Sains-Inreligion

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Kemunduran Islam Itu Apa Seeh?.

Posted by agorsiloku pada September 30, 2007

Wak Somad mengurai lihai tentang Kemunduran Islam. Tanpa pengetahuan cukup, dan berdasarkan sedikit akal saya bertanya kembali : Apanya yang mundur uwak?. Saya sebenarnya ingin protes besar. Islam nggak mundur, tapi agak dipikir-pikir nggkali bener juga. Mengalami kemunduran. Namun, apa yang disebut kemunduran Islam. Bagaimanapun Islamnya nggak akan secuilpun mengalami kemunduran. Yang mundur, kalau memang mundur ya tentu saja ummatnya. Ummat Islam. Jadi biarpun judulnya Islam, yang mundur itu ummatnya. Islam itu jalan selamat. Jalannya tetap sama. Sedari dulu, sejak perintah tauhid disampaikan kepada manusia. Ada bedakah antara Islam dan agama Islam. Jadi, supaya lebih fokus, kemunduran ummat beragama Islam.

Oke,

Kalau kemunduran itu suatu keniscayaan maka hal yang paling esensial dari keberagamaan Islam adalah berserah diri kepada penciptaNya. Beribadah kepadaNya, meyakini dan menjalan perintahNya secara kaffah.

Ummat beragama Islam adalah ummat yang bertauhid dan memenuhi perintah dan laranganNya. Memenuhi petunjukNya. Maka ummat beragama Islam akan disebut mundur atau mengalami kemunduran jika dan hanya jika kriteria-kriteria kaffah, kriteria bertauhid, kriteria beriman dan bertakwa semakin rendah atau semakin tidak bermutu.

Walah… itu terlalu banyak kriterianya. Kalau disusun menjadi terlampau ideal. Sederhanakan saja gitu !.

Oke.

Sederhananya ahlak. Nabi diutus untuk dua hal utama : menyempurnakan ahlak manusia dan menyampaikan penyempurnaan syariat agama. Ahlak manusia kepada sesama manusia dan kepada penciptaNya.

Jadi kalau ummat Islam mengalami kemunduran maka bahasa tersederhana adalah kemunduran ahlak ummat beragama Islam.

  • Kalau dia berkuasa, maka kekuasaannya akan tercermin sebagai penguasa yang berahlak mulia (kalau kekuasaannya amanah, masa sih tidak berlaku adil dan sewenang-wenang. Masa sih mau jadi pemimpin pakai nyogok segala)
  • Kalau dia bertauhid, meyakini keesaan Allah maka tauhidnya akan tercermin pada sikap hidupnya untuk tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun. (Tidak dengan uangnya, tidak dengan kekuasaan, tidak dengan sesajen, tidak pula dengan apapun).
  • Kalau dia bekerja, maka seluruh pekerjaan yang dilakukannya dinisbahkan kepada tujuannya hidupnya untuk beribadah kepada Allah (kalau bekerjanya karena ibadah, masa sih korupsi !?).
  • Kalau dia bersilahturahmi, maka seluruh pertemuan dengan manusia akan penuh welas asih dan lemah lembut (masa sih menjelek-jelekan, menghina dan saling mengkafirkan…!).
  • Kalau dia berharta, maka seluruh hartanya adalah titipan Allah, maka dia tidak akan mengumpulkan hartanya untuk bermegah-megah dan membayar zakat secara benar dan baik, memelihara anak yatim dan fakir miskin. (Tak mau di kampung halamannya ada yang kelaparan.)
  • Kalau dia berilmu, maka seluruh ilmunya adalah ibadahnya untuk kesejahteraan ummat.
  • Kalau dia…kalau dia… kalau dia… dan seterusnya.

Walah… itu terlalu ideal… terlalu ideal. Yang penting kecil tapi membumi, cahaya kecil dan bersih lebih bermakna dari pada banyak tapi buram. Kita bertanya, masihkah kita melihat Tuhan dengan ahlak kita.

Memang kalau kita tak melihatnya, kita memang sedang mengalami kemunduran. Bukan karena kekuasaan, bukan karena kejayaan masa silam, bukan juga karena ilmu dan teknologi. Kemunduran hanya karena satu saja : ahlak. Benarkah !?

Iklan

12 Tanggapan to “Kemunduran Islam Itu Apa Seeh?.”

  1. danalingga said

    Melihat banyaknya kata kalo, sepertinya emang susah banget untuk bersikap sesuai tuntunan Islam dalam kehidupan sehari hari.

    Tapi apa bener sesusah itu ya?

    @
    Susah… meski bukan berarti tidak bisa. Apakah karena kita tidak punya tokoh yang auranya mampu menggerakkan kepemimpinan ahlak !…

    Suka

  2. Guh said

    Tidak terlalu ideal ah. Biasa aja itu. Tapi kok sulit nemu contoh yang bisa gitu ya?

    @
    Kita rindu kepemimpinan yang membangun ahlak dalam dimensi sosial melawan hegemoni kekuasaan yang melawan semua peluang keserakahan dan kemegahan dari setiap sisi kehidupan.
    Apakah resultante arah itu sedang bergerak ke sana ataukah sebaliknya !?

    Suka

  3. Baru saja saya membaca kutipan ini:

    Dalam Islam itu, bergunjing saja haram, apalagi menyakiti orang lain.

    Kutipan itu saya baca, setelah membaca berita bom bunuh diri di Afganistan yang menewaskan 30 orang.

    Kok ya ada perasaan ga enak gitu ya pak?

    @
    perlawanan dan bom bunuh diri… keputusasaan kah yang saat ini sedang kita rasakan. Keputus asaan terhadap kekuasaan yang berusaha membungkam setiap “kebebasan”……..

    Suka

  4. Herianto said

    Ya benar, kemunduran [akhlak] [ummat] Islam. Barangkali yang dimaksud wak Somad juga gitu… 🙂

    #Lha… kayak jubir wak Somad aja nih…# 😀

    @
    Betul tentu, yang dimaksudkan jelas ummat Islam. Keniscayaan kualitas ummat semakin menurun, agor hanya menegasi fokusnya pada akhlak saja. Namun, kalau mau merujuk pada sebab akibatnya akan sangat luas dan dalam juga. Perbedaan pemahaman pada sudut-sudut pandang yang saling menyelisihi di antara pakar terdahulu kemudian kebanggaan golongan melahirkan begitu banyak perbedaan dari tahun ke tahun dan abad ke abad dalam dunia keislaman. Dan itu pula menyebabkan tidak terbentuknya satu ummat, satu golongan yang memiliki satu suara. Ummat Nabi Muhammad, tapi dilabeli beragam apa saja di pundak-pundak pengikut Nabi menjadi pengikut-pengikut yang berlain-lainan walau secara prinsip menganut puncak yang sama. Tidak sedikit pula yang terkesan (menimbulkan kesan) menjadi perbedaan yang begitu tajam dan tak dapat lagi dipersatukan, bahkan pada level negara. Masing-masing membangga-banggakan golongannya.

    Dengan kata lain : Kemunduran Ummat Islam dari sisi spiritual adalah pertanyaan : Manhaj Ente Apa?

    Sisi lain kemunduran ahlak juga tercermin dari dimensi kesalehan sosial yang memisahkan diri dengan kesalehan spiritual. Keengganan menjadi sebaik-baiknya manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya mencerminkan rendahnya kesadaran bermasyarakat dalam komunitas total. Juga kegagalan menjadikan bekerja adalah ibadah. Juga dicirikan dari korupsi di negara yang ummatnya beragama Islam mendapatkan peringkat tinggi di dunia. 😦

    Suka

  5. abdulsomad said

    Assalamualaikum wrwb
    Judulnya memang iya, mas,Kemunduran Islam.Tapi Bahasan nya (alinea pertama saja sudah tertulis) Kemunduran Ummat Islam.

    Saya tambahkan khusus buat Mas Agor :
    Manusia ini terdiri dari 2 Unsur, Jasmani dan Ruhani.
    Unsur Jasmani Manusia telah disempurnakan di Alam Rahim.
    Di Alam Dunia yang sedang kita jalani sekarang ini manusia dituntut menyempurnakan Ruhani nya, karena kita manusia ini musafir, sedang dalam perjalanan, di Alam Berikutnya (Alam Kubur, Mahsyar, Syiroth, Mizan sampai Akherat) yang diperlukan manusia adalah kesempurnaan Ruhani.

    Memasuki alam berikutnya Jasmani manusia akan hancur, tetapi Ruhani nya akan bangkit, baik buruknya kebangkitan Ruhani manusia tergantung bagaimana usaha dia menyempurnakan Ruhani nya selama di dunia.

    Para nabi dikirim oleh ALLAH SWT, termasuk Rasulullah SAW adalah untuk menuntun manusia bagaimana menyempurnakan Ruhaninya secara benar, yaitu dengan AGAMA, Ad-DIEN.

    Saya tambahkan lagi :
    Ketika dialam Rahim, manusia disempurnakan Jasmaninya, tangannya, matanya, kakinya, kepalanya, badannya,organ2 tubuhnya.
    Di alam Rahim kesempurnaan jasmanai ini memang seperti tidak berguna sama sekali bagi manusia, karena semua kebutuhan dilayani oleh Tali Pusar, tetapi ketika manusia lahir kedunia baru terasa manfaat kesempurnaan jasmani, tangan, kaki dll.

    Begitu juga di Alam Dunia ini, manusia dituntut menyempurnakan Ruhaninya untuk keperluan di Alam Berikutnya (Alam Kubur, Mahsyar, Syiroth, Mizan sampai Akherat).
    IMAN, IBADAH, Sholat 5 waktu, Puasa Dzakat, Haji, Dzikir, Tilawwt Al-Quran, Menutup Aurat, Akhlak, di Alam Dunia ini seperti tidak ada gunanya. Tetapi di Alam Berikutnya baru kita menyadari besar nya manfaat dari kesempurnaan Ruhani.

    Dan keadaan Ummat Islam saat ini sangat menyedihkan, mereka malah sibuk menyempurnakan Jasmani nya, yang bakal dia tinggalkan, bukan menyempurnakan Ruhani yang akan dia bawa dialam berikutnya.

    Mas Agor lihat sendiri di masyarakat kita, berapa percent Ummat Islam yang sibuk menyempurnakan Ruhani, selebihnya mereka sibuk dengan makanan dan minuman, mempercantik diri, menghias rumah, bernyanyi, menari, bermain-main, bersenda gurau….

    Dan ini tak bisa kita biarkan, karena di dalam nya ada istri kita, anak-anak kita, bahkan ayah dan ibu kita yang kita cintai,keluarga dekat kita, bayangkan kalau mereka bangkit di Alam berikutnya dengan kemiskinan Ruhani? apa yang akan terjadi?

    @
    Iya wak, agor tahu kok… yang uwa maksud… kemunduran ummat.
    Saya agak tergelitik, karena uwa membandingkan dengan kejayaan masa keemasan Islam dalam bidang politik dan kenegaraan.
    Namun dari sini, agor bisa lagi melihat ternyata kerisauan lebih tajam pada ummat kurang menyadari aspek transisi spiritual sebelum sampai ke kampung akherat, makin banyak terjebak dalam kemegahan dunia yang sudah jelas-jelas melalaikan dan penuh fitnah.

    Terimakasih uwa, penjelasannya mencerahkan dan menambah kesadaran untuk selalu ingat bahwa dunia ini tidak lebih dan kurang hanyalah persinggahan saja. Terminal bis… eh terminal kehidupan….

    Suka

  6. abdulsomad said

    Assalamualaikum wr wb
    Khusus buat @GUH

    Sekali waktu cobalah kunjungi Ummat Islam di belahan India atau Pakistan. Idealisme itu mulai tumbuh disana, suasana Islam seperti Zaman Sahabat Rasullullah di Madinah mulai terbentuk disana.
    Insya ALLAH anda akan temukan banyak contoh contoh yang anda inginkan.

    Suka

  7. madsyair said

    Benul, eh, betar, eh ketukar. Betul dan benar pak!! 🙂

    Mari, di saat bulan penuh kemuliaan, penuh berkah,penuh ampunan, kita perbaiki akhlak agar lebih sempurna ibadah puasa kita dan terus terbawa sampai pasca romadhan.
    Mumpung suasana mendukung.
    1. Biasakan tidak ngegosip
    2. Biasakan tersenyum (meski ndak trima amplop 🙂 )
    3. Biasakan berterima kasih
    4. Biasakan meminta maaf dan memaafkan
    5. Biasakan belajar
    6. Biasakan berbagi
    7. Biasakan ikhlas
    8. Biasakan tawakal
    9. Biasakan jujur
    10. Biasakan …. (silahkan ditambahi)

    @
    Begitu banyak pertanyaan tentang ahlak kita, betapa banyak yang diinginkan, yang diharapkan, yang dicita-citakan, yang diniscayakan…. karena ramadhan kita, kita ingin menjadi orang bertakwa. Semoga jalan ini dipermudah Allah untuk kita…

    Suka

  8. Spitod-san said

    Islam sudah sempurna, dan ajarannya tidak akan berubah lagi sampai kiamat. Tidak maju, tidak mundur.
    kemunduran umat islam? hehehe kalau pelajaran kalkulus saya bilang ini mendekati limit tak hingga :mrgreen:

    @
    Maksudnya kemundurannya sudah mencapai batas limit tak hingga 😦

    Suka

  9. budi said

    kalao saya mengatakan bukan mundur, tapi STAG, gak maju-maju dan gak mau maju. kita hanya bergulat pada dosa, surga dan neraka dan kesaktian. BERANI MATI, tapi TAKUT PINTAR
    kalau dulu Islam (negarawan, ilmuwan, strategi perang) disegani, tapi sekarang tinggal menjadi konsumen, obyek, kambinghitam.
    padahal yg punya sertifikat untuk memanfaatkan bumi, langit dan isinya adalah kita. Mereka bisa mengkaji Alqur’an, kita hanya berlomba melantunkan merdunya Alqur’an dalam ajang MTQ.
    ternyata siapa yg jadi KAFILAH…?siapa yg mengendalikan dunia…

    @
    BERANI MATI, tapi TAKUT PINTAR –> wah pintar menakutkan, lebih menakutkan dari pada berani mati :D, berani hidup juga tentu konsekuensi yang menakutkan juga… Berani Mati = Takut Hidup…..

    Suka

  10. Abudaniel said

    Assalamu’alaikum
    Saya memang belum baca postingan Wak Somad.
    Tapi dari lirik-lirik koment yang ada maka saya coba-coba juga buat koment, mudah-mudahan tidak menambah kusut suasana.
    Menurut saya Islam tidak mundur. Karena Islam bukan kenderaan, walaupun sering dipakai oleh segelintir manusia sebagai kenderaan politiknya. Apalagi menjelang pemilu. Umat Islam juga tidak mundur, malahan saking majunya jadi kebablasan (sebahagiannya).
    Yang betul, pemikiran/pemahaman tentang Islam dibawa menyimpang dari jalannya, baik oleh ummat Islam sendiri maupun dibantu oleh “pihak lain”. Kalau dikatakan dibawa mundur, berarti balik kepangkalan jalan menuju arah semula, yaitu kepemikiran awal yang murni yang dilakukan oleh para salafus shaleh, baik dari segi pemikiran maupun pengamalan, yang menghasilkan kemajuan ilmu dalam berbagai bidang. Dibawa mundur tidak selalu berkonotasi jelek. Mundur dengan arti kembali. Kembali kepemahaman sebenarnya sebagaimana yang diajarkan oleh Al-Quran maupun Sunnah Nabi yang shahih.
    Karena dibawa menyimpang, maka kelihatan bahwa Islam seolah-olah “mundur”, tetapi mundur kearah lain. Kearah pemikiran maupun perbuatan yang tadinya menjadi object dakwah Islam. Mundur kearah kancah kejahilan masa lalu. Seperti berbugil ria, zina secara terang-terangan, meminum khamar tanpa malu-malu, judi yang dilembagakan, perbudakan, penindasan oleh manusia terhadap manusia lainnya, pergaulan bebas tanpa batas antara pria dan wanita, bahkan pelegalan kawin sejenis yang sedang gencar-gencarnya dipromosikan (oleh pengikut pemikiran Sepilis) melalui institusi agama seperti perguruan tinggi Islam. Penyimpangan pemahaman inilah yang membuat Islam kelihatan “mundur”. Pemahaman yang bukan untuk mencari jati Islam, tetapi pemahaman yang menjauhkan Islam itu sendiri dari ujudnya yang asli. Sebahagian ummat Islam bukan lagi menggali ajaran Islam untuk dijadikan motivator keilmuan sebagaimana dilakukan oleh para ulama terdahulu yang hasil akhirnya melahirkan ilmu-ilmu sains dan tekhnologi yang menjadi acuan dunia Barat, tetapi malah menggali ajaran Islam untuk digerogoti dan disesuaikan dengan pemahaman musuh Islam, seperti para orientalis sejenis Goldziher maupun Watt. Yang pada kenyataannya melahirkan paham-paham Sekuler, Liberal maupun Pluralisme Agama ( seperti Abu Zyad, Arkoun, Ulil, Nurcholis Majid, Abdurrahman Wahid, Ahmah Wahib, Effendy Djohan, dsb). Mengkaji Islam bukan merujuk pada ulama-ulama Islam yang mu’tabar, tetapi memakai pendapat para orientalis yang memusuhi Islam.
    Jadi Islam bukan mundur. Tetapi dibawa mundur dan menyimpang oleh para musuh Islam dibantu oleh para “cendikiawan Muslim”, dalam rangka menghancurkan Islam itu sendiri. Baik dari segi pengamalan maupun pemahaman/pemikiran. Sementara ummat Islamnya sendiri, terus menerus dicecar dengan berbagai budaya Barat baik melalui media cetak/tulisan maupun media elektronik seperti TV, Radio maupun Internet. Sehingga otak sebahagian ummat Islam, sadar maupun tidak, sudah dipenuhi oleh segala peradaban “modern” yang tidak lebih dari peradaban Barat yang jauh dari pemahaman Islam.
    Bagaimana cara kita untuk mengantisipasi “kemunduran” ini?.
    Kemabli pada pada pemahaman awal.
    Wassalam,

    Suka

  11. haniifa said

    @Mas Abudaniel
    Saya tambahkankan yach…
    “Kembali pada pemahaman awal secara jujur, sesuai dengan tuntunan kita yang berpredikat Al Amin” 😀

    Suka

  12. Abudaniel said

    @ Akhi Haniifa,
    Na’am. Shadaqta.

    Wassalam,

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: