada mutiara bening.
    Anak-anak kita, yang seharusnya kita lindungi & kita sayangi, mereka kelak yang akan mewarnai dunia ini dengan akhlak mulia dan perjuangan menegakkan kebenaran.
    tapi seringkali kita justru menganiaya mereka, mengotori pikiran mereka dengan kekejian dan kemaksiatan.
    kita ini cenderung untuk lebih suka mencelakai diri sendiri.
    Semoga Allah senantiasa berkenan memberi petujuk kebenaran kepada kita untuk membimbing anak-anak kita.

    Wassalamualaikum Wr Wb

    @
    Wass.wr.wb.
    Yah.. betul Mas El Za… kadang hati kecil saya khawatir… khawatir kehilangan kemampuan untuk berempati….

    Suka

  4. Hmmmmm….

    Tanggungjawab dan kemandirian dari bunga dan putri

    @
    Dan sebuah keterpaksaan…. 😦

    Suka

  5. arman said

    blum pernah dengar, ntar aza komentnya

    @
    Diceritakan dari pengalaman sendiri, bukan kisah yang dikisahkan kembali… Trims sudi berkunjung ke blog agor.

    Suka

  6. Sebenarnya kalau dilihat orang seperti Sam Walton, Andrie Wongso, dan banyak keturunan Cina lainnya juga sudah membantu keluarga mereka mencari uang sejak kecil. Tapi ternyata apa yang mereka lakukan di masa kecil bisa merubah nasib keluarga mereka di masa depan.
    Lalu, apa yang membedakan Sam Walton dengan Putri dan Bunga? Bisakah apa yang Putri dan Bunga lakukan sekarang merubah nasib mereka di masa depan ?

    @
    Semoga…
    Sambil merenung (dan kapan bertindak)… adakah peluang dari mereka keluar dari kemiskinan. Yang undang-undang negara ini memberikan jaminannya…. 😦

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: